Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Minggu, 18 November 2012

Ada Iblis di Ruumah Kita



Stephen Suleeman[2]
Pengantar
Judul yang diajukan oleh Panitia kepada saya, “Ada Iblis di Rumah Kita”, kedengarannya agak bombastis dan menge­jutkan.Tapi saya pikir judul ini dapat merujuk kepada kenyataan yang kita hadapi, baik seba­gai orang Timur yang hidup di dunia yang akrab dengan dunia mistik seperti yang banyak dihadirkan dalam beberapa tahun ini lewat sinetron dan film-film kita, maupun kenyataan yang mau diangkat oleh Panitia lewat percakapan ini, yaitu kehadiran media dalam kehidupan kita sehari-hari dan dalam cara apa media dapat menjadi masalah dalam hidup kita.
1. Perkembangan perangkat telekomunikasi modern  
Media komunikasi di dunia mengalami perkembangan yang sangat cepat. Saya masih ingat pada awal tahun 1960-an ketika untuk bertelepon orang harus menghubungi kantor pusatnya di Gambir atau di Kota. Pada per­te­ngahan tahun 1970-an pesawat telex masih dianggap canggih, dan pada tahun 1980-an telepon mobil adalah sebuah kemewahan yang tidak dimiliki setiap orang. Baru pada akhir dekade itu saya mende­ngar orang mulai berbicara tentang sebuah alat ajaib yang disebut “komputer”. Namun harganya masih mahal dan karena itu belum terjangkau orang banyak. Sekarang? Orang yang menenteng laptop sudah bukan pemandangan yang asing. Jaringan wi-fi tersedia luas. Sejumlah kota di dunia bahkan kini menyediakan wi-fi untuk seluruh penduduk kotanya.
Mungkin kita masih ingat tahun 1980-an ketika satu-satunya saluran televisi yang dapat kita saksikan hanyalah TVRI, sehingga pilihan kita hanyalah “take it or leave it”. Di akhir tahun 1980-an kita mulai menyaksikan kehadiran saluran-saluran televisi swasta yang dimulai oleh RCTI pada 1988 dan kemudian SCTV dua tahun kemu­dian. Tak lama kemudian kita mulai berkenalan dengan komputer pribadi, perma­inan komputer (dimulai dengan Nintendo dengan “manhole”, dan kemudian diikuti oleh Pacman, dll. dan perkembangan yang revolusioner dalam bentuk Play­station, Wii, Xbox, dll.), internet, HP, PDA, Blackberry, iPhone, dll yang semuanya telah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Saya cukup terkejut menyaksikan betapa SMS telah menjadi bagian hidup masyarakat Jakarta – setidaknya – hingga bahkan pembantu pun ikut menggunakan HP dan SMS.
Kini ada sekitar 16 stasiun televisi pemerintah dan swasta di Jakarta ditambah dengan sekian stasiun televisi di berbagai kota di seluruh Indonesia. Semuanya bersaing memperebutkan pangsa pasar yang jumlahnya tetap. Dan kita tahu bahwa apabila penawaran bertambah sementara pembelian tetap, maka kecende­rungan yang terjadi dalam hukum ekonomi ialah harga atau nilai barang yang ditawarkan pun akan berkurang – semuanya hanya karena keinginan meraih keuntungan yang sudah sangat minim. Kalau dulu masing-masing stasiun ber­usaha menampilkan cirinya masing-masing yang khas, kini mereka tidak peduli lagi dan hanya mena­yangkan acara-acara yang dinyatakan laku oleh perusahaan ratingnya.
2. Masalah dengan media
a. Daya pembangunan realitas
Apakah persoalan yang mendasar dengan media? Setiap media mempunyai sifat-sifatnya tersendiri yang khas. Dari sekian banyak media, saya hanya akan menyebutkan dua saja, yaitu radio dan televisi. Radio yang hanya mengha­dirkan suara, memiliki kemampuan menjangkau yang luas, khususnya program-program lewat gelombang-gelom­bang pendek (short wave), sehingga siarannya dengan mudah men­jang­kau ke berbagai negara. Sifatnya yang audio membuat radio menolong mencipta­kan imajinasi yang tinggi pada para pendengarnya, seperti yang diperlihatkan oleh siaran drama radio “War of the Worlds” yang dibu­at berdasarkan novel H.G. Wells pada tahun 1938 (difilm­kan pada 1953, dibuat ulang pada 2005). Drama radio ini menimbulkan kepanikan yang dahsyat di antara banyak rakyat AS yang meng­ikuti acara itu dan me­nyangka bahwa bumi benar-benar sedang diserang oleh makhluk-makhluk angkasa luar. Bandingkan hal ini dengan kecanduan masyarakat dengan drama radio “Saur Sepuh” beberapa tahun lalu.
Film dan televisi mempunyai sifat yang unik karena daya menghiburnya, tetapi juga pada saat yang sama mampu men­ciptakan realitas alternative dalam hidup kita. Industri  film India di Mumbay (Bollywood), misalnya, merupakan industri film terbesar di dunia, yang bahkan melampaui Hollywood. Isi film-film India umumnya menggambarkan keluarga yang hidup serba mewah, jauh dari kenyataan hidup sehari-hari di India sendiri. Semuanya itu sangat disukai oleh rakyat kecil di India karena dengan menonton film-film seperti itu, mereka dapat melupakan kesulitan hidup mereka sejenak.
Kekuatan televisi jauh lebih hebat daripada bioskop karena televisi hadir di rumah kita, bahkan juga di kamar tidur kita, sementara bioskop tidak. Hitung saja, berapa kali kita menonton di bioskop dalam setahun dan berapa kali kita menonton film di tv? Ka­rena itu realitas yang ditampilkan televisi dapat lebih berpengaruh dalam hidup kita. Kita mungkin pernah mendengar kasus-kasus tentang anak-anak yang lompat dari tempat yang tinggi dengan pakaian Superman karena mereka mengira bisa terbang. Sebuah kasus menarik lainnya ialah ketika beberapa tahun lalu bintang-bintang telenovela Amerika Latin datang ke Indonesia dan para penggemarnya terheran-heran karena mereka ternyata tidak bisa berbahasa Indonesia. “Lho, bukankah di televisi mereka selalu berbahasa Indonesia?” begitu tanya mere­ka heran kebingungan, tanpa menyadari bahwa program siaran di televisi telah di-dubbing.


[1] Makalah untuk Pembinaan Teologi Jemaat GKJ Eben Haezer, Pasar Minggu, 21 Oktober 2007.
[2] Dosen STT Jakarta, mahasiswa S-3 di Graduate Theological Union, Berkeley, CA, AS; S-1 Komunikasi Pemba­ngunan dari FISIP-UI (1987).

Selasa, 13 November 2012

Seksualitas


BAB I
LATAR BELAKANG
PENGERTIAN
Sexualitas merupakan suatu daya tarik  yang mempunyai pengaruh besar dalam diri semua makhluk hidup tak terkecuali manusia. Kata seks berasal dari bahasa Latin “sexus” yang artinya jenis kelamin dimana kata “sexux” ini muncul dari kata yang mengandung perhatian memotong, membagi atau memisahkan. Atas pengertian tersebut dapatlah dikatakan bahwa seks itu membagi makhluk hidup ke dalam dua bagian yaitu laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina.[1]
Dalam KBBI, “seks” diartikan sebagai jenis kelamin.  Adapun “seksualitas” dapat diartikan sebagai ciri-ciri, sifat atau peranan seks; dorongan seks; kehidupan seks.   Sedangkan “seksual” sendiri dapat diartikan berkenaan dengan seks (jenis kelamin), berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan.[2] Sigmun Freud            : seksualitas sudah memanifestasikan dirinya sejak manusia masih bayi.  Beliau menamakan masa bayi sebagai “tahap oral” karena merupakan tahap dari perkembangan psikoseksual yang pertama setelah kelahiran dimana sumber utama kenikmatan  dan pemuasan kebutuhan berasal dari rangsangan di daerah mulut, misalnya mengisapt tetek ibu, jarii, karet dot atau benda-benda lainnya. Seksualitas pada bayi dan asnak-anak ini disebut erotis oral; artinya kenikmatan melalui mulut.  Sedangkan erotis anal; kenikmatan melalui dubur.[3]
Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa “seks”   berhubungan dengan alat kelamin dan hal-hal yang langsung   menyangkut alat kelamin, sedangkan “sexualitas” segala sesuatu yang berhubungan dengan kepribadian dengan pria dan wanita. Sexualitas membuat laki-laki menjadi laki-laki dan wanita menjadi wanita sehingga dalam banyak hal membuat laki-laki dan wanita begitu berbeda, baik itu secara psikis maupun fisik.[4]
DASAR ALKITABIAH
*  Perjanjian  Lama
            Kejadian 1:27-28;  Kejadian 2:21-25; Kejadian 4:1. Tentang tubuh dan diri manusia itu, Tuhan mengatakan bahwa Ia memandangnya dan memberi penilaian, ”Maka Allah melihat segala yang dijadikan itu, sungguh amat baik…” (Kej. 1:31). Itu berarti bahwa manusia diciptakan baik dalam pandangan Allah. Semua bagian tubuh manusia diciptakan dengan baik oleh Tuhan sesuai dengan fungsinya masing-masing.  Bahkan manusia diciptakan Allah yang dibedakan dalam dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Hal ini nyata dituliskan dalam Kejadian 1:27 ”Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Adapun tujuan Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, dengan organ reproduksi masing-masing, ialah agar mereka memenuhi mandat Allah untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Mereka juga dipanggil untuk berdua hidup dalam suatu persekutuan dengan Dia.
       Dalam Kejadian 2:21-25 hendak menyatakan bahwa perempuan pertama yakni hawa berasal dari laki-laki ketika Adam sedang tidur nyenyak (bnd. 1Kor. 11:8). Lalu Allah membawa perempuan itu kepada Adam. Kemudian keduanya menjadi satu daging dalam artian yang baru, karena Allah mempersatukan mereka dalam perkawinan (bnd. Mat.19:4-6) sehingga tiap-tiap tanggung jawab menjadi tanggung jawab bersama.[5] Kedua-duanya memikul tanggung jawab yang sama baik terhadap Allah maupun terhadap sesamanya dan terhadap makhluk-makhluk yang lain.[6] Dengan perkataan lain, manusia adalah makhluk yang hidup bersama, berkerja bersama, saling menolong, saling mengisi dan melengkapi.
         Selain seksualitas dalam artian luas, Kitab Suci juga berbicara tentang seksualitas dalam artian sempit. Yang dimaksudkan seksualitas dalam artian sempit ialah hubungan seksual yang langsung (terjadi persetubuhan) dari suami dan isteri.  Hubungan seksual ini dikehendaki Tuhan, dimana hubungan itu suci adanya (Kej.4:1). Tetapi manusia yang berdosa menyalahgunakannya untuk kepentingannya, yakni manusia merendahkannya menjadi “alat pemuasan nafsu.”[7]
     Setelah Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan maka dalam Kejadian 1:28 “Tuhan memberkati mereka,” tersirat bahwa nats ini melarang hubungan seks sebelum pemberkatan nikah. Setelah diberkati, barulah ada Firman “beranak cuculah.” Jadi setelah diberkati, hubungan seksual (persetubuhan) barulah dapat dilakukan. Firman ini tidak boleh dibalik, jika dibalik bisa rusak. Hal ini berhubung karena benih laki-laki dan benih perempuan itu kudus sehingga kekudusan merupakan syarat pemberkatan nikah. Allah sangat menghendaki kekudusan perrnikahan agar anak-anak yang lahir dari pernikahan kudus akan menjadi anak-anak kudus dan anak-anak itu akan menjadi berkat.[8]Secara lebih rinci, raja Salomo dalam kitab Kidung Agung mengadakan pendekatan yang positif terhadap seks. Seks dari sudut pandang kitab Kidung Agung hendak berbicara tentang keindahan perbedaan gender (jenis kelamin) antara laki-laki dan perempuan.
* Perjanjian Baru
            Matius 19:4-6;  Efesus 5:22-30
Matius 5:27-30 mengatakan,

Kamu telah mendengar Firman:  jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke neraka….”.

Nats ini berisi mengenai nasihat untuk menghargai tubuh dengan tidak mengutamakan kedagingan. Di samping itu, nats ini pun hendak menegaskan bahwa setiap orang, entah laki-laki atau perempuan, adalah ciptaan Allah yang paling mulia sehingga harus menjaga kemuliaan tubuhnya dengan menjauhi perbuatan zinah yang bukan hanya dilakukan secara nyata tetapi juga dalam hati, dan hukuman atas perbuatan ini adalah api neraka.
Matius 19:4-6 pun menjelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan agar dapat menikah dan menjadi satu daging. Adapun bentuk persetujuan Tuhan Yesus terhadap pesta perkawinan dan pernikahan dapat dilihat dalam mujizat pertama yang dilakukan Tuhan Yesus yaitu pada waktu Ia mengubah air menjadi anggur dalam perjamuan kawin di Kana (Yoh 2:1-11).


TUJUAN SEXUALITAS
Sebagai pernyataan kasih
            Hubungan seksual baru bermakna jika dintegrasikan dengan cinta.  Hubungan seksual dilakukan bukan karena nafsu birahi belaka tetapi karena dorongan cinta personal.  Dalam hubungan ini pasangan saling memberi dan meneriman dan mengalami kepuasan dan kesenangan bersama
Untuk melanjutkan keturunan atau regenerasi
            Melalui hubungan seks terjadi kelangsungan keturunan (prokreasi) yaitu kalau hubungan seksual menghasilkan pembuahan.  Dalam konteks etika Kristen terjadinya pembuahan dan lahirnya seorang anak diterima sebagai berkat Tuhan.
      Sebagai pernyataan kasih
            Hubungan seksual baru bermakna jika dintegrasikan dengan cinta.  Hubungan seksual dilakukan bukan karena nafsu birahi belaka tetapi karena dorongan cinta personal.  Dalam hubungan ini pasangan saling memberi dan meneriman dan mengalami kepuasan dan kesenangan bersama
      Untuk melanjutkan keturunan atau regenerasi
            Melalui hubungan seks terjadi kelangsungan keturunan (prokreasi) yaitu kalau hubungan seksual menghasilkan pembuahan.  Dalam konteks etika Kristen terjadinya pembuahan dan lahirnya seorang anak diterima sebagai berkat Tuhan
Tujuan seksual
      Untuk memberikan kebahagiaan hidup jasmani kepada manusia
Tanggung Jawab Seksual
      Tanggung jawab terhadap diri sendiri yaitu meliputi tidak egois, tidak diperbudak nafsu sexual dan mengusahakan agar hubungan seksual dialami sebagai sesuatu yang indah, membahagiakan dan menciptakan rasa cinta terhadap pasangan hidup
      Tanggung jawab terhadapa pasangan hidup khususnya dampak psikologis  dalam hal ini tidak boleh ada pemaksaan dan kekerasan. 
      Tanggung jawab terhadapa dampak  sosial hubungan seksual.  Artinya jangan melakukan hubungan seksual kalau hubungan itu merusak komunikasi salah satu pasangan dengan masyarakat sekeliling  (perzinahan atau perselingkuhan)
      Tanggung jawab terhadap kemungkinan adanya anak
            Anak yang lahir dari hubungan seksual harus diterima, dicintai dan dilindungi.  Janin tidak boleh digugurkan apalagi dibuang atau dibunuh.  Pasangan hidup harus bertanggung jawab melahirkan mengasuh, mencintai dan melindungi anak tersebut.[9]

BAB II
Penyimpangan Seksual
Perzinahan
            Perzinahan biasanya dipahami dalam arti sempit yaitu hubungan seksual antara seorang yang telah berkeluarga dengan istri atau suami orang lain (Keluaran 20:14).  Akan tetapi sebenarnya perzinahan berarti semua bentuk hubungan seksual di luar pernikahan yang sah.  Yang tergolong perzinahan adalah hubungan seksual antara dua orang muda yang belum menikah (termasuk disini kumpul kebo, kawin kontrak atau samen liven) dan perselingkuhan yaitu  hubungan seksual yang dilakukan oleh orang-orang yang sengaja meninggalkan pasangan hidupnya dan mengadakan hubungan seksual dengan orang lain entah pasangan orang lain atau bujangan.
            Dalam khotbah Tuhan Yesus dibukit, arti perzinahan diberikan makna yang lebih luas dimana tercakup juga didalamnya keinginan  birahi yang didorong oleh hawa nafsu (lih Maitus 5:28).  Itu sebabnya etika Kristen mengkategorikan praktek “petting”  yang cumbu ratyu secara intensif yang merangsang dorongan seksual sampai mencapai orgasme  sekalipun tidak melakukan hubungan seksual.  Cumbuan adalah “foreplay  yang dihubungkan dengan persetubuhan.[10]
Percabulan
            Percabulan adalah pergaulan seks bebas yang disebabkan oleh dorongan seksual yang tak terkendali.   Ada bermacam-macam bentuknya.  Ada percabulan langsung yaitu bermain seks dengan mengganti-ganti pasangan (promiskuitas).   Sekarang ini ada banyak kelompok muda-mudi yang melakukan pesta seks disertai minum obat perangsang.  Ada juga bentuk percabulan tidak langsung, misalnya pornografi.
            Dalam Alkitab percabulan sangat dikecam karena dianggap sebagai pelecehan seksual yang hanya didorong oleh hawa nafsu (misalnya I Korintus 6:9-10;  Efesus 5:3-5).  Percabulan tergolong perbuatan “daging” yang bertentangan dengan kehidupan roh (Galatia 5:19).
Pelacuran/Prostitusi
            Dalam Perjanjian Lama terdapat perempuan yang sengaja melacurkan dirinya (seperti Rahab yang diceritakan dalam Yosua 2:2 dst; Delila yang diceritakan dalam Hakim-hakim 16:4 dst.  Prostitusi diambil dari kata Latin “prostare” artinya menjual, menjajakan.  Oleh sebab itu prostitusi selalu dikaitkan dengan perzinahan karena terpaksa misalnya seorang WTS menjadi pelacur karena tekanan ekonomi.
            Dalam kenyataannya pelacuran didorong oleh bermacan-macam motif, misalnya wanita misalnya wanita yang dikecewakan pacarnya mencari kompensasi dengan menjadi pelacur.  Ada juga WTS yang menjadi pelacur karena ditipu orang-orang yang mau mencari keuntungan ekonomi dengan menjual orang lain, misalnya yang dilakukan “germo” tertentu.  Pelacuran adalah salah satu bentuk penyimpangan/pelecehan seksual sebab hubungan seks dilakukan demi untuk kesenangan dan keuntungan ekonomi semata-mata. 
Masturbasi/Rancap
Masturbasi/rancap disebut juga onani, diambil dari cerita Onani (Kejadian 38:9). Yang melakukan praktek “Coitus Interuptus” yaitu mencabut penis pada waktu akan mencapai orgasme karena ia menikah dengan bekas istri kakaknya (pernikahan ipar).  Praktek masturbasi dikalangan orang modern dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang memang sengaja diproduksi oleh industri alat kelamin palsu. 
Wadam/Waria dan Transeksual
            Wadam adalah akronim dari Wanita Adam dan Waria adalah akronim dari wanita pria.  Sebutan itu dikenakan kepada seseorang yang secara lahiriah berkelamin pria tetapi secara psikis merasa diri/berjiwa/berperilaku sebagai wanita  sebaliknya, seseorang yang secara lahiriah berkelamin wanita tetapi secara psikis merasa diri/berjiwa/berperilaku pria.  Yang pertama biasa juga disebut bencong, yang kedua biasa disebut tomboi. 
            Secara seksualitas golongan Wadam/Waria dibedakan dari kelompok interseks dengan kelompik transeksualitas.  Kelompok interseks nyata secara lahir yang disebabkan oleh pertumbuhan alat-alat kelamin yang kurang sempurna.    Misalnya ada seseorang lahir sebagai “”hermafrodit” memiliki dua alat kelamin yang kurang sempurna. Misalnya seseorang testis dan ovarium atau penis kecil dan vagina. Kasus seperti biasa disebabkan masalah hormonal di mana seorang lahir dengan membawa kromosom seks pria dan kromosom seks wanita. Transeksual terjadi karena masalah psikis atau kejiwaan. Orang homoseksual bersifat interseks artinya memang mempunyai menyukai orang lain yang sejenis dengan dirinya misalnya kaum homo dan lesbian. Perkosaan adalah tindakan pelecehan seksual yang terjadi akibat dari ketidakmampuan seseorang mengendalikan hawa nafsu sehingga bertindak biadab.
Seksualitas adalah pemberian Allah yang baik bermakna untuk menjadi sarana kemanusiaan yang utuh antara suami istri sebagai dwitunggal.
Seksualitas bertujuan untuk menyatakan cinta kasih yang eksklusif dan sekaligus sarana melanjutkan keturunan umat manusia. Maka seksualitas sebaiknya dilakukan dalam pernikahan yang sah. Dalam hubungan seks harus diperhatikan agar nafsu seksualitas tidak memperbudak kita sebaliknya dialami membahagiaan hidup bersama suami istri dalam rumah tangga. Penyimpangan seksual dapat dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu penyimpangan disengaja meliputi pelacuran, percabulan, dan perzinahan. Penyimpangan yang disengaja terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu seksual. Setiap orang bertanggung jawab untuk meminimalkan praktek seksual karena mengganggu keharmonisan hidup bersama.
Mereka yang mengalami gangguan seksualitas seperti waria harus dibimbing dan diterima agar mereka tidak melakukan kompensasi negatif melainkan memfokuskan pada hal positif. Anak muda terdorong melakukan masturbasi perlu dibimbing agar tidak egis dan menyalurkan gairah seksualitas dengan kegiatan olah raga dan bergaul secara positif.[11]












KEPUSTAKAAN


Kamus
TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Tafsiran
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester. Jakarta: Gunung Mulia. 2005.
Buku
Abineno, J.L.Ch. Seksualitas dan Pendidikan Seksual. Jakarta: Gunung Mulia. 2001.
........................ Seksualitas dan Pendidikan Seksual. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2001
Becher,Jeanne. Perempun, Agama dan Seksualitas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2011
Borrong,Robert P. Etika Seksual Kontemporer. Ink Media: Bandung. 2006
Daniel,Alexander Kekudusan Seks. Yogyakarta: Andi. 2008
MacArthur,John Kiat Sukses Mendidik Anak dalam Tuhan. Jakarta: Immanuel. 2005
Paranoan, M. Psikologi Pendidikan keluarga. Rantepao: Sulo. 1995
Verkuyl. J. Etika Seksuil. Djakarta: Badan Penerbit Kriten. 1966
Artikel Internet
Seksualitas.” Sexalkitabiah.com; diakses tanggal 22 Febuari 2010; tersedia di http://www.Sexalkitabiah.com.



[1] Seksualitas.” Sexalkitabiah.com; diakses tanggal 22 Febuari 2010; tersedia di http://www.Sexalkitabiah.com.
[2] Kamus Besar Bahasa indonesia, s.v. Seksualitas
[3]  M. Paranoan, Psikologi Pendidikan keluarga (Rantepao: Sulo, 1995), 75.
[4] John MacArthur, Kiat Sukses Mendidik Anak dalam Tuhan (Jakarta: Immanuel, 2005), 123.               
[5] Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester (Jakarta: Gunung Mulia, 2005), 85.
[6] J. Verkuyl. Etika Seksuil (Djakarta: Badan Penerbit Kriten, 1966), 9.
[7] J.L.Ch. Abineno, Seksualitas dan Pendidikan Seksual (Jakarta: Gunung Mulia, 2001), 6-7.
[8] Daniel Alexander, Kekudusan Seks (Yogyakarta: Andi, 2008), 8.
[9] Jeanne Becher,Perempun, Agama dan Seksualitas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 32
[10] J.L Ch Abineno, Seksualitas dan Pendidikan Seksual (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 2
[11] Robert P Borrong, Etika Seksual Kontemporer (Ink Media: Bandung, 2006), 31-38