Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Senin, 17 Juni 2013

SIFAT-SIFAT ALLAH



Ketika membaca buku Teologi Perjanjian Baru jilid satu tulisan Donald Guthrie, kelompok memperoleh pengetahuan mengenai gagasan yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah baik dalam surat-surat Paulus, surat Am dan dalam kitab Wahyu. Kelompok mencoba mengelompokkannya secara sederhana dalam laporan bacaan berikut ini.
3.1.  Kemuliaan Allah
Paulus dalam suratnya menjelaskan mengenai sifat-sifat Allah. Paulus menyebutkan tentang kemuliaan Allah  (2 Ptr 1:17). Sifat Allah tersebut menjadi ukuran bahwa manusia sebagai ciptaan penuh dengan dosa dan tidak layak dihadapan Allah, karena itu tidak bisa mencapai Allah (Rm 3:23). Namun dalam pembenaran melalui Kristus sebagai anugerah penyelamatan maka manusia dimungkinkan untuk memperoleh kemuliaan tersebut (Rm 5:2), Karena kemuliaan Allah juga nampak dalam kemuliaan Kristus (2 Kor 4:4, Ibr 1:3). Dalam kemungkinan itu manusia punya potensi untuk juga mencerminkan kemuliaan Allah (2 Kor 3:18). Semua yang dilakukan oleh manusia adalah untuk kemuliaan Allah (Rm 15:7; 2 Kor 4:15; Flp 1:11, 2:11,). PB mempertahankan semangat rahasia yang cukup untuk mengingatka manusia akan keterbatasan pemahamannya mengenai Allah, tetapi sekaligus membuka beberapa unsur kerahasiaan itu supaya dapat diketahui oleh manusia.
Surat Am memperlihatkan kepada kita bagaimana panggilan yang diberikan kepada manusia yang harus dilakukan dalam rangka untuk  kemuliaan Allah (1 Ptr 2:12, 4:11). Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah yang merupakan gambaran keagungan dan kuasa Allah. Kesetiaan Allah menjadi dasar untuk tetap teguh dalam melaksanakan dan mewujudkan tugas panggilan dari Dia.
Yohanes dalam penglihatan ilahinya menyaksikan  dan mampu menjelaskan kepada kita bahwa Allah memang  mulia (Why 4:11, 7:12, 1:2, 15:8, 14:7, 21:11). Adanya konsep yang juga memberikan  pengetahuan bahwa  terang Allah sering juga disamakan dengan  kemuliaan Allah (Why 21:23. Dalam kitab wahyu kemuliaan Allah merupakan ungkapan penyembahan kepada Allah.
3.2. Hikmat dan Pengetahuan Allah
Gagasan Paulus mengenai hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia, karena hikmat manusia sering menjadi kebodohan bagi Allah (1 Kor 1:20). Menurut Paulus, hikmat Allah adalah tersembunyi dan rahasia (1 Kor 2:7). Karena itu sulit untuk dipahami dan diselami manusia. Bagi Paulus, kahadiran Kristus kedunia merupakan bagian dari hikmat Allah sekaligus sebagai tindakan penyelamatan yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia dan semua ciptaan yang didalamnya ada pembenaran, pengudusan serta penebusan (1 Kor 1:30). Karena Allah berhikmat maka Iapun dapat memberikan hikmat kepada siapapun yang ia kehendaki, termasuk kepada penguasa-penguasa sorga (Ef 3:10). Dari gagasan tersebut kita dapat melihat kekaguman Paulus terhadap hikmat dan pengetahuan Allah (Rm 11:33).
Dalam kitab wahyu kita bisa melihat adanya gagasan mengeai kepedulian Allah kepada umatNya dengan maksud untuk memperkenalkan hikmatNya kepada umatNya (Why 6:9). Meskipun demikian secara umum kitab Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita bahwa apa yang tertulis di dalamnya memampukan orang-orang Kristen menghadapi penderitaan dan kesengsaraan tanpa kehilangan keyakinan akan kesempurnaan hikmat Allah.
3.3. Kekudusan Allah
Mengenai kekudusan Allah kita juga tidak menemukan gagasan yang lengkap baik dalam surat Paulu, surat Am serta kitab wahyu. Yang dapat kita temukan hanyalah konsep yang mengacu baik kepada kitab Perjanjian Lama ( Imt 11:44-46) maupun dalam Perjanjian Baru misalnya dalam injil Yohanes yang juga ada dalam surat Am (1 Yoh 2:20) band Why 4:8, 15:14, 16:5. Kekudusan Allah merupakan polah bagi kekudusan manusia sebagaimana dijelaskan dalam(1 Ptr 1:16).  Kekudusan Allah  Secara berturut disebutkan dalam dan merupakan gagasan yang cukup bagi kita untuk memahami sifat Allah tersebut (Why 4:8).
4.4. Kebenaran dan Keadilan Allah
Paulus dalam suratnya menjelaskan dengan baik mengenai kebenaran dan keadilan tetapi sekaligus dibarengi oleh penjelasan tentang kasih dan anugerah Allah yang telah dicurahkan di dalam hati setiap orang melalui karya Roh Kudus (Rm 5:5). Paulus memberikan keterangan bahwa melalui iman, kebenaran Allah bisa nyata (Rm 1:17), dan kebenaran yang sejati itu berasal dari Allah (Rm 3:21-22 band Rm 10:3, Flp 3:9). Manusia harus memahami kebenaran sebagai unsur pokok yang hakiki dalam citra Allah. Namun dilain pihak Allah yang telah mengasihi manusia dan alam semesta juga adalah Allah yang adil dalam penghukuman (Rm 2:5) yang tidak menunjukkan sikap yang memihak-mihak (Rm 2:11, Gal 2:6). Tetapi orang yang percaya dan hidup menurut kehendakNya akan diselamatkan dari murka Allah (Rm 5:9) karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka melainkan untuk diselamatkan (1 Tes 5:9)
Dalam surat Am juga sangat jelas megenai gagasan kebenaran dan keadilan Allah yang akan menghakimi setiap orang tanpa memandang muka (1 Ptr 1:17)
Dalam kitab wahyu kita tidak menemukan gagasan ini, selain bahwa wahyu memperlihatkan murka yang aktif sebagai bentuk perwujudan dari kebenaran dan keadilan Allah (Why 6:16).
3.5. Kasih dan Anugerah Allah
Paulus dalam suratnya cukup jelas menggambarkan gagasan mengenai kasih dan augerah Allah (Rm 5:15-18, 11:30-32, 1 Kor 7:25, 2 Kor 4:1, 2 Tim 1:16) Kata yang sering digunakan oleh Paulus adalah Krestotes “kebaikan hati”, untuk menggambarkan Allah yang murah hati. Kemurahan Allah dimaksudkan untuk menuntun orang pada pertobatan (Rm 2:4) dan telah dicurahkan di dalam hati kita melalui Roh Kudus (Rm 5:5) Kasih Allah terlihat paling jelas dalam karya Allah menyelamatkan orang-orang berdosa (Rm 5:8. Dalam diri Paulus ada kesadaran akan kemurahan Allah (Rm 5:15-18, 11:30-32, 1 Kor 7:25, 2 Kor 4:1, 2 Tim 1:16) bahkan panggilannya juga dilihat sebagai anugerah (Gal 1:15). Setiap orang Kristen diselamatkan karena anugerah Allah (Rm 3:24, 5:15, Ef 2:5, Tit 2:11) dengan demikian nilai anugerah adalah hal yang begitu berlimpah (2 Kor 9:14, Ef 2:7). Karena itu Paulus memandang anugerah Allah sebagai pokok pujian (Ef 1:6) dan juga sebagai karunia yang bisa diteruskan kepada orang lain (1 Kor 1:4, 3:10, 15:10, 2 Tim 1:9). Anugerah Allah adalah hal yang sama sekali bertentangan dengan cara apapun yang mengandalkan usaha manusia (Gal 2:21, Rm 11:6). Ada dua kata yang sangat berkaitan dan menjadi hal yang penting untuk diketahui dalam rangka memahami gagasan tentang kasih dan anugerah Allah itu. Yang pertama  Kharis yang dalam alkitab terjemahan baru  berararti kasih karunia dan Eleos dalam bahasa Yunani yang berarti Rahmat, belas kasihan atau kemurahan.
Dalam surat Am Petrus memberikan penjelasan  bahwa orang non-Yahudi menjadi umat Allah karena belas kasihan Allah (1 Ptr 2:10). Dalam beberapa surat Am sifat-sifat Allah  yang pengasih itu muncul (Yak 5:11, 1 Yoh 4:8,16, 4:10, 19). Kasih Allah telah memungkinkan manusia untuk menjadi anak-anak Allah (1 Yoh 3:1). Karena itu manusia juga harus saling mengasihi dan menjadikan kasih Allah sebagai sumber kasih itu (1 Yoh 4:7). Kasih karunia diperuntukkan Allah kepada orang-orang yang rendah hati (Yak 4:6, 1 Ptr 5:5). Bahkan orang-orang yang  bukan Yahudi juga dapat mejadi umat Allah karena belas kasihanNya (1 Ptr 2:10)
3.6. Kebaikan dan kesetiaan Allah
Konsep mengenai kebaikan dan kesetiaan Allah cukup jelas dalam uraian Paulus. Allah setia dalam memanggil orang-orang untuk masuk ke dalam persekutuan dengan anakNya (1 Kor 1:9) dan setia menjaga mereka agar tidak dicobai melebihi iman mereka (1 Kor 10:13) dan juga menjaga dari serangan-serangan yang jahat ( 2 Tes 3:3). Allah tetap setia bahkan bila manusia tidak setia (2 Tim 2:13). Dalam surat Ampun kita dapat menemukan gagasan yang sama. Kesetiaan pencipta sebagai penghiburan bagi mereka yang menderita (1 Ptr 4:19). Kesetiaan Allah yang mendorongNya untuk mengampuni dosa manusia (1 Yoh 1:9)
3.7. Keunikan Allah
Keunikan Allah dalam proses penyelamatan yang dilakukanNya bagi ciptaanNya sendiri, ini terlihat dari (Ibr 1:10-12, 6:17). Namun disisi lain Allah pencipta telah membuat diriNya diketahui melalui karya-karyaNya (Rm 1:15-20). Keadaan Allah yang tidak terlihat (1 Tim 1:17) juga merupakan keunikan yang masih menjadi pergumulan iman bagi banyak orang dan juga bagi kaum teolog. Semua itu terlihat dalam sifat Allah  yang kekal (1 Tim 1:7, band Rm 1:23), dan juga Allah yang abadi (Rm 16:26).
3.8. Keesaan Allah
Dalam surat-suratnya Paulus sering memberikan rumusan yang sistematis mengenai keesaan Allah yang kemudian dalam doktrin gereja disebut Trinitas (2 Kor 13:13). Kemudian rumusan lain yang juga memperlihatkan keesaaan itu dapat kita lihat dalam (Ef 4:4-6). Gagasan yang lain yang disebutkan secara acak bisa juga kita lihat dalam (Gal 4:4-6). Bahkan rumusan yang sama terdapat dalam beberapa surat Paulus.
Dalam surat Am keesaan Allah juga menjadi hal yang penting dan mejadi perhatian dalam rangka memberikan pemahaman yang baik mengenai Allah, dan dalam rangka membawa orang Kristen kepada ketaatan dalam iman kepada Kristus (1 Ptr 1:2)
Catatan Kritis :
Paulus mencoba untuk memberikan gagasan mengenai sifat Allah khususnya yang dengan tajam memperlihatkan kepada kita bagimana posisi manusia dihadapan Allah. Manusia tidak layak karena dosa, namun kasih karunia Allah menjadi anugerah yang istimewa bagi manusia yang memungkinkan manusia untuk layak dihadapan Allah dan punya potensi untuk mencerminkan sifat tersebut melalui seantero kehidupannya.
Meskipun demikian uraian tersebut sekaligus membawa pergumulan dalam memprtahankan Allah sebagai oknum yang transenden. Namun bagi kelompok, ini adalah hal yang penting dalam rangka memperkenalkan Allah kepada “orang lain”. Penjelasan inipun perlu dipahami dalam konteks penulisannya, baik Injil, Surat-surat serta Wahyu, lalu diterima sebagai kebenaran yang hakiki melalui iman dan bukan rasio. Karena jika kebenaran itu diterima secara rasional maka pertanyaan yang akan muncul adalah kalau Allah yang transenden dan imanen bisa dijelaskan berdasarkan pengetahuan manusia, apakah Ia masih layak disebut sebagai Allah?
Wassalam……
Makassar, 06 Pebruari 2009

1. Anita Febriyani Br.Meliala
2.       Kristiani Bangkaran
3.       Yunita Sendewana
4.        Sardelin Mangadi
5.        Ezra Tari
6.        Markus
 

Rabu, 12 Juni 2013

Predestinasi



oleh Jupri Tallona, S.pd.K
PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai bangsa pilihan yang memiliki sejarah dimulai dengan panggilan Allah pada Abraham untuk menjadi bapa dari suatu bangsa baru (Kej. 12:1). Penyertaan Allah serta seluk-beluk kehidupan mereka tersusun dengan rapi dengan segala pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh Sang pemilik kehidupan. Bangsa yang ada dalam dunia ini memiliki sejarah tertentu tentang siapa bagaimana Allah mengetahui dan membebaskan manusia dari dosa yang menindas mereka.
Pemilihan seseorang sebagai wakil Allah untuk menjadi sumber keselamatan dan pengenalan akan Dia tergantung dari kehendak Allah atas kaum atau bangsa itu. Umat Allah yang bergumul dalam penderitaan atau bersukacita itu semua sudah diketahui Allah dan semua dalam kerangka membina dan mengajar umatNya untuk belajar hidup tanpa harus mengingat bagaimana hari kemarin dan esok. Setiap orang harus memikirkan apa yang dilakukan hari ini dan terjadi pada diri mereka bukanlah sesuatu yang kebetulan.
Kehendak Allah terhadap pemilihan dan penyertaan serta penyelamatan bangsa Israel untuk mendapatkan tanah perjanjian adalah hak Allah dalam rangka penyelamatan semua manusia adalah Cuma-Cuma. Hanya setiap orang mendapatkannya berbeda-beda untuk mendapatkan keselamatan yang asalnya dari Allah dan setiap manusia yang selamat adalah milik atau umat kepunyaanNya. Umat manusia diselamatkan tanpa perbedaan dan tanpa penindasan.[1]
  1. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana Predestinasi Allah dalam hubungannya dengan Israel sebagai umat Allah. Dan mengapa Allah menyelamatkan bangsa Israel.
  1. BATASAN MASALAH
Makalah dibuat penulis dengan batasan hanya di seputar dari mana, untuk apa, bagaimana dan mengapa perjalanan suatu bangsa menyelamatkan bangsa lain.
  1. METODOLOGI
Metode yang digunakan adalah library research untuk meneliti seperti apa presdetinasi Allah bagi bangsa Israel.

PREDESTINASI
  1. Pengertian Predestinasi
Predestinasi merupakan ajaran yang mengatakan bahwa Allah tahu segala hal sebelum terjadinya. Allah tahu segala sesuatu sebelum waktunya di depan mataNya tidak ada yang terjadi di masa lalu dan yang akan datang semua sudah dibayangkanNya dan diketahui apa yang terjadi kepada kita. Predestinasi merupakan sesuatu hal yang mana Allah yang kekal memutuskan apa yang menurutNya akan terjadi atas setiap orang.[2] Sebab tidak semua orang diciptakan dalam keadaan yang sama, tetapi untuk yang satu ditentukan kehidupan kekal untuk yang lain hukuman yang abadi. Putusan yang kekal tidak dapat diubah-ubah telah ditentukan Allah orang-orang mana yang hendak diterimaNya dalam keselamatan dan mana yang hendak dibiarkanNya binasa.
Umat Israel yang dipilih dan diselamatkan Allah tidaklah berbeda dengan orang atau bangsa lain. Allah menganugerahi mereka keselamatan dari penindasan bangsa lain yakni bangsa Mesir walaupun bangsa Israel berpencar di gurun pasir namun janji keselamatan dan kepemilikan tanah perjanjian tetap mereka akan alami dalam perjalanan mereka.[3]
Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir merupakan sebuah peristiwa besar dalam kehidupan umat yang merupakan predestinasi Allah bagi bangsaNya. Fakta ini mendukung bahwa Allah memilih orang-orang Yahudi atau bangsa Israel untuk mengabdi kepadaNya secara khusus.[4] Dimana ketaatan itu dituntut ketika umat Allah telah mendapatkan penyelamatan yang telah dalam rancangan dan kehendak Allah. Setiap kehendak yang Allah inginkan telah mereka dapatkan dari sebuah janji yang diproses sedemikian rupa sehingga apa yang telah Allah sampaikan kepada umat Israel sebagai milikNya dan telah secara khusus telah diselamatkan dari perbudakan. Allah memanggil mereka yang terpilih untuk melaksanakan keselamatan yang ditentukanNya bagi mereka yang ditolak, Dia mempunyai hukuman-hukuman yang menjadi jalan pelaksanaan keputusanNya terhadap umat pilihanNya.
  1. Janji Allah Bagi Bangsa Israel.
Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah atas dasar rahmat Allah yang dikuduskan, dipisahkan untuk Allah. Bangsa Israel dipanggil dan dipilih oleh Allah yang dipisahkan dari bangsa lain.[5] Bangsa yang ditebus dari perbudakan di Mesir sehingga Israel bertanggungjawab memperlihatkan Allah kepada bangsa-bangsa lain.[6]
  1. Sejarah Bangsa Israel
Pembebasan disertai janji tanah tempat mereka akan tinggal dan membedakan keduanya secara tegas. Tanah yang mereka namai kanaan dan palestina, bangsa Israel yang terdiri dari duabelas suku yang membagi tanah dengan ancaman bangsa lain yang ada ditanah tersebut.[7]
  1. Perjalanan Bangsa Israel Sebagai Umat Allah
Allah yang telah memilih bangsa Israel sebagai umatNya dan bertindak sesuai dengan tuntutan-tuntutan dari hubungan itu, menyelamatkan mereka atau menghukum mereka sesuai dengan keadaan yang ada. Tindakan Allah dimotivasi dan diungkapkan melalui kasih dan loyalitas dan Allah menjadi tempat bergantung sepenuhnya dalam melanjutkan hubungan dengan umatNya.[8] Hukum yang berlaku bagi umat pilihan adalah semata-semata sebagai penuntun kepada hidup yang benar kepada Allah.

ALLAH DALAM HUBUNGANNYA DENGAN BANGSA ISRAEL
  1. Pemulihan Manusia
Hikmat Allah dalam memperbaiki hubungan manusia dan merencanakan kehidupan yang akan datang dalam diri manusia itu sendiri. Kehendak Allah tercermin dalam apa yang diciptakan. Kebenaran Allah tercermin dalam manusia dan budaya, pengalaman dan pemikiran bagaimana iman Israel terhadap YHWH yang dalam rencana Allah menyingkirkan dan membersihkan unsur-unsur pemujaan berhala atau polities yang ada dalam kebudayaan lain.[9]
Dalam perjalanan umat Allah yakni Israel kembali dipertanyakan dengan cara yang formal sebagai suatu perjanjian sampai pada abad ke-8 atau ke-7. Istilah yang digunakan Allah dalam perjanjian adalah Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu.[10]
Pemilihan terhadap Israel oleh Yahwe sebagai umatNya merupakan ungkapan utama dari kebenaran, keadilan, kasih dan stabilitas Allah yang menuntut tanggapan balasan baik kepada Yahwe maupun kepada sesama Israel.[11] Segala pelanggaran dan kegagalan dalam menaati Allah tidak terlepas dari perjalanan rencana Allah bagi umat pilihanNya yang diajar untuk tetap setia dan hidup tanpa kuatir dalam menjalani hidup mereka sebab Allah selalu menata dan tahu masa depan bangsaNya yang dalam penindasan dan cengkraman serta kesulitan yang amat sangat.
  1. Penyesalan Iman Dan Pengampunan
Iman Israel yang tumbuh dari pemilihan seseorang dari suatu bangsa yang mendapat pengampunan dari Allah. Tetapi Dia mengundang setiap orang untuk datang kepadaNya sebab Dia tidak mengikat diri dengan hukum yang tetap bahwa Ia akan memanggil semua orang sama rata.[12]      
Dalam pemanggilan bangsa Israel Yesaya menunjukkan bagaimana janji-janji keselamatan secara khusus bagi mereka yang terpilih. Sebab dinyatakanNya bahwa muridNya hanya akan diambilNya dari antara mereka dan tidak dari seluruh umat manusia tanpa dibeda-bedakan (Yes. 8:16).
Setiap kita yang dianggap layak dalam rencana yang Ia lakukan dalam dunia adalah setiap orang yang dianggap adalah milik kepunyaanNya. Dan setiap kasih sayang Allah bagi umat pilihanNya yang dipilih dalam rangka penyelamatan bagi kehendak yang bahwa keselamatan diulurkan kepada setiap orang supaya benar-benar menguntungkannya.
Iman merupakan karunia iman adalah karunia bagi umat Allah yang merupakan anugerah Allah bagi sebuah pemilihan dalam urutan penyelamatan sang Khalik. Setiap orang adalah orang yang tidak dapat mengelak dari setiap rencana Allah yang mencari yang empunya kehidupan setiap ciptaan. Dalam kehidupan umat Allah manusia bekerja sama dengan Allah sehingga melalui pemilihan itu tergantung dari apa yang datang kemudian. Seakan-akan pemilihan adalah sesuatu yang diputuskan Allah. 
  1. Pengharapan Masa Depan
Pengharapan akan mendapatkan tanah perjanjian yakni tanah kanaan. Tanah dimana rencana Allah bagi sebuah bangsa yang akan menjadi besar. Kita sekalian telah sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri (Yes 53:6). Menurut ketentuan Allah bangsa Israel dikeluarkan dari tanah mesir menuju tanah kanaan, tanah perjanjian bagi umat yang tertindas dan sengsara sehingga janji yang Ia rencanakan sehingga umat manusia tidak binasa.
Setiap masa depan umatNya ditentukan oleh kehendak dan rahmatNya bagi mereka yang dipilihNya. Allah mengikat diri dengan setiap orang yang mau dekat dengan Dia dalam proses penyelamatan yang dijanjikan pasti dikabulkan bagi setiap orang yang mengenal dan memelihara hidup tanpa menyoal apa yang terjadi bagi dirinya sendiri.
Orang yang menerima Dia secara pribadi akan mendapat warisan dan janji yang pasti dari Allah. Janji Allah bagi umat Israel tidaklah didasarkan kepada siapakah umat manusia tetapi apa rencana Allah di masa yang akan datang dalam kehidupan umat yang dijanjikan menjadi suatu bangsa yang besar.
  1. Pemilihan, Pemanggilan Dan Penyelamatan
Pemilihan suatu bangsa adalah hak Tuhan dan dalam rangka rencana dan penyelamatan manusia. Pemanggilan ini mulai dari seseorang yakni Abraham sampai pada keluarnya bangsa Israel  dari tanah Mesir.
Setiap pemilihan yang bersifat individu adalah hak Allah bagi umatNya sebab Ia tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan setiap orang yang percaya kepadaNya. Orang yang tidak taat akan proses yang Allah kerjakan buat umat yang melakukan rencana yang dilakukanNya buat dunia, dia adalah orang yang diperhitungkan. Sejarah perjalanan penyelamatan umat Allah yang didalamnya umat Israel yang menjadi terpilih dalam rangkaian cerita penyelamatan Allah bagi dunia saat ini.
Bangsa Israel dikumpulkan ke tempat yang Allah inginkan terjadi bagi umatNya yang dalam proses penyelamatan umat manusia. Umat Israel yang dipilih tidak berdasarkan karena keegoisan Allah tetapi adalah kehendak dan rahmatNya bagi orang yang dikasihi dan diselamatkan. Umat yang disertai dalam kehidupan yang dijalani sebagai hal yang perlu dicermati bangsa Israel. Sebab Allah berseru kepada umatNya bahwa “Akulah Allahmu dan kamulah umatKu”(Ul. 10:16-22). Seluruh rangkaian penyelamatan bangsa Israel dari tanah Mesir dan penyertaan dalam perjalanan dari bahaya musuh serta mendapatkan tempat perjanjian Allah itu merupakan bagian dari kehendak Tuhan Allah. [13]
Janji-janji Allah lewat pemanggilan seseorang dari kehidupan yang sudah mulai rusak yang tidak sesuai dengan rencanaNya bagi umat Manusia. Sehingga orang yang dipilihNya adalah kehendak Allah tetapi mengapa yang satu dipilih dan lainnya dilewatiNya. Dari setiap pendapat dan anggapan pada umumnya bahwa Allah melewati orang atau umat yang tidak dipilihNya adalah benda kemurkaan yang diciptakan untuk keaiban. Allah dapat saja menyelamatkan dan membebaskan orang selain yang diceriterakan dalam Alkitab tetapi kehendak dan rencanaNya tidak dapat kita selami mengapa Ia memilih sebuah bangsa yang besar untuk keselamatan umat?
  1. Kehendak Allah Bagi Umat PilihanNya
Mengapa Allah memilih seorang diantara banyak? Apa yang hendak diperbuatNya dalam kehidupan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Kefasikan, kejahatan dan tidak bersyukur sehingga pemilihan seseorang bahkan menjadi suatu bangsa adalah suatu rahmat yang besar dari Dia sehingga setiap orang dipilih dan dijadikan umatNya adalah sebuah rencana yang besar bagi umat manusia supaya Dia dimuliakan dalam kehidupan ini.
Pemusnahan bangsa lain di luar bangsa Israel adalah kehendak Tuhan yang berarti bangsa lain dihancurkanNya demi penyelamatan bangsa yang tertindas. Mengapa Allah memusnahkan bangsa lain di tanah yang dijanjikan itu atas nama penyelamatan? apakah itu dalam sebuah drama keselamatan bagi seluruh umat?. Sebagai orang atau bangsa yang terpilih bangsa Israel memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjalankan dan taat terhadap kehendak Allah yang telah terjadi setiap saat dalam perjalanan bangsa yang akan menjadi panutan bagi bangsa lain.
Allah menakdirkan bagi beberapa orang untuk mati demi sebuah penyelamatan bangsa atau umat. Kita semua sebagai yang dinodai dosa yang telah diselamatkan dalam rangkaian yang begitu sistematis. Bangsa lain di tanah Kanaan harus dimusnahkan dan dihukum mati demi pemenuhan janji Allah bagi umat. Sebab dengan demikian umat yang dimusnahkan mempunyai utang yang besar kepada Allah. Mengapa bangsa lain harus dimusnahkan padahal mereka juga dapat diselamatkan. Keselamatan bagi umat Israel bukan karena kebaikan mereka melainkan belas kasihan Allah bagi umat Israel yang tertindas ditanah Mesir.
PENUTUP
            Predestinasi Allah bagi Umat Israel yang dilaksanakan bagi penyelamatan bangsa Israel. Bangsa Israel yang dipilih dari nenek moyang mereka yakni Abraham, Ishak, dan Yakub adalah sebuah rangkaian rencana Allah bagi umat manusia supaya dari suatu bangsa penyelamatan seluruh umat di muka bumi terjadi. Allah menyelamatkan dan berkehendak karena belas kasihan dan rahmat yang ada padaNya.
            Umat tidak perlu menyalahkan Allah karena setiap yang terjadi adalah dalam rencana dan ada dalam proses penyelamatan manusia. Sebenarnya orang Israel sama dengan bangsa lain tetapi Allah telah terikat dengan janji yang telah diungkapkanNya.
            Keselamatan bangsa yang dipilihNya merupakan perhatian bagi Allah sehingga perencanaan dalam penyelamatan itu, Ia melakukan perjanjian sampai kepada janji Allah akan tempat yang nyaman bagi umat untuk beristirahat dalam pengembaraan.
             Allah memilih bangsa Israel adalah sebuah panggilan lahiriah dalam rangka penyelamatan umat manusia. Setiap perjalanan yang umat lalui silih berganti yang dikehendaki Allah terjadi bagi umat sebagai pembelajaran yang berharga bagi mereka yang telah dipilihNya.
            Janji-janji Allah yang diterima setiap orang terutama umat yang dipilihNya adalah penentuan Allah yang tidak dapat diganggu gugat sehingga segala hal yang dilakukan Allah bagi  umatNya tidak membahayakan karena tawaran keselamatan bagi setiap orang selalu ada di depan mata dan tidak ada sesuatu yang baru dalam hidup ini semua sama dengan hari kemarin, hari ini dan sampai selamanya itu semua sama dihadapan Allah.

DAFTAR PUSTAKA
Alkitab . Tb.1997. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: LAI
Calvin, Yohanes. 2003. Institutio. Jakarta; BPK Gunung Mulia
Clarke, Andrew D. 2002. Satu Allah Satu Tuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Dyrness, William. 2004. Tema-tema dalam Perjanjian Lama. Jakarta: Gandum Mas
Hinson, David F. 2000. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Mowvley, Harry.1997. Penuntun kedalam Nubuat  Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung   Mulia.                                  


[1]  David F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab. Jakarta; BPK Gunung Mulia, Hlm. 33-40
[2] Yohanes Calvin, Institutio, Jakarta;BPK Gunung Mulia, Hlm. 195
[3] Ibid, 208.
[4] David F. Hinson. Op.cit. hHlm.66.
[5] Harry Mowvley, Penuntun kedalam Nubuat  Perjanjian Lama, BPK:Gunung Mulia, Hlm. 125.
[6] Ibid hlm. 126.
[7] David F.Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab, BPK;Gunung Mulia, Hlm. 66
[8] Harry Opcit.130-131
[9] Andrew D.Clarke, Satu Allah Satu Tuhan, Jakarta:BPK Gunung Mulia, Hlm.33
[10] Harry Mowlay, Op.cit. hal 134.
[11] Ibid, hl 134
[12] Yohanes Calvin, Op.Cit. Hlm. 119
[13] William Dyrness, Tema-tema dalam Perjanjian Lama, Jakarta:BPK Gunung Mulia, Hlm.119.