Masa
Adven Natal
Masa
Adven diduga mulai dirayakan sejak abad keempat sebagai periode persiapan
menyambut Epifani (Yunani:
Manifestasi/Kemunculan/Penampilan) Yesus, yang artinya manifestasi Yesus kepada
dunia melalui kelahiran-Nya. Adven sebenarnya bukan tradisi Katolik Roma, tapi tradisi
Gereja Timur yang puncak perayaan Epifaninya jatuh pada tanggal 6 Januari (kelahiran
Yesus diperingati 25 Desember sampai 5 Januari). Adven dari bahasa Latin
“adventus” yang artinya “kedatangan” (dalam bahasa Yunani, “Parousia”), kemudian
berkembang menjadi masa persiapan menyambut kelahiran Yesus (pesta Natal) dan kegembiraan
menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Sejak reformasi (abad ke-16)
perayaan Adven tetap dirayakan oleh gereja-gereja protestan dengan anggapan
bahwa Adven adalah perayaan awal Natal,
sedangkan Katolik pada paham bahwa Adven adalah masa persiapan menuju Natal. Karena itu bagi Katolik (yang lebih “teguh”
dalam simbolisasi urutan tahun gerejawi), belum boleh ada lagu Natal kedengaran
dan belum membaca bacaan Natal selama masa Adven sebelum malam Natal 24
Desember. Tentu karena paham perayaan
awal Natal untuk Masa Adven itulah, maka di gereja Protestan banyak yang
sudah Natalan sebelum Malam Natal 24 Desember. Tidak usah dianggap latah, tapi
kalau ingin menghayati makna simbolis Masa Adven maka memang ada baiknya pada masa
itu belum merayakan Natal.
Lingkaran
Adven
Simbol
masa Adven adalah Lingkaran Adven (Jerman: Adventskranz),
yaitu lingkaran karangan daun cemara yang hijau, dengan taburan warna merah
buah berry dan empat lilin (tiga ungu dan satu merah muda) dengan makna:
-
Lingkaran = Tuhan yang
abadi, tanpa awal dan akhir.
-
Daun cemara hijau dan
hidup (evergreen) = Yesus yang mati
namun hidup kembali untuk selamanya.
-
Warna merah buah berry
= butir-butir darah Yesus yang dicurahkan.
-
Lilin warna ungu =
pertobatan
-
Lilin merah muda =
sukacita di tengah pertobatan
Lingkaran
Adven tersebut dapat dibuat di rumah maupun di gedung gereja. Lilin-lilin Adven
itu dinyalakan setiap minggu Adven. Adven I satu lilin ungu, Adven II dua lilin
ungu, Adven III dua ungu dan satu merah muda (sukacita di tengah pertobatan),
Adven IV keempatnya dinyalakan dan pada Malam Natal keempat lilin tersebut
diganti dengan lilin-lilin putih pertanda Adven telah selesai. Namun karena
Lingkaran Adven ini adalah simbol (tradisi Jerman yang tetap hidup di beberapa
gereja Katolik dan Protestan di Eropa), maka yang tidak biasa atau tidak bisa
dengan simbol, janganlah dipaksakan. Makna penyalaan lilin dan warna lilin yang
tidak dipahami, menjadi percuma. Melakukan simbolisasi tanpa makna adalah
kesia-siaan. Tapi kalau mampu, bukanlah karena latah ke tradisi Jerman.
Lingkaran
Adven
Pohon
Natal
Pohon
Natal (dari pohon Cemara - tradisi Jerman sejak abad ke-16, atau pohon
mangga/pisang - tradisi India), sekarang bukan hanya sebagai dekorasi tapi juga
sudah memiliki makna simbolik. Mengapa cemara? Karena cemara adalah pohon yang
hijau daunnya tak pernah pudar (evergreen),
lambang keabadian. Legenda pohon cemara ada beberapa versi (browsing dari
Wikipedia bahasa Indonesia):
Menurut sebuah legenda, rohaniawan Inggris
bernama Santo Bonifasius
yang memimpin beberapa gereja di Jerman
dan Perancis dalam perjalanannya bertemu dengan
sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor
di sebuah pohon ek.
Untuk menghentikan perbuatan jahat mereka, secara ajaib Santo Bonifasius
merobohkan pohon ek tersebut dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang
menakjubkan tersebut di tempat pohon ek yang roboh tumbuhlah sebuah pohon
cemara.
Cerita lain mengisahkan kejadian saat Martin Luther,
tokoh Reformasi
Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu
malam. Terkesan dengan keindahan gemerlap
jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang
pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan
membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang
seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap
cabang pohon cemara tersebut.
Tapi
apa pun legendanya, termasuk bahwa bangsa Romawi dulu menghiasi pohon cemara
dalam merayakan kelahiran dewa Mitras (dewa matahari – 25 Desember - Dies Natalis Solis Invicti), namun kini pohon
cemara dengan pernak-pernik hiasan dan kelap-kelip lampu/lilin telah menjadi
pohon dalam rangka merayakan kelahiran Yesus Kristus, sudah menjadi simbol
perayaan Natal.
Demikianlah
sedikit penjelasan mengenai Masa Adven dan Natal khususnya sehubungan dengan simbol-simbol,
yang entah mampu dimaknai atau tidak (bukan latah), tetapi yang jauh lebih
penting ialah bagaimana membuat ibadah kita menjadi ibadah yang hidup melalui liturgi
khusus berikut ini.
Tulisan ini diambil dari Komisi Liturgi dan Musik Gerejawi Gereja Toraja (Copyrigth @, Rantepao,
Pdt
Tiku Rari)