Penulis/pengarang:
Pinehas Djengjengi
Choan
Seng Song adalah
teolog asal Taiwan. Song tertantang untuk merefleksikan imannya dalam konteks
asia. Ia menafsirkan kembali teologi Kristen yang dibawa masuk ke asia yang
pluralistik. Ia memikirkan konteks kehidupan Asia sekaligus perjuangan kembali
memikirkan teologi yang meguntungkan asia. Ia menyebut teologinya sebagai
teologi transposisi. Di mana teologi Kristen dipindahkan dari Barat ke asia. Ada
beberapa pergeseran dalam hal tempat dan waktu suatu alat berkomunikasi yang
paling pokok adalah inkarnasi. Hal yang menarik dari Song adalah usaha yang
tekun dalam mengolah unsur-unsur lokal dalam kebudayaan Asia.[1] Ia
berusaha mengolah kebudayaan lokal yang berupa kisah, cerita, puisi, legenda,
sejarah, dan fragmen dalam menjelaskan teologi Asia. Langkah dalam teologi
kontekstual adalah tidak ada alasan teologis maupun ontologis mengapa harus
mengerjakan teologi Kristen dalam perspektif barat. Song mengkritik gagasan tradisional yang
mengatakan bahwa bagaimanapun sebuah bangsa dan budaya harus dicakup dalam
sejarah keselamatan.
Song memberikan nama pada usaha
teologisnya sebagai teologi mata ketiga. Teologi mata pertama dan kedua adalah
teologi yang kita kenal melalui warisan dari gereja mula-mula dan bangunan
teologi yang dibangun oleh pemikiran dan corak hidup barat. Teologi mata ketiga
adalah umat Kristen harus melihat Kristus melalui mata orang Cina, mata orang
Jepang, Afrika, Asia, dan sebagainya. Mata ktiga adalah istilah Budhisme yang
berati kemampuan untuk melihat dan mendengar sesuatu yang tersembunyi dari
pengetahuan. Yesus dalam telaah Song adalah Yesus sebagai wujud inkarnasi,
Yesus sebagai tindakan politis Allah dan Yesus sebagai pengemban misi
rekonsiliatif Allah bagi manusia.
Manusia dapat bertemu dan ditemui
oleh Yesus sang penebus. Inkarnasi adalah ungkapan paling tinggi dari kesatuan
Firman Allah dan tindakan-Nya. Yesus mengemban misi penyelamatan Allah bagi
manusia. Politk Allah adalah keberpihakan terhadap yang miskin dan tertindas. Teologi
bela rasa adalah teologi yang diinspirasikan oleh kasih bela rasa Allah yang
bekerja tanpa putus di Asia. Pemikiran Song dalam teologinya adalah memikirkan
Allah yang bertindak dalam Yesus secara intensif untuk melakukan tindakan
penyelamatan dan pemeliharaan-Nya atas kehidupan manusia dan dunia. M.M Thomas
meringkaskan arah teologi yang hidup di Asia, teologi yang hidup bersifat
situasional atau kontekstual, isi dari teologi adalah ketajaman pengamatan
mengenai Allah dalam Kristus. Materi teologi adalah kesaksian hidup awam dan
persekutuan jemaat. Kebutuhan mengenai arti ortodoksi dan ibadat dalam kaitan
dengan teologi Kristen.[2]
Song berpendapat bahwa teologi Kristen harus
bisa dimengerti orang-orang Asia sesuai dengan konteks Asia. Teologi Barat
memperlihatkan Allah
Barat, sehingga penjelasan tentang Allah tidak sesuai dengan keadaan orang Kristen Asia. Teologi Barat
yang digunakan oleh orang Asia terdapat unsur filsafat dan budaya Barat. Allah Kristen bukan
hanya menjadi Allah
untuk orang Barat, tetapi juga Allah bagi orang-orang Asia. Sebaliknya, orang-orang
Asia harus dapt
membentuk teologi Kristen
Asia sendiri.
Teologi Kristen
Asia dapat dibangun
melalui pengalaman sehari-hari yang dialami oleh orang-orang Asia. Orang-orang Kristen di Asia harus melatih diri
untuk melihat Kristus dalam pengalamannya sendiri. Song tidak hanya
menganjurkan teologi Kristen untuk orang Asia, tetapi Song juga
memiliki pemikiran mengenai misiologi Kristen.
Song mengatakan bahwa misiologi Kristen
seharusnya dilihat dan dititikberakan pada penciptaan Tuhan atas dunia ini.
Hal yang menjadi penitikberatan atas misiologi dapat menjadikan kekristenan
tetap hadir di tengah dunia yang majemuk khususnya dalam hal agama. Kekristenan
diharapkan mampu untuk mengaktualisasikan diri dengan berbagai bentuk kehidupan
sosial, budaya, dan agama. Dalam seluruh Alkitab terlihat
kisah di mana Allah
bersekutu dan akrab dengan ciptaan-Nya. Pengorbanan dan kematian Yesus di kayu Salib merupakan wujud
hubungan baru bagi seluruh ciptaan-Nya. Hubungan yang tidak hanya berdasarkan
hubungan darah atau pun ras, tetapi juga hubungan yang melamaui daerah, ras,
dan agama. Allah
bukan lagi milik satu bangsa, tetapi milik setiap orang yang mempercayai-Nya. Yesus bukan hanya
lagi orang Nazaret
dan milik orang Yahudi
saja, tetapi Yesus
adalah realitas dari tiap daerah yang beraneka-ragam. Yesus bukanlah
kemewahan yang ada saat itu tengah menindas kaum miskin, tetapi Yesus juga adalah
kebudayaan dari masyarakat rendah. Dalam kebudayaan yang seperti itu, manusia
baru dapat bertemu dengan Kristus yang sesungguhnya. Kristus yang
tidak menganggap rendah orang-orang terpinggirkan, tetapi Yesus yang seperti
para nabi yang
merasakan sakit dan penderitaan (ketika ditahbiskan). Yesus adalah sosok
yang iba pada suara-suara rintisan dan rataan dari orang-orang yang tertindas.
Sebagai pengikut Kristus,
orang dituntut untuk percaya dan berpengharapan dalam menjalani kehidupan ni,
sebagai bukti dari iman pada Kristus. Misi kekristenan kini bukan hanya milik orang-orang Yahudi, sebaliknya
orang-orang Yahudi
seharusnya sudah dapat membuka diri terhadap keberadaan bangsa lain. Dalam
pandangan Tuhan,
tidak selalu yang besar yang mendapat tempat. Tidak selalu pemerintah yang
unggul bila dibandingkan dengan rakyat biasa, karena yang dipentingkan adalah
usaha untuk memperoleh kehormatan tersebut. Yesus hadir bagi
rakyat kecil yang selama ini dilupakan dari pandangan pemerintah.