A.
PENGERTIAN
Menurut Abineno, istilah-
istilah yang berkaitan dengan katekisasi
yaitu:
1.
Katekhein artinya memberitahukan, memberitakan,
mengajar, memberi pengajaran.Mengajar dalam artian membimbing orang supaya ia
melakukan apa yang diajarkan kepadanya
2.
Didaskein artinya menyampaikan pengetahuan
dengan maksud supaya orang yang diajar itu dapat bertindak dengan terampil
sesuai dengan apa yang diajarkan kepadanya,terutama segala sesuatu yang Kristus
perintahkan.
3.
Ginoskein artinya pengetahuan mereka peroleh
tentang kehendak Allah karena pergaulan yan intim dengan Dia dan yang
menyatakan diri dalam suatu hidup yang taat kepadanya.
4.
Manthanein artinya kata yang mengindikasikan
suatu realitas dimana terdapat suatu persekutuan yang tetap antara murid- murid
dan Yesus sebagai Tuhan yang hidup,yaitu Tuhan yang memanggil mereka untuk
mengikutiNya dan melakukan apa yang Ia ajarkan kepada mereka
5.
Paideuein artinya mendidik dan membimbing
anggota- anggota jemaat untuk belajar berjalan di jalan pengudusan dan tetap
berjalan di jalan itu.
Dari
istilah- istilah tersebut diatas, katekisasi adalah membimbing anggot- anggota
jemaat khususnya yang masih muda ke dalam perkataan- perkataan Allah dan
perbuatan- perbuatan Allah seperti yang terdapat dalam Alkitab.Maksudnya adalah
supaya mereka belajar untuk hidup bersama- sama dengan Allah dibawah pimpinan
Roh Kudus dan didalam persekutuan dengan Yesus Krisus, Anak Allah itu.
Menurut
Fitriani Anna Gasong, katekisasi adalah memberitakan dan mengajarkan Firman
Tuhan kepada setiap orang Kristen agar dapat bertumbuh menuju kepada
kedewasaan.
Menurut
Lembaga Pendidikan Kader katekisasi adalah proses perkembangan antara kehidupan
agama yang ditinggalkan dan kehidupan baru sebagai anggota Kristen dan anggota
jemaat.
Menurut
Minggu, katekisasi adalah salah satu dari sekian banyak tugas gereja yang
intinya adalah memberikan pengajaran kepada anak- anak atau pemuda yang akan
didewasakan imannya.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat dikatakan bahwa katekisasi adalah membimbing dan mengajar
anggota jemaat khususnya yang masih muda kepada pengenalan yang benar akan
Allah untuk diteguhkan sebagai anggota jemaat yang dewasa dalam iman.
B.
SEJARAH
KATEKISASI GEREJA.
Menurut Abineno, sejarah
katekisasi dibagi ke dalam 6 zaman, yaitu:
1.
Pada
zaman Perjanjian Baru
Pada
zaman ini katekisasi gerja masih sangat sederhana. Unsur pengakuan iman misalnya tidak lebih panjang
dari pengakuan, bahwa Yesus adalah Tuhan.Bimbingan ethis dan doa juga penting
dalam katekisasi jemaat- jemaat purba.Misalnya bentuk yang tetap dari doa Bapa
Kami dalam Matius 6:9 – 15.
2.
Pada
abad Pertama
Pada masa
ini orang sudah memakai katekismus yaitu Didakhe atau ajaran kedua belas
Rasul.Katekismus ini berasal dari lingkungan orang- orang Kristen Yahudi dan
ditulis sekitar tahun seratus Masehi.Isinya adalah kedua jalan atau hukum-
hokum untuk hidup orang Kristen, petunjuk liturgis untuk pelayanan Baptisan dan
perjamuan malam, peraturan –peraturan untuk hidup jemaat dan pejabat-
pejabatnya, dan nasihat yang bersifat eskatologis.
Dalam abad kedua katekisasin
umat makin berkembang dan memperoleh bentuk- bentuk yang tertentu sebagai katekumenat yang
terdiri dari dua tingkatan yaitu katekumin- katekumin atau pengikut katekisasi,
dan tingkat calon –calon baptisan.
3.
Zaman
abad Pertengahan
Dalam
abad –abad ini katesasi gereja makin lama makin mendangkal.Katekisasi tidak
lagi diberikan kepada anak- anak dari keluarga- keluarga Kristen, tetapi hanya
diperuntukan kepada orang- orang yang berpindah dari agama kafir ke agama
Kristen sebagai persiapan untuk menjadi anggota gereja.
Dalam
abad ke delapan dan sembilan ketika berita injil disampaikan kepada bangsa-
bangsa German,katekisasi gereja mengalami suatu perubahan.Pada waktu itu
dituntut lagi bahwa orang- orang yang mau menerima baptisan harus dipersiapkan
dengan baik.Setelah Eropa di-Kristenkan, pengajaran katekisasi merosot lagi
seperti dahulu dan hanya terdiri dari penghafalan pengakuan iman dan doa,
pengenalan akan sakramen- sakramen dan upacara- upacaranya dan pengetahuan akan
daftar- daftar dosa, pengakuan dosa yang makin lama makin besar memainkan
peranan.Pengakuan dosa merupakan semacam “kursi pengadilan” rohani,yang dengan
keputusan- keputusan dan hokum- hukumnya mencakup seluruh hidup anggota jemaat
bahkan sampai pada akhirnya Alkitab tidak mendapat tempat sebagai bahan khusus
dalam katekisasi.Ia memang kdang- kadang dikutip tetapi hanya untuk menjelaskan
bahan- bahan yang harus dipelajari.
4.
Pada
zaman Reformasi.
Alkitab
menjadi pusat dalam teologi dan dalam praktek gereja.Penempatan ini menimbulkan
perubahan besar di bidang katekisasi.Dalam zaman reformasi ini perubahan
berlangsung di tiga bidang,yaitu:
-
Isi
katekisasi, yaitu Alkitab menjadi sentral dalam katekisasi.Untuk dapat memahami
bahan- bahan yang harus dipelajari dengan baik, pesert- peserta katekisasi
disuruh menghafal sejumlah nas dan mempelajari beberapa cerita Alkitab.Bahkan
pada abad ketujuh belas cerita- cerita Alkitab oleh pengaruh pietisme mendapat
tempat yang khusus dalam katekisasi.
-
Ruang
cakup katekisasi, yaitu mencakup semua orang.Sebab sebagai imam, orang- orang
percaya menurut para reformator harus selengkap dan sebaik mungkin mengetahui
kebenaran yang ia percayai.Teologia harus menjadi milik dar semua orang.Luther
berpendapat bahwa tempat katekisasi adalah keluarga dan sekolah.Gereja
mempunyai tugas lain yaitu memberikan penjelasan lebih luas oleh khotbah
katekismusnya tentang apa yang dipelajari dalam katekisasi.Sedangkan Swingli,
katekisasi sebenarnya adalah tugas pokok dari gereja.Karena itu ia berusaha
memperoleh ruang dimana gereja dapat menunaikan tugas ini antara laindengan
mengumpulkan ank- anak untuk mempelajari pengakuan iman dan doa.Calvin juga
setuju dengan Swingli.Pada tahun 1536 ia menerbitkan iktisar dari institusionya
sebagai katekismus dalam bahasa Perancis.
-
Cara mempelajari
bahan katekisasi:Luther menuntut agar para pengikut katekisasi harus mengerti
apa yang dipelajarinya.Pengetahuan dengan otak dan pengetahuan dengan hati hars
berjalan bersana- sama.Injil harus dapat dimengerti dengan otak dan dapat
dipahamidengan hati.Oleh karena itu penjelasan katekismus harus sesuai dengan daya tangkap anak- anak.
5.
Zaman
Zending Belanda
Kebiasaan-
kebiasaan yang dipakai oleh gereja- gereja di Eropa di bidang katekisasi di bawah masuk oleh pendeta- pendeta Zending
ke Indonesia.Salah satu dari kebiasaan itu adalah katekisasi yang erat
dihubungkan dengan pengajaran agama di sekolah.Dalam Sidang Raya Agung tahun
1624 di Betawi ditetapkan bahwa anak- anak Belanda dan bukan Belanda harus
dididik secara Kristen di sekolah dan bahwa untuk pelajan agama selanjutnya
anak- anak itu harus mengunjungi pengajaran katekisasi gereja.Lanjutan
pengajaran agama di sekolah adalah pengajaran katekisasi yang diberikan oleh
pendeta- pendeta di gereja.Salah satu buku katekisasi yang paling besar dan paling
lama memainkan peranan dalam pelayanan jemaat di gereja- gereja di Indonesia
adalah buku Tanya jawab yang ditulis oleh Marnix van St.Aldegonde.
6.
Zaman
Sekarang
Dalam hal pengajar
katekisasi pada zaman sekarang adalah orang- orang yang telah memperoleh Pendidikan
Agama Kristen.Dimana mereka memiliki pengetahuan tentang bahan –bahan
katekisasi yang mereka gunakan, metode pengajaran, alat- alat Bantu untuk
katekisasi, dan lain – lain.Juga buku- buku yang digunakan dalam pengajaran
katekisasi tidak sama dengan buku- buku yang digunakan pada waktu zending,
walaupun Katekismus Heidelberg, katekismus kecil, dari Luther masih ada gereja
yang menggunakannya.
C.
JENIS-
JENIS KATEKISASI
Menurut Abineno ada 3
jenis katekisasi yaitu :
1.
Katekisasi
Keluarga
Keluarga
adalah tempat yang mula-mula dimana pendidikan dan bimbingan agama diberikan,
orang tua berfungsi sebagai pengajar –pengajar yang pertama. Pengajaran dalam
keluarga ini adalah bentuk purba dari pelayanan katakese, pemberitaan tentang
perbuatan-perbuatan Allah yang besar.
Bukan
hanya Sinagoge yang mengaitkan pengajarannya pada pendidikan keluarga tetapi
juga gereja. Hal itu sering kita baca dalam tulisan-tulisan dari bapak-bapak
gereja bahwa katakese keluarga menempati tempat yang paling penting dalam
gereja purba yang sedang bertumbuh pada waktu itu. Gereja tahu bahwa ia
mempunyai tugas untuk mengajar dan membimbing anggota-angotanya tetapi tugas
itu selalu dipahami sebagai tugas disamping dan dalam lanjutan dari tugas orang
tua tetapi mengokohkannya dan terus membangun katakesenya diatas dasar
katakese keluarga.
Menurut
Calvin orang tua terutama dan langsung memikul tanggung jawab atas pendidikan
agama anak-anak mereka. Dalam pembaptisan anak-anak, orang tua dengan resmi
mendapat tugas mendidik anak-anak dalam takut akan Tuhan.
2.
Katekisasi
Sekolah
Sekolah
dasar disebut juga beth-ha-sefer dimana
anak-anak yang berumur 6/7 tahun diajar membaca dan menghafal nas Torah secara
harafiah. Pengajaran diatur menurut umur anak-anak. Ketika anak sudah berumur
sepuluh tahun anak mulai dengan pengajaran yang sebenarnya. Pada umur dua
belas/tiga belas tahun mereka diwajibkan untuk meneruti/melaksanakan seluruh
syariat agama Yahudi.
Bahan pengajaran terdiri
dari pengakuan iman, doa utama, pembacaan Torah, pengajaran tentang arti dari
hari-hari raya Yahudi.
Dalam
abad-abad pertengahan muncul sekolah-sekolah yang memuat katakese dalam
kurikulumnya. Dimana murid-murid harus mengahafal Credo, Dekalog (Dasa Firman),
Pater Noster (Doa Bapa Kami) dan ketujuh Mazmur pengakuan dosa dalam bahasa
latin.
Menurut
Calvin katakese sekolah berfungsi untuk mendidik orang-orang muda supaya mereka
dapat bertindak secara bertanggungjawab menurut Firman Tuhan, untuk itu harus
ada guru-guru yang baik dan beriman. Dalam pengajaran sekolah yang bersifat reformatories
ini, Alkitab mendapat tempat yang sakral, disamping katekismus dan
mazmur-mazmur Daud. Melalui sinode Dordrecht
diputuskan bahwa guru-guru yang mengajar di sekolah harus memenuhi
syarat-syarat :
-
Mereka
harus anggota dari gereja Hervormd.
-
Harus
mempunyai kelakuan yang baik dan mampu mengajar
-
Mereka
harus menandatangani pengakuan iman gereja Hervorm dan Katekismus Heidelberg.
-
Harus
berjanji bahwa dengan teliti akan mengajar anak-anak untuk dapat melayani Tuhan
disegala bidang kehidupan.
-
Dua hari
seminggu mereka harus melatih anak-anak untuk menghafal dan memahami dengan
baik isi Katekismus
-
Mereka
harus membawa anak-anak ke ibadah khotbah-khotbah Katekismus dan menyelidiki
apakah mereka mengerti khotbah-khotbah itu atau tidak
Sedangkan di Indonesia dalam sidang Agung di
Betawi di tetapkan bahwa anak –anak Belanda dan bukan Belanda harus dididik dan
diajar secara Kristen di sekolahdan
bahwa untuk pelajaran agama selanjutnya anak- anak itu harus mengunjungi
Syarat-syarat
guru yaitu:
-
Harus
seorang anggota sidi
-
Harus
dapat langsung membaca buku- buku dan surat - surat yang di cetak
-
Harus
dapat menulis dan berhitung dengan baik
-
Harus
dapat menyanyikan Mazmur- mazmur Daud.
3.
Katekisasi
gereja.
Dalam
abad- abad pertama katekisasi gereja makin berkembang dan memperoleh bentuk-
bentuk tertentu sebagai katekumenat. Katekumenat gereja purba terdiri dari dua bagian atau
tingkatan yaitu tingkat katekumin- katekumin dan calon- calon baptisan.
Pengajaran baptisan
terdiri dari penjelasan tentang soal- soal iman,doa,puasa,dan askese.Pengajaran
baptisan adalah suatu bimbingan dalam rahasia iman.Calon baptis dipersiapan
secara lahir-batin untuk menerima baptisan sebagai suatu pengalaman religius.
Pada waktu reformasi katekisasi
lebih kepada lembaga pengajaran tersendiri kepada anak- anak muda.Terutama
pemberitaan dalam ibadah -ibadah jemaat dianggap pada waktu itu sebagai suatu
alat yang ampuh untuk mendidik anak- anak muda dalam Firman Allah dan dalam
hidup kerohanian mereka.Khotbah- khotbah katekismus dari para pendeta memainkan
peranan pentingpada waktu itu sebagai bagian dari
pendidikan gerejawi kepada
anak muda.
D.
FUNGSI
KATEKISASI
Menurut Gasong katekisasi berfungsi untuk
mempersiapkan anak- anak dan orang yang ingin mengikuti jalan keselamatan dari
Yesus Kristus,dan juga untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan anggota
jemaat tentng kehendak Allah supaya mereka nantinya menjadi pelayan yang dapat
melayani gereja dan masyarakat secara bertanggung jawab.
E.
TUJUAN
KATEKISASI
Menurut
Abineno tugas katekisasi adalah mendidik anak- anak muda supaya mereka bertanggung jawab dapat
berpartisipasi dalam hidup dan pelayanan gereja kepada Allah.
Abineno kemudian merumuskan tujuan
katekisasi menurut beberapa ahli kedalam empat jurusan:
a)
Katekisasi
adalah pemberian pengetahuan.Peserta katekisasi harus mengetahui hal- hal pokok
dari isi Alkitab dan ajaran gereja
b)
Katekisasi
bertujuan untuk membina anggota –anggota jemaat untuk menyadari tugas mereka
didalam gereja.Peserta katekisasi harus mengetahui bahwa gereja adalah persekutuan.
c)
Untuk
mendidik anak- anak muda supaya mereka menjadi hamba- hamba Allah yang
bertanggung jawab didalam dunia.
d)
Untuk
menyampaikan pengetahuan tentang Allah dari generasi ke generesi.
Menurut Abineno tujuan katekisasi itu
dapat dicapai apabila peserta
katekisasi telah dipimpin pada
pengetahuan akan Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat mereka.
Menurut Lembaga Pendidikan
Kader,katekisasi bertujuan untuk memperlengkapi calon anggotanya atau anggota
baptis yang ingin mengikuti sidi,dengan maksud agar mereka akan menjadi anggota
dewasa dalam iman.
F.
YANG
TERLIBAT DALAM KATEKISASI
1.
Majelis
Jemaat
Majelis jemaat
bertanggung jawab atas pelaksanaan katekisasi.Tugas majelis jemaat dalam
katekisasi adalah :
a.
Meunjuk
pemimpin katekisasi
b.
Menyiapkan
rencana katekisasi tahunan
c.
Membangunkan
orang tua tentang katekisasi melalui warta jemaat,supaya mereka menyuruh anak-
anaknya untuk mengikuti katekisasi
d.
Mengusahakan
agar orang tua terlibat dalam katekisasi
e.
Mengadakan
percakapan dengan peserta katekisasi
f.
Mengawasi
supaya tugas dan panggilan peserta katekisasi sebagai saksi-saksi dan pelayan-
pelayan Kristus di dalam dunia,kalau mereka telah di teguhkan menjadi anggota
sidi di bicarakan dengan mereka di dalam katekisasi
g.
Menerima
peserta katekisasi sesudah suatu percakapan pastoral dengan mereka untuk
diteguhkan menjadi anggota sidi.
2.
Pemimpin
Katekisasi
Yang menjadi
pemimpin katekisasi kebanyakan adalah pendeta.Namun dalam prakteknya
pelaksanaannya tidak terlalu maksimal karena:
a.
Pendeta
sangat sibuk dalamtugas dan pelayanannya
b.
Pendeta
umumnya hanya mempunyai pengetahuan teologis,mereka kurang dalam bidang
pedagogis,didaktik, psikologis,dan iain- lain.
Tugas- tugas pemimpin katekisasi:
a.
Menyusun
rencana katekisasi tahunan
b.
Mempersiapkan
katekisasi atau bahan dengan baik
c.
Menilai
materi yang telah diajarkan
d.
Mengadakan
percakapan dengan peserta katekisasi,khususnya tentang hal- hal yang tidak
dapatmereka cerna atau sulit mereka pahami
e.
Mengadakan
pertemuan denganpara orang tua dan majelis jemaat untuk membicarakan tugas
mereka bersama atau hal- hal lain yang berhubungan dengan tugas mereka
f.
Mengadakan
kunjungan ke rumah- rumah para orang tua untuk membicarakan keadaan anak- anak
mereka yang sedang mengikuti katekisasi.
3.
Orang
tua
Pada
waktu orang tua menyerahkan anak- anaknya untuk dibaptis,mereka berjanji untuk
mendidik anak- anak mereka dalam iman kepada Yesus Kristus dan membina mereka
dalam ibadah dan pengajaran gereja.Dalam hal ini tugas orang tua adalah bukan
hanya menyuruh anak-anak mereka untuk mengikuti katekisasi tetapi lebih
daripada itu yaitu turut menambil bagian yang aktif dalam pelayanan itu.
Tugas –tugas orang tua yaitu:
a)
Membicarakan
partisipasi mereka sebagai orang tua dalam pelayanan katekisasidengan majelis
jemaat dan pemimpin- pemimpin katekisasi
b)
Mengadakan
percakapan dengan pemimpin katekisasi tentang keadaan anak- anak yang mengikuti
katekisasi
c)
Mengadakan
percakapan dengan anak- anak mereka tentang katekisasi yang sedang mereka
ikuti.
4.
Peserta
katekisasi
Peserta
katekisasi adalah umumnya terdiri dari ank- anak muda yang bukan saja secarah
lahiriah, tetapi yang juga secara rohaniah banyak memperlihatkan perbedaan,
seperti:
a)
Perbedaan
motivasi,ada yang datang mengikuti katekisasi karena disuruh orang tua,ada juga
Karena kemauannya sendiri.
b)
Perbedaan
umur
c)
Perbedaan
pendidikan
d)
Perbedaan
maksud dan tujuan,ada yang datang untuk mendalami pengetahuan tenang soal- soal
rohani.
Dari
perbedaan- perbedaan tersebut pendidk diharuskan untuk mampu memahami setiap
peserta katekisasi sehingga dia bisa mempersiapkan materi dengan baik untuk
bisa diterima oleh sebagian besar peserta katekisasi.
G.
DUNIA
PESERTA KATEKISASI
Menurut
Abineno, dunia kita pada waktu kini merupakan dunia yang paling bersifat teknis
dan juga sebagai dunia yang paling kosong dan miskin apabila ditinjau dari sudut
rohani.Yang dimaksud kekosongan dan kemiskinan ialah gejala yang menyatakan
bahwa soal- soal rohani dan nilai etis tidak memainkan peranan lagidalam hidup
manusia,ini disebabkan oleh kuasa ilmu pengetahuan kuasa teknik dan kuasa
organisasi.Kuasa-kuasa inipada satu pihak banyak memberikan kemungkinan dan
kebahagiaan kepada manusia tetapi di lain pihak dalam perkembangannya membuat
manusia menjadi takut dan hampir- hampir kehilangan kewibawaannya.
Peserta
katekisasi kebanyakan berumur duabelas sampai duapuluh tahun, yang mana
merupakan periode peralihan yakni dari masa kanak- kanak ke masa dewasa.Dalam
masa ini pilihan untuk pelajaran dan juga bimbingan katekisasi sangat penting
karena mereka sebaai anak- anak muda harus dibantu dalam perjalanan mereka ke
dunia orang dewasa.Oleh karena itu yang perlu diprhatikan adalah hidup
pertumbuhan atau perkembangan anak- anak.Menurut para ahli perode ini di bagi
lagi ke dalam sub-sub periode yaitu:
a)
Periode
umur 12-13 tahun yaitu anak memiliki wawasan pengetahuan yang mulai meluas,
mereka melihat segala sesuatu dan mereka umumnya mempunyai daya ingat yang
cukup kuat.
b)
Periode
umur 14-15 tahun dimana anak mengalami perubahan-perubahan yang besar.
Anak-anak sedang berpisah dengan hal-hal yang lama dan mempersiapkan diri untuk
hal-hal yang baru, mereka harus menemukan diri mereka sendiri.
c)
Periode
umur 16 tahun keatas yaitu anak-anak mengalami pendalaman psikis. Berhubung
dengan itu dapat timbul situasi-situasi krisis yang disebabkan untuk kesangsian
dan putus asa yanga mereka alami, juga dibidang religius.
Yang kita
harus ketahui tentang anak- anak dari periode peralihan ialah penghayatan iman
mereka.Untuk itu mereka harus secara aktif diikutsertakan dalam segala sesuatu
yang gereja –gereja lakukan untuk mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar