I.
PENDAHULUAN
1. Sejarah
Singkat Jemaat
Jemaat Belau berdiri pada tahun 1953, di mana pada
saat itu daerah di mana jemaat ini berdiri masih diduduki oleh gerombolan. Saat
itu banyak warga masyarakat yang terpengaruh dan masuk menjadi agama Islam karena
gerombolan yang ada hadir pada saat itu semuanya berada dalam komunitas agama Islam.
Di tengah-tengah pengaruh agama yang di bawah oleh
para gerombolan, ada seorang guru yang datang membawa pengaruh yang kuat yakni
dengan memberikan pilihan kepada masyarakat
di daerah itu untuk memilih agama apa yang hendak mereka anut. Kemudian
guru itu mendirikan gedung gereja yang bertempat di desa Laun, walaupun pada
saat itu guru ini masih menganut Aluk Todolo.
Pada tanggal 3 bulan April tahun 1953 guru ini pergi
ke Bittuang dan disitu orang mulai pergi ke Gereja dan tempat mereka beribadah
masih di gedung sekolah.
Pada tahun 1954 Belau diduduki oleh TNI dan akhirnya
gerombolan terusir kemudian KUGT/BPS datang membaptis orang di Laun karena
gerombolan sudah terusir yang dikawal oleh TNI. Pada waktu itu orang Kristen
lebih 200 orang. Karena sakit dan mati tiba-tiba (Ra’ba Biang) akhirnya pada tahun
1954 Jemaat Belau dipindahkan ke Belau, namun pada saat itu tempat ibadah masih
di sekolah.
Setelah jemaat Belau dipindahkan ke Belau hadirlah
seorang pendeta yakni Pdt. Lintin untuk mengajak
orang tua agar bersekolah tetapi mereka tidak mau. Pada saat itu juga Pdt. Lintin
melakukan baptisan pertama diman yang dibaptis saat itu lebih 500 orang dan
setelah melakukan pembabtisan dia kemudian kembali ke desa Bittuang.
Selama itu, masyarakat yang sudah masuk menjadi
agama Kristen masih beribadah di gedung sekolah selama 3 (tiga) tahun. Kemudian
pada tahun1980 didirikanlah gedung gereja yang terbuat dari kayu, dimana pada
saat itu jumlah kepala keluarga ± 100 KK.
Kemudian pada tahun 1985 didirikanlah gedung gereja
permanen. Dan pada tahun 1986 mereka mendirikan cabang di Salupuang dan Pawwan.
Mereka juga mendirikan cabang kebaktian di Bayo’, Paku, Bamba, kemudian di
Bayo’ mendirikan cabang kebaktian Buku Pongo’, dan Kulaya, kemudian Buku Pongo’
mendirikan cabang kebaktian di Sarangga. Pada tahun 1990 Belau mendirikan
cabang kebaktian di Intab dan Jemaat Ratte, kemudian Jemaat Ratte mendirikan
cabang kebaktian di Bamba Ratte dan Pali’-Pali’ dan Pali’pali’ mendirikan cabang kebaktian di
Paliorong. Pendiri Jemaat Belau yang bernama Maringgi’ yang disekolahkan selama
empat tahun oleh Tuang Lintin di Bittuang akhirnya menjadi guru sementara
tetapi dia juga adalah kepala Gurilla. Pada saat itu majelis pertama ada 5
orang yakni:
1.
Maringgi’
2.
P.
Paillin
3.
Pawarrang
4.
M.
Mallayuk
5.
R.Rombe
Kelima
Majelis ini dibawa ke Bittuang dan disana mereka dibaptis.
2. Keadaan
Umum Jemaat
Jemaat Belau berada di bagian barat Tana Toraja yang
berada dalam kecamatan Masanda. Jarak dari kota Makale ± 50 Km atau ± 15 Km
dari kota Bittuang. Jemaat Belau terdiri atas ± 133 kk. Ibadah Jemaat
dilaksanakan satu kali yakni jam 9.00 Wita. Pelayanan Jemaat dilaksanakan
berdasarkan warta Jemaat. Majelis Gereja Jemaat Belau Periode 2006-2009 adalah
:
Ø Ketua :
Pdt. Wahyu T. Parrangan, S.Th
Ø Wakil Ketua : Pnt. Petrus Patandi
Ø Sekretaris : Pnt. Y. Bongalilling
Ø Wakil Sekretaris : Pnt. Paulus Bala
Ø Bendahara : Pnt. M. Sambo Lola’
Pelayanan Jemaat
yang dilakukan telah berjalan dengan baik. Organisasi Intra Gerejawi yang
terdiri atas PPGT dan PWGT. PWGT tidak melakukan ibadah rutin dari rumah ke
rumah seperti Ibadah Rumah Tangga. Anggota Jemaat Belau pada umumnya petani tetapi
ada juga beberapa orang yang masuk PNS. Tingkat pendidikan pada umumnya adalah
Sekolah Dasar dan beberapa SMP, SMA dan
Perguruan Tinggi.
3. Sistematika
Laporan
I.
PENDAHULUAN
a.
Sejarah
Singkat Jemaat
b.
Keadaan
Umum Jemaat
c.
Sistematika
Laporan
II.
KEGIATAN
SELAMA KKL
A.
Kegiatan
Mahasiswa selama KKL
1.
Pengamatan
1.1.
Program
Tahunan Jemaat
1.2.
Masalah-Masalah
di Jemaat
a. Pelaksanaan Program
b.
Kelembagaan
1.
Majelis
Gereja
2.
OIG
3.
Dari
Luar Jemaat
2.
Prioritas
Yang Dilaksanakan Jemaat Selama KKL (Lampiran)
2.1.
Prioritas
Program Yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran)
2.2.
Pelayanan
Dan Kegiatan Yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran Dalam Bentuk Time
Schejule)
III.
ANALISA
TENTANG PELAYANAN JEMAAT DENGAN METODE SWOT
A.
Pelayanan
Jemaat Selama KKL
B.
Jemaat
Secara Keseluruhan
IV.
KESIMPULAN,
REFLEKSI DAN SARAN
1.
Kesimpulan
2.
Refleksi
3.
Saran-saran.
Lampiran-lampiran
II. KEGIATAN SELAMA KKL
A.
Kegiatan
Mahasiswa selama KKL
1. Pengamatan
1.1.
Program
Tahunan Jemaat
Dari hasil pengamatan penulis selama KKL
dikondisikan, dimana program tidak disusun dengan baik sehingga program hanya
dilakukan ibadah Jemaat, perkunjungan ke rumah duka dan orang sakit.
1.2.
Masalah-Masalah
di Jemaat
a.
Pelaksanaan
Program
Tidak ada kesiapan Majelis Gereja dalam melaksanakan
program yang akhirnya tidak ada semangat anggota Jemaat didalam bersekutu.
Ibadah yang mereka lakukan hanya sebagai formalitas saja.
b.
Kelembagaan
(Majelis Gereja & OIG )
Tidak ada perhatian Majelis Gereja terhadap OIG
sehingga ibadah OIG tidak terlaksana dengan baik, setelah tenaga KKL berada
dilokasi baru melengkapi kepengurusannya sekaligus mengadakan ibadah PPGT yang
pertama, dan itupun dimulai dari rumah penginapan tenaga KKL.
2.
Prioritas
Yang Dilaksanakan Jemaat Selama KKL (Lampiran)
2.1.
Prioritas
Program yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL.
|
No
|
Nama
Program
|
Tujuan
|
Sasaran
|
Waktu
|
|
1.
|
Pelayanan
|
Melibatkan
diri sebagai terang ditengah-tengah jemaat Tuhan
|
Anggota
Jemaat dan OIG
|
Sesuai waktu
Jemaat
|
|
2.
|
Pelayanan
Mimbar dalam Jemaat
|
Agar iman
Jemaat diteguhkan
|
Seluruh
anggota Jemat
|
Sesuai
Jadwal
|
|
3.
|
Perkunjungan
|
Sharing
dengan anggota Jemaat dan pergumulan
|
Anggota
Jemaat
|
Dikondisikan
|
2.2.
Pelayanan
dan Kegiatan yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran Dalam Bentuk Time
Schejule).
III. ANALISA
TENTANG PELAYANAN JEMAAT DENGAN METODE SWOT
Ø
Kekuatan
-
Adanya
anggota jemaat yang cukup banyak
-
Adanya
homogenitas
-
Adanya
gotong royong masyarakat.
Ø
Kelemahan
-
Kurangnya
perhatian terhadap pendidikan
-
Lebih
mengutamakan adat
Ø
Peluang
-
Adanya
lembaga pendidikan TK, SD, SMP, SMA untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia.
-
Adanya
perkembangan di bidang pertanian dalam bercocok tanam karena selalu dipantau
oleh pertanian.
Ø
Ancaman
-
Adanya
penyakit masyarakat dan generasi muda (judi dan sabung ayam)
-
Adanya
dua karakter yang berbeda yang sangat bertolak belakang.
-
Kurangnya
penghargaan dan perhatian terhadap tenaga pelayan, dan mungkin tidak ada
pendeta yang bertahan kecuali di jemaat Belau yakni Pdt. Wahyu T. Parrangan,
S.Th, MM.
A.
Pelayanan
Jemaat Selama KKL
Berdasarkan analisis SWOT yang telah diuraikan
diatas, maka pelayanan Jemaat selama KKL dapat dikatakan baik. Walaupun tidak
jauh dari sebelumnya, karena sangat susah untuk mengubah pola pikir “Karakter”
tetapi dengan adanya kehadiran tenaga KKL bisa dirasakan dan mulai sadar untuk
bersekutu.
B.
Jemaat
Secara Keseluruhan
Perhatian menyeluruh terhadap apa yang terjadi
hanyalah sekedar habits dan tidak ada yang diperhatikan.
IV. KESIMPULAN,
REFLEKSI DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Dari
hasil pengamatan penulis dan dengan data yang telah dikumpulkan penulis maka
dapat ditarik kesimpulan:
-
Jemaat Belau adalah sebuah jemaat yang cukup
berkembang seklasis Masanda karena sebuah Jemaat mula-mula.
-
Sebagian
besar anggota Jemaat Belau bertumbuh dalam masyarakat yang tingkat
pendidikannya masih rendah meskipun ada anggota Jemaat yang berpendidikan
tinggi hanya 11 orang saja dari 133 anggota jemaat.
-
Dalam
struktur dan organisasi jemaat Belau belum begitu baik karena struktur dalam
jemaat belum lengkap (OIG).
2.
Refleksi
Dalam rangka pelaksanaan KKL penulis sangat
berterimakasih kepada tuhan atas anugerah dan perlindunganNya yang selalu
mengalir. Membuat penulis semakin bersemangat didalam pelayanan dan mengucap
syukur kepada Bapak Pendeta Wahyu Te’dang Parrangan yang selalu menemani dan
memberi motivasi dan pengalaman-pengalaman dalam jemaat juga kepada majelis
gereja bersama dengan anggota jemaat Belau yang telah bersedia menerima baik
tenaga KKL yang didalamnya penulis banyak pelajaran dan pengalaman untuk lebih
mempersiapkan diri dalam pelayanan Tuhan. Meskipun banyak suka duka yang selalu
silih berganti yang kadang membuat penulis tidak bersemangat dan bergumul namun
Ia selalu menyatakan kasihNya. Sehingga penulis menyadari bahwa memasuki sebuah
jemaat adalah hal yang tidak mudah tetapi ketika dengan sungguh-sungguh
melayani jemaat Tuhan maka Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.
3.
Saran-saran.
a.
Untuk
BPS Gereja Toraja
BPS harus memperhatikan tenaga pelayan yang ada di
klasis Masanda karena selama ini tidak
ada tenaga pelayan yang bertahan kecuali Pdt. Wahyu T. Parrangan,S.Th.
b.
Untuk
Majelis Gereja dan Anggota Jemaat
-
Program
tahunan harus disusun dengan baik sehingga program dapat berjalan dengan baik.
-
Majelis
Gereja harus memperhatikan OIG.
c.
Untuk
STAKN Toraja
-
Hendaknya
lebih memprioritaskan pelayanan ke daerah-daerah pelayanan seperti yang tenaga
KKL tempati guna meningkatkan perhatian pelayanan kepada mereka yang
membutuhkan di daerah-daerah terpencil.
-
Penting
untuk lebih membekali mahsiswa yang mengikuti KKL agar dalam realitasnya mahasiswa
tidak mengalami kendala-kendala yang dapat menjadi batu sandungan kepada diri
mahasiswa dan lembaga secara khususnya.
Lampiran
Pelayanan yang dilaksanakan Jemaat
selama Kuliah Kerja Lapangan
|
No
|
Nama
Program
|
Tujuan
|
Sasaran
|
Waktu
|
|
1.
|
Pelayanan
|
Melibatkan
diri sebagai terang ditengah-tengah jemaat Tuhan
|
Anggota
Jemaat dan OIG
|
Sesuai
waktu Jemaat
|
|
2.
|
Pelayanan
Mimbar dalam Jemaat
|
Agar
iman Jemaat diteguhkan
|
Seluruh
anggota Jemat
|
Sesuai
Jadwal
|
|
3.
|
Perkunjungan
|
Sharing
dengan anggota Jemaat dan pergumulan
|
Anggota
Jemaat
|
Dikondisikan
|
oleh Jupri Tallona, 10 Agustus 2008