PENDAHULUAN
Pastoral
dalam pendampingan setiap masalah yang dihadapi umat sangat beragam dalam
menjawab setiap pergumulan yang membuat orang susah dan merasa tidak ada yang
bersama dengan mereka. Pastoral Konseling adalah hubungan timbal balik
(interpersonal relationaship) antara hamba Tuhan (pendeta, penginjil, dll.) Sebagai
konselor dengan klien, orang yang minta bimbingan dalam mana konselor mencoba membimbing
kliennya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere) yang memungkinkan
konsele itu betul-betul dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi
pada dirinya sendiri, persoalannya, kondisi hidupnya di mana ia berada sehingga
ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan
dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti
yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Berdasarkan definisi di atas kita bisa
melihat paling tidak ada empat aspek penting yang harus dikenal oleh setiap konselor
(hamba Tuhan), yaitu:
a. Hubungan timbal balik (interpersonal
relationship) antara konselor dengan
konselenya.
b. Hamba Tuhan sebagai konselor.
c. Suasana percakapan konseling yang ideal
(condusive atmosphere).
d. Melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan
tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan
dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan padanya.
Sehingga Pastor dapat menetapkan
apa yang terjadi pada setiap hal yang dialami oleh pasien baik di rumah sakit
atau dirumahnya. Pendampingan yang dilakukan selalu berhubungan dengan keluarga
serta diri orang yang akan dikunjungi menaruh perhatian dan kemungkinan untuk
sembuh pada pendampingan yang akan diadakan Pastor. Setiap hal yang diadakan
oleh Pastor dalam pendampingan akan berpengaruh pada keluarga.
ISI
Dalam
mengunjungi orang sakit bermacam-macam cara dan situasi dalam keadaan apa yang
dialami orang sakit. Dalam pembahasan penulis saat ini adalah mengunjungi atau
memberikan pastoral kepada orang yang sakit di rumah sakit. Dalam mengunjungi
orang yang sakit di rumah sakit, pastor harus memerhatikan dimana rumah sakit,
situasi rumah sakit, seberapa parah sakitnya atau bisakah dikunjungi menurut
analisa dokter? Hal ini yang menjadi kendala dalam melakukan pastoral bagi
orang sakit di rumah sakit. Penyakit yang dilami pasien dirumah sakit
bermacam-macam ada yang parah, penyakit biasa saja dan penyakit yang tidak
boleh diceritakan kepada orang lain.
Dalam
pendampingan ada pasien yang terus terang apa penyakitnya dan ada pula yang
tidak terus terang mungkin karena malu dengan penyakit yang dialaminya atau ia
tidak mau dicap sebagai pesakitan.
Apakah
dalam setiap perkunjungan pastoral terhadap orang sakit di rumah sakit selalu
ada doa? Yang terpenting dalam perkunjungan adalah dalam pelayanan pastoral
kita adalah doa secara mutlak adalah bagian dalam perkunjungan kita dan juga
tidak meniadakan dalam perkunjungan kita sebab kadang doa dianggap sebagai
pengganggu.
Setiap
orang yang sakit dirumah sakit yang kelihatannya parah akan mati dan yang
biasa-biasa saja akan hidup justru ada sesuatu terjadi dibalik orang yang sakit
tersebut.
Orang
sakit dirumah sakit sangat membutuhkan perhatian dari semua orang terutama
pastor hanya saja ada beberapa yang penting dalam mengunjungi setiap orang yang
mengalami sakit. Orang-orang diberi motivasi dan semangat dalam menghadapi
keadaan yang mereka alami. Transformasi dalam pemikiran hanya ada pada
perubahan yang dipikirkan soal penyakit yang dihadapi pasien di rumah sakit. Segala
penyakit yang ditanggung penderita dirumah sakit tidak serta merta sembuh.
Kebutuhan-kebutuhan
itu (oleh karena belum terpenuhi dan terpuaskan) akan selalu mencari kesempatan
(sebagai rangsangan insting) untuk dipenuhi. Dan transference adalah salah satu
jalan yang secara natural dimiliki oleh setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tadi. Dalam setiap
interpersonal relationship dengan orang lain, pasti terjadi suatu gejala
transference, gejala pemindahan perasaan (yang sebagian besar tidak disadari) yang
arahnya adalah pemenuhan kebutuhan yang belum terpenuhi pada masa lampau. Begitu juga dalam hubungan antar
klien dan konselor, gejala transference ini pun pasti terjadi. Konselor harus
menyadari bahwa dalam interpersonal relationship itu pasti ada hal-hal dari dirinya sendiri (entah
wajahnya, pandangan matanya, suaranya, mode rambutnya, pakaiannya, cara
berbicaranya,dsb.), yang menstimulir proses terjadinya gejala transference. Dan
sikap dari klien terhadap konselor sebagian besar terjadi oleh karena gejala
transference itu. Kegagalan konselor untuk mengatasi atau mengontrol gejala
tranference adalah permulaan kegagalan proses konseling itu sendiri.
Setiap pelayanan yang mempertemukan manusia dalam
interaksinya menantikan dan menerima kehadiran Tuhan Allah dalam kehidupan
keseharian umat Allah yang hidup dalam saling mendampingi antar hidup yang
memperbaiki aspek horizontal (dari manusia) serta perwujudan aspek vertikal
(hubungan dengan Allah) sehingga manusia dapat mengenal dan meyakini bahwa
Allah turut campur tangan dalam kehidupan yang dialami setiap orang yang hadir
dan bereksistensi dalam dunia.
KESIMPULAN
Pada
dasarnya setiap orang yang sedang sakit baik sekarat atau dalam keadaan sakit
biasa membutuhkan seorang pastor atau konselor untuk membantu dia keluar dari
kesembuhan yang sedang dinantikan. Pastor harus mengenal perasaan orang yang
sedang sakit baik hubungan emosional maupun kondisi pasien yang sedang sakit
apakah membutuhkan hal-hal yang penting dalam kehidupan yang sangat
digumulinya. Apakah hanya datang mendoakan lalu pulang? Dalam hal tertentu
apakah doa menjadi sentral utama dalam pendampingan pastoral untuk orang sakit?
meskipun itu sudah sekarat dalam situasi penyerahan? atau dalam keadaan sakit
biasa saja. Dengan kehadiran sebagai pastor bagi orang sakit adalah hal yang
sangat penting dalam mendampingi orang sakit. Pastor disini tidak memberikan
diagnosa medis yang adalah wewenang dokter tetapi memberikan dukungan dengan
cara pendekatan yang lebih personal dan empati terhadap orang yang mengalami
penyakit sehingga Pastor bukan seorang dokter tetapi pendamping dalam
menghadapi situasi penyakit yang menimpa pasien itu.
Perhatian
yang nyata bukan sekedar hadir menghabiskan kue atau minum susu tetapi hadir
menghibur dan mendoakan orang yang sakit untuk kembali sembuh supaya dapat
mengenal bahwa lewat penyakit itu ia dapat belajar bahwa Tuhan selalu bersama
dan menyertainya dalam untung maupun malang dalam keseharian hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar