Yudaisme
Yudaisme memiliki pengertian dasar-dasar dalam janji Allah yang
esa. Yudaisme muncul pada periode para rabi sampai kepada Ezra. Yudaisme
berlainan dengan Israel yang menunjuk kepada dorongan religius yang berfokus
pada janji berdasarkan wilayah geografis tanpa keberadaan lembaga nasional yang
jelas.[1]
Definisi
Yudaisme adalah agama Yahudi yang bertentangan dengan agama PL.
Penelitian menyeluruh mengenai pokok ini haruslah dimulai pada panggilan
Abraham, namun praktisnya Yudaisme hares dianggap mulai pada Pembuangan di
Babel. Tapi pada kurun waktu hingga thn 70 M istilah ini dipakai hanyalah untuk
unsur-unsur baik yang
berupa modifikasi maupun perluasan konsep-konsep PL. Dalam karya
penulis-penulis Jerman berulang kali muncul ungkapan menyesatkan ‘Yudaisme yang kemudian’, yang dipakai untuk agama Yahudi pada
zaman Tuhan Yesus. Ungkapan ini didasarkan pada teori yang mengatakan bahwa
naskah P (mengenai imamat) dan sejarah dalam Heksateuk, berasal dari zaman
Pembuangan atau sesudahnya, dan itulah yang dianggap benar awal Yudaisme.
Adalah lebih baik menganggap Yudaisme mencapai kedewasaannya
sesudah keruntuhan Bait Suci thn 70 M, dan memakai istilah ‘Agama Antar
Perjanjian’ untuk kurun waktu antara Ezra dan Tuhan Yesus, kecuali jika yang dibicarakan adalah
gejala-gejala yang menyusul sesudah keruntuhan Bait Suci. Satu alasan utama
untuk ini ialah, kendati agama Kristen paling awal tidak menolak atau tidak
mengabaikan seluruh perkembangan sejarah dalam keempat abad pasca Ezra, tapi
gereja perdana tegas menolak unsur itu dalam Yudaisme, yaitu sikapnya terhadap
hukum Taurat dan penafsirannya, yang memisahkan Yudaisme dari agama Kristen dan PL.
Yudaisme mencapai puncak perkembangannya sekitar thn 500 M, agak
bersamaan dengan agama Katolik. Kedua-duanya sejak saat itu terus bertumbuh dan
berbenah diri. Namun artikel ini tidaklah membicarakan masa pasca thn 200 M,
tatkala Misyna sudah lengkap dan konsep-konsep utama Yudaisme sudah jelas.
Timbulnya Yudaisme
Yudaisme tak terelakkan akibat reformasi raja Yosia, yang mencapai puncaknya thn 621 sM.
Ketentuan bahwa korban yang sah hanyalah yang dipersembahkan di Bait Suci Yerusalem, mendampakkan arti bahwa
hidup keagamaan banyak orang makin jauh dari tempat kudus dan sepi korban
sembelihan. Kecenderungan demikian makin diperkuat oleh Pembuangan ke Babel.
Penelitian modem mengisyaratkan bahwa pukulan akibat tertimpa hukuman dari
Allah, adalah terlalu membingungkan bagi suatu ibadah resmi tanpa korban
sembelihan, untuk dikembangkan di Pembuangan.
Masa Pembuangan adalah kurun waktu menantikan pemulihan. Dan
penolakan untuk kembali ke Palestina pada thn 538 sM oleh mayoritas Yahudi,
mengharuskan adanya perubahan dalam hidup keagamaan mereka, jika mereka ingin
tetap hidup sebagai Yahudi. Tidak cukup hanya mengembangkan ibadah tanpa korban
sembelihan (hal ini secara resmi dgn bentuk-bentuknya yang tertentu nampaknya
timbul kemudian); pandangan baru atas hidup yang sama sekali dapat dipisahkan
dari tempat kudus sangat dibutuhkan. Pandangan baru itu ditemukan dalam Taurat
Musa. Ini tidak ketat diartikan sebagai peraturan undang-undang, tapi agak
lebih sebagai seperangkat prinsip yang dapat dan harus diterapkan pada
setiap segi kehidupan, dan yang mengikat semua orang yang ingin disebut Yahudi
(Taurat lebih berarti ‘pengajaran’ daripada ‘hukum’). Sebenarnya Ezra adalah
‘Bapak Pencipta Yudaisme’, sebab ia kembali dari Babel bukan untuk
memperkenalkan dan memberlakukan hukum yang baru, melainkan cara baru untuk
memberlakukan hukum yang lama.
Pada abad-abad berikutnya kebijaksanaan Ezra ini menghadapi
perlawanan keras dari imam-imam kaya dan yang lain-lain, yang pada pemerintahan
Antiokhus Epifanes (175-163 sM) menjadi pemimpin golongan Helenis. Mayoritas
masyarakat umum (’ am ha-’arets) berusaha menyingkirkan segala-galanya, kecuali
arti yang jelas dari Taurat. Pada masyarakat yang berdiaspora di barat terjadi
pembauran yang makin
meningkat dengan pola pikir Yunani, yang dipertajam oleh tafsir Kitab Suci
secara alegoris yang merajalela pada waktu itu.
Tingkat berikut dalam perkembangan Yudaisme ialah penghelenisasian
para pemuka imam di Yerusalem dan kemerosotan moral para raja imam Hasmonean yang
menyusul kemudian (khususnya Aleksander Yanneus). Beribadah di Bait Suci bagi
orang saleh menjadi lebih merupakan kewajiban daripada sukacita. Sementara itu
anggota Perjanjian Qumran kelihatannya membelakangi Bait Suci, sampai Allah
sendiri akan membersihkannya dari imam-imam jahat, para Farisi yang
mengagungkan sinagoge sebagai sarana utama untuk melakukan ibadah kepada Allah
dan untuk mengenal kehendak-Nya melalui penyelidikan Taurat. Akibatnya,
menjelang zaman Tuhan Yesus ada ratusan sinagoge di Yerusalem sendiri.
Walaupun kehancuran Bait Suci thn 70 M adalah pukulan berat bagi
Farisi dan pengagum mereka, toh mereka sudah dipersiapkan untuk itu oleh
beberapa kali Bait Suci dinodai dengan berbagai cara sejak zaman Antiokhus
Epifanes. Hidup keagamaan mereka yang berpusat di sinagoge, dengan cepat dapat
menyesuaikan diri pada keadaan yang baru itu, apalagi mengingat kelompok
agama-agama lain sudah dimusnahkan atau dijadikan tak berdaya. Menjelang thn 90
M para pemimpin Farisi, yaitu para rabi, merasa cukup kuat untuk mengucilkan
dari sinagoge orang-orang yang dianggapnya guru-guru bidat (minim), termasuk
orang-orang Kristen Ibrani. Menjelang thn 200, sesudah bertempur mati-matian,
mereka paksa ‘am ha-’arets supaya menyesuaikan diri dengan para rabi, jika
mereka ingin dianggap Yahudi. Sejak saat itu dan seterusnya Yudaisme
dipengaruhi oleh pemikiran modern. Istilah-istilah Yahudi dengan Yudaisme
seperti rabi, Yudaisme ortodoks atau Yudaisme keturunan pada dasarnya adalah
searti.
Perlu diperhatikan, kendati kelompok Farisi selalu merupakan
kelompok kecil, keberjayaan pandangan mereka adalah wajar. Memang mereka sering
tidak disenangi oleh masyarakat umum, tapi pandangan merekalah yang paling
logis menyesuaikan PL pada keadaan sesudah Pembuangan. Dan pandangan mereka
menjadi milik umum melalui kesanggupan mereka menggunakan sinagoge.