Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 17 Juli 2013

Membangun Jemaat Yang Vital” Oleh : Pdt. Handi Hadiwitanto




Deskripsi
Pembangunan gereja yang dimaksud di sini adalah dasar dari seluruh tindakan persekutuan, pelayanan dan kesaksian gereja. Asumsi dasar dari pembangan gereja adalah adanya perubahan yang terjadi baik di dalam kehidupan gereja maupun di tengah-tengah masyarakat di mana gereja ini melayani (van der Ven 1996). Pembangunan jemaat adalah upaya teologis yang mempertajam makna-makna ‘melayani Tuhan’ berdasarkan keadaan dan pengalaman-pengalaman yang tepat mengenai jemaat/gereja, maka motivasi, komitmen untuk “melayani Tuhan” dan menjalankan misi gereja melalui jemaat-jemaat lokal akan terbentuk secara baik.
Pembangunan jemaat yang vital adalah upaya melihat dan menilai bagaimana kehidupan bergereja/berjemaat (bukan sekedar pergi ke gereja) di tengah-tengah berbagai perubahan dan permasalahan sosial. Van der Ven menyebutkan bahwa identitas adalah salah satu fungsi inti dari keberadaan gereja, yang jika telah dibangun dengan baik maka akan menjadi arahan yang baik untuk fungsi-fungsi inti lainnya yaitu Integration (Integrasi).
Sebagai gereja/jemaat membangun definisi diri yang harus terus dikembangkan agar dapat menjawab persoalan, karena itu Hendriks menyebutkannya sebagai konsepsi identitas. Kritik terhadap ritual keagamaan yang mengabaikan kemanusiaan, keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23;1-36). Pembangunan jemaat yang vital pada akhirnya merupakan tujuan besar dari keseluruhan pelayanan jemaat/gereja.
Interaksi
Dalam pertumbuhan jemaat saya memberi penekanan pada peran pelayanan katergorial seharusnya dapat menciptakan iklim dan komunikasi yang baik dari anggota-anggota Jemaat. Pelayanan yang sudah berjalan bertahun-tahun dan kelihatannya baik-baik saja, dari sujud ini masih harus dipertanyakan, apakah kepemimpinan. Para aktifis pengunjung/pelawat kadangkala mendominasi percakapan dan nasihat-nasihat, yang pada akhirnya menutup kesempatan si anggota jemaat untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya.Selain juga gereja pada akhirnya tidak berhasil menjawab permasalahan-permasalahan yang bersifat kontekstual, yang menjadi cirri dari gereja/jemaat yang vital.

Unsur utama dalam metode ini adalah pengamatan, mendengar, berbicara, berinteraksi, bertanya dan menangkap potret serta persoalan yang ada di dalam sebuah jemaat atau kelompok pelayanan. Selain itu juga catatan data kuantitatif dari jemaat yang dianalisis bersama-sama dengan metode kualitatif akan menunjang proses analisis yang lebih lengkap. Faktor-faktor pembangunan jemaat yang vital dapat menjadi arah penelitian, tetapi juga dapat menjadi potret awal untuk mengembangkan penelitian.
Gereja yang vital adalah gereja yang mengetahui siapa mereka dan hendak apa mereka ditengah konteksnya. Pertanyaan yangsaya rasa tidak dapat dipisahkan dari teologi kontemporer khususnya teologi Asia dan misiologi, juga ilmu-ilmu sosial serta organisasi. Disini dasar utamanya adalah kesediaan untuk terus menerus melakukan hermeneutik-kommunikatif praksis (refleksi dan komunikasi). Identitas gereja/jemaat yang terjawab dengan baik berkait sangat erat pada program-program pelayanan pastoral yang bertujuan jelas.
Pokok tujuan dalam program pelayanan jemaat yang vital adalah berlandaskan pada teks Alkitab, terarah jelas dan konkret dalam konteksnya, dan menggairahkan. Pokok tujuan ini berkaitan dengan tugas-tugas dan perencanaa apa saja yang harus dilakukan oleh jemaat. Kunjungan ini dapat mempunyai pengaruh yang amat positif untuk vitalisasi jemaat jika kepentingan yang dibicarakan menjadi sentral justru bukan kepentingan gereja, melainkan kepentingan si individu anggota jemaat tersebut. Di mana setiap anggota individu ada dalam sebuah aturan yang main, yang terbuka dan saling memahami. Tetapi di samping itu demi tujuan bersama dan sesuai aturan main setiap anggota juga dapat mempunyai kesempatan untuk berpatisipasi atau bahkan membela kepentingan dirinya.
Ada faktor penentu dalam melakukan revitalisasi jemaat adalah Identitas jati diri, tujuan dan tugas, struktur, iklim dan kepemimpinan yang akan dijelaskan bahwa kita sebagai kelompok umat beriman perlu memeriksa identitas secara khusus dengan menjawab siapakah kita sebenarnya dan apa tugas perutusan kita sebenarnya.
Lingkaran pastoral pada dasarnya merupakan salah satu upaya dari teologi praktika untuk melakukan penelitian yang bersifat empiris – teologis dan menekankan unsur kualitatif dalam metode-metodenya. Persoalan justru seringkali muncul adalah ketika gereja dan anggota-anggotanya tidak lagi bersedia untuk berefleksi dan berkomunikasi. Pembangunan  jemaat adalah gerak keseluruhan anggota gereja yang merasa berdaya dan bersemangat untukm melakukan misi gereja, yaitu membawa misi kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Pada akhirnya saya hendak mengatakan bahwa dasar dari pembangunan jemaat dan gereja yang vital bersumber dan bermuara pada iman yang vital.

Minggu, 14 Juli 2013

Laporan Jemaat Belau



I.    PENDAHULUAN
1.      Sejarah Singkat Jemaat
Jemaat Belau berdiri pada tahun 1953, di mana pada saat itu daerah di mana jemaat ini berdiri masih diduduki oleh gerombolan. Saat itu banyak warga masyarakat yang terpengaruh dan masuk menjadi agama Islam karena gerombolan yang ada hadir pada saat itu semuanya berada dalam komunitas agama Islam.
Di tengah-tengah pengaruh agama yang di bawah oleh para gerombolan, ada seorang guru yang datang membawa pengaruh yang kuat yakni dengan memberikan pilihan kepada masyarakat  di daerah itu untuk memilih agama apa yang hendak mereka anut. Kemudian guru itu mendirikan gedung gereja yang bertempat di desa Laun, walaupun pada saat itu guru ini masih menganut Aluk Todolo.
Pada tanggal 3 bulan April tahun 1953 guru ini pergi ke Bittuang dan disitu orang mulai pergi ke Gereja dan tempat mereka beribadah masih di gedung sekolah.
Pada tahun 1954 Belau diduduki oleh TNI dan akhirnya gerombolan terusir kemudian KUGT/BPS datang membaptis orang di Laun karena gerombolan sudah terusir yang dikawal oleh TNI. Pada waktu itu orang Kristen lebih 200 orang. Karena sakit dan mati tiba-tiba (Ra’ba Biang) akhirnya pada tahun 1954 Jemaat Belau dipindahkan ke Belau, namun pada saat itu tempat ibadah masih di sekolah.
Setelah jemaat Belau dipindahkan ke Belau hadirlah seorang pendeta yakni Pdt.  Lintin untuk mengajak orang tua agar bersekolah tetapi mereka tidak mau. Pada saat itu juga Pdt. Lintin melakukan baptisan pertama diman yang dibaptis saat itu lebih 500 orang dan setelah melakukan pembabtisan dia kemudian kembali ke desa Bittuang.
Selama itu, masyarakat yang sudah masuk menjadi agama Kristen masih beribadah di gedung sekolah selama 3 (tiga) tahun. Kemudian pada tahun1980 didirikanlah gedung gereja yang terbuat dari kayu, dimana pada saat itu jumlah kepala keluarga ± 100 KK.
Kemudian pada tahun 1985 didirikanlah gedung gereja permanen. Dan pada tahun 1986 mereka mendirikan cabang di Salupuang dan Pawwan. Mereka juga mendirikan cabang kebaktian di Bayo’, Paku, Bamba, kemudian di Bayo’ mendirikan cabang kebaktian Buku Pongo’, dan Kulaya, kemudian Buku Pongo’ mendirikan cabang kebaktian di Sarangga. Pada tahun 1990 Belau mendirikan cabang kebaktian di Intab dan Jemaat Ratte, kemudian Jemaat Ratte mendirikan cabang kebaktian di Bamba Ratte dan Pali’-Pali’ dan  Pali’pali’ mendirikan cabang kebaktian di Paliorong. Pendiri Jemaat Belau yang bernama Maringgi’ yang disekolahkan selama empat tahun oleh Tuang Lintin di Bittuang akhirnya menjadi guru sementara tetapi dia juga adalah kepala Gurilla. Pada saat itu majelis pertama ada 5 orang yakni:
1.      Maringgi’
2.      P. Paillin
3.      Pawarrang
4.      M. Mallayuk
5.      R.Rombe
Kelima Majelis ini dibawa ke Bittuang dan disana mereka dibaptis.
2.      Keadaan Umum Jemaat
Jemaat Belau berada di bagian barat Tana Toraja yang berada dalam kecamatan Masanda. Jarak dari kota Makale ± 50 Km atau ± 15 Km dari kota Bittuang. Jemaat Belau terdiri atas ± 133 kk. Ibadah Jemaat dilaksanakan satu kali yakni jam 9.00 Wita. Pelayanan Jemaat dilaksanakan berdasarkan warta Jemaat. Majelis Gereja Jemaat Belau Periode 2006-2009 adalah :
Ø  Ketua                            : Pdt. Wahyu T. Parrangan, S.Th
Ø  Wakil Ketua                 : Pnt. Petrus Patandi
Ø  Sekretaris                      : Pnt. Y. Bongalilling
Ø  Wakil Sekretaris           : Pnt. Paulus Bala
Ø  Bendahara                    : Pnt. M. Sambo Lola’
Pelayanan Jemaat yang dilakukan telah berjalan dengan baik. Organisasi Intra Gerejawi yang terdiri atas PPGT dan PWGT. PWGT tidak melakukan ibadah rutin dari rumah ke rumah seperti Ibadah Rumah Tangga. Anggota Jemaat Belau pada umumnya petani tetapi ada juga beberapa orang yang masuk PNS. Tingkat pendidikan pada umumnya adalah Sekolah Dasar dan beberapa  SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

3.      Sistematika Laporan
I.       PENDAHULUAN
a.       Sejarah Singkat Jemaat
b.      Keadaan Umum Jemaat
c.       Sistematika Laporan
II.          KEGIATAN SELAMA KKL
A.          Kegiatan Mahasiswa selama KKL
1.      Pengamatan
1.1.      Program Tahunan Jemaat
1.2.      Masalah-Masalah di Jemaat
a.       Pelaksanaan Program
b.      Kelembagaan
1.      Majelis Gereja
2.      OIG
3.      Dari Luar Jemaat
2.      Prioritas Yang Dilaksanakan Jemaat Selama KKL (Lampiran)
2.1.      Prioritas Program Yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran)
2.2.      Pelayanan Dan Kegiatan Yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran Dalam Bentuk Time Schejule)
III.       ANALISA TENTANG PELAYANAN JEMAAT DENGAN METODE SWOT
A.    Pelayanan Jemaat Selama KKL
B.     Jemaat Secara Keseluruhan
IV.       KESIMPULAN, REFLEKSI DAN SARAN
1.      Kesimpulan
2.      Refleksi
3.      Saran-saran.
Lampiran-lampiran
II.  KEGIATAN SELAMA KKL
A.    Kegiatan Mahasiswa selama KKL
1.   Pengamatan
1.1.      Program Tahunan Jemaat
Dari hasil pengamatan penulis selama KKL dikondisikan, dimana program tidak disusun dengan baik sehingga program hanya dilakukan ibadah Jemaat, perkunjungan ke rumah duka dan orang sakit.
1.2.      Masalah-Masalah di Jemaat
a.    Pelaksanaan Program
Tidak ada kesiapan Majelis Gereja dalam melaksanakan program yang akhirnya tidak ada semangat anggota Jemaat didalam bersekutu. Ibadah yang mereka lakukan hanya sebagai formalitas saja.
b.   Kelembagaan (Majelis Gereja & OIG )
Tidak ada perhatian Majelis Gereja terhadap OIG sehingga ibadah OIG tidak terlaksana dengan baik, setelah tenaga KKL berada dilokasi baru melengkapi kepengurusannya sekaligus mengadakan ibadah PPGT yang pertama, dan itupun dimulai dari rumah penginapan tenaga KKL.
2.   Prioritas Yang Dilaksanakan Jemaat Selama KKL (Lampiran)
2.1.   Prioritas Program yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL.
No
Nama Program
Tujuan
Sasaran
Waktu
1.
Pelayanan
Melibatkan diri sebagai terang ditengah-tengah jemaat Tuhan
Anggota Jemaat dan OIG
Sesuai waktu Jemaat
2.
Pelayanan Mimbar dalam Jemaat
Agar iman Jemaat diteguhkan
Seluruh anggota Jemat
Sesuai Jadwal
3.
Perkunjungan
Sharing dengan anggota Jemaat dan pergumulan
Anggota Jemaat
Dikondisikan

2.2.   Pelayanan dan Kegiatan yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran Dalam Bentuk Time Schejule).


III.    ANALISA TENTANG PELAYANAN JEMAAT DENGAN METODE SWOT
Ø Kekuatan
-          Adanya anggota jemaat yang cukup banyak
-          Adanya homogenitas
-          Adanya gotong royong masyarakat.
Ø Kelemahan
-          Kurangnya perhatian terhadap pendidikan
-          Lebih mengutamakan adat
Ø Peluang
-          Adanya lembaga pendidikan TK, SD, SMP, SMA untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia.
-          Adanya perkembangan di bidang pertanian dalam bercocok tanam karena selalu dipantau oleh pertanian.
Ø Ancaman
-          Adanya penyakit masyarakat dan generasi muda (judi dan sabung ayam)
-          Adanya dua karakter yang berbeda yang sangat bertolak belakang.
-          Kurangnya penghargaan dan perhatian terhadap tenaga pelayan, dan mungkin tidak ada pendeta yang bertahan kecuali di jemaat Belau yakni Pdt. Wahyu T. Parrangan, S.Th, MM.
A.    Pelayanan Jemaat Selama KKL
Berdasarkan analisis SWOT yang telah diuraikan diatas, maka pelayanan Jemaat selama KKL dapat dikatakan baik. Walaupun tidak jauh dari sebelumnya, karena sangat susah untuk mengubah pola pikir “Karakter” tetapi dengan adanya kehadiran tenaga KKL bisa dirasakan dan mulai sadar untuk bersekutu.
B.     Jemaat Secara Keseluruhan
Perhatian menyeluruh terhadap apa yang terjadi hanyalah sekedar habits dan tidak ada yang diperhatikan.



IV.    KESIMPULAN, REFLEKSI DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan penulis dan dengan data yang telah dikumpulkan penulis maka dapat ditarik kesimpulan:
-           Jemaat Belau adalah sebuah jemaat yang cukup berkembang seklasis Masanda karena sebuah Jemaat mula-mula.
-          Sebagian besar anggota Jemaat Belau bertumbuh dalam masyarakat yang tingkat pendidikannya masih rendah meskipun ada anggota Jemaat yang berpendidikan tinggi hanya 11 orang saja dari 133 anggota jemaat.
-          Dalam struktur dan organisasi jemaat Belau belum begitu baik karena struktur dalam jemaat belum lengkap (OIG).
2.      Refleksi
Dalam rangka pelaksanaan KKL penulis sangat berterimakasih kepada tuhan atas anugerah dan perlindunganNya yang selalu mengalir. Membuat penulis semakin bersemangat didalam pelayanan dan mengucap syukur kepada Bapak Pendeta Wahyu Te’dang Parrangan yang selalu menemani dan memberi motivasi dan pengalaman-pengalaman dalam jemaat juga kepada majelis gereja bersama dengan anggota jemaat Belau yang telah bersedia menerima baik tenaga KKL yang didalamnya penulis banyak pelajaran dan pengalaman untuk lebih mempersiapkan diri dalam pelayanan Tuhan. Meskipun banyak suka duka yang selalu silih berganti yang kadang membuat penulis tidak bersemangat dan bergumul namun Ia selalu menyatakan kasihNya. Sehingga penulis menyadari bahwa memasuki sebuah jemaat adalah hal yang tidak mudah tetapi ketika dengan sungguh-sungguh melayani jemaat Tuhan maka Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.
3.      Saran-saran.
a.       Untuk BPS Gereja Toraja
BPS harus memperhatikan tenaga pelayan yang ada di klasis  Masanda karena selama ini tidak ada tenaga pelayan yang bertahan kecuali Pdt. Wahyu T. Parrangan,S.Th.

b.      Untuk Majelis Gereja dan Anggota Jemaat
-          Program tahunan harus disusun dengan baik sehingga program dapat berjalan dengan baik.
-          Majelis Gereja harus memperhatikan OIG.
c.       Untuk STAKN Toraja
-          Hendaknya lebih memprioritaskan pelayanan ke daerah-daerah pelayanan seperti yang tenaga KKL tempati guna meningkatkan perhatian pelayanan kepada mereka yang membutuhkan di daerah-daerah terpencil.
-          Penting untuk lebih membekali mahsiswa yang mengikuti KKL agar dalam realitasnya mahasiswa tidak mengalami kendala-kendala yang dapat menjadi batu sandungan kepada diri mahasiswa dan lembaga secara khususnya.



















Lampiran
Pelayanan yang dilaksanakan Jemaat selama Kuliah Kerja Lapangan
No
Nama Program
Tujuan
Sasaran
Waktu
1.
Pelayanan
Melibatkan diri sebagai terang ditengah-tengah jemaat Tuhan
Anggota Jemaat dan OIG
Sesuai waktu Jemaat
2.
Pelayanan Mimbar dalam Jemaat
Agar iman Jemaat diteguhkan
Seluruh anggota Jemat
Sesuai Jadwal
3.
Perkunjungan
Sharing dengan anggota Jemaat dan pergumulan
Anggota Jemaat
Dikondisikan


 oleh Jupri Tallona, 10 Agustus 2008