Berbicara mengenai misi dalam
konteks iman Kristen pada dasarnya bersumber pada pengajaran Alkitab yakni
dalam konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sebab dengan memahami kedua
bagian kitab itu maka konteks mendasar mengenai misi dapat kita pahami yakni
yang berpusat pada Amanat Agung (sebagaimana yang diungkapkan dalam Matius 28).
Model – Model Misi
Dalam Perjanjian Baru
- Refleksi Terhadap PB Sebagai Dokumen Misi
- Misi dalam Perjanjian Lama
Dalam PL dapat kita memahami keberadaan dan realitas
dari apa yang dipahami mengenai misi. Mungkin tidak tersistematis bagaimana
Allah menyatakan kehendakNya kepada manusia untuk bermisi namun tak dapat
disangkal bahwa kehadiran para utusan atau yang diutus oleh Allah (misalnya; Yunus dalam perintah untuk
memberitakan penghukuman dari Allah dan Deutero Yesaya yang memberitakan
mengenai “kabar baik”) dapat dijadikan sebagai motivasi dalam menyatakan
misi kepada bangsa-bangsa lain. Bahkan yang penting untuk dipahami bahwa Allah
menyatakan kuasa kepada bangsa yang terpilih (Israel) untuk menjadi pengharapan bahwa Israel dapat mewujudkan
misi itu kepada bangsa-bangsa lain. Namun kita tahu bahwa Israel pada akhirnya
gagal sebab ketidaktaatan mereka pada apa yang menjadi aturan khusus dari
Allah.
- Misi yang dilakukan oleh Yesus
Misi yang nyata dalam kehadiran pelayanan Yesus pada
dasarnya berpusat pada Kerajaan Allah. Dimana dengan pelayanan itu Yesus hendak
mengajak manusia agar percaya kepada Bapa yang mengutus Dia sebab dengan hal
itulah manusia dapat diselamatkan sebab lewat penderitaan – kematian –
kebangkitan Yesus merupakan wujud pengorbanan yang dapat menyelamatkan manusia
dari dosa dikarenakan kemenangan Yesus mengalahkan kuasa kejahatan yang
membelenggu kehidupan manusia.
- Hukum Taurat
Pemaknaan terhadap Hukum Taurat hanya dapat dipahami
dalam pola pelayanan dan pengajaran Yesus, yakni dengan menyatakan bahwa Yesus
bukannya menghilangkan makna Hukum Taurat itu namun Dia datang untuk menggenapi
semuanya itu agar manusia dapat memahami apa yang hendak dilakukan kepada Allah
dan apa yang hendak dilakukan kepada sesama manusia.
- Misi Sebagai Pemuridan
Ketika kita diperhadapkan pada realitas misi yang
dapat dapat kita pahami maka hendaknya kita melihat tiga kitab penting dalam PB
yakni Matius, Lukas – Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus. Memang tidak
dapat disangkal bahwa bagian kitab ini masing-masing berbeda mengenai
penulisnya, namun mempunyai kesamaan makna sehubungan dengan misi. Pertama
bahwa kitab-kitab ini memperkenalkan kepada kita apa pemahaman misi, bagaimana menerapkannya
dan apa yang hendak dicapai dari misi itu. Hanya satu yang menjadi penekanan
bahwa misi itu berpusat pada perintah Yesus untuk menjadikan semua bangsa
menjadi murid lewat pengajaran dan pengenalan akan kebenaran Firman Allah
sehingga dengan demikian manusia dapat merasakan kehadiran misi dalam hidup
mereka dan menyadari dalam hidupnya bahwa hal itu hendaknya diteruskan kepada
mereka yang belum mengenal dan memahami misi itu, yakni keselamatan yang
berpusat dalam kepercayaan yang utuh kepada Yesus Sang Mesias.
Paradigma
Historis Misi
Berbicara mengenai paradigma
historis misi dalam perspektif misiologi tidak dapat disangkal bahwa hal ini
banyak mengalami pergeseran. Hal pada dasarnya dipengaruhi oleh kedinamisan
zaman seiring juga dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Hal-hal ini banyak
mengkaji keeksistensian alam semesta, yakni mengenai apa yang berhubungan
dengan ciptaan dan yang mencipta. Pemahaman-pemahaman yang muncul dari setiap
manusia pada zamannya mengakibatkan banyak argument-argument yang muncul untuk
menentang misi itu. Namun, satu hal yang hendak kita pahami bahwa dalam upaya
untuk menyatakan dan mewujudkan misi itu hendaknya kita melihat argument-argument
itu sebagai sesuatu yang memotivasi kita untuk lebih memperkaya pengetahuan
demi kemajuan misi yang membarui paradigma-paradigma yang dapat menghalangi
kemajuan misi. Apa yang telah menjadi sejarah dalam paradigma misi hendaknya
dilihat sebagai patokan untuk lebih memajukan upaya misi di dunia ini.
Menuju Suatu Misiologi
Yang Relevan
Mengarahkan misi ke
dalam konteks yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan dimana misi itu
dinyatakan memanglah sangat sulit untuk diterapkan sebab kita diharapkan pada tantangan
yang menjadi pergumulan bagi kita. Hal ini tidak dapat dibantah sebab konteks
dimana misi itu dinyatakan pada dasarnya akan mendapatkan tantangan yang
berbeda-beda.
Hal di atas janganlah dilihat
sebagai sesuatu yang membebani misi yang dijalankan namun hendaknya kita
berupaya untuk melihat ke dalam konteks di mana misi itu dijalankan. Yang utama
untuk dipahami bahwa misi yang kita jalankan, misalnya; yang nyata dalam
konteks Kristen, adalah amanat agung yang hendak disampaikan kepada sesama kita
agar misi penyelamatan yang telah dinyatakan oleh Yesus (pembebasan /
penyelamatan) dapat diteruskan oleh kita yang memahami dan memaknai arti dari
misi itu agar pengharapan dari manusia yakni keselamatan tidaklah dilihat lagi
sebagai sesuatu yang sifatnya maya / tidak nyata melainkan sesuatu yang nyata
dan akan dinikmati oleh manusia pada saat kedatangan Yesus Kristus yang kedua
kalinya.