Latar
Belakang Trinitas
Dasar-dasar Alkitab,
Matius 3:16-17, Ibrani 9:14, Roma 8:11, Matius, 28:18-19, kejadian 1:26-27. Rujukan
trinitas adalah kejadian 1: 26-27, Von Rad mengatakan bahwa penciptaan
merupakan puncak dan tujuan tertinggi yang menjadi arah dari semua aktivitas
kreatif Allah. Driver mengakui bahwa Firman adalah pribadi dalam injil Yohanes
dengan cara sama, personalisasi Roh Allah.[1]Philo
berpendapat bahwa perikop mengenai trinitas (Kej 3:22, 11; Yes 6:8). Perikop
itu merujuk pada kuasa subordinat yang menolong Allah dalam penciptaan manusia.[2]
Kata Trinitas atau Tritunggal tidak terdapat
dalam Alkitab. Dan kendati Tertullianus sudah menggunakan kata itu pada abad 2
M, barulah pada abad 4 kata ini mendapat tempat resmi dalam teologi Kristen.
Tapi doktrin mengenai Allah Tritunggal inilah ajaran Kristen yg paling khas,
dan ‘mencakup seutuhnya segenap unsur utama kebenaran yg diajarkan agama
Kristen mengenai adanya kegiatan Allah dalam hanya satu istilah umum yg sangat
luhur (Lowry). Teologi berusaha menerangkan keberadaan Allah dengan menyatakan,
bahwa Allah satu dalam diriNya yg hakiki, tapi Ia berada dalam tiga cara atau
bentuk, masing-masing merupakan Satu diri, namun dalam cara demikian hakikat
Allah yg sebenarnya utuh dalam masing-masing diri. Harus diakui bahwa uraian
mengenai Tritunggal mula-mula dikemukakan oleh ahli yg berbahasa Yunani.[3]
Allah sebagai Bapa,
penyembahan Allah didasari atas transendensi Allah yang menciptakan seluruh isi
bumi. Hozea 11:3-4 menjelaskan konteks
bapa yang mencintai dan mengasihi. Allah sebagai Roh, disamping firman- Nya
Allah yang Esa itu memiliki Roh kudus yang keluar dari sang Bapa. Pada
hakekatnya Allah adalah Roh yang bersama dengan sang Bapa dan dalam diri Bapa
juga ada Firman yang disembah dan dimuliakan.Memahami ketritunggalan sama
halnya dengan memahami hakekat Allah itu sendiri. Mustahil kita percaya kepada
Allah tanpa memahami hakekat-Nya yang meskipun tidak terbatas tetapi berkenan
memberikan penyataan tentang diri-Nya di dalam Alkitab sesuai dengan kemampuan
akal kita yang terbatas.[4]Allah
yang memiliki tiga pribadi dijelaskan dalam beberapa ayat yakni ulangan 6:4, 1
Korintus 8:4 dan galatia 3:20. Origen dari Aleksandria berpendapat bahwa Allah
anak lebih rendah dari Bapa karena keluar dari Bapa. Namun pendapat ini ditolak
oleh Tertulianus bahwa Yesus tidak rendah dari Bapa sebab diperanakkan dari
Roh.[5]Konsep
Allah yang Esa merupakan konsep yang terbesar bangsa Israel, konsep ini menerobos
seluruh agama. Konsep Allah tritunggal menuntut sesuatu yang khusus.[6]
Allah TriTunggal yang dimaksud adalah
Allah Yang Esa, yang memiliki 3 Pribadi. Pribadi Pertama biasa disebut Allah
Bapa, Pribadi Kedua Allah Anak, Pribadi Ketiga Allah Roh Kudus. Pribadi
Pertama(Bapa) bukanlah Pribadi Kedua(Anak), Pribadi Kedua bukanlah Pribadi
Ketiga(Roh Kudus), dan Pribadi Ketiga bukanlah Pribadi Pertama(Bapa.) namun
Ketiga-Nya tetap Esa secara esensi. Bagaimana bisa 3 pribadi yang berbeda
tetapi tetap Esa? Didalam Kitab Kejadian ada sebuah kata yang menunjukkan keesaan
Allah, yang dapat diartikan sebagai satu-kesatuan. Sebagai contoh (walaupun
contoh ini tidaklah sempurna untuk menyatakan Keesaan Allah ) Pada saat
Penciptaan, Allah menciptakan siang dan malam yang disebut satu hari. Kata yang
menunjukkan 1 hari ini adalah kata satu kesatuan. Sehingga siang dan malam
adalah satu kesatuan dari 1 hari. Siang bukanlah malam dan malam bukanlah
siang, namun siang dan malam adalah satu-kesatuan dari 1 Hari. Penunjukkan kata
satu-kesatuan ini pun ditunjukkan kepada satu-kesatuan dari Allah Yang Esa.[7]
Trinitas
menurut Perjanjian Lama
Kendati ajaran ini tidak ‘berkibar’
dalam PL, Trinitas itu sudah tersirat dalam penyataan diri Allah sejak masa
paling dini. Tapi selaras dengan sifat historis penyataan Allah, maka ajaran
ini mula-mula dikemukakan hanya dalam bentukyg sangat bersifat bayangan saja.
Ajaran ini tersirat bukan hanya dalam bagian-bagian tersendiri, tapi terajut di
sepanjang bentangan ‘kain’ penyataan PL. Siratan paling tua ialah yg teracu
dalam riwayat penciptaan, dimana Allah mencipta melalui Firman dan Roh (Kej 1:3).
Di sini pertama kalinya diperkenalkan Firman Allah sebagai pribadi yg mempunyai
kuasa mencipta, dan sekaligus diperkenalkan Roh Allah sebagai pembawa hidup dan
ketertiban bagi seluruh ciptaan itu. Jadi dari sejak masa paling dini sudah
dinyatakan suatu pusat kegiatan dari tiga yg satu seutuhnya. Allah sebagai
Pencipta membuat alam semesta sebagai karya pikiran-Nya, mengungkapkan
pikiran-Nya itu dalam wujud Firman, dan membiarkan RohNya bekerja sebagai asas
yg menghidupkan. Justru alam semesta tidak terpisah atau lepas dari Allah, juga
tidak bertentangan dengan Dia.
Kejadian 1:26 pernah dianggap
menyatakan secara tidak langsung, bahwa penyataan Allah Tritunggal telah
diberikan kepada manusia saat ia diciptakan, atas dasar bahwa manusia akan
diberi persekutuan ilahi, tapi pemberian ini kemudian hilang karena manusia
jatuh ke dalam dosa. Kegiatan Allah dalam penciptaan dan pemerintahan-Nya
kemudian dihubungkan dengan Firman yg dipersonifikasikan sebagai Hikmat (Ams
8:22; Ayub 28:23-27), juga dihubungkan dengan Roh sebagai Pembagi segala berkat
dan sumber kekuatan badani, semangat, kebudayaan dan pemerintahan (Kel 31:3;
Bil 11:25; Hak 3:10).
Tiga yg satu seutuhnya sebagai
sumber kegiatan yg dinyatakan dalam penciptaan alam semesta, nampak lebih jelas
lagi dalam peristiwa penebusan orang berdosa. Penyataan penebusan itu
dipercayakan kepada mal’akh (Malaikat) Yahweh (Kel 3:2) yg kadang-kadang
disebut Malaikat Perjanjian. Dan setiap ay PL yg mengandung ungkapan ini
merujuk kepada diri Allah, sebab jelas bahwa dalam ay-ay seperti 2Sam 24:16;
1Raj 19:5; 2Raj 19:35, rujukan itu mengartikan makhluk ilahi dengan kuasa ilahi
yg ditugasi untuk melaksanakan tugas khusus. Tapi dalam beberapa ay, mis Kej
16:7; 24:7; 48:16 Malaikat Allah tidak hanya memakai nama Allah, tapi juga
mempunyai martabat dan kekuasaan Allah, menyelenggarakan penyelamatan oleh
Allah dan menerima penghormatan dan pemujaan yg sepatutnya hanya kepada Allah.
Roh Allah juga diberi tempat khas dalam sejarah penyataan dan penebusan. Roh
memperlengkapi Mesias untuk pekerjaan-Nya (Yes 11:2; 42:1; 61:1) dan
memperlengkapi umat-Nya untuk menanggapi Mesias dengan iman dan ketaatan (Yoel
2:28; Yes 32:15; Yeh 36:26-27). Jadi Allah yg menyatakan diriNya secara
objektif melalui Malaikat Utusan, juga menyatakan diriNya secara subjektif
dalam dan melalui Roh Allah, Sang Pembagi segala berkat dan karunia-karunia
dalam rangka penebusan. Ucapan Berkat Imam yg tiga dampak (Bil 6:24) juga dapat
disimak mungkin sebagai bentuk pertama dari berkat dalam 2Korintus 13:14.
Pandangan
John Calvin Tentang Trinitas
Allah dari diri-Nya
sendiri, masalah trinitas adalah sebuah misteri yang tidak bisa diandaikan.
Menurut Bellarmine Calvin mengatakan bahwa Yesus adalah autothetos, Allah dari Allah, artinya Bapa memiliki esensi yang
tidak diciptakan yang ilahi, Anak dan Roh adalah esensi yang berbeda yang
dihasilkan oleh Bapa.[8]Bapa
sebagai principium, dengan penekanan mereka
terhadap ketiga hipostases
dalamada-kekal nyatalah bahwa mereka membebaskan doktrin
Nicaeadari noda Sabellianisme di mata pengikut Eusebius, dan
bahwapersonalitas Logos adalah cukup jelas. Bersamaan dengan itudipertegas
dan dipertahankannya ide keesaan ketiga persontersebut di dalam
Godhead sertamengilustrasikan
pengertianini dengan berbagai cara.
Di dalam Allah ada tiga
sifat hipostaiseis (wujud) apa yang
berada pada kenyataan. Sifat khas salah satu subsistensi yang tidak dapat
dialihkan kepada yang lain. Terltulianus mengatakan di dalam diri Allah ada
suatu pengaturan atau tata tertib suatu kenyataan hakikat.[9]
Agustinus mengatakan
hubungan antar pribadi yang satu dengan lain bukan zat yang membuat ketiganya
merupakan keesaan. Hal yang dimaksudkan adalah baik anak dan Roh Kudus maupun
Bapa selalu bersama dengan Bapa. Anak
Allah yang tunggal, yang lahir dari Sang BapaSebelum ada segala zaman, Allah
dari AllahTerang dari Terang, Allah yang sejati dariAllah yang sejati,
diperanakkan bukan dibuatSehakikat dengan sang Bapa.Terutama yang penting
adalah Allah satu hakikatnya yang tidak dapat dibagi-bagi. Meskipun hakikat itu
ada, Bapa Anak dan Roh Kudus.[10]
Trinitas
dan Kesatuan
Persatuan dengan Allah
tujuan dari keselamatan. Tritunggal bukan mengenai Allah yang terdiri dari tiga
pribadi terpisah melainkan tiga ciri istimewa dari Allah yakni satu Aku dari sifat
Allah.[11]Allah
yang Esa tritunggal yang maha kudus.Allah Tritunggal terdiri dari Allah
Bapa, Allah Anak yang dalam diri Yesus Kristus berinkarnasi menjadi manusia dan
Allah Roh Kudus yang diutus setelah Yesus naik ke Sorga untuk menyertai orang
percaya. Ketiga nya adalah Allah yang kekal, berbeda satu sama lain dan setara.
Allah Bapa, Allah Anak
(Yesus) dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang esa. Bagaimana kita bisa memahami
konsep tritunggal ini? Bagaimana memahami Allah itu ada tiga tetapi satu,
bagaimana memahami Allah itu satu tetapi tiga? Orang yang memahami bahwa Allah
itu hanya esa saja jelas tidak mengerti konsep Allah Tritunggal yang diwahyukan
Alkitab. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada 3 pribadi yang terpisah sama
sekali, jelas juga tidak mengerti Allah Tritunggal yang diwahyukan oleh Alkitab.
Dengan
menyusun formula lain untuk menjelaskan konsep ini malah akan menyesatkan
ajaran yang sejati ini. Doktrin ini telah dirumuskan dengan cara yang terbaik
sejak ratusan tahun yang silam! Namun tetap saja ada orang yang membuat
ilustrasi dengan tujuan untuk membantu menjelaskan keadaan Allah Tritunggal.
Ilustrasi yang popular antara lain: Ilustrasi teh manis dengan komponen: air,
teh dan gula, ketiga komponen menjadi satu. Ilustrasi segitiga sama sisi,
ketiga sisi membentuk satu buah segitiga yang utuh.
Bagi orang Kristen,
semua ini bersandar pada iman kepada Tuhan dan seseorang yang Tuhan bangkitkan
dari kematian demi kehidupan, sebagai yang lemah dan tanpa pertolongan,
seseorang yang dijanjikan ‘Kyrios’ dan ‘Christos’ oleh Tuhan. Akan tetapi,
tidakkah perdirian tentang iman a priori seperti ini menghapus dialog dengan
penganut keyakinan yang lain?sebagai orang Kristen- ditantang untuk
merefleksikan kembali pertanyaan tentang kebenaran dalam spirit kebebasan
dengan dasar Kristen. Oleh karena bertentangan dengan kesemena-menaan,
kebebasan bukanlah sekedar kebebasan dari seluruh ikatan dan kewajiban dalam
pengertian negatif, tetapi pada saat yang sama, dalam pengertian positif.[12]
Ajaran Tritunggal
mengatakan bahwa Allah satu dalam harkat dan hakikat-Nya, tapi dalam diriNya
ada tiga Oknum yg tidak membentuk perseorangan yg tersendiri dan berbeda.
Ketiga Oknum itu adalah tiga cara atau bentuk dalam mana Allah berada. Tapi
‘Oknum’ adalah ungkapan yg tidak sempurna untuk mengungkapkan kebenaran itu,
karena ungkapan ini mengartikan kepada kita perseorangan yg tersendiri, yg
berbudi dan bisa memilih. Padahal dalam harkat Allah ada BUKAN tiga
perseorangan, tapi hanya tiga pembedaan diri dalam Allah yg satu seutuhnya.
Kepribadian manusia
mencakup kebebasan berkehendak, bertindak dan merasa, yang mencirikan tingkah
laku manusia itu. Semua hal itu tidak dapat dihubungkan dengan Allah
Tritunggal: tiap Oknum mempunyai kesadaran sendiri dan penguasaan diri sendiri,
tapi tidak pernah bertindak sendiri-sendiri apalagi bertentangan. Mengatakan
bahwa Allah esa, maksudnya ialah kendati Allah pada diriNya adalah pusat
kehidupan tri mitra, namun hidup-Nya tidaklah terbelah tiga atau trilateral—tiga
pihak yg berbeda. Ia satu dalam hakikat, kepribadian, dan kehendak. Mengatakan
bahwa Allah Tritunggal dalam Keutuhan, maksudnya ialah keutuhan dalam
keanekaan, dan keanekaan itu nampak dalam tiga Oknum, dalam sifat, dan dalam
tindakan. Lagipula substansi dan tindakan-tindakan ketiga Oknum itu dicirikan
oleh urutan tertentu, berupa subordinasi dalam soal hubungan, tapi tidak dalam
kodrat. Bapak sebagai sumber ke-Allah-an ialah yg Pertama: asal mula dari
segala sesuatu. Anak, yang diperanakkan kekal oleh Bapak, yang Kedua, Dialah yang
menyatakan Bapak. Roh Kudus yg kekal yg keluar dari Bapak dan Anak, yang
Ketiga, Dia-lah yang melaksanakan. Karena ketiga Oknum itu ilahi dan kekal,
maka subordinasi itu tidaklah mengartikan ada yang lebih utama daripada yang
lain, tapi memaksudkan urutan giliran dalam tindakan dan penyataan. Jadi dapat
dikatakan bahwa ciptaan adalah dari Allah Bapa, melalui Allah Anak, oleh Roh
Kudus.
Ungkapan Bapa da dalam
Yesaya 63:16;
Bukankah
Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel
tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah
"Penebus kami" sejak dahulu kala.
Dalam keluaran 4: 23, Yeremia 31:9. Sebab
itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah
kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh
anakmu, anakmu yang sulung.
Trinitas
dan Tantangan Pluralisme dalam Kaitan dengan Postmodenisme
Postmodern bagi
Hans Küng adalah mampu menyediakan dasar bagi pencarian fungsi kritis dan
berdaya bebas baik dari individu maupun masyarakat.[13]
Dalam hal ini manusia satu dengan yang lainnya tidak dalam kesatuan tetapi
dalam kepelbagaian. Dengan adanya kepelbagaian maka diajukan sebuah konsep
yakni ekumene, maka dua arah teologis yang perlu dikembangkan yakni sebuah
teologi ekumene yang berwawasan ekologis, yang menempatkan manusia dalam
konteks lingkungan semesta, kedua perlu kehadiran sesama yang beriman lain
dalam konteks dunia yang satu ini.Keesaan Allah menjadi
pokok pengajaran Perjanjian Lama terkait dengan masalah pluralisme agama.Hal
ini nampak dimana Allah mengajarkan umatnya dengan menyatakan diriNya sebagai
Tuhan, Allah mereka yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir (Kel 20:2).[14]Melalui
sains modern dan filasafat maka sekularisasi itu berkembang hingga mengkaji teks-teks Alkitab dari
berbagai segi. Upaya Sekularisasi dan
formalisasi agama terus berjalan bersama-sama.
Pluralisme modern merupakan pergeseran pandangan
hidup. Penekanan pada metaanaratif rasionalisme bergeser pada pandangan
pluralis. Tidak ada kebenaran tunggal dan beranekaragaam kelompok pembebasan. Tidak
ada lagi koordinatif tunggal. Postmodernisme mengaanut paham relativisme dan
kebebasan mengungkapkan kebenaran.[15]
Analisis
Karl Rahner mengemukakan iman
pribadi untuk merumuskan misteri ketritunggalan Allah bahwa yang abadi itu
tidak terbatas, misteri ini sangat luas dan padat. Misteri ini merupakan dasar
segala sesuatu ruang dan kebebasan dan misteri ini kusebut Allah.[16]Karl
Rahner mengatakan bahwa “memang keselamatan ada dalam Yesus Kristus, namun
gereja tidak boleh mengutuk agama lain sebagai agama palsu dan tidak memiliki keselamatan”, Kristus juga
ada dalam agama lain, hanya saja Kristus dalam agama lain adalah “Kristus tak bernama” (anonymous Christ).[17]
Manusia mengakui bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa adalah Tuhan (Rabb) manusia.
dengan lain perkataan sebutan Allah langsung menunjuk pada yang Mahaesa,
sedangkan Tuhan lebih merupakan suatu gelar. Dengan akibat bahwa manusia bisa
menyembah aneka “Tuhan” yang sesungguhnya bukan Allah.
Kritik agama pada
pokoknya merupakan penilaian atau evaluasi agama; juga mawas diri yang tidak
dengan sendirinya bersifat negatif. Tujuannya supaya orang menjadi lebih sadar
mengenai apa yang biasanya dilakukan berdasarkan tradisi. sebab dengan agama
tidak hanya dimaksudkan sejumlah ritus atau symbol, tetapi terutama hubungannya
dengan iman atau keyakian religious. Dalam hal ini tidak boleh melupakan aspek
historis, baik hubungan dengan asal-usul agama itu maupun dengan perkembangan
bentuknya. Kritik agama bersifat ekstern maupun intern, karena agama tidak
hanya ekstern tetapi intern juga. namun agama adalah primer ungkapan iman, dan
karena itu kritk agama pertama-tama bersifat ekstern, menyangkut bentuk-bentuk
kehidupan agama. Krtitik itu pertama-tama terarah kepada unsur-unsur yang berasal
dari dan terikat pada kebudayaan dan situasi historis tertentu.
Kesimpulan
Implikasi-implikasi
doktrin Tritunggal sangat vital bagi teologi dan juga bagi pengalaman dan hidup
Kristen. Berkaitan dengan ke-Allah-an, doktrin ini menyatakan bahwa Allah benar-benar
hidup. Dan bahwa Allah jauh sama sekali dari apa pun yg disebut berhenti atau
pasif. Allah Tritunggal adalah keutuhan dan kepenuhan hidup, berada dalam
hubungan yg kekal, dan dalam persekutuan yg tak pernah putus atau berhenti. Hal
ini membuat penyataan dan pengungkapan diri Allah dapat dimengerti. Allah,
dalam arti mutlak, dapat mengungkapkan diriNya sendiri melalui tindakan
penyataan diri sendiri antara ketiga Oknum itu. Dia dapat juga dalam arti
terbatas, mengungkapkan diriNya ke luar melalui penyataan diri sendiri berkomunikasi
terhadap ciptaan-Nya.
Alam semesta doktrin
Tritunggal mengupayakan kesatuan dan keanekaan, membuat alam semesta menjadi
suatu kosmos dalam keteraturan. Karena semua hal tergantung pada kehendak baik
Allah, maka tak mungkin ada dualisme di pusat alam semesta. Tapi ada tempat
bagi keanekaan yg tak terhingga. Kita dapat berkata bahwa keanekaan hidup dalam
Allah dipantulkan dalam alam semesta berupa bentuk-bentuk hidup yg berbeda-beda
secara luas. Hidup Allah bisa mendapati bermacam-macam manifestasi, dan hal ini
memberi kejamakan unsur dan kejamakan sisi kepada alam semesta yang Dia
rencanakan ini. Lagipula, persekutuan yang mengikat Allah Tritunggal, menjadi
dasar bagi persekutuan lingkungan umat manusia, lingkungan keluarga, lingkungan
masyarakat, dan secara istimewa dalam lingkungan gereja, karena di situ Roh
Kudus menjadi petugas dan pengantara persekutuan itu.
Umat Kristen meyakini
bahwa trinitas dapat dikatakan bahwa pemeliharaan dan pemerintrahan Allah Bapa
terhadap ciptaan-Nya. Penebusan dosa di dalam korban Yesus Kristus Anak Allah. Roh
Kudus sebagai Roh Allah yang berada di tengah Jemaat. Allah yang disembah
adalah Allah yang Esa, keesaan-Nya bukan keesaan dalam hubungan manusia.
Daftar
Pustaka
Ariarajah, Wesley.Alkitabdan
Orang-orang yang berkepercayaan lain. Jakarta: BPK
GunungMulia,
2003.
Bambang, Arkhimandrit Daniel. Allah Tritunggal. Jakarta: Satya Widya Graha, 2001.
Darmaputera, Eka.PergulatanKehadiran
Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK
GunungMulia, 2001.
Jabcos, Tom Trinitas.
Yogyakarta: Kanisius, 2005), 32-33.
Junimen, Jenus. Trinity
of God. Yogyakarta: Andi Offset, 2011.
Kobong,Th. KeselamatanBagiSemua Orang? PluralitasdanPluralismesekaliLagi.Rantepao
:PenerbitSulo,
2006
Letham,Robert. Allah
Trinitas dalam Alkitab, Sejarah, Theologi dan Penyembahan. Surabaya:
Momentum, 2011.
Sumakul, H.W.B. Postmodernitas. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2012
Suseno,FransMagnis.PosmodanTantangandalampemulihanMartabatManusia.Jakarta: Grasindo, 2000.
Tanya, Viktor I.Spiritualitasdan
Pembangunan di Indonesia.Jakarta:
BPK GunungMulia, 1996.
Tong,Stephen. Allah
Tritunggal. Surabaya: Momentum, 2010.
Diktat
Pandia,WismaTeologi Pluralisme Agama-Agama, Sekolah
Tinggi Teologi Philadelpia, 8 Mei 2013
Internet
Lampiran
Nama Lengkap : Ezra Tari
Alamat : Jl. Untung Surapati, Gang Kincir RT 11, Rw 5, Kupang Nusa Tenggara
Timur
Gelar Akademik : M.Th
Almamater : STT Jaffray Makassar
Jabatan Terakhir : Dosen STAKN Kupang
Bidang Pelayanan dan Minat : Koloqium Perjanjian Baru
[1]Robert Letham, Allah
Trinitas dalam Alkitab, Sejarah, Theologi dan Penyembahan (Surabaya:
Momentum, 2011), 19
[2]Ibid, 20
[3]J. R Illingworth, The Doctrine of the Trinity, 1909; C. W Lowry, The
Trinity and Christian Devotion, 1946; A. E Garvie, The Christian Doctrine of
the Godhead, 1925; H. Bavinck, The Doctrine of God, 1951, 255-334;
[4]Arkhimandrit
Daniel Bambang, Allah Tritunggal, (Jakarta:
Satya Widya Graha, 2001), 152-153
[5]Jenus
Junimen, Trinity of God (Yogyakarta:
Andi Offset, 2011), 12-13
[6]Stephen
Tong, Allah Tritunggal, (Surabaya:
Momentum, 2010), 32-23
[8]Robert Letham, Allah
Trinitas dalam Alkitab, Sejarah, Theologi dan Penyembahan (Surabaya:
Momentum, 2011), 268
[9]Th Van den
End, Institutio: Pengajaran Kristen (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2005), 37
[10]Ibid, 40
[11]Henri
Veldhuis, Kutahu yang Kupercaya (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2010), 34
[12]Hans Kung dkk, Kapasitas
Untuk berdialog dalam kapasitas iman yang tidak bertentangan; dalam Jalan
dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim (Yogyakarta: Mizan, 2000)36
[13]FransMagnisSuseno, PosmodanTantangandalampemulihanMartabatManusia,
dalam Martin L.Sinaga (Ed), Agama-Agama
MemasukiMileniumKetiga, (Jakarta:
Grasindo, 2000)
217
[15]H.W.B. Sumakul, Postmodernitas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 102
[16]Tom Jabcos, Trinitas (Yogyakarta: Kanisius, 2005),
32-33.
[17] Viktor I Tanya, Spiritualitasdan Pembangunan di Indonesia (Jakarta: BPK
GunungMulia, 1996),
123