PENDAHULUAN
Hamba dalam
stratifikasi sosial masyarakat adalah golongan paling rendah. Pekerjaan hamba
adalah pekerjaan yang paling hina pada masa dahulu. Zaman sekarang, kata hamba
sudah tidak dikenal lagi, kata yang sepadan dengan itu adalah budak, pembantu,
dan buruh. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan kasar dengan gaji yang kecil serta
penghargaan masyarakat yang kurang. Pekerjaan seperti buruh pabrik, pembantu
rumah tangga menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi. Hamba
sering mengalami penindasan dari tuannya.
Seorang hamba atau
pembantu adalah pekerja kasar artinya mengerjakan semua pekerjaan yang bisa
dilakukan untuk mendapatkan uang atau penghidupan. Kata hamba tidak dijumpai
dalam teks namun kata itu menunjuk pada istilah Anak Manusia. Gambaran hamba hanya
ditemukan dalam nyanyian hamba Tuhan dari kitab Yesaya. Seorang hamba, Yesus
menderita dan mati untuk banyak orang (Yes 53:12).[1] Pokoknya
adalah penderitaan yang tidak semestinya ditanggung oleh hamba Tuhan bahkan
kematiannya untuk menyingkirkan dosa bangsanya. Hamba itu membuat diri-Nya
sebagai persembahan untuk dosa (Yes 53:1).[2]
Menurut W.R.F Browning,
orang Kristen memahami nyanyian itu sebagai nubuat tentang Mesias yang akan datang.
Penderitaan dan kematianNya adalah seperti yang dinyatakan oleh kitab suci dan
sama sekali tidak kebetulan.[3] Hamba
memiliki tugas melayani bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi kesejahteraan
orang disekitarnya. Menjadi yang terbesar dan pertama adalah melayani kebutuhan
semua orang seperti yang dilakukan Yesus. Seorang hamba yang melakukan tugasnya
dengan baik maka akan diberi kepercayaan penuh oleh majikannya. Siapa yang
ingin mengikut Yesus berarti bersedia melayani, seperti yang Yesus lakukan.
ISI
Pengantar
ke dalam Kitab
Penulis
Donald
Guthrie berpendapat bahwa penulis injil Markus adalah Markus. Dibuktikan dengan
pandangan Papias, Kanon Muratorian, Ireneus, Clement, Origen dan Jerome. Selain
itu penulis injil ini selalu dikaitkan dengan Petrus sedangkan kritik lain
mengatakan bahwa Markus ditulis oleh Yohanes Markus.[4] Kebanyakan
para pakar masa kini berpendapat bahwa tradisi dari pengaruh Petrus atas injil
Markus adalah lebih praktis daripada historis yaitu tradisi demikian menjamin
injil ini dengan kewibawaan rasuli.[5]
Menurut Walter M Post bahwa injil Markus ditulis oleh Markus seorang pengikut
Tuhan, anak Maria yang rumahnya pernah dikunjungi Petrus (Kis 12:12). Markus
ikut dalam perjalanan Barnabas dan Paulus yang pertama (Kis 12:15).[6]
Wismoady
Wahono mengakui bahwa injil Markus ditulis oleh orang yang bernama Markus yang
dibuat dalam Kisah para rasul 12:12,25. Namun cerita itu tidak menunjukkan
tentang injil Markus kecuali dikaitkan dengan penderitaan orang Kristen di
Roma. Penulis injil Markus adalah seorang yang hidup bersama Yesus.[7]
Pada dasarnya penulis Markus adalah seorang yang dekat dengan Tuhan dan diberi
hikmat untuk menulis tentang Yesus kepada semua orang. Pendapat ini benar jika
kita mengacu kapada bagian pertama injil Markus yakni permulaan injil Yesus
Kristus Anak Allah (Mrk 1:1). Markus mengakui bahwa injil yang diberitakannya
adalah injil mengenai Yesus Kristus. Pewartaan keselamatan yang terjadi secara
historis yang terjadi dalam dunia ini.
Penerima
Menurut
Walter M Post Injil Markus di tulis untuk orang Kristen bangsa Romawi. Hal itu
ditandai dengan kutipan perjanjian lama, kata-kata dari bahasa ibrani, adat
istiadat Yahudi dan menggunakan kata-kata Romawi yang tidak dipakai dalam injil
lain. Guthrie berpendapat hampir sama Walter bahwa penerima injil Markus adalah
non Yahudi yang tinggal di Roma. Pembuktian Guthtrie agak sedikit berbeda dari
Walter dengan mengatakan bahwa injil Markus memberi gambaran tentang budaya
Palestina. Pembuktian tersebut dengan penggunaan istilah Aram yang diterjemahkan
dalam bahasa Yunani. Dari injil sendiri dapat diidentifikasi pada generasi
kedua gereja mula-mula. Tulisan ini mungkin sekitar tahun 70 M ketika Roma
menghancurkan Yerusalem. Namun teolog berkesimpulan bahwa Roma adalah tujuan
penulisan injil Markus.
Alasan
Penulisan
Pada
tahun 60-an M, orang percaya pada saat itu diperlakukan secara kejam oleh
penduduk kota tempat tinggal mereka. Banyak orang percaya disiksa bahkan
dibunuh di bawah pemerintahan kaisar Nero. Menurut tradisi, orang Kristen di
Roma terdapat juga rasul Petrus dan rasul Paulus mengalami penindasan. Selaku
salah seorang pimpinan gereja di Roma, Yohanes Markus digerakkan oleh Roh Kudus
menulis Injil sebagai suatu yang bersifat nubuat dan tanggapan penggembalaan
terhadap masa penganiayaan yang terjadi pada masa itu.
Tujuan
penulisan ialah memperkuat dasar iman orang percaya di Roma. Mereka didorong
untuk dengan setia menderita demi Injil Yesus Kristus. Mereka diperhadapkan
dengan kehidupan, penderitaan, dan kematian. Sehingga mereka bisa menghayati
dan meyakini kebangkitan Yesus.[8] Alasan
penulisan Markus adalah sebagai bahan katekisasi, kepentingan liturgis, tujuan
apologetika, Markus ditulis dalam rangka menjangkau semua umat dengan hanya mencatat
peristiwa penting dalam sejarah penebusan. Markus tidak tertarik pada
kristologi sebagai doktrin pribadi Kristus. Penekanan Markus pada baptisan
sebagai klaim pemuridan.[9]
Pengantar ke dalam Nas
Persoalan
yang ingin diuraikan dalam pembahasan setiap nas dalam injil Markus adalah kata
hamba. Dalam Markus 10:43-44, dua kata yang digunakan untuk menjelaskan siapa
yang terbesar di kerajaan Allah. Kata tersebut adalah pelayan dan hamba. Kemuliaan
seorang murid menurut Markus adalah menjadi hamba seperti Yesus. Menurut
Samuel Benyamin Hakh istilah pais
atau hamba tidak digunakan oleh Markus. Namun dalam bahasa Yunani kata yang
menunjuk hamba adalah doulos.[10] Hamba memiliki tugas menjaga rumah dengan tugas
yang berbeda untuk menjaga kemungkinan pencuri datang untuk mencuri harta yang
dimiliki oleh tuannya. Penekanan Yesus pada hamba dalam nas ini berkaitan
dengan permintaan Yakobus dan Yohanes. Pesan Markus sangat relevan bagi
pemimpin gereja. Menjadi pemimpin gereja berarti melayani kebutuhan saudara-saudaranya.
Konsep
hamba sama dengan Anak manusia dan setara dengan nyanyian hamba yang
menderitadalam Yesaya 53.Yesus memanggil murid-muridnya ketika permintaan
Yakobus dan Yohanes diajukan. Yesus menjelaskan bahwa sikap ingin menjadi
penguasa dan menindas adalah bukan sikap yang injili. Melayani dengan hati
hamba adalah sesuatu yang hampir mustahil dilakukan pada saat ini. Pengikut
Yesus cenderung melupakan pengajaran Yesus tentang pengorbanan Yesus, di mana
Ia melayani banyak orang bahkan mati di kayu salib. Penderitaan merupakan
bagian dari orang yang mau dipakai oleh Tuhan. Hamba tidak dikaitkan dengan
harapan orang Yahudi tidak dikaitkan dengan Kristus.
Terjemahan
Markus 10: 44; dan
akan kamu akan menjadi pertama jadilah seorang budak atau hamba untuk semuanya.
Dalam bahasa toraja, sia minda-mindammi tu la morai pangulu, sipatu la
mendadi kaunanmi sola nasang.
Today English version menjelaskan and if one of you wants to be first, he must be the
slave of all. Baik dalam terjemahan
harafiah, bahasa toraja dan bahasa inggris sehari hari memiliki kesamaan dengan bahasa aslinya.
Istilah yang digunakan
yakni Doulos bentuk nominatif,
maskulin.[11] Pada dasarnya hamba dalam
teks Markus 10:44, menjelaskan posisi hamba kaitannya dengan Anak manusia yang
menderita. Seperti yang dijelaskan dalam ayat 45: karena Anak Manusia juga
datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang. Terjemahan bahasa inggris menggunakan kata Slave yang berarti budak atau pembantu.
Dalam terjemahan Contemporary English Version ayat 45: the Son of Man did not come to be a slave
master, but a slave who will give his life to rescue many people. Kata yang
digunakan melayani adalah slave. Sedangkan
dalam terjemahan KJV menggunakan kata Minister.
Sedangkan dalam bahasa Toraja menggunakan kata ma’kamaya yang artinya melayani.[12] Terjemahan
dari ayat 43 yakni: tidak seperti yang terjadi diantara kamu, tetapi yang ingin
besar menjadi hendaklah menjadi pelayan bagi semua orang. Ayat 44: dan yang
ingin menjadi pertama hendaklah ia menjadi hamba. Ayat 45: juga Anak manusia
tidak datang untuk dilayani tetapi melayani dan memberikan nyawanya bagi banyak
orang. Gagasan hamba dapat dipahami kaitannya dalam Yesaya 42:1-4. Hamba Tuhan
sering dikaitkan dengan yang diurapi. Hal yang penting dari hamba adalah
kesatuan dengan Allah.
Bentuk,Struktur,
dan Penyampaian
Kata hamba yang dalam Markus 10:44 adalah kata benda
maskulin tunggal. Kalimat menggunakan kata penghubung dan, artinya lanjutan
dari ayat sebelumnya. Dalam ayat 43 kata penghubung yang digunakan adalah tidak
yang memberi pengertian in
questions when an affirmative answer is expected.
Ayat 45 dalam bahasa Indonesia menggunakan kata karena, dalam bahasa asli
menggunakan kata kai. Kata yang sama
digunakan dalam ayat 44, namun dalam hal ini ingin menjelaskan pengertian hamba
dalam ayat 44.
Penjelasan teks ayat 43-45, ingin menjelaskan bahwa
kemarahan kesepuluh murid dijawab Yesus dalam ayat 42. Di mana para pemerintah
dan pembesar memerintah rakyatnya dengan tangan besi. Yesus memberi pemahaman
bahwa penguasa dan pembesar yang diberi kepercayaan melayani namun tidak
melakukannya bahkan menindas. Ia menginginkan para murid tidak seperti penguasa
yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Tetapi melayani seperti hamba.
Hamba dalam artian membuat semua orang merasa nyaman dan sejahtera.
Tafsiran
Kata yang penting dalam penjelasan nas adalah doulos.[13] Hamba dalam injil
Markus dijelaskan sebagai objek atau milik. Tetapi dalam Markus 10:44, hamba
sebagai pelaku atau subjek. Jelas bahwa pernyataan Yesus tentang menjadi
terbesar hendaknya menjadi hamba, bukanlah sebagai objek penderita seperti nas
lain dalam Injil Markus tetapi sebagai pelaku. Seperti hamba taat pada
majikannya dalam melakukan tugasnya seperti itu jugalah kita dalam menjalankan
seluruh tugas yang diberikan Tuhan kepada kita. Hamba yang diutus Tuhan selalu
mendapat tantangan. Tantangan itu bisa saja dicela, dicaci bahkan mati karena
memberitakan kebenaran. Pekerjaan hamba bukanlah pekerjaan yang mudah.
Nyanyian tentang hamba yang menderita dalam Yesaya
49:3, Engkau adalah hamba-Ku, Israel, timbul pertanyaan apakah hamba itu
dimaksudkan dengan seluruh bangsa atau seorang individu yang melambangkan
Almasih?.[14] Hamba yang dimaksud
menurut gereja mula-mula adalah Yesus. Penderitaan tersebut yang dimaksud
adalah penderitaan seseorang untuk orang lain. Hal yang paling nyata dalam
Matius 8:17; Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.
Konsep hamba merupakan salah satu dari kristologi yang kaya.
Setiap orang dituntut untuk sabar menangung
penderitaan. Jalan penghambaan atau membuat diri menderita bukanlah jalan yang
harus dilalui tetapi sebuah sikap setiap pribadi dalam menjalankan tugas yang
dilakukan. Sikap seorang hamba adalah sikap tidak menyombongkan diri dan rendah
hati walaupun secara struktural ia adalah kepala perusahaan. Dalam gereja,
majelis bukanlah kepala pemerintahan, di mana berlaku seperti pejabat Negara
melainkan memiliki sikap yang rendah hati dan mau melayani.
Kesimpulan
Posisi hamba dari seluruh penelitian menunjukkan
bahwa hamba adalah milik seseorang dan memiliki kewajiban untuk melaksanakan
tugas sesuai keinginan majikannya. Namun Yesus mengangkat derajat hamba yang
semula hanya objek penderita, milik majikan dan selalu mendapat perlakuan yang
tidak baik dari majikannya telah diangkat menjadi pelaku. Yesus menghargai
pekerjaan hamba yang tidak kenal lelah mengerjakan pekerjaan sesuai tugas yang
diberikan kepadanya. Yesus hanya membiarkan diri-Nya untuk dikenal sebagai
hamba Allah.
Kata hamba dalam bahasa Yunani adalah doulos, menggunakan kata benda tunggal
dan sebagai pelaku. Setiap orang yang ingin menjadi besar dan terkenal
hendaklah menjadi seperti hamba. Yesus memberi contoh kepada murid-muridNya
bahwa seorang itu harus melayani bukan dilayani. Hamba kadang mendapat
penyiksaan dan penderitaan. Tetapi hamba yang setia akan dipercayakan kepadanya
semua harta yang dimiliki tuannya. Seperti Yesus yang setia melakukan tugas
bapa-Nya yang disurga maka Allah menganugrahkan tahta di sorga. Jika kita juga
setia melakuan tugas yang diberikan Kristus kepada kita maka kita akan bersama
Dia di dalam rumah-Nya.
PENERAPAN
Yesus
menggambarkan diriNya sebagai hamba yang menderita. Hamba yang menderita
seperti nyanyian dalam Yesaya 53:6 menyebutNya ebed Yahwe. Ia mengajarkan kepada murid-muridNya bahwa jika ingin
terbesar hendaklah menjadi hamba dan pelayan yang bekerja demi kemaslahatan
bersama. Walter M Post menggambarkan hamba dan pelayan adalah pembesar dalam
kerajaan Allah.[15] Hamba dan pelayan
tugasnya adalah melayani dan rendah hati sebagai pekerja dalam kerajaan Allah. Namun
kenyataannya situasi saat ini ada diantara pejabat gerejawi yang menganggap
diri dalam gereja sebagai orang yang berpangkat dan berkedudukan tinggi. Sehingga
memandang orang biasa dengan rendah dan menganggap derajantnya lebih tinggi.
Pelayan
dan hamba adalah kedua kata yang sejajar meskipun hamba bukan merupakan profesi
yang tidak baik. Budak atau hamba dalam tingkat sosial lebih rendah daripada
pelayan. Ketaatan hamba kepada majikannya adalah mutlak. Yesus memberikan
contoh kapada murid-Nya bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan
melayani. Bukan hanya melayani tetapi memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang.[16]
Yesus menggambarkan diriNya sebagai hamba yang menderita. Para pakar tidak
menemukan kombinasi antara Mesias dan Hamba yang menderita dalam
pra-kekristenan Yudaisme. Gagasan hamba yang menderita dituangkan dalam istilah
perjanjian lama yakni ebed Yahwe. Gagasan
hamba dalam perjanjian baru menggunakan istilah doulos. Ladd mengungkapkan bahwa Yesus tampak dalam kelemahan dan
kerendahan hati sebagai seorang manusia diantara banyak orang untuk menggenapi
takdir penderitaan dan kematian.[17]
Yesus memberikan instruksi kepada murid-murid-Nya jika ingin menjadi besar
hendaknya menjadi seorang hamba. Hamba taat pada perintah dan tugas yang
diberikan kepadanya tanpa ada protes.
Hamba
menggambarkan kerendahan hati dan mau menjalankan perintah Tuhan tanpa ada
bantahan terhadap tugas yang diberikan. Jika seorang ingin menjadi budak atau
pembantu ingin memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa peduli pada dirinya. Budak
atau pembantu mau mengerjakan apa saja demi menyelamatkan keluarganya dari
kesengsaraan. Hamba adalah terang bagi bangsa-bangsa. Hamba adalah panggilan
bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Kita diajarkan untuk menerima
dengan sabar penderitaan penderitaan dengan demikian menjadi contoh bagi orang
lain.
Model
hamba telah ditunjukkan Yesus yang mati bagi banyak orang di mana penderitaan
merupakan semangat bagi manusia untuk berjuang hidup. Ini juga mengisyaratkan
gaya evangelisasi, tidak dengan memengangkannya melainkan menanggung beban
derita yang dialami di dalam dunia. Seorang hamba selalu berkata jujur dalam
membongkar kejahatan atau persembunyian seseorang dari identitasnya. Dalam
Islam hamba berasal dari kata abd, yang
berarti merendahkan diri atau alat mengerjakan pekerjaan yang berat. Hamba
adalah pekerjaan yang hina namun jika dikerjakan dengan bijaksana maka akan ada
upah yang diberikan oleh majikan. Upah itu berdasarkan pekerjaan yang telah
dikerjakan dengan susah payah.
Yesus
menyebut diri sebagai Putra Allah dan Mesias, hamba yang menderita. Titik yang
menentukan dalam kitab ini adalah episode di Kaisarea Filipi, yang disusul oleh
peristiwa pemuliaan Yesus (Mrk 8:27-9:10), ketika identitas dan misi penderitaan
Yesus dinyatakan dengan jelas kepada kedua belas murid-Nya. Bagian pertama
kitab Injil ini memusatkan perhatian terutama kepada mukjizat luar biasa yang
dilakukan Yesus dan pada kuasa-Nya atas penyakit dan setan-setan sebagai tanda
bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Akan tetapi, di Kaisarea Filipi itu Yesus
memberitahukan dengan terus terang kepada para murid bahwa Dia harus menanggung
banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli
Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31).
Menusut Stefan Leks kata hamba, dalam Injil
Markus, mengacu kepada fungsi seorang bawahan (Mrk 12:2,4; 13:34;14:7).
Seorang hamba tergantung secara hampir menyeluruh dari majikan yang
dilayaninya. Namun, dalam teks ini, majikan itu bukan seorang individu
melainkan seluruh komunitas Kristen.[18]
Komunitas Kristen justru dikenal bukan pada syarat untuk melayani melainkan
memberi diri seperti seorang hamba. Pemahaman banyak orang
tentang melayani Tuhan adalah aktif dalam kegiatan rohani di lingkungan gereja,
yaitu dengan mengambil bagian dalam tugas tertentu. Sesungguhnya anggapan seperti
ini justru membuat mereka tidak pernah melayani Tuhan dengan benar, sebab yang
terbangun adalah anggapan bahwa segala kegiatan di luar lingkungan gereja
bukanlah pelayanan bagi Tuhan. Sebenarnya yang dimaksud dengan melayani Tuhan
adalah melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Tentu ini bukan hanya dalam
melakukan kegiatan gereja, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan
sampai di gereja kita menjadi pelayan Tuhan, di luar gereja menjadi pelayan
setan. Menghambakan diri berarti memberi diri untuk melakukan apa saja yang
dikehendaki-Nya. Sikap seorang hamba digambarkan sebagai sikap yang ditunjukkan
dalam pelayanan.
Di Indonesia seorang
buruh, budak, hamba, atau pembantu kadang tidak mendapatkan perlakuan yang
baik. Pekerjaan yang berat kadang tidak sebanding dengan pembayaran pada kerja
keras. Tuntutan yang diajukan oleh para buruh adalah mendapat penghasilan yang sebanding
dengan kerja keras mereka. Tuhan memberikan janji bahwa jika hendak menjadi
terbesar hendaklah menjadi hamba dan pelayan. Janji Kristus akan upah yang
diterima oleh hamba yang setia adalah menjadi milik kepunyan Tuhan. Kristus
memberikan bukti seorang hamba yang setia, yakni pada diri-Nya sendiri. Di mana
Dia bersama Allah Bapa berada dalam sorga yang penuh damai dan sejahtera. Bolkestein
mengatakan bahwa Yesus tidak memerintahkan untuk mengikuti jalan perhambaan
melainkan menyangkut sikap (Mrk 8:35; 10:15).[19]
Perintah yang diajukan Yesus pada injil Markus menunjuk pada keadaan yang
nyata. Di mana seorang hamba betul-betul taat dalam menjalankan tugas yang
diberikan kepadanya.
Dalam pelayanan bukan
hati boss yang dicari melainkan hati hamba. Menurut Andrew Buchanan bahwa kita
melaksanakan pekerjaan Tuhan berdasarkan kesanggupan kita dalam mengerjakannya (2
Kor 3:5) Yesus mengecam ahli taurat bukan karena ketaatan mereka melainkan
karena kesombongan diri.[20]
Kerendahan hati dalam pelayanan dituntut Tuhan supaya tidak ada kesombongan
diri. Yesus menghambarkan pengabdian
seorang hamba, merupakan keadaan seorang manusia di hadapan Tuhan. Mengapa Yesus
memberikan nasihat kepada para murid tentang konsep seorang hamba? Yesus
mengajarkan bersikap seperti hamba supaya manusia saling menghargai.
Seorang hamba tidak
bisa menuntut apa-apa dari tuannya melainkan mendapatkan hak atas pekerjaannya.
Yesus mengkritik kehidupan orang Yahudi yang menganggap diri lebih tinggi dan
lebih suci dari seluruh umat. Gambaran tentang kesalehan Ahli Taurat disamakan
dengan kuburan. Di mana kuburan terlihat indah dari luar namun di dalam penuh
dengan kebusukan dan kekerasan hati. Hamba tidak memiliki kekuatan dalam
stratrifikasi sosial bahkan nyawa tidak berharga sekalipun. Sebagai hamba Tuhan
kita tidak dapat menuntut kepada Tuhan atas kesetiaan terhadap hukum-hukum-Nya.
Seorang hamba dengan rela hati
mengambil tempat yang terendah, dan bertahan dalam berbagai kesulitan dan
penderitaan karena pelayanannya terhadap orang lain. Kesetiaan yang demikianlah
yang Yesus ingin ajarkan kepada murid-muridNya. Sebab hamba yang setia akan
diberikan kepercayaan oleh tuannya jika ia setia.
Seorang
doulos adalah seorang hamba yang
terikat melayani tuannya seumur hidup. Kata doulos
dalam bahasa Yunani modern berarti bekerja, atau bekerja keras. Yesus
memberikan gambaran hamba yang menderita demi kepentingan orang lain. Seorang
pelayan bukan seorang budak tetapi melakukan pekerjaan budak. Budak atau hamba
melakukan pekerjaan dengan giat demi kesejahteraan orang lain. Menurut
Darmawijaya hamba menampilkan kemuliaan, kesetiaan, ketaatan dan kasih yang tak
ternilai. Hamba itu secara fisik tidak punya kelebihan dan hanya memberikan
yang bisa ia berikan. Hamba itu sendirian, sepi, dihina dan ditolak banyak
orang. Yesus memberikan gambaran hamba sebab memberikan yang terbaik.[21] Yesus
menyampaikan kepada murid-murid pentingnya memiliki hati hamba. Kita harus
melayani sesama karena Tuhan Yesus sendiri katakan bahwa Ia datang ke dunia ini
bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Banyak orang yang melayani sesama
supaya dipuji, dihormati dan tidak dengan motivasi yang benar. Mereka rajin
dalam pelayanan-pelayanan sosial tetapi sesungguhnya mereka mengindahkan hukum
yang pertama yaitu mengasihi Tuhan. Barangsiapa mengasihi Tuhan, ia pasti
melayani Tuhan. Sebelum kita melayani sesama, kita harus melayani Tuhan dulu.
Hal itu adalah keharusan bagi barangsiapa yang telah ditebus-Nya.
Hamba memulai pelayanan atau tugas dengan berdoa. Doa
sebagai ketergantungan manusia kepada Tuhan. Yesus mengajarkan agar setiap
orang percaya selalu memulai tugas dan pekerjaannya dengan memohon pimpinan
Tuhan atau berdoa. Hamba itu datang bukanlah untuk
dilayani, tetapi untuk melayani dengan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan
dosa manusia. Hal ini mengajarkan kepada setiap orang Kristen untuk memberikan
pelayanan kepada Allah, yaitu dengan memberitakan Injil dan melayani di dalam
gereja. Hamba yang setia memperoleh kemuliaan yang asalnya dari Tuhan. Gaya
hidup seperti hamba menjadi ciri khas orang yang percaya kepada Kristus sebab
Ia telah memberikan contohnya.
Kehambaan menekankan presensia (kehadiran dan hidup) yang dinamis di
tengah-tengah mereka yang lain. Dengan demikian tidak bisa dikatakan pasif sama
sekali karena si hamba harus hidup berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup
dengan rendah hati di hadapan Allah. Prinsip hidup seorang
hamba yakni membuat dirinya bermanfaat bagi banyak orang. Hamba tidak menuntut
banyak hal, ia hidup sederhana tetapi tidak membuat diri menderita. Hamba siap
mengabdikan diri dengan tekun sampai akhir hidupnya. Yesus memberi gambaran hamba yang menderita sengsara
karena memberi diri sepenuhnya untuk mengerjakan tugas kasar. Suatu
sikap penyerahan segala hak pribadi secara utuh untuk diatur oleh majikannya.
Berarti ia sedang menyangkal dirinya atau tidak berhak lagi atas hak pribadinya.
Hak itu sudah melebur atau menyatu dengan hak tuannya. Dan Yesus sendiri telah
menerapkan kepemimpinan demikian dalam hidupnya (Mrk. 10:45).
Para murid diajar oleh
Yesus untuk mengambil resiko harus berani menjadi kecil dan rendah diantara
masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman perubahan sosial sangat cepat
dari lapisan sosial satu ke lapisan sosial lain. Manusia bukan hidup untuk
dirinya sendiri melainkan terpanggil untuk menyadari jati dirinya sebagai
manusia. Benar yang dikatakan Th Sumartana bahwa manusia bukan hanya mencari
makan tetapi mencari makna. Yesus ditampilkan sebagai seorang yang banyak
bertindak dan yang berwibawa. Kewibawaan-Nya nyata dalam cara Ia mengajar,
dalam kuasa-Nya terhadap roh-roh jahat, mengampuni dosa.
Yesus menampilkan
diri-Nya sebagai Anak Manusia yang memberikan nyawa-Nya supaya manusia
dibebaskan dari dosa. Perbuatan-perbuatan-Nya lebih banyak ditekankan daripada
perkataan dan ajaran-Nya. Seperti hamba lebih banyak bekerja daripada
berbicara, demikianlah orang percaya yang mengerjakan pekerjaan Tuhan. Hamba
melakukan tugasnya berdasarkan perintah tuannya, seperti itu juga orang percaya
setia dalam segala perkara. Bagi
Markus gereja adalah persekutuan murid-murid Yesus. Ditekankan dengan sangat
hendaknya orang-orang ini sungguh menjadi pelayan seluruh Gereja seutuhnya
memberikan diri demi kesejahteraan bersama, seperti halnya Yesus sendiri
(10:35-45).
Pelayanan gereja dapat mengacu pada pelayanan Yesus dengan
bersekutu dalam sebuah kelompok. Satu-satunya yang dituntut Yesus dalam
kehidupan manusia adalah menerima pemberian hidup yang kekal ialah iman dan
keyakinan. Iman dinyatakan sebagai kepercayaan kepada Allah dengan kerendahan
hati. Kita sulit mengerti ajaran Yesus mengenai sikap orang percaya terhadap
perceraian, kekayaan dan ambisi untuk menjadi penguasa. Yesus yang member kuasa
Roh Kudus untuk memimpin pada sifat-sifat yang mulia. Orang percaya dituntut
untuk mengeluarkan buah yang banyak bagi kemuliaan nama-Nya. Umat percaya tidak
boleh terpisah dari Tuhan Yesus yang memiliki persekutuan yang erat dalam kasih-Nya.
Pelayan hamba merupakan landasan etika moral bagi kepemimpinan serta pola dasar
manajemen kepemimpinan. Pelayanan hamba memberi tekanan yang berorientasi pada
keberhasilan. Fokus melayani dari kepemimpinan Tuhan Yesus dibangun atas tujuan
dan sasaran yang jelas dan pasti yang membawa kebaikan bagi banyak orang. Pelayan
yang bersikap hamba akan menghasilkan kinerja tertinggi dalam kepemimpinan. Pelayanan
hamba terfokus pada kinerja yang tinggi dalam memberi penyembuhan bagi
kemanusiaan. Pelyanan hamba menjadi ciri khas bagi orang percaya yang dituntut
untuk melayani dengan rendah hati.
KESIMPULAN
Yesus
memberikan gambaran tentang hamba sebab hamba tidak memberi tempat pada perkara
yang menjurus kepada kepentingan diri sendiri. Mengikuti Yesus tidak berarti
dihormati oleh manusia lain. Yesus mengecam keras orang-orang yang menetingka
kesan berikan kepada orang lain. Kehidupan hamba tertuju pada Allah yang
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Mengikuti Yesus memungkinkan sebuah
makna baru kehidupan. Yesus tidak pernah menggantikan tugas dan panggilan yang
diemban-Nya dengan kedudukan sosial.
Hamba
yang menderita sering dikaitkan dengan Anak Manusia. Di mana Anak manusia
mengandung kemanusiaan. Sifat manusia ada didalam diri-Nya, Ia dapat menangis
serta merasakan penderitaan seorang hamba. Yesus berbicara penuh dengan kuasa
dalam bidang apapun dimanapun pendengar berada. Yesus menganggap diri sebagai
hamba sebab Ia menyerahkan hidup untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Keagungan-Nya
sebagai hamba Tuhan Nampak dalam kematian untuk menyelamatkan banyak orang.
Menurut
Tom Jacobs hamba dilihat sebagai orang yang selalu menyerahkan dirinya kepada
Tuhan.[22]
Persoalan hamba bukan pada keadaanya yang menderita tetapi kesetiaannya. Hamba
tidaklah sama dengan Kristus sebab figur tersebut adalah gambaran atau keadaan
yang satu dengan Allah. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai hamba yang
melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang dilihat sebagai pewartaan
kematian-Nya. Pengaruh nyanyian Yesaya 53 dalam kehidupan sekarang tidak
terasa. Di mana seorang hamba harus melayani dan memberi seluruh hidupnya bagi
kesejahteraan seluruh orang. Ada beberapa pelayan yang hanya mengejar kedudukan
dan tidak mau melayani.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab,
Kamus, Tafsiran
Alkitab.
2010. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Browning, W.R.F. 2010. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Lembaga
Biblika Indonesia. 1982. Tafsiran Markus. Yogyakarta: Kanisius
Linden, Philip Van. 2002.Tafsiran Injil Markus, dalam Deanne Bergant dan Robert J Karris,
Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Kanisius: Yogyakarta,
Buku
Bolkestein, M.H. 1991. Kerajaan Yang
Terselubung: Ulasan Atas InjilMarkus. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
Darmawijaya. 1987. Gelar-Gelar Yesus. Yogyakarta: Kanisius,
Guthrie,
Donald. 2010. Pengantar Perjanjian Baru 1.
Surabaya: Momentum
Hakh, Samuel Benyamin. 2007. Pemberitaan Tentang Yesus Menurut Injil-Injil Sinoptik. Bandung:
Jurnal Info Media
Jacobs, Tom. 1981. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius
Ladd,
George Eldon. 2010. Teologi Perjanjian
Baru 1. Bandung: Kalam Hidup
Leks,
Stefan. 2007. Tafsir Injil Markus. Yogyakarta:
Kanisius,
Post,
Walter M. 1998. Tafsiran Injil Markus.
Bandung: Kalam Hidup
Wahono,
Wismoady. 1998. Disini Kutemukan. Jakarta:
BPK Gunung Mulia
Internet
Buchanan, Andrew Tafsiran Injil Markus, askses
dari,: http: www.tomentiruran.wordpress.com,
download tanggal 7 februari 2012.
[1] Samuel Benyamin Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus Menurut
Injil-Injil Sinoptik (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 108
[2]
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru (Jakarta: BPK
Gunung Mulia,1992), 297
[3] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2010), 131
[4] Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru 1 (Surabaya:
Momentum, 2010), 61
[5] Philip Van Linden, Tafsiran Injil Markus dalam Deanne
Bergant dan Robert J Karris, Tafsiran
Alkitab Perjanjian Baru (Kanisius: Yogyakarta, 2002), 80
[6] Walter M Post, Tafsiran Injil Markus (Bandung: Kalam
Hidup, 1998), 7
[7] Wismoady Wahono, Disini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1998), 371
[8] Sabda, Latar Belakang Kitab Markus, akses tanggal 10 Februari 2012,
tersedia di http: www.sttintimnetintexs.htm NetInText/SABDA-Web/P_index.htm.
[9] Donald Guthrie, Op. Cit, 48
[10] Samuel Benyamin Hakh, Op. Cit, 108
[11] Kata benda nominatif maskulin
singular berkenaan dengan subjek, atau pelaku, atau sebagai. Secara literal
berarti seorang relawan.
[12] Bahasa asli menggunakan kata diakonesai, tens yang digunakan adalah
aorist actif inferatif.
[13] Dalam terjemahan setiap nas yang
diambil berdasarkan kata hamba yang terdapat dalam Markus 10:44; 12:2-5, 13:34;
14:47 menunjuk pada hamba laki-laki. Sedangkan hamba dalam Markus 14:66, 69
menunjuk pada hamba yang berjenis kelamin perempuan baik jamak maupun tunggal.
[14] Tom Jacobs, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru ( Yogyakarta:
Kanisisus, 1981), 188
[15] Walter M Post, Op.Cit, 113
[16] Lembaga Biblika Indonesia, Tafsiran Markus (Yogyakarta: Kanisius,
1982), 99
[17] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru 1 (Bandung:
Kalam Hidup, 2010), 206
[18] Stefan Leks, Tafsir injil Markus (Yogyakarta:
Kanisisus, 2007 ), 362
[19] M.H
Bolkestein, Kerajaan Yang Terselubung: Ulasan Atas InjilMarkus.
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 214
[20] Andrew Buchanan, Tafsiran Injil Markus, askses dari,:
http: www.tomentiruran.wordpress.com, download tanggal 7 februari
2012.
[21] Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius,
1987), 108
[22] Tom Jacobs, Op.Cit, 190
Tidak ada komentar:
Posting Komentar