Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Kamis, 13 September 2012

katekisasi


A.   PENGERTIAN

Menurut Abineno, istilah- istilah yang berkaitan dengan katekisasi yaitu:
1.    Katekhein artinya memberitahukan, memberitakan, mengajar, memberi pengajaran.Mengajar dalam artian membimbing orang supaya ia melakukan apa yang diajarkan kepadanya
2.    Didaskein artinya menyampaikan pengetahuan dengan maksud supaya orang yang diajar itu dapat bertindak dengan terampil sesuai dengan apa yang diajarkan kepadanya,terutama segala sesuatu yang Kristus perintahkan.
3.    Ginoskein artinya pengetahuan mereka peroleh tentang kehendak Allah karena pergaulan yan intim dengan Dia dan yang menyatakan diri dalam suatu hidup yang taat kepadanya.
4.    Manthanein artinya kata yang mengindikasikan suatu realitas dimana terdapat suatu persekutuan yang tetap antara murid- murid dan Yesus sebagai Tuhan yang hidup,yaitu Tuhan yang memanggil mereka untuk mengikutiNya dan melakukan apa yang Ia ajarkan kepada mereka
5.    Paideuein artinya mendidik dan membimbing anggota- anggota jemaat untuk belajar berjalan di jalan pengudusan dan tetap berjalan di jalan itu.
Dari istilah- istilah tersebut diatas, katekisasi adalah membimbing anggot- anggota jemaat khususnya yang masih muda ke dalam perkataan- perkataan Allah dan perbuatan- perbuatan Allah seperti yang terdapat dalam Alkitab.Maksudnya adalah supaya mereka belajar untuk hidup bersama- sama dengan Allah dibawah pimpinan Roh Kudus dan didalam persekutuan dengan Yesus Krisus, Anak Allah itu.
Menurut Fitriani Anna Gasong, katekisasi adalah memberitakan dan mengajarkan Firman Tuhan kepada setiap orang Kristen agar dapat bertumbuh menuju kepada kedewasaan.

Menurut Lembaga Pendidikan Kader katekisasi adalah proses perkembangan antara kehidupan agama yang ditinggalkan dan kehidupan baru sebagai anggota Kristen dan anggota jemaat.

Menurut Minggu, katekisasi adalah salah satu dari sekian banyak tugas gereja yang intinya adalah memberikan pengajaran kepada anak- anak atau pemuda yang akan didewasakan imannya.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa katekisasi adalah membimbing dan mengajar anggota jemaat khususnya yang masih muda kepada pengenalan yang benar akan Allah untuk diteguhkan sebagai anggota jemaat yang dewasa dalam iman.


B.   SEJARAH KATEKISASI GEREJA.

Menurut Abineno, sejarah katekisasi dibagi ke dalam 6 zaman, yaitu:
1.    Pada zaman Perjanjian Baru
Pada zaman ini katekisasi gerja masih sangat sederhana. Unsur  pengakuan iman misalnya tidak lebih panjang dari pengakuan, bahwa Yesus adalah Tuhan.Bimbingan ethis dan doa juga penting dalam katekisasi jemaat- jemaat purba.Misalnya bentuk yang tetap dari doa Bapa Kami dalam Matius 6:9 – 15.

2.    Pada abad Pertama
Pada masa ini orang sudah memakai katekismus yaitu Didakhe atau ajaran kedua belas Rasul.Katekismus ini berasal dari lingkungan orang- orang Kristen Yahudi dan ditulis sekitar tahun seratus Masehi.Isinya adalah kedua jalan atau hukum- hokum untuk hidup orang Kristen, petunjuk liturgis untuk pelayanan Baptisan dan perjamuan malam, peraturan –peraturan untuk hidup jemaat dan pejabat- pejabatnya, dan nasihat yang bersifat eskatologis.
Dalam abad kedua katekisasin umat makin berkembang dan memperoleh bentuk- bentuk  yang tertentu sebagai katekumenat yang terdiri dari dua tingkatan yaitu katekumin- katekumin atau pengikut katekisasi, dan tingkat calon –calon baptisan.

3.    Zaman abad Pertengahan
Dalam abad –abad ini katesasi gereja makin lama makin mendangkal.Katekisasi tidak lagi diberikan kepada anak- anak dari keluarga- keluarga Kristen, tetapi hanya diperuntukan kepada orang- orang yang berpindah dari agama kafir ke agama Kristen sebagai persiapan untuk menjadi anggota gereja.
Dalam abad ke delapan dan sembilan ketika berita injil disampaikan kepada bangsa- bangsa German,katekisasi gereja mengalami suatu perubahan.Pada waktu itu dituntut lagi bahwa orang- orang yang mau menerima baptisan harus dipersiapkan dengan baik.Setelah Eropa di-Kristenkan, pengajaran katekisasi merosot lagi seperti dahulu dan hanya terdiri dari penghafalan pengakuan iman dan doa, pengenalan akan sakramen- sakramen dan upacara- upacaranya dan pengetahuan akan daftar- daftar dosa, pengakuan dosa yang makin lama makin besar memainkan peranan.Pengakuan dosa merupakan semacam “kursi pengadilan” rohani,yang dengan keputusan- keputusan dan hokum- hukumnya mencakup seluruh hidup anggota jemaat bahkan sampai pada akhirnya Alkitab tidak mendapat tempat sebagai bahan khusus dalam katekisasi.Ia memang kdang- kadang dikutip tetapi hanya untuk menjelaskan bahan- bahan yang harus dipelajari.

4.    Pada zaman Reformasi.
Alkitab menjadi pusat dalam teologi dan dalam praktek gereja.Penempatan ini menimbulkan perubahan besar di bidang katekisasi.Dalam zaman reformasi ini perubahan berlangsung di tiga bidang,yaitu:
-          Isi katekisasi, yaitu Alkitab menjadi sentral dalam katekisasi.Untuk dapat memahami bahan- bahan yang harus dipelajari dengan baik, pesert- peserta katekisasi disuruh menghafal sejumlah nas dan mempelajari beberapa cerita Alkitab.Bahkan pada abad ketujuh belas cerita- cerita Alkitab oleh pengaruh pietisme mendapat tempat yang khusus dalam katekisasi.
-          Ruang cakup katekisasi, yaitu mencakup semua orang.Sebab sebagai imam, orang- orang percaya menurut para reformator harus selengkap dan sebaik mungkin mengetahui kebenaran yang ia percayai.Teologia harus menjadi milik dar semua orang.Luther berpendapat bahwa tempat katekisasi adalah keluarga dan sekolah.Gereja mempunyai tugas lain yaitu memberikan penjelasan lebih luas oleh khotbah katekismusnya tentang apa yang dipelajari dalam katekisasi.Sedangkan Swingli, katekisasi sebenarnya adalah tugas pokok dari gereja.Karena itu ia berusaha memperoleh ruang dimana gereja dapat menunaikan tugas ini antara laindengan mengumpulkan ank- anak untuk mempelajari pengakuan iman dan doa.Calvin juga setuju dengan Swingli.Pada tahun 1536 ia menerbitkan iktisar dari institusionya sebagai katekismus dalam bahasa Perancis.
-          Cara mempelajari bahan katekisasi:Luther menuntut agar para pengikut katekisasi harus mengerti apa yang dipelajarinya.Pengetahuan dengan otak dan pengetahuan dengan hati hars berjalan bersana- sama.Injil harus dapat dimengerti dengan otak dan dapat dipahamidengan hati.Oleh karena itu penjelasan katekismus  harus sesuai dengan daya tangkap anak- anak.

5.    Zaman Zending Belanda
Kebiasaan- kebiasaan yang dipakai oleh gereja- gereja di Eropa di bidang katekisasi  di bawah masuk oleh pendeta- pendeta Zending ke Indonesia.Salah satu dari kebiasaan itu adalah katekisasi yang erat dihubungkan dengan pengajaran agama di sekolah.Dalam Sidang Raya Agung tahun 1624 di Betawi ditetapkan bahwa anak- anak Belanda dan bukan Belanda harus dididik secara Kristen di sekolah dan bahwa untuk pelajan agama selanjutnya anak- anak itu harus mengunjungi pengajaran katekisasi gereja.Lanjutan pengajaran agama di sekolah adalah pengajaran katekisasi yang diberikan oleh pendeta- pendeta di gereja.Salah satu buku katekisasi yang paling besar dan paling lama memainkan peranan dalam pelayanan jemaat di gereja- gereja di Indonesia adalah buku Tanya jawab yang ditulis oleh Marnix van St.Aldegonde.
6.    Zaman Sekarang
Dalam hal pengajar katekisasi pada zaman sekarang adalah orang- orang yang telah memperoleh Pendidikan Agama Kristen.Dimana mereka memiliki pengetahuan tentang bahan –bahan katekisasi yang mereka gunakan, metode pengajaran, alat- alat Bantu untuk katekisasi, dan lain – lain.Juga buku- buku yang digunakan dalam pengajaran katekisasi tidak sama dengan buku- buku yang digunakan pada waktu zending, walaupun Katekismus Heidelberg, katekismus kecil, dari Luther masih ada gereja yang menggunakannya.


C.   JENIS- JENIS KATEKISASI

Menurut Abineno ada 3 jenis katekisasi yaitu :
1.    Katekisasi Keluarga
Keluarga adalah tempat yang mula-mula dimana pendidikan dan bimbingan agama diberikan, orang tua berfungsi sebagai pengajar –pengajar yang pertama. Pengajaran dalam keluarga ini adalah bentuk purba dari pelayanan katakese, pemberitaan tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar.
Bukan hanya Sinagoge yang mengaitkan pengajarannya pada pendidikan keluarga tetapi juga gereja. Hal itu sering kita baca dalam tulisan-tulisan dari bapak-bapak gereja bahwa katakese keluarga menempati tempat yang paling penting dalam gereja purba yang sedang bertumbuh pada waktu itu. Gereja tahu bahwa ia mempunyai tugas untuk mengajar dan membimbing anggota-angotanya tetapi tugas itu selalu dipahami sebagai tugas disamping dan dalam lanjutan dari tugas orang tua tetapi mengokohkannya dan terus membangun katakesenya diatas dasar katakese  keluarga.
Menurut Calvin orang tua terutama dan langsung memikul tanggung jawab atas pendidikan agama anak-anak mereka. Dalam pembaptisan anak-anak, orang tua dengan resmi mendapat tugas mendidik anak-anak dalam takut akan Tuhan.
2.    Katekisasi Sekolah
Sekolah dasar disebut juga beth-ha-sefer dimana anak-anak yang berumur 6/7 tahun diajar membaca dan menghafal nas Torah secara harafiah. Pengajaran diatur menurut umur anak-anak. Ketika anak sudah berumur sepuluh tahun anak mulai dengan pengajaran yang sebenarnya. Pada umur dua belas/tiga belas tahun mereka diwajibkan untuk meneruti/melaksanakan seluruh syariat agama Yahudi.
Bahan pengajaran terdiri dari pengakuan iman, doa utama, pembacaan Torah, pengajaran tentang arti dari hari-hari raya Yahudi.
Dalam abad-abad pertengahan muncul sekolah-sekolah yang memuat katakese dalam kurikulumnya. Dimana murid-murid harus mengahafal Credo, Dekalog (Dasa Firman), Pater Noster (Doa Bapa Kami) dan ketujuh Mazmur pengakuan dosa dalam bahasa latin.
Menurut Calvin katakese sekolah berfungsi untuk mendidik orang-orang muda supaya mereka dapat bertindak secara bertanggungjawab menurut Firman Tuhan, untuk itu harus ada guru-guru yang baik dan beriman. Dalam pengajaran sekolah yang bersifat reformatories ini, Alkitab mendapat tempat yang sakral, disamping katekismus dan mazmur-mazmur Daud. Melalui sinode Dordrecht diputuskan bahwa guru-guru yang mengajar di sekolah harus memenuhi syarat-syarat :
-          Mereka harus anggota dari gereja Hervormd.
-          Harus mempunyai kelakuan yang baik dan mampu mengajar
-          Mereka harus menandatangani pengakuan iman gereja Hervorm dan Katekismus Heidelberg.
-          Harus berjanji bahwa dengan teliti akan mengajar anak-anak untuk dapat melayani Tuhan disegala bidang kehidupan.
-          Dua hari seminggu mereka harus melatih anak-anak untuk menghafal dan memahami dengan baik isi Katekismus
-          Mereka harus membawa anak-anak ke ibadah khotbah-khotbah Katekismus dan menyelidiki apakah mereka mengerti khotbah-khotbah itu atau tidak
Sedangkan         di Indonesia dalam sidang Agung di Betawi di tetapkan bahwa anak –anak Belanda dan bukan Belanda harus dididik dan diajar secara Kristen  di sekolahdan bahwa untuk pelajaran agama selanjutnya anak- anak itu harus mengunjungi
Syarat-syarat guru yaitu:
-          Harus seorang anggota sidi
-          Harus dapat langsung membaca buku- buku dan surat- surat yang di cetak
-          Harus dapat menulis dan berhitung dengan baik
-          Harus dapat menyanyikan Mazmur- mazmur Daud.

3.    Katekisasi gereja.
Dalam abad- abad pertama katekisasi gereja makin berkembang dan memperoleh bentuk- bentuk tertentu sebagai  katekumenat. Katekumenat  gereja purba terdiri dari dua bagian atau tingkatan yaitu tingkat katekumin- katekumin dan calon- calon baptisan.
Pengajaran baptisan terdiri dari penjelasan tentang soal- soal iman,doa,puasa,dan askese.Pengajaran baptisan adalah suatu bimbingan dalam rahasia iman.Calon baptis dipersiapan secara lahir-batin untuk menerima baptisan sebagai suatu pengalaman religius.
Pada waktu reformasi katekisasi lebih kepada lembaga pengajaran tersendiri kepada anak- anak muda.Terutama pemberitaan dalam ibadah -ibadah jemaat dianggap pada waktu itu sebagai suatu alat yang ampuh untuk mendidik anak- anak muda dalam Firman Allah dan dalam hidup kerohanian mereka.Khotbah- khotbah katekismus dari para pendeta memainkan peranan pentingpada waktu itu sebagai bagian dari
pendidikan gerejawi kepada anak muda.

D.   FUNGSI KATEKISASI
Menurut Gasong katekisasi berfungsi untuk mempersiapkan anak- anak dan orang yang ingin mengikuti jalan keselamatan dari Yesus Kristus,dan juga untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan anggota jemaat tentng kehendak Allah supaya mereka nantinya menjadi pelayan yang dapat melayani gereja dan masyarakat secara bertanggung jawab.

E.   TUJUAN KATEKISASI
Menurut Abineno tugas katekisasi adalah mendidik anak- anak muda  supaya mereka bertanggung jawab dapat berpartisipasi dalam hidup dan pelayanan gereja kepada Allah.
Abineno kemudian merumuskan tujuan katekisasi menurut beberapa ahli kedalam empat jurusan:
a)    Katekisasi adalah pemberian pengetahuan.Peserta katekisasi harus mengetahui hal- hal pokok dari isi Alkitab dan ajaran gereja
b)    Katekisasi bertujuan untuk membina anggota –anggota jemaat untuk menyadari tugas mereka didalam gereja.Peserta katekisasi harus mengetahui bahwa gereja adalah persekutuan.
c)    Untuk mendidik anak- anak muda supaya mereka menjadi hamba- hamba Allah yang bertanggung jawab didalam dunia.
d)    Untuk menyampaikan pengetahuan tentang Allah dari generasi ke generesi.
Menurut Abineno tujuan katekisasi itu dapat dicapai apabila peserta
katekisasi telah dipimpin pada pengetahuan akan Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat  mereka.

Menurut Lembaga Pendidikan Kader,katekisasi bertujuan untuk memperlengkapi calon anggotanya atau anggota baptis yang ingin mengikuti sidi,dengan maksud agar mereka akan menjadi anggota dewasa dalam iman.

F.    YANG TERLIBAT DALAM KATEKISASI

1.    Majelis Jemaat
Majelis jemaat bertanggung jawab atas pelaksanaan katekisasi.Tugas majelis jemaat dalam katekisasi adalah :
a.    Meunjuk pemimpin katekisasi
b.    Menyiapkan rencana katekisasi tahunan
c.    Membangunkan orang tua tentang katekisasi melalui warta jemaat,supaya mereka menyuruh anak- anaknya untuk mengikuti katekisasi
d.    Mengusahakan agar orang tua terlibat dalam katekisasi
e.    Mengadakan percakapan dengan peserta katekisasi
f.     Mengawasi supaya tugas dan panggilan peserta katekisasi sebagai saksi-saksi dan pelayan- pelayan Kristus di dalam dunia,kalau mereka telah di teguhkan menjadi anggota sidi di bicarakan dengan mereka di dalam katekisasi
g.    Menerima peserta katekisasi sesudah suatu percakapan pastoral dengan mereka untuk diteguhkan menjadi anggota sidi.
2.    Pemimpin Katekisasi         
Yang menjadi pemimpin katekisasi kebanyakan adalah pendeta.Namun dalam prakteknya pelaksanaannya tidak terlalu maksimal karena:
a.    Pendeta sangat sibuk dalamtugas dan pelayanannya
b.    Pendeta umumnya hanya mempunyai pengetahuan teologis,mereka kurang dalam bidang pedagogis,didaktik, psikologis,dan iain- lain.
Tugas- tugas pemimpin katekisasi:
a.    Menyusun rencana katekisasi tahunan
b.    Mempersiapkan katekisasi atau bahan dengan baik
c.    Menilai materi yang telah diajarkan
d.    Mengadakan percakapan dengan peserta katekisasi,khususnya tentang hal- hal yang tidak dapatmereka cerna atau sulit mereka pahami
e.    Mengadakan pertemuan denganpara orang tua dan majelis jemaat untuk membicarakan tugas mereka bersama atau hal- hal lain yang berhubungan dengan tugas mereka
f.     Mengadakan kunjungan ke rumah- rumah para orang tua untuk membicarakan keadaan anak- anak mereka yang sedang mengikuti katekisasi.
3.    Orang tua
Pada waktu orang tua menyerahkan anak- anaknya untuk dibaptis,mereka berjanji untuk mendidik anak- anak mereka dalam iman kepada Yesus Kristus dan membina mereka dalam ibadah dan pengajaran gereja.Dalam hal ini tugas orang tua adalah bukan hanya menyuruh anak-anak mereka untuk mengikuti katekisasi tetapi lebih daripada itu yaitu turut menambil bagian yang aktif dalam pelayanan itu.
              Tugas –tugas orang tua yaitu:
a)    Membicarakan partisipasi mereka sebagai orang tua dalam pelayanan katekisasidengan majelis jemaat dan pemimpin- pemimpin katekisasi
b)    Mengadakan percakapan dengan pemimpin katekisasi tentang keadaan anak- anak yang mengikuti katekisasi
c)    Mengadakan percakapan dengan anak- anak mereka tentang katekisasi yang sedang mereka ikuti.

4.    Peserta katekisasi
Peserta katekisasi adalah umumnya terdiri dari ank- anak muda yang bukan saja secarah lahiriah, tetapi yang juga secara rohaniah banyak memperlihatkan perbedaan, seperti:
a)    Perbedaan motivasi,ada yang datang mengikuti katekisasi karena disuruh orang tua,ada juga Karena kemauannya sendiri.
b)    Perbedaan umur
c)    Perbedaan pendidikan
d)    Perbedaan maksud dan tujuan,ada yang datang untuk mendalami pengetahuan tenang soal- soal rohani.
Dari perbedaan- perbedaan tersebut pendidk diharuskan untuk mampu memahami setiap peserta katekisasi sehingga dia bisa mempersiapkan materi dengan baik untuk bisa diterima oleh sebagian besar peserta katekisasi.


G.   DUNIA PESERTA KATEKISASI

Menurut Abineno, dunia kita pada waktu kini merupakan dunia yang paling bersifat teknis dan juga sebagai dunia yang paling kosong dan miskin apabila ditinjau dari sudut rohani.Yang dimaksud kekosongan dan kemiskinan ialah gejala yang menyatakan bahwa soal- soal rohani dan nilai etis tidak memainkan peranan lagidalam hidup manusia,ini disebabkan oleh kuasa ilmu pengetahuan kuasa teknik dan kuasa organisasi.Kuasa-kuasa inipada satu pihak banyak memberikan kemungkinan dan kebahagiaan kepada manusia tetapi di lain pihak dalam perkembangannya membuat manusia menjadi takut dan hampir- hampir kehilangan kewibawaannya.
Peserta katekisasi kebanyakan berumur duabelas sampai duapuluh tahun, yang mana merupakan periode peralihan yakni dari masa kanak- kanak ke masa dewasa.Dalam masa ini pilihan untuk pelajaran dan juga bimbingan katekisasi sangat penting karena mereka sebaai anak- anak muda harus dibantu dalam perjalanan mereka ke dunia orang dewasa.Oleh karena itu yang perlu diprhatikan adalah hidup pertumbuhan atau perkembangan anak- anak.Menurut para ahli perode ini di bagi lagi ke dalam sub-sub periode yaitu:
a)    Periode umur 12-13 tahun yaitu anak memiliki wawasan pengetahuan yang mulai meluas, mereka melihat segala sesuatu dan mereka umumnya mempunyai daya ingat yang cukup kuat.
b)    Periode umur 14-15 tahun dimana anak mengalami perubahan-perubahan yang besar. Anak-anak sedang berpisah dengan hal-hal yang lama dan mempersiapkan diri untuk hal-hal yang baru, mereka harus menemukan diri mereka sendiri.
c)    Periode umur 16 tahun keatas yaitu anak-anak mengalami pendalaman psikis. Berhubung dengan itu dapat timbul situasi-situasi krisis yang disebabkan untuk kesangsian dan putus asa yanga mereka alami, juga dibidang religius.
Yang kita harus ketahui tentang anak- anak dari periode peralihan ialah penghayatan iman mereka.Untuk itu mereka harus secara aktif diikutsertakan dalam segala sesuatu yang gereja –gereja lakukan untuk mereka.

Tidak ada komentar: