Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Jumat, 13 Desember 2013

Choan Seng Song dan Teologinya



Penulis/pengarang: Pinehas Djengjengi
Choan Seng Song adalah teolog asal Taiwan. Song tertantang untuk merefleksikan imannya dalam konteks asia. Ia menafsirkan kembali teologi Kristen yang dibawa masuk ke asia yang pluralistik. Ia memikirkan konteks kehidupan Asia sekaligus perjuangan kembali memikirkan teologi yang meguntungkan asia. Ia menyebut teologinya sebagai teologi transposisi. Di mana teologi Kristen dipindahkan dari Barat ke asia. Ada beberapa pergeseran dalam hal tempat dan waktu suatu alat berkomunikasi yang paling pokok adalah inkarnasi. Hal yang menarik dari Song adalah usaha yang tekun dalam mengolah unsur-unsur lokal dalam kebudayaan Asia.[1] Ia berusaha mengolah kebudayaan lokal yang berupa kisah, cerita, puisi, legenda, sejarah, dan fragmen dalam menjelaskan teologi Asia. Langkah dalam teologi kontekstual adalah tidak ada alasan teologis maupun ontologis mengapa harus mengerjakan teologi Kristen dalam perspektif barat.  Song mengkritik gagasan tradisional yang mengatakan bahwa bagaimanapun sebuah bangsa dan budaya harus dicakup dalam sejarah keselamatan.
            Song memberikan nama pada usaha teologisnya sebagai teologi mata ketiga. Teologi mata pertama dan kedua adalah teologi yang kita kenal melalui warisan dari gereja mula-mula dan bangunan teologi yang dibangun oleh pemikiran dan corak hidup barat. Teologi mata ketiga adalah umat Kristen harus melihat Kristus melalui mata orang Cina, mata orang Jepang, Afrika, Asia, dan sebagainya. Mata ktiga adalah istilah Budhisme yang berati kemampuan untuk melihat dan mendengar sesuatu yang tersembunyi dari pengetahuan. Yesus dalam telaah Song adalah Yesus sebagai wujud inkarnasi, Yesus sebagai tindakan politis Allah dan Yesus sebagai pengemban misi rekonsiliatif Allah bagi manusia.
            Manusia dapat bertemu dan ditemui oleh Yesus sang penebus. Inkarnasi adalah ungkapan paling tinggi dari kesatuan Firman Allah dan tindakan-Nya. Yesus mengemban misi penyelamatan Allah bagi manusia. Politk Allah adalah keberpihakan terhadap yang miskin dan tertindas. Teologi bela rasa adalah teologi yang diinspirasikan oleh kasih bela rasa Allah yang bekerja tanpa putus di Asia. Pemikiran Song dalam teologinya adalah memikirkan Allah yang bertindak dalam Yesus secara intensif untuk melakukan tindakan penyelamatan dan pemeliharaan-Nya atas kehidupan manusia dan dunia. M.M Thomas meringkaskan arah teologi yang hidup di Asia, teologi yang hidup bersifat situasional atau kontekstual, isi dari teologi adalah ketajaman pengamatan mengenai Allah dalam Kristus. Materi teologi adalah kesaksian hidup awam dan persekutuan jemaat. Kebutuhan mengenai arti ortodoksi dan ibadat dalam kaitan dengan teologi Kristen.[2]
Song berpendapat bahwa teologi Kristen harus bisa dimengerti orang-orang Asia sesuai dengan konteks Asia. Teologi Barat memperlihatkan Allah Barat, sehingga penjelasan tentang Allah tidak sesuai dengan keadaan orang Kristen Asia. Teologi Barat yang digunakan oleh orang Asia terdapat unsur filsafat dan budaya Barat. Allah Kristen bukan hanya menjadi Allah untuk orang Barat, tetapi juga Allah bagi orang-orang Asia. Sebaliknya, orang-orang Asia harus dapt membentuk teologi Kristen Asia sendiri. Teologi Kristen Asia dapat dibangun melalui pengalaman sehari-hari yang dialami oleh orang-orang Asia. Orang-orang Kristen di Asia harus melatih diri untuk melihat Kristus dalam pengalamannya sendiri. Song tidak hanya menganjurkan teologi Kristen untuk orang Asia, tetapi Song juga memiliki pemikiran mengenai misiologi Kristen.
Song mengatakan bahwa misiologi Kristen seharusnya dilihat dan dititikberakan pada penciptaan Tuhan atas dunia ini. Hal yang menjadi penitikberatan atas misiologi dapat menjadikan kekristenan tetap hadir di tengah dunia yang majemuk khususnya dalam hal agama. Kekristenan diharapkan mampu untuk mengaktualisasikan diri dengan berbagai bentuk kehidupan sosial, budaya, dan agama. Dalam seluruh Alkitab terlihat kisah di mana Allah bersekutu dan akrab dengan ciptaan-Nya. Pengorbanan dan kematian Yesus di kayu Salib merupakan wujud hubungan baru bagi seluruh ciptaan-Nya. Hubungan yang tidak hanya berdasarkan hubungan darah atau pun ras, tetapi juga hubungan yang melamaui daerah, ras, dan agama. Allah bukan lagi milik satu bangsa, tetapi milik setiap orang yang mempercayai-Nya. Yesus bukan hanya lagi orang Nazaret dan milik orang Yahudi saja, tetapi Yesus adalah realitas dari tiap daerah yang beraneka-ragam. Yesus bukanlah kemewahan yang ada saat itu tengah menindas kaum miskin, tetapi Yesus juga adalah kebudayaan dari masyarakat rendah. Dalam kebudayaan yang seperti itu, manusia baru dapat bertemu dengan Kristus yang sesungguhnya. Kristus yang tidak menganggap rendah orang-orang terpinggirkan, tetapi Yesus yang seperti para nabi yang merasakan sakit dan penderitaan (ketika ditahbiskan). Yesus adalah sosok yang iba pada suara-suara rintisan dan rataan dari orang-orang yang tertindas. Sebagai pengikut Kristus, orang dituntut untuk percaya dan berpengharapan dalam menjalani kehidupan ni, sebagai bukti dari iman pada Kristus. Misi kekristenan kini bukan hanya milik orang-orang Yahudi, sebaliknya orang-orang Yahudi seharusnya sudah dapat membuka diri terhadap keberadaan bangsa lain. Dalam pandangan Tuhan, tidak selalu yang besar yang mendapat tempat. Tidak selalu pemerintah yang unggul bila dibandingkan dengan rakyat biasa, karena yang dipentingkan adalah usaha untuk memperoleh kehormatan tersebut. Yesus hadir bagi rakyat kecil yang selama ini dilupakan dari pandangan pemerintah.


[1] Pinehas Djengjengi, (A.A Yewangoe, Peny.) Yesus Sang Rekonsiliator dalam Kontekstual Pemikiran Dogmatika di  Indonesia, (BPK Gunung Mulia, 2004), 116
[2] Masao Tankenaka, Kesenian Kristen Asia,  tanda-tanda perubahan pembaruan dalam teologi Kristen Asia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 166