Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Selasa, 15 Januari 2013

PENGORGANISASIAN PROGRAM SMGT




Dalam rangka memberi jawaban terhadap sejumlah peluang dan tantangan, serta kekuatan dan kelemahan sebagaimana dijelaskan di atas, maka Program Pengembangan SMGT Jemaat Tamalanrea, Klasis Makassar dikelompokkan kedalam empat program induk, antara lain:

1        Program Induk Pengembangan Kurikulum
2.       Program Induk Pemberdayaan Anak dan Remaja
3.       Program Induk Pemberdayaan Pelayan
4.       Program Induk Pembinaan Kelompok Kecil

Program Induk Pengembangan Kurikulun/diarahkan pada upaya mengembangkan kurikulum SMGT yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat dalam hal ini metode dan pengajarannya sehingga terkontekstualisasi dengan pergumulan kekinian Klasis Makassar, study/intensif terhadap kurikulum yang ada, serta pendampingan terhadap jemaat-jemaat dalam pelaksanaan kurikulum tersebut.

Program Induk Pemberdayaan Pelayan diarahkan pada upaya sistematis untuk memberdayakan setiap potensi yang dimiliki pelayan antara lain melalui pembinaan-pembinaan yang terencana, sistematis, bertahap, berjenjang dan berkesinambungan, termasuk mengirim tenaga-tenaga trainers untuk pengembangan diri menjadi Guru Profesional. Dengan demikian kita akan mendapatkan kualifikasi guru/pembimbing yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Program  Induk Pemberdayaan anak dan Remaja diarahkan pada upaya sistematis untuk menggali, membina, dan mengembangkan setiap potensi dan talenta yang dimiliki anak baik potensi rohani, fisik, mental, dll serta upaya penigkatan penggunalayanan potensi tersebut dalam setiap kegiatan jemaat.
Keempat program induk ini, selnjutnya akan didukung oleh program induk umum dan kesekretariatan, yang kesemuanya diitegrasi ke dalam Pokok-pokok Program Pembinaan anak (P4-A), sebagai strategi operasionalisasi dari program induk tersebut

BAB III
POKOK-POKOK PROGRAM PEMB1NAAN ANAK (P4-A)

A. PROGRAM PEMBINAAN ANAK
A.1. Permasalahan Pokok

1.              Kebutuhan anak dan remaja tidak dapat dipenuhi secara maksimal oleh guru/pembimbing.
2.              Pembinaan yang diterima oleh Anak masih sebatas kegiatan hari Minggu.
3.              Belum adanya program jemaat secara sistematis dan terpadu untuk membekali orang tua dalam konseling anak.
4.              Belum adanya format yang dinilai bagus untuk menjembatani pembinaan yang diberikan di anak dan remaja dengan pembinaan dalam rumah tangga Kristen.
5.              Doktrin Theologis Alkitab yang dimiliki anak dan remaja dinilai sangat kurang, sehingga banyak anak yang cepat sekali terpengaruh dengan arus jaman yang terus berubah.
6.              Kegiatan-kegiatan Kerohanian anak dan remaja selama ini hanya sebatas perayaan-perayaan yang cenderung formalistik dan ritualistik. Sementara pembinaan-pembinaan yang menyentuh langsung kebutuhan rohani anak sangat kurang.
7.              Metode penyampaian cerita anak dan remaja umumnya kurang mampu membangkitkan iman anak. Kondisi  ini potensial untuk menjadikan anak menjadi rentan terhadap rupa-rupa pengajaran yang menyesatkan dan pada gilirannya akan semakin memperlemah iman mereka.
8.              Umumnya anak dan remaja (khususnya yang sudah bisa membaca) belum menjadikan Alkitab sebagai bahan bacaaan favoritnya, atau mereka tidak tahu bagaimana menjadikan Alkitab sebagai Bahan Bacaan
yang menycnangkan. Hal ini terkait juga dengan masih rendahnya keteladanan guru/pembimbing dalam          
mencintai Alkitab, sehingga mengakibatkan kurangnya pengetahuan tentang Alkitab                                            
9.              Akses anak terhadap berbagai perkembangan teknologi informatika sudah sangat mudah (misalnya tayangan TV, Play station, game, dll), yang jauh lebih menarik dibandingkan kegiatan  anak dan remaja. Hal ini tidak dibarengi dengan kualitas layanan dan kreatifitas pengajaran Aikitab.
10.           Anak dan remaja masih kurang memiliki pengetahuan Aikitab.
11.           Potensi Minat Bakat yang dimiliki anak dan remaja belum dibina secara maksimal, dan terbatas hanya pada latihan-latihan seni yang tidak maksimal.
12.           Kurangnya pemahaman tentang penatalayanaan potensi minat bakat selain menyanyi, khususnya pemanfaatannya dalam KAR dan Jemaat.
13.           Masih adanya pemahaman yang keliru bahwa seni dan musik adalah pengisi acara dalam ibadah, padahal seni dan musik dalam ibadah adalah ibadah itu sendiri.
A.2. Tujuan dan Sasaran                                       '
Pemberdayaan Anak bertujuan untuk memperlengkapi  anak dan remaja dengan potensi dan kualitas iman yang  kuat. Tujuan ini diharapkan dapat direalisasikan melalui pencapaian sasaran-sasaran sebagai berikut:
1.       Semakin meningktnya kerinduan anak untuk bersekutu dengan teman-temannya di Sekolah Minggu.
2.       Meningkatnya pelayanan yang menyentuh kebutuhan rohani anak secara langsung.  
3.       Semakin meningkatnya kualitas persekutuan anak dengan Tuhan.
4.       Semakin meningkatnya kualitas Iptek dan kreatifitas anak
5.       Anak semakin mencintai Alkitab dan punya motivasi untuk memiliki dan membacanya.


A.3. Strategi Kebijakan Program
Dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang telah disebutkan di atas, maka diperlukan beberapa strategi kebijakan sebagai berikut:
1.       Pendistribusian bahan Renungan Harian Anak secara berkala.
2.       Pencanangan gerakan Cinta Alkitab bagi anak serentak diseluruh tempat kebaktian.
3.       Pelatihan Baca Gali Alkitab bagi Anak dengan metode-metode kreatif dan menarik.
4.       Pemanfaatan media cetak dan elektronik dalam menyampaikan Firman Tuhan kepada anak.
5.       Pemanfaatan potensi minat dan bakat anak secara maksimal dalam kegiatan-kegiatan.
6.       Upaya pengembangan tidak hanya diarahkan pada bakat menyanyi tetapi pada bakat-bakat tertentu yang spesifik dimiliki anak, sehingga keinginan setiap anak dapat disalurkan, misalnya menggambar dan melukis (Arsitek), kerajinan tangan (Kreator), menulis (Jurnalis), puisi (Sastrawan), dll. Dengan demikian SMGT dapat menjadi tempat pembinaan potensi sejak dini. Pengembangan ini bisa terlaklana jika didukung oleh fasilitas secretariat yang memadai berikut anggaran yang proporsional.
7.       Dilakukan acara inisiasi pada jenjang kelas anak.

Jumat, 11 Januari 2013

Strategi manajemen pengembangan SDM pemimpin Kristen


Perkembangan pemimpin rohani dengan jalur perkembangan garis lini waktu. Hak untuk menghendaki siapa saja. Memahami kehendak Allah menghendaki pemimpin yang baik. Karena Tuhan menghendaki pemimpin yang baik, tidak salah untuk menghendaki pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik hanya dapat dihidupi.mempelajari teori kepemimpinan memang baik tetapi tidak menjadi jaminan satu-satunya menjadi pemimpin yang baik. Kehendak menjadi pemimpin yang baik harus ditekati dan dihidupi untuk melihat hasilnya. Perkembangan diri seorang pemimpin adalah pemberian anugerah dari Allah harus dengan tanggung jawab memilih untuk berkembang. Warren Bennis mengatakan kita adalah produk dari segala sesuatu gen lingkungan, keluarga, teman, gempa bumi, apapun yang dapat dapat lebih banyak lagi.
Perenungan setiap orang dapat menjadi pemimpin jika menghendakinya. Tuhan menghendaki menjadi pemimpin yang baik, maka tidak salah bagi kita untuk menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik yang dapat dihidupi. Teori kepemimpinan memang baik menjadi jaminan satu-satunya untuk menjadi pemimpin yang baik.
Ungkapan bahwa kita berpikir dan mengerti dengan menunjukkan jalan. Sikap terbuka yang positif semua kemungkinan yang berperan sinergi menopang perkembangan diri. Pemantapan keahlian antara lain keahlian sosial. Proses pembiasaan hidup yaitu mengembangkan kebiasaan, sikap dan perilaku yang harus dilakukan secara ajek. Pengakuan kepada orang dengan pembuktian diri dengan hidup serta berkarya sebagai pemimpin yang baik.
Prinsip yang tidak boleh diabaikan oleh pemimpin adalah Allah yang memanggil dan mengembangkan orang untuk menjadi pemimpin yang baik. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia tidak dapat berbuat apa-apa tanpa penyertaan Tuhan. Perkembangan seorang pemimpin adalah pemberian anugerah dari Allah yang harus dibuktikan dengan tanggung jawab memilih untuk berkembang. Setiap orang harus jujur dengan diri sendiri karena dengan sikap jujur terhadap diri akan menghargakan diri serta mampu bersikap terbuka untuk maju dan berkembang. Setiap pemimpin dituntut untuk menjadi pemimpin yang baik dan dapat berkembang ke arah mana akan menghendakinya di kemudian.

Selasa, 08 Januari 2013

Laporan Jemaat Paku dan Puncak


I.    PENDAHULUAN
1.      Sejarah Singkat Jemaat
Pendirian Jemaat Paku bermula dari Jemaat Belau yang berdiri pada tahun 1953, di mana pada saat itu daerah di mana jemaat ini berdiri masih diduduki oleh gerombolan. Saat itu banyak warga masyarakat yang terpengaruh dan masuk menjadi agama Islam karena gerombolan yang ada hadir pada saat itu semuanya berada dalam komunitas agama Islam.
Di tengah-tengah pengaruh agama yang di bawah oleh para gerombolan, ada seorang guru yang datang membawa pengaruh yang kuat yakni dengan memberikan pilihan kepada masyarakat  di daerah itu untuk memilih agama apa yang hendak mereka anut. Kemudian guru itu mendirikan gedung gereja yang bertempat di desa Laun, walaupun pada saat itu guru ini masih menganut Aluk Todolo.
Pada tanggal 3 bulan April tahun 1953 guru ini pergi ke Bittuang dan disitu orang mulai pergi ke Gereja dan tempat mereka beribadah masih di gedung sekolah.
Pada tahun 1954 Belau diduduki oleh TNI dan akhirnya gerombolan terusir kemudian KUGT/BPS datang membaptis orang di Laun karena gerombolan sudah terusir yang dikawal oleh TNI. Pada waktu itu orang Kristen lebih 200 orang. Karena sakit dan mati tiba-tiba (Ra’ba Biang) akhirnya pada tahun 1954 Jemaat Belau dipindahkan ke Belau, namun pada saat itu tempat ibadah masih di sekolah.
Setelah jemaat Belau dipindahkan ke Belau hadirlah seorang pendeta yakni Pdt.  Lintin untuk mengajak orang tua agar bersekolah tetapi mereka tidak mau. Pada saat itu juga Pdt. Lintin melakukan baptisan pertama diman yang dibaptis saat itu lebih 500 orang dan setelah melakukan pembabtisan dia kemudian kembali ke desa Bittuang.
Selama itu, masyarakat yang sudah masuk menjadi agama Kristen masih beribadah di gedung sekolah selama 3 (tiga) tahun. Kemudian pada tahun1980 didirikanlah gedung gereja yang terbuat dari kayu, dimana pada saat itu jumlah kepala keluarga ± 100 KK.
Kemudian pada tahun 1985 didirikanlah gedung gereja permanen. Dan pada tahun 1986 mereka mendirikan cabang di Salupuang dan Pawwan. Mereka juga mendirikan cabang kebaktian di Bayo’, Paku, Bamba, kemudian di Bayo’ mendirikan cabang kebaktian Buku Pongo’, dan Kulaya, kemudian Buku Pongo’ mendirikan cabang kebaktian di Sarangga. Pada tahun 1990 Belau mendirikan cabang kebaktian di Intab dan Jemaat Ratte, kemudian Jemaat Ratte mendirikan cabang kebaktian di Bamba Ratte dan Pali’-Pali’ dan  Pali’pali’ mendirikan cabang kebaktian di Paliorong. Pendiri Jemaat Belau yang bernama Maringgi’ yang disekolahkan selama empat tahun oleh Tuang Lintin di Bittuang akhirnya menjadi guru sementara tetapi dia juga adalah kepala Gurilla. Pada saat itu majelis pertama ada 5 orang yakni:
1.      Maringgi’
2.      P. Paillin
3.      Pawarrang
4.      M. Mallayuk
5.      R.Rombe
Kelima Majelis ini dibawa ke Bittuang dan disana mereka dibaptis.
Dalam perkembangan Jemaat yang Tuhan buat bagi masyarakat Masanda, bertumbuh Jemaat yang besar yang berkembang kemudian menjadi beberapa jemaat diberbagai kampung dan lembang. Jemaat yang mula-mula ada dan berkembang sekitar tahun 1953 adalah Jemaat Belau. Jemaat Paku merupakan bagian dari Jemaat Belau yang berfungsi sebagai cabang sekitar tahun 1963. Jemaat ini ketika dibangun hanya dari bambu yang ada di tanah tongkonan. Tempat tongkonan itu bernama kampung ratte-ratte.
Majelis gereja Jemaat Paku yang mula-mula melayani adalah Paulus Paillin sebagai guru Jemaat,  Pawarrang dan alm. Andarias Malayuk. Pendeta yang melayani Jemaat melayani beberapa jemaat yakni ketika dimulainya tenaga pelayan masuk dalam daerah ini. Jemaat Paku memiliki cabang kebaktian setelah berkembang dengan baik yang juga dibarengi dengan masuknya pantekosta dalam daerah ini sehingga untuk mengimbangi pergerakan mereka. Cabang kebaktian Kalvari Puncak Pasangtau yang kemudian berdiri sendiri atas dasar kesepakatan sidang klasis.
Pendeta yang masih ada sekarang yang juga melayani beberapa jemaat termasuk jemaat paku adalah Pdt. Wahyu T. Parrangan, S.Th yang setia melayani Jemaat.
2.      Keadaan Umum Jemaat
Jemaat Paku berada dibagian barat Tana Toraja yang berada dalam kecamatan Masanda.  Jarak dari kota Makale ± 50 Km atau ± 13 Km dari kota Bittuang. Jemaat Paku terdiri atas ± 70 kk yang didalamnya ada aliran lain yakni Pantekosta Maranata. Ibadah Jemaat dilaksanakan satu kali yakni jam 9.00 Wita. Pelayanan Jemaat dan Pemuda dilaksanakan berdasarkan warta Jemaat. Majelis Gereja Jemaat Paku Periode 2006-2009 adalah :
Ø    Ketua                            : Pdt. Wahyu T. Parrangan, S.Th
Ø    Wakil Ketua                 : Pnt. Markus Manapa’
Ø    Sekretaris                      : Pnt. Adolfina T. Ma’dika
Ø    Wakil Sekretaris           : Pnt. Daniel Batto’
Ø    Bendahara                    : Pnt. M. Buda Tasik
Pelayanan Jemaat yang dilakukan berdasarkan kepedulian sebab pembagian tugas belum begitu jelas sehingga tidak berjalan dengan baik. Organisasi Intra Gerejawi yang terdiri atas PPGT, KAGT dan PWGT. PWGT tidak melakukan ibadah rutin dari rumah ke rumah seperti PPGT. Anggota Jemaat Paku pada umumnya Petani. Tingkat pendidikan pada umumnya adalah Sekolah Dasar dan beberapa SMA dan SMP.
Program tahunan dalam Jemaat tidaklah digambarkan lewat lembar kerja. Tetapi program yang dilaksanakan berdasarkan apa yang hendak dicapai disitu dan adakah sesuatu yang dapat menguntungkan dibalik semua program. Jemaat rindu  akan perkembangan yang baik serta jalannya program yang direncanakan berjalan dengan baik tetapi kenyataannya program seakan dijalankan sesuai keinginan sendiri. Hal ini tidak terlepas dari sumber daya manusia. Dimana orang tidak tahu apa yang harus dilakukan dan adakah biaya disemua program itu. Dalam hal ini tidak ada fokus terhadap sesuatu.




3.         Sistematika Laporan
I.       PENDAHULUAN
a.       Sejarah Singkat Jemaat
b.      Keadaan Umum Jemaat
c.       Sistematika Laporan
II.          KEGIATAN SELAMA KKL
A.          Kegiatan Mahasiswa selama KKL
1.      Pengamatan
1.1.      Program Tahunan Jemaat
1.2.      Masalah-Masalah di Jemaat
a.       Pelaksanaan Program
b.      Kelembagaan
1.      Majelis Gereja
2.      OIG
3.      Dari Luar Jemaat
2.      Prioritas Yang Dilaksanakan Jemaat Selama KKL (Lampiran)
2.1.      Prioritas Program Yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran)
2.2.      Pelayanan Dan Kegiatan Yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran Dalam Bentuk Time Schejule)
III.       ANALISA TENTANG PELAYANAN JEMAAT DENGAN METODE SWOT
A.    Pelayanan Jemaat Selama KKL
B.     Jemaat Secara Keseluruhan
IV.       KESIMPULAN, REFLEKSI DAN SARAN
1.      Kesimpulan
2.      Refleksi
3.      Saran-saran.
Lampiran-lampiran
II.  KEGIATAN SELAMA KKL
A.    Kegiatan Mahasiswa selama KKL
1.   Pengamatan
1.1.      Program Tahunan Jemaat
Pelayanan Jemaat diatur dalam program yang berlangsung di setiap tahun dengan melihat situasi dan kondisi anggota Jemaat dengan menyusun program anggaran dan pendapatan belanja serta program lain yang tidak terduga. Dalam hal ini program tentang pelaksanaan kegiatan sudah direncanakan dengan baik atas bimbingan pendeta Wahyu T Parrangan, S.Th, dengan beberapa perkembangan yang berarti yang berbeda beberapa hal saja dengan jemaat semi kota dengan penulisan anggaran yang baik ditengah keadaan mereka yang pendidikannya di bawah rata-rata.
1.2.      Masalah-Masalah di Jemaat
a.    Pelaksanaan Program
Program yang terlaksana dengan pendampingan yang cukup serius terhadap pelaksanaan program yang berkesinambungan terhadap setiap kegiatan Jemaat yang berlangsung.
b.   Kelembagaan (Majelis Gereja & OIG )
Dalam pelaksanaan kegiatan dalam tubuh majelis dan organisasi intra gerejawi cukuplah terorganisasi dengan baik karena pendampingan yang sangat baik. Tetapi tanggung jawab dan pengordinasian dari majelis kurang sehingga perkembangan OIG tidak terlalu menunjukkan perkembangan dalam bentuk pelayanan yang hanya diseputar pelayanan ibadah. Di mana kegiatan lain tidak mendapat perhatian serius.
2.   Prioritas Yang Dilaksanakan Jemaat Selama KKL (Lampiran)
2.1.   Prioritas Program yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL.
2.2.   Pelayanan dan Kegiatan yang Dilaksanakan Mahasiswa Selama KKL (Lampiran Dalam Bentuk Time Schejule).

III.    ANALISA TENTANG PELAYANAN JEMAAT DENGAN METODE SWOT
Ø Kekuatan
-          Adanya anggota jemaat yang cukup banyak
-          Adanya homogenitas dan kekeluargaan
-          Adanya gotong royong masyarakat.
Ø Kelemahan
-          Kurangnya perhatian terhadap pendidikan
-          Lebih mengutamakan adat
Ø Peluang
-          Adanya lembaga pendidikan TK, SD, SMP, SMA untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia.
-          Adanya perkembangan di bidang pertanian dalam bercocok tanam karena selalu dipantau oleh pertanian.
Ø Ancaman
-          Adanya penyakit masyarakat dan generasi muda (judi dan sabung ayam)
-          Adanya dua karakter yang berbeda yang sangat bertolak belakang.
-          Kurangnya penghargaan dan perhatian terhadap tenaga pelayan, dan mungkin tidak ada pendeta yang bertahan kecuali di jemaat Belau dan kedua jemaat adalah Paku/Puncak dan Salupuang yakni Pdt. Wahyu T. Parrangan, S.Th, MM.
A.    Pelayanan Jemaat Selama KKL
Berdasarkan analisis SWOT yang telah diuraikan diatas, maka pelayanan Jemaat selama KKL dapat dikatakan baik. Walaupun tidak jauh dari sebelumnya, karena sangat susah untuk mengubah pola pikir “Karakter” tetapi dengan adanya kehadiran tenaga KKL bisa dirasakan dan mulai sadar untuk bersekutu.
B.     Jemaat Secara Keseluruhan
Perhatian menyeluruh terhadap apa yang terjadi hanyalah sekedar kebiasaan dan tidak ada yang diperhatikan. Hal ini disebabkan kesadaran dan tingkat perubahan masyarakat dalam pelayanan masih sangat minim karena rumah setiap penduduk berjauhan.
IV.    KESIMPULAN, REFLEKSI DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan penulis dan dengan data yang telah dikumpulkan penulis maka dapat ditarik kesimpulan:
-           Jemaat Pau adalah sebuah jemaat yang berkembang sama seperti Jemaat  seklasis Masanda karena sebuah Jemaat mula-mula.
-          Sebagian besar anggota Jemaat Paku bertumbuh dalam masyarakat yang tingkat pendidikannya masih rendah meskipun ada anggota Jemaat yang mengecap pendidikan tinggi dan yang lainnya adalah sekolah dasar dan sekolah lanjutan.
-          Dalam struktur dan organisasi jemaat paku sangat kurang karena kurangnya pendidikan.
2.      Refleksi
            Tempat Kuliah Kerja Lapangan yang penulis jalani di Klasis Masanda Jemaat Paku memiliki seni tersendiri yang membentuk karakter saya yang seorang pemalu dan pendiam adalah dua karakter yang melekat dalam diri saya. Selama menjalani proses ini ada sukacita yang saya rasakan walaupun keadaan jemaat yang tidak memungkinkan untuk merubah sifat itu. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, Ia membentuk karakter yang begitu tidak dimengerti bagaimana prosesnya. Selama dua bulan yang dibentuk dalam diri saya adalah bagaimana saya dapat menjembatani apa yang dipikirkan dalam bangku kuliah dan apa yang terjadi dilapangan. Hal ini sangat sulit bagi saya karena saya baru memiliki banyak pelayanan ketika saya menginjakkan kaki dalam semester tujuh. Keadaan ini membuat saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam Jemaat dengan apa yang saya pikirkan.
Keberadaan dan sikap hidup Jemaat walaupun tidak memiliki perhatian yang serius namun dari keadaan itu saya dapat dirubah menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Jemaat yang dilayani tidaklah selamanya memberikan terbaik tetapi keadaan ini membentuk saya lebih jauh dan bisa berkarya lebih baik lagi.

3.      Saran-saran.
a.       Untuk BPS Gereja Toraja
BPS harus memperhatikan tenaga pelayan yang ada di klasis  Masanda karena selama ini tidak ada tenaga pelayan yang bertahan kecuali Pdt. Wahyu T. Parrangan,S.Th.
b.      Untuk Majelis Gereja dan Anggota Jemaat
-          Program tahunan harus disusun dengan baik sehingga program dapat berjalan dengan baik.
-          Majelis Gereja harus memperhatikan OIG.
c.       Untuk STAKN Toraja
-          Hendaknya lebih memprioritaskan pelayanan ke daerah-daerah pelayanan seperti yang tenaga KKL tempati guna meningkatkan perhatian pelayanan kepada mereka yang membutuhkan di daerah-daerah terpencil.
-          Penting untuk lebih membekali mahsiswa yang mengikuti KKL agar dalam realitasnya mahasiswa tidak mengalami kendala-kendala yang dapat menjadi batu sandungan kepada diri mahasiswa dan lembaga secara khususnya.