Dalam rangka memberi jawaban terhadap sejumlah peluang dan
tantangan, serta kekuatan dan kelemahan sebagaimana dijelaskan di atas, maka
Program Pengembangan SMGT Jemaat Tamalanrea, Klasis Makassar dikelompokkan kedalam empat program
induk, antara lain:
1
Program Induk Pengembangan Kurikulum
2.
Program Induk Pemberdayaan Anak dan Remaja
3.
Program Induk Pemberdayaan Pelayan
4.
Program Induk Pembinaan Kelompok Kecil
Program Induk Pengembangan Kurikulun/diarahkan pada upaya
mengembangkan kurikulum SMGT yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat dalam hal ini
metode dan pengajarannya sehingga terkontekstualisasi dengan pergumulan kekinian
Klasis Makassar, study/intensif terhadap kurikulum yang ada, serta pendampingan
terhadap jemaat-jemaat dalam pelaksanaan kurikulum tersebut.
Program Induk Pemberdayaan Pelayan diarahkan pada upaya sistematis
untuk memberdayakan setiap potensi yang dimiliki pelayan antara lain melalui
pembinaan-pembinaan yang terencana, sistematis, bertahap, berjenjang dan
berkesinambungan, termasuk mengirim tenaga-tenaga trainers untuk pengembangan
diri menjadi Guru Profesional. Dengan demikian kita akan mendapatkan
kualifikasi guru/pembimbing yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan
perkembangan zaman.
Program Induk Pemberdayaan anak dan Remaja diarahkan
pada upaya sistematis untuk menggali, membina, dan mengembangkan setiap potensi
dan talenta yang dimiliki anak baik potensi rohani, fisik, mental, dll serta
upaya penigkatan penggunalayanan potensi tersebut dalam setiap kegiatan jemaat.
Keempat program induk ini,
selnjutnya akan didukung oleh program induk umum dan kesekretariatan, yang
kesemuanya diitegrasi ke dalam Pokok-pokok Program Pembinaan anak (P4-A),
sebagai strategi operasionalisasi dari program induk tersebut
BAB III
POKOK-POKOK PROGRAM PEMB1NAAN ANAK (P4-A)
A. PROGRAM PEMBINAAN ANAK
A.1. Permasalahan Pokok
1.
Kebutuhan anak dan remaja tidak dapat dipenuhi secara maksimal
oleh guru/pembimbing.
2.
Pembinaan yang diterima oleh Anak masih sebatas kegiatan hari
Minggu.
3.
Belum adanya program jemaat secara sistematis dan terpadu untuk
membekali orang tua dalam konseling anak.
4.
Belum adanya format yang dinilai bagus untuk menjembatani
pembinaan yang diberikan di anak dan remaja dengan pembinaan dalam rumah tangga
Kristen.
5.
Doktrin Theologis Alkitab yang dimiliki anak dan remaja dinilai
sangat kurang, sehingga banyak anak yang cepat sekali terpengaruh dengan arus
jaman yang terus berubah.
6.
Kegiatan-kegiatan Kerohanian anak dan remaja selama ini hanya
sebatas perayaan-perayaan yang cenderung formalistik dan ritualistik. Sementara
pembinaan-pembinaan yang menyentuh langsung kebutuhan rohani anak sangat kurang.
7.
Metode penyampaian cerita anak dan remaja umumnya kurang mampu
membangkitkan iman anak. Kondisi ini
potensial untuk menjadikan anak menjadi rentan terhadap rupa-rupa pengajaran
yang menyesatkan dan pada gilirannya akan semakin memperlemah iman mereka.
8.
Umumnya anak dan remaja (khususnya yang sudah bisa membaca) belum
menjadikan Alkitab sebagai bahan bacaaan favoritnya, atau mereka tidak tahu
bagaimana menjadikan Alkitab sebagai Bahan Bacaan
yang menycnangkan. Hal ini terkait juga dengan masih rendahnya keteladanan
guru/pembimbing dalam
mencintai Alkitab, sehingga mengakibatkan
kurangnya pengetahuan tentang Alkitab
9.
Akses anak terhadap berbagai perkembangan teknologi informatika
sudah sangat mudah (misalnya tayangan TV, Play station, game, dll), yang jauh
lebih menarik dibandingkan kegiatan anak
dan remaja. Hal ini tidak dibarengi dengan kualitas layanan dan kreatifitas
pengajaran Aikitab.
10.
Anak dan remaja masih kurang memiliki pengetahuan Aikitab.
11.
Potensi Minat Bakat yang dimiliki anak dan remaja belum dibina
secara maksimal, dan terbatas hanya pada latihan-latihan seni yang tidak
maksimal.
12.
Kurangnya pemahaman tentang penatalayanaan potensi minat bakat
selain menyanyi, khususnya pemanfaatannya dalam KAR dan Jemaat.
13.
Masih adanya pemahaman yang keliru bahwa seni dan musik adalah
pengisi acara dalam ibadah, padahal seni dan musik dalam ibadah adalah ibadah
itu sendiri.
A.2. Tujuan dan Sasaran '
Pemberdayaan Anak bertujuan untuk memperlengkapi anak dan remaja dengan potensi dan kualitas
iman yang kuat. Tujuan ini diharapkan
dapat direalisasikan melalui pencapaian sasaran-sasaran sebagai berikut:
1.
Semakin meningktnya kerinduan anak untuk bersekutu dengan
teman-temannya di Sekolah Minggu.
2.
Meningkatnya pelayanan yang menyentuh kebutuhan rohani anak secara
langsung.
3.
Semakin meningkatnya kualitas persekutuan anak dengan Tuhan.
4.
Semakin meningkatnya kualitas Iptek dan kreatifitas anak
5.
Anak semakin mencintai Alkitab dan punya motivasi untuk memiliki
dan membacanya.
A.3. Strategi Kebijakan Program
Dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang telah disebutkan
di atas, maka diperlukan beberapa strategi kebijakan sebagai berikut:
1.
Pendistribusian bahan Renungan Harian Anak secara berkala.
2.
Pencanangan gerakan Cinta Alkitab bagi anak serentak diseluruh
tempat kebaktian.
3.
Pelatihan Baca Gali Alkitab bagi Anak dengan metode-metode kreatif
dan menarik.
4.
Pemanfaatan media cetak dan elektronik dalam menyampaikan Firman
Tuhan kepada anak.
5.
Pemanfaatan potensi minat dan bakat anak secara maksimal dalam
kegiatan-kegiatan.
6.
Upaya pengembangan tidak hanya diarahkan pada bakat menyanyi
tetapi pada bakat-bakat tertentu yang spesifik dimiliki anak, sehingga
keinginan setiap anak dapat disalurkan, misalnya menggambar dan melukis
(Arsitek), kerajinan tangan (Kreator), menulis (Jurnalis), puisi (Sastrawan),
dll. Dengan demikian SMGT dapat menjadi tempat pembinaan potensi sejak dini.
Pengembangan ini bisa terlaklana jika didukung oleh fasilitas secretariat yang
memadai berikut anggaran yang proporsional.
7.
Dilakukan
acara inisiasi pada jenjang kelas anak.