Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Sabtu, 05 Januari 2019

PASTORAL TERHADAP ORANG SAKIT



PENDAHULUAN

               Pastoral dalam pendampingan setiap masalah yang dihadapi umat sangat beragam dalam menjawab setiap pergumulan yang membuat orang susah dan merasa tidak ada yang bersama dengan mereka. Pastoral Konseling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationaship) antara hamba Tuhan (pendeta, penginjil, dll.) Sebagai konselor dengan klien, orang yang minta bimbingan dalam mana konselor mencoba membimbing kliennya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere) yang memungkinkan konsele itu betul-betul dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persoalannya, kondisi hidupnya di mana ia berada sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Berdasarkan definisi di atas kita bisa melihat paling tidak ada empat aspek penting yang harus dikenal oleh setiap konselor (hamba Tuhan), yaitu:
   a. Hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara  konselor dengan konselenya.
   b. Hamba Tuhan sebagai konselor.
   c. Suasana percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere).
   d. Melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan padanya.
               Sehingga Pastor dapat menetapkan apa yang terjadi pada setiap hal yang dialami oleh pasien baik di rumah sakit atau dirumahnya. Pendampingan yang dilakukan selalu berhubungan dengan keluarga serta diri orang yang akan dikunjungi menaruh perhatian dan kemungkinan untuk sembuh pada pendampingan yang akan diadakan Pastor. Setiap hal yang diadakan oleh Pastor dalam pendampingan akan berpengaruh pada keluarga.
ISI
            Dalam mengunjungi orang sakit bermacam-macam cara dan situasi dalam keadaan apa yang dialami orang sakit. Dalam pembahasan penulis saat ini adalah mengunjungi atau memberikan pastoral kepada orang yang sakit di rumah sakit. Dalam mengunjungi orang yang sakit di rumah sakit, pastor harus memerhatikan dimana rumah sakit, situasi rumah sakit, seberapa parah sakitnya atau bisakah dikunjungi menurut analisa dokter? Hal ini yang menjadi kendala dalam melakukan pastoral bagi orang sakit di rumah sakit. Penyakit yang dilami pasien dirumah sakit bermacam-macam ada yang parah, penyakit biasa saja dan penyakit yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain.
            Dalam pendampingan ada pasien yang terus terang apa penyakitnya dan ada pula yang tidak terus terang mungkin karena malu dengan penyakit yang dialaminya atau ia tidak mau dicap sebagai pesakitan.
            Apakah dalam setiap perkunjungan pastoral terhadap orang sakit di rumah sakit selalu ada doa? Yang terpenting dalam perkunjungan adalah dalam pelayanan pastoral kita adalah doa secara mutlak adalah bagian dalam perkunjungan kita dan juga tidak meniadakan dalam perkunjungan kita sebab kadang doa dianggap sebagai pengganggu.
            Setiap orang yang sakit dirumah sakit yang kelihatannya parah akan mati dan yang biasa-biasa saja akan hidup justru ada sesuatu terjadi dibalik orang yang sakit tersebut.
               Orang sakit dirumah sakit sangat membutuhkan perhatian dari semua orang terutama pastor hanya saja ada beberapa yang penting dalam mengunjungi setiap orang yang mengalami sakit. Orang-orang diberi motivasi dan semangat dalam menghadapi keadaan yang mereka alami. Transformasi dalam pemikiran hanya ada pada perubahan yang dipikirkan soal penyakit yang dihadapi pasien di rumah sakit. Segala penyakit yang ditanggung penderita dirumah sakit tidak serta merta sembuh. 
       Kebutuhan-kebutuhan itu (oleh karena belum terpenuhi dan terpuaskan) akan selalu mencari kesempatan (sebagai rangsangan insting) untuk dipenuhi. Dan transference adalah salah satu jalan yang secara natural dimiliki oleh setiap orang untuk memenuhi  kebutuhan-kebutuhan tadi. Dalam setiap interpersonal relationship dengan orang lain, pasti terjadi suatu gejala transference, gejala pemindahan perasaan (yang sebagian besar tidak disadari) yang arahnya adalah pemenuhan kebutuhan yang belum terpenuhi pada  masa lampau. Begitu juga dalam hubungan antar klien dan konselor, gejala transference ini pun pasti terjadi. Konselor harus menyadari bahwa dalam interpersonal relationship itu  pasti ada hal-hal dari dirinya sendiri (entah wajahnya, pandangan matanya, suaranya, mode rambutnya, pakaiannya, cara berbicaranya,dsb.), yang menstimulir proses terjadinya gejala transference. Dan sikap dari klien terhadap konselor sebagian besar terjadi oleh karena gejala transference itu. Kegagalan konselor untuk mengatasi atau mengontrol gejala tranference adalah permulaan kegagalan proses konseling itu sendiri.
Setiap pelayanan yang mempertemukan manusia dalam interaksinya menantikan dan menerima kehadiran Tuhan Allah dalam kehidupan keseharian umat Allah yang hidup dalam saling mendampingi antar hidup yang memperbaiki aspek horizontal (dari manusia) serta perwujudan aspek vertikal (hubungan dengan Allah) sehingga manusia dapat mengenal dan meyakini bahwa Allah turut campur tangan dalam kehidupan yang dialami setiap orang yang hadir dan bereksistensi dalam dunia.
KESIMPULAN
            Pada dasarnya setiap orang yang sedang sakit baik sekarat atau dalam keadaan sakit biasa membutuhkan seorang pastor atau konselor untuk membantu dia keluar dari kesembuhan yang sedang dinantikan. Pastor harus mengenal perasaan orang yang sedang sakit baik hubungan emosional maupun kondisi pasien yang sedang sakit apakah membutuhkan hal-hal yang penting dalam kehidupan yang sangat digumulinya. Apakah hanya datang mendoakan lalu pulang? Dalam hal tertentu apakah doa menjadi sentral utama dalam pendampingan pastoral untuk orang sakit? meskipun itu sudah sekarat dalam situasi penyerahan? atau dalam keadaan sakit biasa saja. Dengan kehadiran sebagai pastor bagi orang sakit adalah hal yang sangat penting dalam mendampingi orang sakit. Pastor disini tidak memberikan diagnosa medis yang adalah wewenang dokter tetapi memberikan dukungan dengan cara pendekatan yang lebih personal dan empati terhadap orang yang mengalami penyakit sehingga Pastor bukan seorang dokter tetapi pendamping dalam menghadapi situasi penyakit yang menimpa pasien itu.
            Perhatian yang nyata bukan sekedar hadir menghabiskan kue atau minum susu tetapi hadir menghibur dan mendoakan orang yang sakit untuk kembali sembuh supaya dapat mengenal bahwa lewat penyakit itu ia dapat belajar bahwa Tuhan selalu bersama dan menyertainya dalam untung maupun malang dalam keseharian hidupnya.



Tidak ada komentar: