BAB
I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Gereja pada abad ke-21 saat
ini mengalami tantangan yang berat yakni bagaimana bertumbuh dalam perkembangan
zaman yang cepat. Banyak anggota jemaat yang hilang karena kurang pendalaman
Alkitab. Peringatan terhadap gereja disampaikan oleh Donald McGavran yang
mengatakan “Tuhan menghendaki agar domba-domba-Nya yang hilang ditemukan dan
dibawa kembali ke kandangnya.”[1]
Gereja punya kewajiban untuk bertumbuh dan menjangkau orang dalam penginjilan.
Penginjilan itu berlaku dengan rasa syukur, seperti yang dikatakan Wiebracht
“Keinginan Allah adalah memenuhi surga dengan wakil-wakil dari setiap bangsa,
suku, kaum dan bahasa.”[2]
Kita harus membangun persekutuan berdasarkan pengajaran
tentang pertumbuhan dengan perkembangan jumlah anggota jemaat. Bagaimanakah
gereja bisa berkembang? Menurut C. Peter Wagner bahwa pertumbuhan gereja dapat
dikembangkan dengan paradigma baru yakni memprakarsai penjangkauan daripada
mendukung program denominasi gereja.[3]
Pertumbuhan gereja banyak dipengaruhi oleh pendekatan pengalaman. Pendekatan
terhadap pertumbuhan gereja dikembangkan dalam suatu kebudayaan namun tidak
bertentangan dengan firman Allah.[4]
Allah mengutus kita untuk melakukan misi Kristiani. Perintah Tuhan untuk
menjangkau ketika kita memiliki Roh Kudus, “Tetapi kamu akan menerima kuasa,
kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem
dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8).
Christian Schwarz mengatakan dalam penyembahan yang menginspirasi bahwa: sementara pertanyaan tentang apakah sebuah ibadah gereja mengutamakan orang-orang
non-Kristen tidak memiliki kaitan yang jelas dengan pertumbuhan gereja, harus
diakui memang ada sebuah korelasi antara pengalaman dari penyembahan yang
menginpirasi dengan kualitas serta kauntitas gereja.[5]
Kita harus melaksanakan amanat Yesus yakni menjadikan
semua bangsa murid Yesus. Kita tidak perlu kaget dengan penurunan kuantitas
kehadiran anggota jemaat. Perpindahan ini disebabkan tidak ada perhatian
konkrit dari gembala. Pengaruh yang besar pada saat ini adalah sekularisasi.[6]
Kemakmuran dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memengaruhi iman
orang kepada Tuhan. Gereja mengalami kemunduran karena gagal mengikuti pola
pikir manusia dan mengembangkannya sesuai dengan perkembangan zaman.
Gereja hanya bertumbuh hanya diseputar festival-festival,
perayaan bersama dan peran politik gereja. Namun gereja melupakan aspek iman
gereja mengalami kemerosotan karena pendalaman Alkitab menjadi kurang karena
fokus terhadap panggilan iman yang sebenarnya.[7]
Pembinaan iman umat tidak hanya bisa dilakukan dengan berkunjung ke tempat yang
belum tejangkau tetapi menggunakan media untuk menyampaikan injil. Menurut
Markus Rani manusia sekarang hidup ditengah arus informasi yang sangat banyak.
Pendalaman Alkitab dapat dilakukan lewat website,
e-mail, atau media yang paling digemari adalah televisi. Injil sebagai
karya penyelamatan Allah disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh
masyarakat.[8]
Pertumbuhan gereja masa kini mengalami kelesuan baik
kedalam maupun keluar. Pertumbuhan gereja saat ini lebih karena perpindahan dan
kelahiran dibanding membawa orang yang belum percaya kepada Kristus. Panggilan
Allah dalam misi pertumbuhan gereja tidaklah didefenisikan dengan dasar
menjangkau lebih banyak suku yang belum mengenal Kristus. Tantangan pertumbuhan
gereja berasal dari bidang politik, ekonomi, dan ekologi. Kritik terhadap
gereja yang mengalami kemerosotan akibat radikalisme islam.
Strategi
yang Digunakan untuk Pertumbuhan Jemaat
Allah memberi pertumbuhan
sementara memanggil hamba-Nya untuk memberitakan injil kepada orang yang belum
percaya. Pertumbuhan gereja diprakarsai oleh Roh Kudus, kita sungguh percaya
pada janji Allah dalam Kisah Para Rasul (Kis 1:4-5). Kuasa yang Tuhan berikan
itu membuat kita hidup saleh dan bersaksi bagi Kristus. Roh kudus sebagai tanda
lahiriah dari hidup baru dan berbicara dalam bahasa Roh.[9]
Cara terbaik bagi gereja supaya dapat memuliakan Allah adalah menjadi Kristus
untuk memancarkan karakter dan kelakuan Kristus di dunia. Menyatakan pribadi
Bapa dan mencapai tujuan pembebasan umat manusia. Ia memberikan kuasa kepada
gereja untuk memberikan kuasa menyelesaikan tugas (Kis 1:8). Allah menghendaki
diri-Nya supaya dikenal oleh semua bangsa.[10]
Sebuah gereja amanat agung adalah gereja yang menaruh peduli untuk menjangkau
masyarakat secara kultur dekat maupun yang jauh.
Gereja bisa lemah jika tidak
diketahui keberadaannya dan memperkuatnya bila mengalami kemunduran. Gereja
yang kuat kembali karena atas rencana Allah yang memnatu jemaat bertumbuh di
dalam Kristus. Gereja hanya sibuk mengurusi masalah-masalah dan tidak pernah
dilatih keterampilan untuk memimpin umat kepada kedewasaan iman. Gereja perlu
berbenah diri baik ke dalam maupun keluar untuk bertumbuh sehat dan semakin
berpengaruh bagi dunia yang gelap.[11]
Setiap orang harus diajak
untuk memiliki filosofi pelayanan sehingga menjadi pegangan untuk dipakai dalam
pelayanan dan komunikasi dengan orang lain. Setiap anggota sebaiknya
memperhatikan kebutuhan anggota lainnya termasuk keuangan. Menjadikan kehidupan
doa sebagai sarana untuk menumbuhkan gereja. Pertumbuhan gereja yang nyata
adalah menetapkan sasaran apa yang akan dicapai. Sasaran kita dalam menetapkan
sasaran adalah sumber kuasa rohani yakni dari kuasa Roh Kudus. Dengan penetapan
sasaran maka pertumbuhan gereja kita akan semakin besar dalam kuasa Tuhan.[12]
Gereja yang dengan sungguh-sungguh dan setia mencoba
menjalankan setiap aspek kebenaran firman Tuhan di dalam kesehariannya. Gereja
secara keseluruhan harus menjalankan misi yang harus
dilakukan bagi suku yang belum terjangkau. Misi adalah panggilan yang tritunggal untuk
menyatakan Kristus kepada dunia dengan jalan proklamasi, kesaksian, dan
pelayanan supaya dengan kuasa Roh Kudus, Allah, dan firman-Nya. Manusia dibebaskan dari egoisme dan dosanya dan
dengan tindakan Allah dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah dengan jalan
percaya akan Dia melalui Yesus Kristus. Misi adalah
manifestasi Kristus kepada dunia. Kristus datang memproklamasikan fiman Allah,
hidup Kristus, bahkan Kristus sendiri adalah firman Allah yang diproklamasikan.
Pelayanan Kristus merupakan ungkapan firman dalam tindakan sosial yang aktif. Menjadi manusia
berarti berada dalam relasi dengan Allah.
Faktor-Faktor
Pertumbuhan Gereja
Pertumbuhan gereja didukung
oleh penginjilan dan dipengaruhi oleh prinsip tubuh Kristus. Perkembangan
gereja berdasarkan iman dalam bertumbuh dengan cara ekspansi artinya
pertambahan anggota jemaat serta membuka gereja baru atas penyertaan Roh Kudus.[13]
Pertumbuhan gereja masa kini yang dipakai Allah untuk menetapkan penginjilan
demi pertumbuhan yang dikehendaki oleh Allah. Penelitian membantu penginjil
untuk menetapkan sasaran khusus dalam pelayanan keluar demi memahami kondisi
masyarakat disekitar tempat penginjilan.[14]
Prinsip anggota pelayanan dalam kebersamaan ditentukan berdasarkan karunia dari
Roh Kudus. Setiap orang semuanya diarahkan kepada satu tujuan yakni penginjilan
yang dapat menjangkau suku bangsa yang belum terjangkau.
Kepemimpinan pendeta yang kuat
benar-benar merupakan pertanda gereja yang sehat dan menarik.[15]
Faktor yang memengaruhi vitalitas
jemaat terdapat lima unsur yang patut dipertimbangkan yakni kesenangan,
manfaat, relasi mereka dengan Allah, hubungan dalam lingkungan di mana mereka
berada. Menyesuaikan diri dalam rencana tersebut maka ada beberapa faktor yang
memengaruhi adanya jemaat yang vital adalah iklim, kepemimpinan, struktur,
tujuan serta tugas dan konsepsi identitas di mana ada hubungan erat dengan
interaksi manusia. Di mana nampak dari jemaat itu secara lokus dan pengaruhnya terhadap jemaat secara majemuk
serta peranannya dalam partisipasi dalam organisasi. Ada beberapa langkah
menuju jemaat yang vital yakni merumuskan visi dan mengembangkan kebijakan
bersama dalam pengembangan jemaat.
Penyelidikan
terhadap kondisi dan syarat dalam mengetahui situasi jemaat itu sendiri.
Setelah perundingan dalam jemaat mengenai hasil penyelidikan. Setelah itu
penyeledikan rencana-rencana dan evaluasi seluruh proses yang berlangsung dalam
jemaat, apa yang menjadi prioritas dalam proses pembangunan jemaat vital yang
merupakan proses berkesinambungan. Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam hal jemaat yang membuatnya vital adalah
kepemimpinan dan iklim sangat berpengaruh terhadap efek dan kesenangan kerja
jika tujuan dan identitas memenuhi syarat tertentu. Dalam hal membuat keadaan
yang sangat baik maka dituntut komunikasi yang sering diantara pemimpin dan
anggota Jemaat. Berkomunikasi penting dalam rangka pembangunan ide bersama
bahwa manusia merupakan milik paling penting dan berharga dalam organisasi.
Dengan demikian organisasi tidak hanya menyadarinya melainkan bertindak sesuai
dengan penyadaran akan pentingnya komunikasi yang intens.
Dalam
organisasi di jemaat, pemimpin itu mendukung dan menolong untuk menjalankan
tugas yang akan dikerjakan, memberi bantuan pada pekerjaan, menekankan
pentingnya tujuan-tujuan dan meninggikan kerjasama diantara pemimpin dan
anggota jemaat. Faktor yang mendukung ialah untuk mengembangkan tujuan, jemaat
bertolak pada anggota sendiri pada pengalaman dan keinginan mereka. Berdasarkan
pandangan terhadap anggota sebagai subjek maka kepemimpinan yaitu kelompok inti
memperoleh sifat pelayanan. Secara konkret mendukung anggota jemaat secara
pribadi dan bersama-sama. Dalam proses vitalisasi menyangkut lima fase yakni
motivasi dan pengambilan keputusan, penyelidikan lewat survei, analisis dan
penentuan prioritas, setiap orang mempergunakan keahliannya untuk berperan
dalam setiap kelompok yang dibuat. Beberapa fase yang dilalui untuk jemaat
dalam pembangunan.
Mediasi orang yang
bermasalah
Setiap orang
memiliki masalah karena itu memerlukan mediator untuk menyelesaikan masalah. Dalam
memediasi hubungan perlu melibatkan penyingkapan diri dan emosi, aturan dasar
privasi serta komunikasi. Proses mediasi dilakukan dengan merumuskan perasaan
dan perilaku yang tegas dan bertanggung jawab. Dalam proses memediasi hubungan
adalah mengidentifikasi peristiwa yang terjadi dalam hubungan setiap orang. Mediator
memahami kesulitan dan kepedihan dalam hubungan dari masa lalu sampai masa
kerja. Mencermati pola perasaan dengan merefleksikan perasaan dengan
merefleksikan peristiwa kritis.
Dalam
proses semua pelaku menghilangkan sifat destruktif dalam hubungan mereka. Para
pelaku memutuskan untuk saling melepaskan dan hidup secara mandiri. Sifat
hubungan manusia dengan proses strategi dengan merundingkan masalah dan dapat
dipertanggungjawabkan. Strategi itu bersifat tertutup dan penyelesaian lebih
kepada persoalan hubungan primer.
Pelayanan gereja memerlukan pengorbanan dalam
mengabarkan injil kerajaan Allah ke seluruh dunia. Gereja dalam pusat rencana
Allah terhadap dunia yang menjadi alat ditetapkan untuk memberitakan kabar
baik. Gereja menjadi batu sandungan jika mengingkari berita injil yang
diberitakan ditandai dengan salib. Gereja yang bertumbuh lebih bersifat
persekutuan umat Allah daripada suatu lembaga dan tidak sama dengan kebudayaan
tertentu. Para pemimpin sukses merupakan motivator yang baik bagi jemaat
bersifat positif dan berpendirian teguh memberikan pengaruh bagi jemaat masa
kini.
Penyelamatan orang kristen mengubah nilai-nilai
manusia sehingga penyelamatan memperbaiki status keluarga dari golongan rendah
ke golongan yang tinggi. Keasingan gereja merupakan sesuatu yang tidak relevan
bagi orang yang belum percaya. Dalam pertumbuhan gereja mengenal liturgi yang
relevan dengan kebudayaan merupakan faktor penentu bertumbuhnya jemaat. Ada
orang berpendapat bahwa kesembuhan fisik tidak lebih penting dari keselamatan
rohani. Roh Allah terus-menerus bekerja dengan luar biasa dan tiap hari Tuhan
menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Dengan kuasa Roh Kudus
yang memberi kekuatan kepada orang yang percaya kepada Kristus untuk membagikan
pengalaman hidup kepada semua orang percaya. Roh Kudus memberikan kuasa untuk
menyampaikan injil kerajaan Allah. Ia menolng orang untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat disekitar gereja. Gereja memiliki kebutuhan besar dalam pengembangan
diri menuju kedewasaan. Hanya Roh Kudus yang menopang orang percaya untuk
menyampaikan injil.
Dalam
organisasi di jemaat, pemimpin itu mendukung dan menolong untuk menjalankan
tugas yang akan dikerjakan, memberi bantuan pada pekerjaan, menekankan
pentingnya tujuan-tujuan dan meninggikan kerjasama diantara pemimpin dan
anggota jemaat. Faktor yang mendukung ialah untuk mengembangkan tujuan, jemaat
bertolak pada anggota sendiri pada pengalaman dan keinginan mereka. Berdasarkan
pandangan terhadap anggota sebagai subjek maka kepemimpinan yaitu kelompok inti
memperoleh sifat pelayanan. Secara konkret mendukung anggota jemaat secara
pribadi dan bersama-sama. Dalam proses vitalisasi menyangkut lima fase yakni
motivasi dan pengambilan keputusan, penyelidikan lewat survei, analisis dan
penentuan prioritas, setiap orang mempergunakan keahliannya untuk berperan
dalam setiap kelompok yang dibuat. Beberapa fase yang dilalui untuk jemaat
dalam pembangunan.
Pelayanan Untuk Pertumbuhan Gereja
Pelayanan gereja memerlukan pengorbanan dalam
mengabarkan injil kerajaan Allah ke seluruh dunia. Gereja dalam pusat rencana
Allah terhadap dunia yang menjadi alat ditetapkan untuk memberitakan kabar
baik. Gereja menjadi batu sandungan jika mengingkari berita injil yang
diberitakan ditandai dengan salib. Gereja yang bertumbuh lebih bersifat
persekutuan umat Allah daripada suatu lembaga dan tidak sama dengan kebudayaan
tertentu.[16]
Para pemimpin sukses merupakan motivator yang baik bagi jemaat bersifat positif
dan berpendirian teguh memberikan pengaruh bagi jemaat masa kini.
Penyelamatan orang kristen mengubah nilai-nilai
manusia sehingga penyelamatan memperbaiki status keluarga dari golongan rendah
ke golongan yang tinggi. Keasingan gereja merupakan sesuatu yang tidak relevan
bagi orang yang belum percaya. Dalam pertumbuhan gereja mengenal liturgi yang
relevan dengan kebudayaan merupakan faktor penentu bertumbuhnya jemaat. Ada
orang berpendapat bahwa kesembuhan fisik tidak lebih penting dari keselamatan
rohani. Roh Allah terus-menerus bekerja dengan luar biasa dan tiap hari Tuhan
menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Dengan kuasa Roh Kudus
yang memberi kekuatan kepada orang yang percaya kepada Kristus untuk membagikan
pengalaman hidup kepada semua orang percaya. Roh Kudus memberikan kuasa untuk
menyampaikan injil kerajaan Allah. Ia menolng orang untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat disekitar gereja. Gereja memiliki kebutuhan besar dalam pengembangan
diri menuju kedewasaan. Hanya Roh Kudus yang menopang orang percaya untuk
menyampaikan injil.
Pertumbuhan
Dengan Potensi
Ketakutan untuk bertumbuh
merupakan kekuatan terbesar yang dahsyat mendorong gereja untuk keluar lintasan
penginjilan. Gereja sedang bertumbuh dan banyak lahan. Kekuatan tidak terlihat
dalam pertumbuhan gereja adalah mempertahankan tradisi. Gereja harus memenagkan
budaya di mana masyarakat yang belum bergereja.[17]
C. Peter Wagner mengungkapkan, “Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan
dari dosa dan kematian kekal. Allah adalah kasih dan Ia menginginkan agar
tiap-tiap orang diperdamaikan kepada-Nya. Karena alasan itulah Ia mengutus anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.”[18]
Pertumbuhan
dalam jemaat Tamalanrea dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan banyaknya
perumahan yang dibangun dalam lokasi bumi tamalanrea permai. Gereja tamalanrea
sangat strategis yang berdekatan dengan salah satu univertsitas terbesar di
Indonesia timur. Rumah sakit Wahidin Sudirohusodo, kantor Polda Sulsel dan
beberapa instansi pemerintah yang penting.
Pelayanan
Holistik
Gereja memerlukan proses
yang lama dalam mengenali, menggerakkan dan mendukung pelayanan dalam jemaat.
Pertumbuhan gereja mulai dari hal-hal kecil tumbuh menjadi pohon yang besar.
Orang kristen yang ingin bertumbuh harus serius menyesali dosanya dan membuka
diri terhadap kuasa Roh Kudus. Dalam Kisah para rasul 2:44, kebersamaan
merupakan kunci utama dalam pertumbuhan. Semua anggota jemaat dicukupi
kebutuhannya dengan cara saling berbagi. Hidup mereka penuh dengan persekutuan
sehingga Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis
2:47). Zaman sekarangpun kita melihat pertumbuhan terjadi dengan adanya
penyembuhan melalui doa oleh orang yang percaya untuk dilepaskan dari belenggu
penyakit.
Pertumbuhan Dengan Potensi
Ketakutan untuk bertumbuh
merupakan kekuatan terbesar yang dahsyat mendorong gereja untuk keluar lintasan
penginjilan. Gereja sedang bertumbuh dan banyak lahan. Kekuatan tidak terlihat
dalam pertumbuhan gereja adalah mempertahankan tradisi. Gereja harus memenagkan
budaya di mana masyarakat yang belum bergereja.[19]
C. Peter Wagner mengungkapkan, “Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan
dari dosa dan kematian kekal. Allah adalah kasih dan Ia menginginkan agar
tiap-tiap orang diperdamaikan kepada-Nya. Karena alasan itulah Ia mengutus
anakNya yang tunggal, Yesus Kristus.”[20]
Pertumbuhan gereja
bergantung pada pimpinan Roh, di mana Ia menyiapkan orang untuk mendengar injil
sehingga pemberitaan injil bagi orang yang tidak bergereja terlaksana sesuai
dengan kehendak Allah. Roh Kudus bagi pertumbuhan gereja yaktu Roh Kudus
sebagai dinamika dan Roh Kudus melengkapi pertumbuhan gereja yang saat ini
sedang lesu.[21]
Schwarz mengatakan bahwa pertumbuhan gereja oleh kuasa Roh Kudus berarti tidak
menerapkan prinsip yang tidak lazim dalam tradisi kita bahkan menyakitkan.[22]
Menurut David Beer gereja yang sehat adalah gereja yang memerhatikan pada
karakter Allah, memuliakan Allah, dari pada memedulikan organisasi sendiri dan
mewakili kelompok denominasi dan melestarikan kebiasaannya.[23]
Strategi
Pertumbuhan
Menurut Greg Ogden ada enam perubahan yang perlu dilakukan untuk
mendorong jemaat melakukan pelayanan demi pertumbuhan jemaat yakni pertama
memperbarui pemahaman tentang peran Roh Kudus. Kedua iman kita bukan hanya
sekedar kelembagaan atau formalitas semata. Ketiga gereja harus berfokus pada
jemaat dibanding pendeta. Keempat, kita memiliki kesadaran sebagai umat bahwa
peran kita adalah pelayan yang diberi masing-masing karunia yang berbeda.
Kelima, memiliki kesadaran oikumene daripada fokus dalam denominasi
masing-masing. Keenam, melakukan perubahan dalam penyembahan dalam mengarahkan
diri kepada Tuhan.[24]
Penutup
Pertumbuhan gereja tidak hanya didasarkan pada kualitas tetapi juga
kuantitas. Pertumbuhan gereja tergantung pada pimpinan kuasa Roh Kudus.
Panggilan Allah dalam memberitakan injil kerajaan Allah kepada semua suku
bangsa. Korelasi mebentuk pertumbuhan gereja dari segi kuantitas. Sumber
kekuatan gereja untuk bertumbuh serta kuat dalam iman dimulai dari pencurahan
Roh Kudus. Gereja yang efektif dari penelitian ini adalah gereja yang menyentuh
seluruh aspek kehidupan manusia. Hal yang penting dilakukan oleh umat percaya
adalah melakukan penginjilan baik kedalam maupun keluar.
Kita harus menanam gereja demi pertumbuhan gereja sebab gereja baru
membantu dalam pendidikan injil bagi orang yang belum bergereja. Kuasa Roh Kudus
yang memberi kekuatan kepada orang yang percaya kepada Kristus untuk membagikan
pengalaman hidup dan menyampaikan injil kerajaan Allah. Cara
hidup atau sikap hidup di bawah pimpinan Roh Kudus menuju pada kedalaman makna
kehidupan, yakni dalam relasi yang benar dengan Allah dan sesama yang yang
keluar dari hati. Dengan kekuatan atau semangat (spirit) dari kuasa Roh Kudus
kita bertolak “ke tempat yang dalam” (Lukas 5:4). Tanggung jawab gereja dalam penelitian ini bukan
hanya hubungan dengan Tuhan tetapi hubungan dengan masyarakat dalam tindakan
sosial.
Fokus pertumbuhan gereja adalah penginjilan dan penanaman gereja baru
serta menjangkau jiwa-jiwa yang belum percaya kepada Kristus. Pertumbuhan
gereja harus diarahkan pada pemuridan seperti yang dilakukan murid-murid Yesus
pada gereja perdana. Banyak gereja gagal bertumbuh karena
terlalu diatur dan kaku. Hal tidak kalah penting adalah memiliki visi untuk
menyebarkan injil yang terencana. Umat Allah yang setia akan dipakai dengan
luar biasa oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi. Roh Kudus tidak dapat dibeli, dimanipulasi atau
diperintah berdasarkan kemauan manusia. Gembala harus diperlengkapi untuk
pelayanan gereja dan pembinaan iman jemaat. Penginjilan yang efektif adalah
melibatkan anggota jemaat dalam pelayanan demi pertumbuhan gereja. Tugas kita
sekarang adalah melaksanakan amanat agung sambil menanti kedatangan Tuhan yang
kedua kali.
Tanda gereja yang sehat
adalah ditandai dengan konflik yang sehat, kreatif dan mengubah orang untuk
mengampuni seperti yang dikatakan Efesus 4:31: segala
kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari
antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Gereja yang berfungsi yang
bertumbuh harus berfokus pada firman Allah. Banyak gereja gagal bertumbuh
karena terlalu diatur dan kaku. Ada empat ciri jemaat Yerusalem bertumbuh yakni
gaya hidup dengan kebaikan dan kemurahan hati. Menikmati penyembahan hidup dan
pertumbuhan jumlah yang terus meningkat melalyi pertobatan.[25]
Menurut Jermia Djadi: Roh Kudus adalah dinamika bagi pertumbuhan gereja, tetapi
memberdayakan umat-Nya untuk terlibat sebagai alat Tuhan dalam menumbuhkan
gereja.[26]
Kita harus melakukan pelayanan yang Allah amanatkan kepada kita lewat amanat
agung. Firman Allah harus disebarkan ke seluruh dunia untuk menjangkau
jiwa-jiwa yang belum diselamatkan.
KEPUSTAKAAN
Beer, David 50 Cara
Membuat Gereja Anda Bertumbuh.Yogyakarta: Andi, 2000
Kabanga’, Andarias
dan Alexander Mangoting (ed.), Menabur
dan Melayani. Rantepao,
2002
Wagner, C. Peter. Gempa Gereja.Jakarta: Nafiri Gabriel, 2000
Wiebracht, Dean. Menjawab
Tantangan Amanat Agung.
Yogyakarta:
Andi, 1997.
DIKTAT
Djadi, Jermia. Diktat Teologi Pertumbuhan Gereja. Makassar:
STT Jaffray, 2012
[1] Donald McGavran dalam C. Peter Wagner, Strategi Perkembangan Gereja ( USA:
Gospel Literature International), 24.
[3] C. Peter Wagner, Gempa
Gereja (Jakarta: Nafiri Gabriel, 2000), 245.
[5] Christian Schwarz dalam David Beer, 50 Cara Membuat Gereja Anda Bertumbuh (Yogyakarta: Andi, 2000), 89.
[6] Pengambilalihan bangunan atau barang
milik yayasan keagamaan untuk dijadikan milik negara dan digunakan untuk
keperluan lain.
[7] David Beer, 50 Cara
Membuat Gereja Anda Bertumbuh (Yogyakarta: Andi, 2000), 16-17.
[8] Markus
Rani dalam Andarias Kabanga’dan Alexander Mangoting (ed.), Menabur dan Melayani (Rantepao, 2002), 145-146.
[17] David Beer, 50 Cara
Membuat Gereja Anda Bertumbuh (Yogyakarta: Andi, 2000), 154.
[18] C.
Peter Wagner dalam Jermia Djadi, Diktat
Teologi Pertumbuhan Gereja (Makassar: STT Jaffray, 2012), 33.
[19] David Beer, Op. Cit,
154.
[20] C.
Peter Wagner dalam Jermia Djadi, Diktat
Teologi Pertumbuhan Gereja (Makassar: STT Jaffray, 2012), 33.
[21] Jermia
Djadi, Diktat Teologi Pertumbuhan Gereja
(Makassar: STT Jaffray, 2012), 35
[23] David Beer, Op. Cit,
188.
[24] Greg Ogden dalam David Beer,
50 Cara Membuat Gereja Anda Bertumbuh (Yogyakarta:
Andi, 2000), 139-140.
[25] Rob
Warner, dalam David Beer, 50 Cara Membuat
Gereja Anda Bertumbuh (Yogyakarta: Andi, 2000), 230.