Ketika
membaca buku Teologi Perjanjian Baru jilid satu tulisan Donald Guthrie,
kelompok memperoleh pengetahuan mengenai gagasan yang berhubungan dengan
sifat-sifat Allah baik dalam surat-surat Paulus, surat Am dan dalam kitab Wahyu.
Kelompok mencoba mengelompokkannya secara sederhana dalam laporan bacaan
berikut ini.
3.1. Kemuliaan Allah
Paulus
dalam suratnya menjelaskan mengenai sifat-sifat Allah. Paulus menyebutkan
tentang kemuliaan Allah (2 Ptr 1:17).
Sifat Allah tersebut menjadi ukuran bahwa manusia sebagai ciptaan penuh dengan
dosa dan tidak layak dihadapan Allah, karena itu tidak bisa mencapai Allah (Rm
3:23). Namun dalam pembenaran melalui Kristus sebagai anugerah penyelamatan
maka manusia dimungkinkan untuk memperoleh kemuliaan tersebut (Rm 5:2), Karena kemuliaan
Allah juga nampak dalam kemuliaan Kristus (2 Kor 4:4, Ibr 1:3). Dalam
kemungkinan itu manusia punya potensi untuk juga mencerminkan kemuliaan Allah
(2 Kor 3:18). Semua yang dilakukan oleh manusia adalah untuk kemuliaan Allah
(Rm 15:7; 2 Kor 4:15; Flp 1:11, 2:11,). PB mempertahankan semangat rahasia yang
cukup untuk mengingatka manusia akan keterbatasan pemahamannya mengenai Allah,
tetapi sekaligus membuka beberapa unsur kerahasiaan itu supaya dapat diketahui
oleh manusia.
Surat
Am memperlihatkan kepada kita bagaimana panggilan yang diberikan kepada manusia
yang harus dilakukan dalam rangka untuk kemuliaan Allah (1 Ptr 2:12, 4:11). Kristus
adalah cahaya kemuliaan Allah yang merupakan gambaran keagungan dan kuasa Allah.
Kesetiaan Allah menjadi dasar untuk tetap teguh dalam melaksanakan dan
mewujudkan tugas panggilan dari Dia.
Yohanes
dalam penglihatan ilahinya menyaksikan dan mampu menjelaskan kepada kita bahwa Allah
memang mulia (Why 4:11, 7:12, 1:2, 15:8,
14:7, 21:11). Adanya konsep yang juga memberikan pengetahuan bahwa terang Allah sering juga disamakan
dengan kemuliaan Allah (Why 21:23. Dalam
kitab wahyu kemuliaan Allah merupakan ungkapan penyembahan kepada Allah.
3.2. Hikmat dan Pengetahuan Allah
Gagasan
Paulus mengenai hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia, karena hikmat
manusia sering menjadi kebodohan bagi Allah (1 Kor 1:20). Menurut Paulus,
hikmat Allah adalah tersembunyi dan rahasia (1 Kor 2:7). Karena itu sulit untuk
dipahami dan diselami manusia. Bagi Paulus, kahadiran Kristus kedunia merupakan
bagian dari hikmat Allah sekaligus sebagai tindakan penyelamatan yang
dianugerahkan oleh Allah kepada manusia dan semua ciptaan yang didalamnya ada
pembenaran, pengudusan serta penebusan (1 Kor 1:30). Karena Allah berhikmat
maka Iapun dapat memberikan hikmat kepada siapapun yang ia kehendaki, termasuk
kepada penguasa-penguasa sorga (Ef 3:10). Dari gagasan tersebut kita dapat
melihat kekaguman Paulus terhadap hikmat dan pengetahuan Allah (Rm 11:33).
Dalam
kitab wahyu kita bisa melihat adanya gagasan mengeai kepedulian Allah kepada
umatNya dengan maksud untuk memperkenalkan hikmatNya kepada umatNya (Why 6:9).
Meskipun demikian secara umum kitab Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita
bahwa apa yang tertulis di dalamnya memampukan orang-orang Kristen menghadapi penderitaan
dan kesengsaraan tanpa kehilangan keyakinan akan kesempurnaan hikmat Allah.
3.3. Kekudusan Allah
Mengenai
kekudusan Allah kita juga tidak menemukan gagasan yang lengkap baik dalam surat
Paulu, surat Am serta kitab wahyu. Yang dapat kita temukan hanyalah konsep yang
mengacu baik kepada kitab Perjanjian Lama ( Imt 11:44-46) maupun dalam
Perjanjian Baru misalnya dalam injil Yohanes yang juga ada dalam surat Am (1
Yoh 2:20) band Why 4:8, 15:14, 16:5. Kekudusan Allah merupakan polah bagi
kekudusan manusia sebagaimana dijelaskan dalam(1 Ptr 1:16). Kekudusan Allah Secara berturut disebutkan dalam dan merupakan
gagasan yang cukup bagi kita untuk memahami sifat Allah tersebut (Why 4:8).
4.4. Kebenaran dan Keadilan Allah
Paulus
dalam suratnya menjelaskan dengan baik mengenai kebenaran dan keadilan tetapi
sekaligus dibarengi oleh penjelasan tentang kasih dan anugerah Allah yang telah
dicurahkan di dalam hati setiap orang melalui karya Roh Kudus (Rm 5:5). Paulus memberikan keterangan bahwa melalui
iman, kebenaran Allah bisa nyata (Rm 1:17), dan kebenaran yang sejati itu
berasal dari Allah (Rm 3:21-22 band Rm 10:3, Flp 3:9). Manusia harus memahami kebenaran
sebagai unsur pokok yang hakiki dalam citra Allah. Namun dilain pihak Allah
yang telah mengasihi manusia dan alam semesta juga adalah Allah yang adil dalam
penghukuman (Rm 2:5) yang tidak menunjukkan sikap yang memihak-mihak (Rm 2:11,
Gal 2:6). Tetapi orang yang percaya dan hidup menurut kehendakNya akan diselamatkan
dari murka Allah (Rm 5:9) karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa
murka melainkan untuk diselamatkan (1 Tes 5:9)
Dalam
surat Am juga sangat jelas megenai gagasan kebenaran dan keadilan Allah yang akan
menghakimi setiap orang tanpa memandang muka (1 Ptr 1:17)
Dalam
kitab wahyu kita tidak menemukan gagasan ini, selain bahwa wahyu memperlihatkan
murka yang aktif sebagai bentuk perwujudan dari kebenaran dan keadilan Allah (Why
6:16).
3.5. Kasih dan Anugerah Allah
Paulus
dalam suratnya cukup jelas menggambarkan gagasan mengenai kasih dan augerah
Allah (Rm 5:15-18, 11:30-32, 1 Kor 7:25, 2 Kor 4:1, 2 Tim 1:16) Kata yang
sering digunakan oleh Paulus adalah Krestotes
“kebaikan hati”, untuk menggambarkan Allah yang murah hati. Kemurahan Allah
dimaksudkan untuk menuntun orang pada pertobatan (Rm 2:4) dan telah dicurahkan
di dalam hati kita melalui Roh Kudus (Rm 5:5) Kasih Allah terlihat paling jelas
dalam karya Allah menyelamatkan orang-orang berdosa (Rm 5:8. Dalam diri Paulus ada
kesadaran akan kemurahan Allah (Rm 5:15-18, 11:30-32, 1 Kor 7:25, 2 Kor 4:1, 2
Tim 1:16) bahkan panggilannya juga dilihat sebagai anugerah (Gal 1:15). Setiap orang
Kristen diselamatkan karena anugerah Allah (Rm 3:24, 5:15, Ef 2:5, Tit 2:11)
dengan demikian nilai anugerah adalah hal yang begitu berlimpah (2 Kor 9:14, Ef
2:7). Karena itu Paulus memandang anugerah Allah sebagai pokok pujian (Ef 1:6)
dan juga sebagai karunia yang bisa diteruskan kepada orang lain (1 Kor 1:4,
3:10, 15:10, 2 Tim 1:9). Anugerah Allah adalah hal yang sama sekali
bertentangan dengan cara apapun yang mengandalkan usaha manusia (Gal 2:21, Rm
11:6). Ada dua kata yang sangat berkaitan dan menjadi hal yang penting untuk
diketahui dalam rangka memahami gagasan tentang kasih dan anugerah Allah itu.
Yang pertama Kharis yang dalam alkitab terjemahan baru berararti kasih karunia dan Eleos dalam bahasa Yunani yang berarti Rahmat, belas kasihan atau kemurahan.
Dalam
surat Am Petrus memberikan penjelasan bahwa orang non-Yahudi menjadi umat Allah karena
belas kasihan Allah (1 Ptr 2:10). Dalam beberapa surat Am sifat-sifat
Allah yang pengasih itu muncul (Yak 5:11,
1 Yoh 4:8,16, 4:10, 19). Kasih Allah telah memungkinkan manusia untuk menjadi
anak-anak Allah (1 Yoh 3:1). Karena itu manusia juga harus saling mengasihi dan
menjadikan kasih Allah sebagai sumber kasih itu (1 Yoh 4:7). Kasih karunia diperuntukkan
Allah kepada orang-orang yang rendah hati (Yak 4:6, 1 Ptr 5:5). Bahkan orang-orang
yang bukan Yahudi juga dapat mejadi umat
Allah karena belas kasihanNya (1 Ptr 2:10)
3.6. Kebaikan dan kesetiaan Allah
Konsep
mengenai kebaikan dan kesetiaan Allah cukup jelas dalam uraian Paulus. Allah
setia dalam memanggil orang-orang untuk masuk ke dalam persekutuan dengan
anakNya (1 Kor 1:9) dan setia menjaga mereka agar tidak dicobai melebihi iman
mereka (1 Kor 10:13) dan juga menjaga dari serangan-serangan yang jahat ( 2 Tes
3:3). Allah tetap setia bahkan bila manusia tidak setia (2 Tim 2:13). Dalam
surat Ampun kita dapat menemukan gagasan yang sama. Kesetiaan pencipta sebagai
penghiburan bagi mereka yang menderita (1 Ptr 4:19). Kesetiaan Allah yang
mendorongNya untuk mengampuni dosa manusia (1 Yoh 1:9)
3.7. Keunikan Allah
Keunikan
Allah dalam proses penyelamatan yang dilakukanNya bagi ciptaanNya sendiri, ini
terlihat dari (Ibr 1:10-12, 6:17). Namun disisi lain Allah pencipta telah
membuat diriNya diketahui melalui karya-karyaNya (Rm 1:15-20). Keadaan Allah
yang tidak terlihat (1 Tim 1:17) juga merupakan keunikan yang masih menjadi pergumulan
iman bagi banyak orang dan juga bagi kaum teolog. Semua itu terlihat dalam
sifat Allah yang kekal (1 Tim 1:7, band
Rm 1:23), dan juga Allah yang abadi (Rm 16:26).
3.8.
Keesaan Allah
Dalam
surat-suratnya Paulus sering memberikan rumusan yang sistematis mengenai
keesaan Allah yang kemudian dalam doktrin gereja disebut Trinitas (2 Kor 13:13).
Kemudian rumusan lain yang juga memperlihatkan keesaaan itu dapat kita lihat
dalam (Ef 4:4-6). Gagasan yang lain yang disebutkan secara acak bisa juga kita
lihat dalam (Gal 4:4-6). Bahkan rumusan yang sama terdapat dalam beberapa surat
Paulus.
Dalam
surat Am keesaan Allah juga menjadi hal yang penting dan mejadi perhatian dalam
rangka memberikan pemahaman yang baik mengenai Allah, dan dalam rangka membawa
orang Kristen kepada ketaatan dalam iman kepada Kristus (1 Ptr 1:2)
Catatan Kritis :
Paulus
mencoba untuk memberikan gagasan mengenai sifat Allah khususnya yang dengan
tajam memperlihatkan kepada kita bagimana posisi manusia dihadapan Allah.
Manusia tidak layak karena dosa, namun kasih karunia Allah menjadi anugerah
yang istimewa bagi manusia yang memungkinkan manusia untuk layak dihadapan
Allah dan punya potensi untuk mencerminkan sifat tersebut melalui seantero kehidupannya.
Meskipun
demikian uraian tersebut sekaligus membawa pergumulan dalam memprtahankan Allah
sebagai oknum yang transenden. Namun bagi kelompok, ini adalah hal yang penting
dalam rangka memperkenalkan Allah kepada “orang lain”. Penjelasan inipun perlu
dipahami dalam konteks penulisannya, baik Injil, Surat-surat serta Wahyu, lalu
diterima sebagai kebenaran yang hakiki melalui iman dan bukan rasio. Karena
jika kebenaran itu diterima secara rasional maka pertanyaan yang akan muncul adalah
kalau Allah yang transenden dan imanen bisa dijelaskan berdasarkan pengetahuan
manusia, apakah Ia masih layak disebut sebagai Allah?
Wassalam……
Makassar, 06 Pebruari 2009
|
1. Anita Febriyani Br.Meliala
2.
Kristiani Bangkaran
3.
|
4.
Sardelin Mangadi
5.
Ezra Tari
6.
Markus
|