Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Kamis, 24 Oktober 2013

Falsafah Pelayanan



Arti Pelayanan
Pelayanan  adalah berarti berusaha melayani kebutuhan orang lain dengan  atau tanpa memperoleh imbalan. Untuk mengungkapkan ide profesi pelayan atau pelayanan imam,  Dalam PB istilah khas ialah diakonia, yg terdapat hanya dalam Est di PL, tapi di sana tidak dipakai dalam fungsi keimaman apa pun; dan perubahan dalam bahasa mengandung perubahan juga dalam ajaran, karena pelayanan dalam pengertian PB tidaklah hak khusus golongan imam. Leitourgia dikhususkan untuk menerangkan pekerjaan keimaman ibadah Yahudi (Luk 1:23, Ibr 9:21), dan digunakan juga untuk pelayanan Kristus yg jauh lebih agung (Ibr 8:6); lalu kata itu dapat juga dikenakan, dalam arti kiasan, kepada pelayanan rohani oleh nabi dan pemberita Injil (Kis 13:2). Tapi pada umumnya tetap benar, bahwa PB memakai istilah keimaman hanya sehubungan dengan kelompok orang percaya sebagai satu tubuh terpadu seutuhnya.
Masalah Pelayanan
Masalah dalam jemaat adalah perkawinan campur yang terjadi dalam masyarakat majemuk. Pelayanan pada kaum buruh. Peranan perempuan dalam perkembangan masyarakat. Pelayanan kepada masyarakat industri. Peran politik gereja dalam dunia.
Dasar Pelayanan menurut Yesus
Teladan pelayanan Kristen disajikan dalam hidup Kristus, yg datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mat 20:28; Mrk 10:45); kata kerja yg dipakai dalam ay-ay ini ialah diakonein, yg melukiskan pelayanan di meja makan, dan mengingatkan kembali peristiwa tatkala Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:4). Sangat penting bahwa dalam peneguhan jabatan yg pertama sekali dicatat dalam gereja Kristen, ialah tujuan jabatan itu yakni ‘melayani meja’ (Kis 6:2); dan kata yg sama digunakan dalam ps yg sama ( Kis 6:4) untuk menerangkan pelayanan Firman yg didahulukan oleh keduabelas rasul daripada pelayanan di meja. Pelayan Kristus, mengikuti teladan Guru-nya, memberikan pelayanan yg timbul dari kerendahan hati tapi penuh kasih terhadap kebutuhan manusia pada umumnya, dalam roh yg sama seperti halnya malaikat-malaikat (Mat 4:11; Mrk 1:13) dan kaum perempuan (Mat 27:55;Luk 8:3) melayani Tuhan Yesus waktu di bumi. Pelayanan seperti itu dianggap dilakukan terhadap Kristus dalam diri orang-orang yg berkekurangan (Mat 25:44). Pelayanan demikian paling sering diberikan kepada orang-orang kudus (Rm 15:25); tetapi pekerjaan melayani adalah pelayanan timbal-balik dalam persekutuan tubuh Kristus (1Pet 4:10); dan sebagai pelayanan Injil (1Pet 1:12), dan secara nyata merupakan pelayanan pendamaian (2Kor 5:18) bagi dunia.
Implikasi Ketritunggalan Allah dalam Pelayanan
Allah TriTunggal yang dimaksud adalah Allah Yang Esa, yang memiliki 3 Pribadi. Pribadi Pertama biasa disebut Allah Bapa, Pribadi Kedua Allah Anak, Pribadi Ketiga Allah Roh Kudus. Pribadi Pertama(Bapa) bukanlah Pribadi Kedua(Anak), Pribadi Kedua bukanlah Pribadi Ketiga(Roh Kudus), dan Pribadi Ketiga bukanlah Pribadi Pertama(Bapa.) namun Ketiga-Nya tetap Esa secara esensi. Bagaimana bisa 3 pribadi yang berbeda tetapi tetap Esa? Didalam Kitab Kejadian ada sebuah kata yang menunjukkan keesaan Allah, yang dapat diartikan sebagai satu-kesatuan. Sebagai contoh (walaupun contoh ini tidaklah sempurna untuk menyatakan Keesaan Allah ) Pada saat Penciptaan, Allah menciptakan siang dan malam yang disebut satu hari. Kata yang menunjukkan 1 hari ini adalah kata satu kesatuan. Sehingga siang dan malam adalah satu kesatuan dari 1 hari. Siang bukanlah malam dan malam bukanlah siang, namun siang dan malam adalah satu-kesatuan dari 1 Hari. Penunjukkan kata satu-kesatuan ini pun ditunjukkan kepada satu-kesatuan dari Allah Yang Esa.
Dunia adalah ladang misi
Pandangan gereja terhadap dunia harus mengalami perubahan di mana dunia adalah tempat tinggal yang indah, seperti surga di dunia.
Kepedulian terhadap lingkungan hidup punya tiga dasar: tugas  misi gereja, partisipasi dalam pembangunan, pengamalan sila keadilan sosial. Merusak lingkungan hidup adalah dosa. Menjaga dan memelihara lingkungan hidup adalah ibadah.
Praktika pelayanan memegang peranana dalam pelayanan. Peranan penting teologi adalah berusaha menjelaskan hubungan yang ilahi dengan manusia. Teologi berusaha mempertemukan dunia dan pemikiran tentang Allah. Pembelajaran teologi menyangkut etika pelayanan dan seluruh aspek kehidupan manusia.

Kanon: Bingkai Tafsir



Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama
Pengarang                               : Yongki Karman
 
            Kelompok  Jesus seminar yang muncul pada abad ke-20 yang dikembangkan sekitar tahun 1985. Kemompok Jesus seminar mengggunakan prasuposisi-prasuposisi bahwa tidak semua keempat injil PB benar secara historis. Perjanjian Baru berisi du hal yakni kenangan historis dari masa sebelum Golgota dan interpretasi umat dari masa sesudahnya. Keempat injil sudah tercampur antara fakta dan fiksi. Kelompok Jesus seminar menyeleksi perkataan-perkataan Yesus dan menolak mempercayai asal Yesus. Tidak  semuanya perkataan Yesus yang ada dalam PB. Historitas perkataan dan ajaran Yesus yang dipakai dalam PB dipakai sebagai teks yang religius. Ajaran Yesus bersifat naratif daripada gnostik. Injil PB untuk menyatau dengan historitas Yesus. Tuhan menyejarah dengan manusia Yesus dan lahir di Betlehem dalam sebuah keluarga.
            Kristus diimani dan tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kristus. Gambaran tentang Yesus dalam surat kiriman dapat dipercaya dan mendapat prioritas. Otoritas firman Allah pada dirinya sendiri dan menjadi tolok ukur tertinggi bagi iman hidup umat. Kanon merupakan proses kitab dikenali dan berotoritas firman Tuhan. Kanon PB berkisar pada empat hal yakni daftar kanon dari bapak-bapak gereja, kerasulan, ortodoksi dan katolisitas. Kanon ditentukan kaitannya dengan rasul-rasul. Kanon PB bergantung pada ortodoksi yakni PB secara keseluruhan. Kanon dikaitkan dengan nubuat dan perjanjian.
Kitab sejarah menggambarkan ketaatan dan ketidaktaatan. Ketertutupan kanon diperlukan demi kegiatan tafsir alkitab. Menafsir kitab suci merupakan usaha yang tidak bebas nilai. Keterlibatan iman dalam membaca tidak dapat ditawar-tawar. Penafsir dituntut untuk rendah hati untuk menafsir dengan memakai metodologi yang baik dalam konsep firman Tuhan. Soal iman substansi kebenaran sama sekali tidak bergantung pada pemahaman secara akademik. Iman jemaat lebih murni dan sederhana ketimbang iman seorang teolog. Jemaat adalah tiang dasar dan penopang kebenaran. Kewajiban moral penafsir adalah meneruskan iman yang dimilikinya, menegaskan dan mengembangkan dalam konteks kehidupan sehari-hari.