Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Kamis, 14 Agustus 2014

Hanna Arendt: Bertolak dari pemikiran tentang korban



            Thingking can seize upon and get hold on everithing real event, object, its own thoughts, their realness is the only property that remains stubbornly beyond its reach. Yang dipikirkan sebagai objek tidak identik dengan objek yang nyata di luar subjek yang berpikir. Kekerasan tidak dapat memahami sebuah peristiwa kekerasan itu sendiri. Kekerasan lebih kepada sebuah perbuatan atau peristiwa yang tidak sama dengan defenisinya. Kekerasan merupakan substansi yang tidak mengarah ke sebuah objek yang statis tetapi mengarah ke sebuah peristiwa yang dinamis. Arendt melihat jurang antara konteks peneliti dna peristiwa kekerasan. Dinamika kekerasan melibatkan perasaan, pengalaman, kesakitan, ketakutan, dan keinginan. Faktor yang muncul tentang kekerasan adalah ketakutan, survival, sadisme, rasa aneh, dan lain-lain. Arendt mengatakan only the fearful imagination of those who have been aroused by ...reports. refleksi atas kekerasan perlu memperhatikan konteks kekerasan. Mengapa muncul dibawah kondisi seperti ini? Bagaimana konteks seperti ini menghadirkan kekerasan? Subjek yang menderita karena kekerasan dan membawa peristiwa itu kedalam dirinya mengalami kesulitan berpikir tentang kekerasan. Namun dapat memberikan kesaksian tentang kekerasan yang telaah terjadi. Refleksi terhadap kekerasan terjadi setelah peristiwa. Pada saat kekerasan tidak munkin ada refleksi. Pemisahan dibuat struktural dengan korban kekerawsan dihindarkan untuk memberikan refleksi atas apa yang telah terjadi dengannya. Kebanyakan korban kekerasan yang menulis tentang kisah kekerasan yang pernah dialaminya bukan menulis autobiografis melainkan teoritis. Menurut Arendt bagaimana kekerasan direfleksikan oleh para korban? Apa yang terjadi kalau para korbvan memberikan kerangka untuk memikirkan kekerasan?.[1]


[1] Lucien Van Liere, Memutus Rantai Kekerasan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 48-50

Sabtu, 02 Agustus 2014

LANGKAH EKSEGESIS TIPE SASTRA



Langkah 1. Selidiki konteks sejarah secara umum
Siapakah penulisnya? Siapakah para penerimanya? Hubungan apa yang ada diantara mereka? Di mana para penerima tinggal? Apa situasi saat itu? Situasi sejarah apakah yang telah terjadi dalam tulisan ini? Apa maksud penulis? Apakah tema besar atau perhatian dokumen itu? Apakah garis besar argumentasi atau cerita argumentasi atau cerita yang terlihat jelas?
Langkah 2.Tugas berikut adalah membaca seluruh teks sekaligus. Memeriksa pengamatan melalui membandingkannya dengan buku-buku tambahan.
Langkah 3. Jadi akrab dengan paragraf/perikop.
Membuat terjemahan sementara. Membuat sebuah daftar sementara untuk kesulitan eksegesis. Membaca paragraf seluruh dalam beberapa terjemahan.
Langkah 4. Analisis susunan kalimat dan hubungan sintaksisnya. Membuat kalimat mengalir. Membuat kalimat gambar.
Langkah 5. Membangun teks.
Langkah 6. Analisis tata bahasa.
Langkah 7. Analisis kata yang penting.
Langkah 8. Selidiki latar belakang sejarah budaya.
Mengeksegesis Surat-surat
Langkah 9. Tentukan sifat formal dari surat.
Perbedaan dalam sifat
Aspek persuratan
Ciri-ciri retorika
Langkah 10. Memeriksa konteks sejarah dalam kekhususannya
Membaca secara detail
Pendengar
Kata-kata kunci
Gambaran ringkas
Langkash 11. Tentukan konteks sastra
Logika dan isi
Isi dan argumentasi
Mengeksegesis Kitab Injil
a.       Sifat dasar kitab-kitab injil
b.      Beberapa hipotesis
c.       Tugas eksegesis
Langkah 1. Tentukan sifat formal dari perikop atau ucapan
Mengenali tipe sastra umum
Mengenali bentuk khusus sastra
Langkah 2. Analisis perikop dalam sinopsis injil
Pemilahan
Penyaduran
Penyusunan
Pertimbangan kemungkinan latar kehidupan pelayanan Yesus
Langkah 3. Analisis dalam konteks naratif
Mengeksegesis Kisah Para Rasul
Langkah 1. Selidiki persoalan sejarah
Langkah 2. Menentukan konteks sastra
Mengeksegesis Kitab Wahyu
Langkah 1. Memahami sifat formal kitab wahyu
Menentukan sumber atau latar belakang dari imagenya
Menentukan penggunaan gambar itu sekarang
Memandang penglihatan secara menyeluruh
Langkah 2. Menentukan konteks sejarah
Langkah 3. Menentukan konteks sastra
Dalam mengeksegesis teks asli yang dilakukan adalah menganalisis susunan kalimat.