BAB I
LATAR BELAKANG
PENGERTIAN
Sexualitas merupakan suatu daya
tarik yang mempunyai pengaruh besar
dalam diri semua makhluk hidup tak terkecuali manusia. Kata seks berasal dari
bahasa Latin “sexus” yang artinya jenis kelamin dimana kata “sexux” ini muncul
dari kata yang mengandung perhatian memotong, membagi atau memisahkan. Atas
pengertian tersebut dapatlah dikatakan bahwa seks itu membagi makhluk hidup ke
dalam dua bagian yaitu laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina.
Dalam
KBBI, “seks” diartikan sebagai jenis kelamin.
Adapun “seksualitas” dapat diartikan sebagai ciri-ciri, sifat atau
peranan seks; dorongan seks; kehidupan seks.
Sedangkan “seksual” sendiri dapat diartikan berkenaan dengan seks (jenis
kelamin), berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Sigmun
Freud : seksualitas sudah
memanifestasikan dirinya sejak manusia masih bayi. Beliau menamakan masa bayi sebagai “tahap
oral” karena merupakan tahap dari perkembangan psikoseksual yang pertama
setelah kelahiran dimana sumber utama kenikmatan dan pemuasan kebutuhan berasal dari
rangsangan di daerah mulut, misalnya mengisapt tetek ibu, jarii, karet dot atau
benda-benda lainnya. Seksualitas pada bayi dan asnak-anak ini disebut erotis
oral; artinya kenikmatan melalui mulut.
Sedangkan erotis anal; kenikmatan melalui dubur.
Dari
pengertian ini dapat disimpulkan bahwa “seks”
berhubungan dengan alat kelamin dan hal-hal yang langsung menyangkut alat kelamin, sedangkan
“sexualitas” segala sesuatu yang berhubungan dengan kepribadian dengan pria dan
wanita. Sexualitas membuat laki-laki menjadi laki-laki dan wanita menjadi
wanita sehingga dalam banyak hal membuat laki-laki dan wanita begitu berbeda,
baik itu secara psikis maupun fisik.
DASAR ALKITABIAH
* Perjanjian
Lama
Kejadian 1:27-28; Kejadian 2:21-25; Kejadian 4:1. Tentang tubuh
dan diri manusia itu, Tuhan
mengatakan bahwa Ia memandangnya dan memberi penilaian, ”Maka Allah melihat
segala yang dijadikan itu, sungguh amat baik…” (Kej. 1:31). Itu berarti bahwa
manusia diciptakan baik dalam pandangan Allah. Semua bagian tubuh manusia
diciptakan dengan baik oleh Tuhan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Bahkan manusia diciptakan Allah yang dibedakan dalam dua
jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Hal ini nyata dituliskan dalam
Kejadian 1:27 ”Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Adapun tujuan Tuhan menciptakan
laki-laki dan perempuan,
dengan organ reproduksi masing-masing, ialah agar
mereka memenuhi
mandat Allah untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Mereka juga dipanggil
untuk berdua hidup dalam suatu persekutuan dengan Dia.
Dalam
Kejadian 2:21-25 hendak menyatakan bahwa perempuan pertama yakni hawa berasal
dari laki-laki ketika Adam sedang tidur nyenyak (bnd. 1Kor. 11:8). Lalu
Allah membawa perempuan itu kepada Adam.
Kemudian keduanya menjadi satu daging dalam artian yang baru, karena Allah
mempersatukan mereka dalam perkawinan (bnd. Mat.19:4-6) sehingga tiap-tiap
tanggung jawab menjadi tanggung jawab bersama. Kedua-duanya memikul tanggung jawab yang
sama baik terhadap Allah maupun terhadap sesamanya dan terhadap makhluk-makhluk
yang lain. Dengan perkataan lain, manusia adalah
makhluk yang hidup bersama, berkerja bersama, saling menolong, saling mengisi
dan melengkapi.
Selain seksualitas dalam artian luas,
Kitab Suci juga berbicara tentang seksualitas dalam artian sempit. Yang
dimaksudkan seksualitas dalam artian sempit ialah hubungan seksual yang
langsung (terjadi persetubuhan) dari suami dan isteri. Hubungan seksual ini dikehendaki Tuhan,
dimana hubungan itu suci adanya (Kej.4:1). Tetapi manusia yang berdosa
menyalahgunakannya untuk kepentingannya, yakni manusia merendahkannya menjadi
“alat pemuasan nafsu.”
Setelah
Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan maka dalam Kejadian 1:28
“Tuhan memberkati mereka,” tersirat bahwa nats ini melarang hubungan seks
sebelum pemberkatan nikah. Setelah diberkati, barulah ada Firman “beranak
cuculah.” Jadi setelah diberkati, hubungan seksual (persetubuhan) barulah dapat
dilakukan. Firman ini tidak boleh dibalik, jika dibalik bisa rusak. Hal ini
berhubung karena benih laki-laki dan benih perempuan itu kudus sehingga
kekudusan merupakan syarat pemberkatan nikah. Allah sangat menghendaki
kekudusan perrnikahan agar anak-anak yang lahir dari pernikahan kudus akan
menjadi anak-anak kudus dan anak-anak itu akan menjadi berkat.Secara lebih rinci, raja Salomo dalam
kitab Kidung Agung mengadakan pendekatan yang positif terhadap seks. Seks dari sudut
pandang kitab Kidung Agung hendak berbicara tentang keindahan perbedaan gender
(jenis kelamin) antara laki-laki dan perempuan.
* Perjanjian
Baru
Matius 19:4-6; Efesus 5:22-30
Matius 5:27-30 mengatakan,
Kamu telah mendengar Firman: jangan
berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan
serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia dalam hatinya. Maka jika
matamu yang kanan menyesatkan, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik
bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh
dicampakkan ke neraka….”.
Nats ini berisi mengenai nasihat untuk menghargai tubuh dengan tidak
mengutamakan kedagingan. Di samping itu, nats ini pun hendak menegaskan bahwa
setiap orang, entah laki-laki
atau perempuan, adalah
ciptaan Allah yang paling mulia sehingga harus menjaga kemuliaan tubuhnya
dengan menjauhi perbuatan zinah yang bukan hanya dilakukan secara nyata tetapi
juga dalam hati, dan hukuman atas perbuatan ini adalah api neraka.
Matius 19:4-6 pun menjelaskan bahwa tujuan Allah
menciptakan manusia laki-laki dan perempuan agar dapat menikah dan menjadi satu
daging. Adapun bentuk persetujuan Tuhan Yesus terhadap pesta perkawinan dan
pernikahan dapat dilihat dalam mujizat pertama yang dilakukan Tuhan Yesus yaitu
pada waktu Ia mengubah air menjadi anggur dalam perjamuan kawin di Kana (Yoh
2:1-11).
TUJUAN SEXUALITAS
Sebagai
pernyataan kasih
Hubungan seksual baru bermakna jika
dintegrasikan dengan cinta. Hubungan
seksual dilakukan bukan karena nafsu birahi belaka tetapi karena dorongan cinta
personal. Dalam hubungan ini pasangan
saling memberi dan meneriman dan mengalami kepuasan dan kesenangan bersama
Untuk
melanjutkan keturunan atau regenerasi
Melalui hubungan seks terjadi
kelangsungan keturunan (prokreasi) yaitu kalau hubungan seksual menghasilkan
pembuahan. Dalam konteks etika Kristen
terjadinya pembuahan dan lahirnya seorang anak diterima sebagai berkat Tuhan.
•
Sebagai
pernyataan kasih
Hubungan seksual baru bermakna jika
dintegrasikan dengan cinta. Hubungan
seksual dilakukan bukan karena nafsu birahi belaka tetapi karena dorongan cinta
personal. Dalam hubungan ini pasangan saling
memberi dan meneriman dan mengalami kepuasan dan kesenangan bersama
•
Untuk
melanjutkan keturunan atau regenerasi
Melalui hubungan seks terjadi
kelangsungan keturunan (prokreasi) yaitu kalau hubungan seksual menghasilkan
pembuahan. Dalam konteks etika Kristen
terjadinya pembuahan dan lahirnya seorang anak diterima sebagai berkat Tuhan
Tujuan seksual
•
Untuk
memberikan kebahagiaan hidup jasmani kepada manusia
Tanggung Jawab Seksual
•
Tanggung
jawab terhadap diri sendiri yaitu meliputi tidak egois, tidak diperbudak nafsu
sexual dan mengusahakan agar hubungan seksual dialami sebagai sesuatu yang
indah, membahagiakan dan menciptakan rasa cinta terhadap pasangan hidup
•
Tanggung
jawab terhadapa pasangan hidup khususnya dampak psikologis dalam hal ini tidak boleh ada pemaksaan dan
kekerasan.
•
Tanggung
jawab terhadapa dampak sosial hubungan
seksual. Artinya jangan melakukan
hubungan seksual kalau hubungan itu merusak komunikasi salah satu pasangan
dengan masyarakat sekeliling (perzinahan
atau perselingkuhan)
•
Tanggung
jawab terhadap kemungkinan adanya anak
Anak yang lahir dari hubungan seksual
harus diterima, dicintai dan dilindungi.
Janin tidak boleh digugurkan apalagi dibuang atau dibunuh. Pasangan hidup harus bertanggung jawab
melahirkan mengasuh, mencintai dan melindungi anak tersebut.
BAB II
Penyimpangan Seksual
Perzinahan
Perzinahan biasanya dipahami dalam
arti sempit yaitu hubungan seksual antara seorang yang telah berkeluarga dengan
istri atau suami orang lain (Keluaran 20:14).
Akan tetapi sebenarnya perzinahan berarti semua bentuk hubungan seksual
di luar pernikahan yang sah. Yang
tergolong perzinahan adalah hubungan seksual antara dua orang muda yang belum
menikah (termasuk disini kumpul kebo, kawin kontrak atau samen liven) dan perselingkuhan yaitu hubungan seksual yang dilakukan oleh
orang-orang yang sengaja meninggalkan pasangan hidupnya dan mengadakan hubungan
seksual dengan orang lain entah pasangan orang lain atau bujangan.
Dalam khotbah Tuhan Yesus dibukit,
arti perzinahan diberikan makna yang lebih luas dimana tercakup juga didalamnya
keinginan birahi yang didorong oleh hawa
nafsu (lih Maitus 5:28). Itu sebabnya
etika Kristen mengkategorikan praktek “petting”
yang cumbu ratyu secara intensif yang merangsang dorongan seksual sampai
mencapai orgasme sekalipun tidak
melakukan hubungan seksual. Cumbuan
adalah “foreplay” yang dihubungkan dengan persetubuhan.
Percabulan
Percabulan adalah pergaulan seks
bebas yang disebabkan oleh dorongan seksual yang tak terkendali. Ada bermacam-macam bentuknya. Ada percabulan langsung yaitu bermain seks
dengan mengganti-ganti pasangan (promiskuitas). Sekarang ini ada banyak kelompok muda-mudi
yang melakukan pesta seks disertai minum obat perangsang. Ada juga bentuk percabulan tidak langsung,
misalnya pornografi.
Dalam Alkitab percabulan sangat
dikecam karena dianggap sebagai pelecehan seksual yang hanya didorong oleh hawa
nafsu (misalnya I Korintus 6:9-10;
Efesus 5:3-5). Percabulan
tergolong perbuatan “daging” yang bertentangan dengan kehidupan roh (Galatia
5:19).
Pelacuran/Prostitusi
Dalam Perjanjian Lama terdapat
perempuan yang sengaja melacurkan dirinya (seperti Rahab yang diceritakan dalam
Yosua 2:2 dst; Delila yang diceritakan dalam Hakim-hakim 16:4 dst. Prostitusi diambil dari kata Latin “prostare”
artinya menjual, menjajakan. Oleh sebab
itu prostitusi selalu dikaitkan dengan perzinahan karena terpaksa misalnya
seorang WTS menjadi pelacur karena tekanan ekonomi.
Dalam kenyataannya pelacuran didorong
oleh bermacan-macam motif, misalnya wanita misalnya wanita yang dikecewakan
pacarnya mencari kompensasi dengan menjadi pelacur. Ada juga WTS yang menjadi pelacur karena
ditipu orang-orang yang mau mencari keuntungan ekonomi dengan menjual orang lain,
misalnya yang dilakukan “germo” tertentu.
Pelacuran adalah salah satu bentuk penyimpangan/pelecehan seksual sebab
hubungan seks dilakukan demi untuk kesenangan dan keuntungan ekonomi
semata-mata.
Masturbasi/Rancap
Masturbasi/rancap
disebut juga onani, diambil dari cerita Onani (Kejadian 38:9). Yang melakukan
praktek “Coitus Interuptus” yaitu mencabut penis pada waktu akan mencapai orgasme
karena ia menikah dengan bekas istri kakaknya (pernikahan ipar). Praktek masturbasi dikalangan orang modern
dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang memang sengaja diproduksi oleh
industri alat kelamin palsu.
Wadam/Waria dan
Transeksual
Wadam adalah akronim dari Wanita
Adam dan Waria adalah akronim dari wanita pria.
Sebutan itu dikenakan kepada seseorang yang secara lahiriah berkelamin
pria tetapi secara psikis merasa diri/berjiwa/berperilaku sebagai wanita sebaliknya, seseorang yang secara lahiriah
berkelamin wanita tetapi secara psikis merasa diri/berjiwa/berperilaku
pria. Yang pertama biasa juga disebut
bencong, yang kedua biasa disebut tomboi.
Secara seksualitas golongan
Wadam/Waria dibedakan dari kelompok interseks dengan kelompik
transeksualitas. Kelompok interseks
nyata secara lahir yang disebabkan oleh pertumbuhan alat-alat kelamin yang
kurang sempurna. Misalnya ada
seseorang lahir sebagai “”hermafrodit” memiliki dua alat kelamin yang kurang
sempurna. Misalnya seseorang testis dan ovarium atau penis kecil dan vagina. Kasus
seperti biasa disebabkan masalah hormonal di mana seorang lahir dengan membawa
kromosom seks pria dan kromosom seks wanita. Transeksual terjadi karena masalah
psikis atau kejiwaan. Orang homoseksual bersifat interseks artinya memang
mempunyai menyukai orang lain yang sejenis dengan dirinya misalnya kaum homo
dan lesbian. Perkosaan adalah tindakan pelecehan seksual yang terjadi akibat
dari ketidakmampuan seseorang mengendalikan hawa nafsu sehingga bertindak
biadab.
Seksualitas
adalah pemberian Allah yang baik bermakna untuk menjadi sarana kemanusiaan yang
utuh antara suami istri sebagai dwitunggal.
Seksualitas bertujuan untuk menyatakan
cinta kasih yang eksklusif dan sekaligus sarana melanjutkan keturunan umat
manusia. Maka seksualitas sebaiknya dilakukan dalam pernikahan yang sah. Dalam
hubungan seks harus diperhatikan agar nafsu seksualitas tidak memperbudak kita
sebaliknya dialami membahagiaan hidup bersama suami istri dalam rumah tangga. Penyimpangan
seksual dapat dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu penyimpangan disengaja
meliputi pelacuran, percabulan, dan perzinahan. Penyimpangan yang disengaja
terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu seksual. Setiap orang
bertanggung jawab untuk meminimalkan praktek seksual karena mengganggu
keharmonisan hidup bersama.
Mereka yang mengalami gangguan
seksualitas seperti waria harus dibimbing dan diterima agar mereka tidak
melakukan kompensasi negatif melainkan memfokuskan pada hal positif. Anak muda
terdorong melakukan masturbasi perlu dibimbing agar tidak egis dan menyalurkan
gairah seksualitas dengan kegiatan olah raga dan bergaul secara positif.
KEPUSTAKAAN
........................
Seksualitas dan Pendidikan Seksual. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 2001
Becher,Jeanne. Perempun, Agama dan Seksualitas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2011
Borrong,Robert P. Etika Seksual Kontemporer. Ink Media: Bandung. 2006