BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Di dalam penyebarannya, iman Kristen dan kekristenan
tidak pernah hadir kecuali sebagai sesuatu yang diterjemahkan ke dalam suatu
budaya Maksud Dan Tujuan.[1] Sejak
dahulu, Allah berbicara kepada nenek moyang kita melalui nabi-nabi dengan
memakai bermacam-macam cara yang dimengerti oleh umat-Nya (Ibr 1:1). Agaknya
tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa ide untuk masuknya suatu budaya ke
dalam sebuah budaya yang dalam kekristenan lebih dikenal dengan
kontekstualisasi, ini diinspirasikan oleh TUHAN sendiri. TUHAN dengan
otoritas-Nya yang independen dan karakter relasional-Nya berulangkali
menyatakan diri-Nya kepada manusia. Pada akhirnya dengan mandat budaya yang
dimiliki manusia dan kreatifitas yang dimilikinya pada akhirnya mampu untuk
memandang balik kepada Penciptanya.
Metode Kontekstualisasi ini ternyata ditangkap dan
diteruskan oleh Paulus dalam ia menjalankan pekabaran Injil, dengan
kontekstualisasi Etis dan kontekstualisasi pragmatisnya. Sampai pada masa
gereja mula-mula, di mana kekristenan mengalami masa ‘perubahan bentuk’ dari
dunia Yahudi – non Yahudi, kekristenan dilahirkan dalam bentuk sebuah
lingkungan lintas-budaya dengan penerjemahan sebagai ciri kelahirannya.[2]
BAB II
KERANGKA TEORI
A
KEBUDAYAAN
Menurut Tylor Kebudayaan adalah
suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengatahuan, kepercayaan, seni,
kesusilaan, hukum, adat-istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang
di pelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Linton
kebudayaan adalah keseluruhan dari ppengatuhan sikap dan pola perilaku yang
merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat
tertentu.[3]
Kluckhonn dan Kelly mengatakan bahwa
kebudayaan adalah semua rangcangan hidup yang tercipta secara historis, baik
yang ekplesit maupun implisit, rasional, irasional, dan nonrasional, yang ada
pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia. Kroeber
mengatakan bahwa kebudayaann adalah keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan,
tata cara, gagasan, dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan – dan
perilaku yang ditimbulkannya.[4]
Menurut Dr. Th. Kobong, kebudayaan
adalah pola hidup manusia dalam kelompok, jadi kebudayaaan itu dihayati dan
diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok atau komunitas.[5]
B
MISI KEBUDAYAAN
Menurut Pdt. I Nyoman Enos dalam
Bukunya Penuntun Praktis Misologi Modern, mengatakan bahwa misi yang
berlatar belakang budaya adalah misi yang bertujuan untuk menanamkan kebudayaan
gereja atau tradisi gereja misionaris yang bersangkutan. Dalam hal itu budaya
Baratlah yang dianggap lebih unggul. Berlatar belakang prasangka itu, para
misioner tersebut menanamkan nilai-nilai budaya mereka ke dalam gereja
setempat.[6]
F.D Scheleimacher percaya bahwa
budaya Eropa lebih baik dari pada budaya pribumi. Oleh sebab itu, menurutnya,
tugas misi adalah untuk menyampaikan dan menanamkan budaya Eropa. Padahal,
identitas budaya lokal justru harus kita hormati dan kita jaga dalam terang
injil.[7]
C
TRANSFORMASI
KEBUDAYAAN DALAM ALKITAB PL
Israel sebagai bangsa telah mengalami suatu formasi kebudayaan,
yaitu kebudayaan bangsa pengembara ke kebudayaan bangsa yang menetap. Proses
kempemilikan tanah Kanaan yang dijanjikan itu dan pembentuka Israel sebagai
bangsa yang menetap di negeri Kanaan tidak lain hanya merupakan proses
perubahan kebudayaan. Kita sudah mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu pola
hidup dari suatu kelompok/ masyarakat/ bangsa. Maka dalam PL ini kita akan
menyoroti tiga bidang kehidupan yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan
transformasi budaya.
Pertama : Transformasi
pertanian, tidak sulit membayangkan perubahan-perubahan yang dialami bangsa
Israel di pertanian sewaktu mereka beralih dari kebudayaan pengembara atau
setengah pengembara yang mengandalkan peternakan sebagai sumber penghidupan. Kedua
: Transformasi teknik dan sosial, dengan pemukiman yang menetap akibat kontak
dengan bangsa-bangsa yang berada ditingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi,
Israel belajar teknik pertanian antara lain cara mengerjakan tanah, mengolah
hasil pertanian, transportasi dan perdagangan. Ketiga : Transormasi
dibidang sosio-agama, tempat-tempat penyyembahan orang Kanaan ditransformasikan
menjadi pusat-pusat ibadah untuk Yahwe. Suatu tumpukan/ susunan batu sebagai
tempat pelaksanaan kultus/ ibadah, suatu mezbah yang sangat sederhana,
dikembangkan menjadi tempat peribadahan bangsa Israel.
BAB III
METODE DAN HASIL TEMUAN
A.
SASARAN MISI
KEBUDAYAAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dengan adanya transformasi misi
kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari maka diharapkan agar kebudayaan iinii
membawa dampak yang positif bagi kehidupan sehari-hari. Menurut Dr.Th. Kobong
dalam bukunya Iman dan Kebudayaan,
sasaran dari transformasi budaya sebagai berikut[8] :
1.
Agar Kita
mendapatkan wawasan yanh jelas mengenai kebudayaan dulu dan agama-agama dan
bagaimana menilai agama dan kebudayaan itu..
2.
Agar kita sadar
bahwa kita tiidak memberitakan injil di luar kebudayaan, dengan demikian kita
tidak bisa hidup di luar kebudayaan.
3.
Agar kita
belajar menghargai kebudayaan secara kristis-positif.
4.
Agar Kita
belajar mengembangkan suatu pola hidup dalam kebersamaan di tengah-tengah pola
hidup yang lebih luas(Nisbah antara kebudayaan dan subkebudayaan).
5.
Agar usaha
transformasi kebudayaan di jalankan sesuai dengan firman Allah.
6.
Agar Kita sadar
bahwa firman Allah/ Injil menjadi kaidah pola hidup berbudaya.
7.
Agar kita
mencoba menatap diri kita, cara hidup kita, pribadi maupun persekutuan untuk
menyadari bahwa kitta masih jauh dari kehidupan kerajaan Allah, yang kita
yakinii sudah kini dan akan disempurnakan nanti. Kita berada terus-menerus
dalam proses transformasi.
8.
Agar kita
secara sadar dan kristis meilahat perkembangan kebudayaan dan merasa bertanggung
jawab untuk mengembangkan kebudayaan yang sesuai dengan injil Yesus Kristus.
B.
SIKAP GEREJA MENYIKAPI KEBUDAYAAN
Menurut Malcom dalam bukunya, ia
mengutip dari Niebur yang menguraikan 4 sikap gereja terhadap kebudayaan
sebagai berikut:[9]
1.
Sikap Radikal :
Kristus Menentang Kebudayaan
Sikap pertama ialah sikap radikal atau sikap ekslusif, yang
menekankan pertentangan antara Kristus dan kebudayaan. Kristus dianggap
berlawanan dengan masyarakat. Manusia harus memilih Kristus atau kebudayaan. Ia
tidak dapat memilih Kristus dan kebudayaan. Ia tidak dapat mengapdi kepada dua
tuan.
Dalam gereja-gereja Protestan sikap radikal mewarnai sekte-sekte
dan peitime. Sekte-sekte merasa bahwa gereja-gereja biasanya cenderung
berkompromi dengan dunia. Sekte mau menjauhkan diri dari kebudayaan. Ada
sekte-sekte yang tidak berpatisipasi dalam poliitik atau kesenian masyarakat
mereka. Dalam masalah sikap radikal juga disertai dengan empat maslah teologi.
Masalah pertama : menyangkut hubungan antara pengatahuan dan penyataan,
Kedua: menyangkut pengertian tentang dosa, Ketiga : menyangkut hubungan antara
kepatuhan kepada hukum dan kasih karunia Allah, dan Keempat : menyangkut
ecenderungan kaum radikal untuk membedakan antara dunia material yang
berlawanan dengan Kristus dan dunia spiritual yang dibimbing oleh Allah.
2.
Sikap Akomodasi
: Kristus Milik Kebudayaan
Sikap ini melihat keselarasan antara Kristus dengan kebudayaan.
Yesus dianggap sebagai pahlawan sejarah dunia, kehidupan-Nya dan
ajaran-ajaran-Nya merupakan prestasi manusia yang paling agung. Dalam Yesus
cita-cita proses peradabaan diwyjudkan. Yesus menganggap harapan-harapan dan
idaman-idaman masyarakat.
Sikap ini bertentangan sekali dengan sikap radikal. Penganut-penganut
sikap ini menyesuaikan diri dengan kebudayaan mereka. Mereka mencintai Kristus,
tetapi juga mencintai kebudayaan. Mereka tidak melihat ketgangan antara gereja
dengan dunia, adat dengan injil, kasih karunia Tuhan dengan amal-amal manusia.
Pada satu pihak orang-orang Kristen budaya ini melihat kebudayaan dalam terang
Kristus.
3.
Sikap Perpaduan
: Kristus Di atas Kebudayaan
Biasanya dalam usaha kita untuk menguraikan sesuatu, kita tergod
untuk membedakan antara dua golongan saja : misalnya, yang rohani dan yang
duniaawi, kaum horisantalis dan kaum vertikalis: gereja-gereja evengelikal ddan
gereja-gereja ekumenis. Namun sudah kita memeriksa kedua sikap diatas, menjadi
nampak bahwa kbanyakan gereja dan pandangan theologis merupakan campuran. Ada
jenis theologia yang hitam dan yang putih, tetapi Kristus dan kebudayaan
kelabu. Kebanyakan theolog mengakui suatu pertentangan antara kepada Kristus
sebagai Tuhan dengan cinta kepada kebudayaan.
4.
Sikap Dualis :
Kristus dan kebudayaan dalam Paradoks
Sikap
dualis ini bukan dualisme Manikhean yang membagikan dunia dalam kerajaan rohani
yang diciptakann Tuhan dan kerajaan gelap yang diciptakan iblis. Orang-orang
dualis mengakui kewajiban mereka untuk menaati Kristus dan kewajiban untuk
mengembangkan kebudayaan sambil juga membedakan antara dua macam kewajiban.
BAB IV
ANALISA
Kebudayaan merupakan masalah yang tidak habis-habisnya. Itu adalah
maslah iman yang dihayati dan diamalkan ditengah-tengah kebudayaan yang
beraneka ragam. Masalah ini dapat kita telusuri dalam Alkitab. Kesetiaan dan
ketaatan umat Allah diukur dari pola hidupnya, sampai mana umat Allah sebagai
suatu persekutuan mempunyai pola hidup tersendiri dan dapat mengamalkan pola
hidup itu.
Kebudayaan Kristen menampak diri sebagai tanda-tanda kerajaan Allah
di tengah-tengah kebudayaan di mana orang Kristen hidup. Hanya kita harus
waspada terhadap pengidentikan kebudayaan Kristen sebagai subkebudayaan dengan
pola hidup yangg dikehendaki Allah, yaitu pola hidup kerajaan Allah. setiap
kebudayaan, termasuk sub kebudayaan yang beroreintasi kepada Kristus harus
ditransformasikan terus-menerus dari kebudayaan yang nyata ketingkat kebudayaan
yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu kebudayaan kerajaan Allah . Kaidah
kita ialah firman Allah.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
B.
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Bosch,
David J. Transformasi Misi Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
Brownlee,
Malcom. Tugas-tugas Manusia dalam Dunia milik Tuhan Allah. Jakarta : BPK
Gunung Mulia, 2004.
Enos,
Pdt. I. Nyoman. Penuntun Praktis Misiologi Modern. Bandung : Kalam
Hidup, 2012
Keesing, Roger M. Antropologi Budaya- Jilid 1,
Jakarta : Erlangga, 1981.
Kobong,
Dr.Th. Iman dan Kebudayaan. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2012
[2] Ibid,
[3] Roger M. Keesing, Antropologi
Budaya- Jilid 1, (Jakarta : Erlangga, 1981), hal 68.
[4] Ibid.,
[5] Dr.Th. Kobong, Iman dan Kebudayaan,
(Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2012),
hal V
[6] Pdt. I. Nyoman Enos, Penuntun
Praktis Misiologi Modern ( Bandung : Kalam Hidup, 2012), hal 25.
[7] Ibid.,
[8] op, cit., Dr. Th. Kobong,
hal 16-59
[9] Malcom Brownlee, Tugas-tugas
Manusia dalam Dunia milik Tuhan Allah, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004),
hal 181-198.
Nama : Papi A.
Muskanan
NIM :
0120120183
Kelas :F
Semester : V