Manusia Tenggara adalah manusia modern,
dunia mereka tidak terlepas dari kawasan Indonesia timur, Asia tenggara dan
segala arus zaman yang ada. Disini John mencoba meafsirkan dunia Nusa tenggara
dalam bahasa simbolis setempat. Manusia nusa tenggara , seperti umat manusia
pada umumnya mengutamakan realitas sehari-hari yang disebut peter Berger
sebagai dunia harian. Dunia harian itulah yang menjadi pusatr perhatian dia
yang pertam karena justru perjuangan sehari-hari menimbulkan keprihatinan utama
masyarakat setempat. Dalam upaya menyerap situasi harian tersebut, pintu masuk
bagi dia adalah keprihatinan-keprihatinan utama masyarakat –
kebutuhan-kebutuhan mereka, dan tantangan yang berat yang mereka hadapi, karena
keprihatinan yang timbul dalam memperjuangkan hidupnya, maka manusia Nusa
Tenggara tidak membatasi dunia kini dan disini. Jadi simbol-simbol budaya ,
upacara-upacara serta mitos-mitos masyarakat member makna, arah dan integritas
pada dunia progmatis sehari-hari, dalam realitas nusa tenggara symbol, upacara
dan mitos itu berasala dari dunia budaya
asli dan dunia social modern. Dalam mengambil perspektif orang tersisih, dia
juda mencoba mendekatkan dunia harian progmatis dengan dunia simbolik
keagamaan. Selam berada di Indonesia Timur (1973) sampai sekarang dia sudah
berhadapan dengan kenyataan sederhana: Perlu diketahui secara lebih jelas,
bahwa terdapat banyak perbedaan yang mendalam dan pundamental antara
kepercayaan dalam masyarakat Ata Lio dengan yang dimuat dalam Alkitab Ibrani (
PL) dan karya Apostolik ( PB).Dalam tradisi yahudi Kristen, Allah mewujudkan
diri-Nya sebagai penyelamat, sedangkan Ata Lio menghadapi yang ilahi sebagai
kehadiran yang kreatif.
Pokok penelitian teologis Yewangoe ialah
tipe-tipe interaksi antara situasi sosio- politik ekonomi yang memprihatinkan
dengan rasa keberagamaan yang khas, Asia Yewangoe merumuskan pokok perhatiannya
sebagai berikut, bagaimana gereja-gereja di Asia sekarang ini menghadapi
realitas-realitas. Tujuan karya Theologia cruscis in Asia adalah bagaimana orang-orang Kristen Asia
memahami penderitaan dalam suatu stuasi yang dicirikan oleh kemiskinan yang
mencolok dalam keberagamaan yang multi –wajah. Tiada yang patut kita lakukan
tercapai tuntas dalam masa hidup kita, maka kita harus ditebut oleh harapan tiada
yang benar, indah ataupun baik menjadi
punah maknanya dalam konteks sejarah yang langsung; maka kita harus diluputkan oleh iman. Tiada
sesuatu yang kita perbuat, betapapun luhurnya dapat ditunaikan sendiri maka
kita mesti diselamatkan oleh kasih.
World –View ini dapat memberikan satu
wawasan, satu proses, satu falsapah dasar yang dapat dijadikan akar serta
kerangka dasar dari semua ilmu serta usaha manusia yang lain. Rapuh seperti
Embun – kesejukan serta kesegarannya dapat member rasa nikmat kepada siapa yang
yang dengan tenang memandang, merenungkan atau bahkan larut kedalamnya pada
fajar menyingsing. Embun, juga dapat diinjak dengan kaki kasar yang sedang
sibuk mencari makanan babi. Masyarakat Nusa Tenggara mencipakan falsafah hidup
dan memandang dunia dalam spektrumnya. Falsafa ini telah teruji dan mampu
bertahan selama 20.000 tahun.
Salah satu cara untuk menyerap kedalam
dunia masyarakat kecil dan menghayati symbol-simbol budayanya ialah bersemedi
dan membiarkan tata symbol budaya menjadi ungkapan hidup batinia. Dalam hidup
yang singkat ini kita hanya sempat mengembangkan sedikit potensi diri. Hanya
tinggal kemungkinan untuk terus mengembangkan kekuatan batin supaya dapat
membawa daya potensi itu kedalam
realitas sehari-hari maka kita perlu:
-
Keyakinan bahwa dalam batin ada
sumber Air hidup yang siap timba
-
Kerelaan ntuk bersiara dalam
lubuk hati
-
Jiwa petualang yang berani
meluangkan waktu dan tenaga untuk
menemukan sumber Air Hidup dalam batin.
Batin tidak terpisah dari badan; batin memberi
arah dan makna pada badan, serta badan member pengalaman dan bentuk pada
hidupnya. Dalam meditasi simbolik dia berkomunikasi dengan bati melalui
meditasi simbolik segala kesadaran berpokus pada hati dalam hati, yang member
arti dan makna pada seluruh dirinya.
Selama bertugas dipedalaman,
sekitar tiga minggu, setiap bulan dia mengikuti irama desa , pada awalnya ia
tergoda dengan kebosanan kemudian dia mengarahkan diri pada irama dusun. Selama
beberapa tahun irama petani lahan kering berulang-ulang muncul dalam dirinya,
bagaikan mantra terciptalah suatu liturgia horarum yang bernafaskan kepercayaan
religious- cultural masyarakat setempat. Warisan masmur Ibrani serta asan kaum
muslimin ikut mengiringi nafas doa hari ini. Orang –orang Lio telah menciptalkan
kebudayaan religiusm yang rapuh, tetapi mereka memiliki Iman yang kokoh, Iman
kaum pejuang dan tertindas, dimana
kemanusiaan yang terluka dan dibawah pada harapan baru. Dia datang untuk sebuah
penginjilan danmenemukan diriku yang telah terinjili melalui kemurnian
pandangan religious- cultural dan kerapuhan masa kini yang tak pasti. Orang Lio
membuka batinnya musim berganti musim hambatan demi hambatan untuk menemukan
kembali roh yang setia menanti dalam
batin dan menatap kemahabesaran Kristus yang mendesak kita untuk terus melangka
maju.
Di Indonesia Timur perjumpaan
antara agama dan keberagamaan asli dengan gereja Kristen yang terjadi sejak
kedatangan misionaris : Demikian pada
abad pertengahan ke- 16 dan para pendeta Injili pada awal abad berikutnya.
Upaya membangun gereja dimulai kembali sejak pertengahan abad ke-19 ( sejak tahun 1859), dan baru menjadi
lebih intensif lagi sejak perang dunia pertama ( sejak 1950). Perjumpaan itu
lebih banyak merusak struktur dan institusi kebudayaan agama asli lokal.
Didalam proses penggrusakan itu, kehadiran gereja juga hidupnya menjadi bagian
dari suatu proses sosial, ekonomi, politik yang lebih besar , perjumpaan itu
terjadi sebagai suatu bentrokan kebudayaan politik ekonomi dan sistim agama
serta pandangan dunia.
Disini dia mengawali uraian
dengan isu tahunan pemenggalan kepalah
anak kecil dan akan mengakhirinya dengan harapan semoga isu tahunan itu
nantinya diganti dengan cerita lain, yaitu kembalinya si anak hilang . Anak
kecil sebagai tumpuan dunia desa yang masih rapuh, harus keluar kedunia kota.
Ketika perjumpaan pada kelompok masyarakat kelompok basis berlangsung kreatif,
lama-kelamaan ia menjadi cukup kuat untuk mengantar masuk cerita tentang si anak yang telah kembali
kerumah. Ia sudah cukup berubah, terdidik, mengecap kemajuan , namun sekali
lagi dia harus kembali kekampung. Maka misi yang sebenarnya adalah
mentranspormasikan legenda pemenggalan kepala kedalam nyanyian yang
mengungkapkan kerinduan si anak kembali kerumahnya. Dalam transpormasi
penghancuran pada pembaharuan Iman Biblis dan saripati paradigm asli dipertautkan dan pada titik inilah misi akan
ditemukan dan Kristus yang dpat lahir.
pengungkapan jati diri suatu kelompok
muncul takkala masyarakat tersebut berinteraksi dengan kelompok manusia lain.
Masing-masing pihak menetapkan identitas sosialnya dengan menentukan batas antara orang dalam
dengan orang luar. Lingkup-lingup budaya Indonesia sudah sekian lama saling
mempengaruhi dan dengan demikian saling memberi makna dan membentuk jati
dirinya. Ciri-ciri pengaruh timbale-balik antara kelompokmenentukan cirri
masing-masing ( identitas seperti yang diungkapkan orang luar), serta
ciri-ciri penentuan dirinya ( identitas
seperti yang diungkapkan anggota sendiri). Jati diri lembaga jemaat tersingkap
dalam upacara-upacara kebaktiannya. Dikalangan Kristen khatolik tes dan symbol
liturgis ditentukan dari pusat dan dipaparkan dalam rumusan para pakar dari komisi
khusus yang membaharui rumusannya secara berkala. Tugas kita atas pengembangan
ekonomi ( golongan menengah dan
mempunyai suara dalam struktur jemaat), ialah memilih untuk mengutamakan pihak
yang mengalami kekalahan dibidang ekonomi dan tak berdaya terhadap struktur
tugas kita adalah mendampingi yaitu
menjadi kawan seperjalanan mereka yang tenga mempertahankan jati dirinya dengan sarana sosial budaya yang
seba rapuh.
Dalam refleksi tentang sumbangan agama
terhadap pengembangan sosio-ekonomi Nusa Tenggara diawali dengan mengutif
bagian pertama dari pernyataan akhir pertemuan para teolog yang diselenggarakan
oleh Biro Epanggelisasi, F ABC pada tahun 1991. Paham-paham mengilhami uraian
selanjutnya yaitu situasi sosio-politik dan sosio-budaya religious, menarik
bahwa agama Kristen entah dari reformasi
ataupun kahtolik, dianggap sebagai dunia yang merombak masyarakat NTT. Dala
soal ini lembaga agama berada dipihak pemerintah. Sebenarnya tugas dan
sumbangan yang mulia yang dapat disumbangkan agama kepada masyarakat NTT yang
telah membangun untuk memobilisasi rakyat dan mempertahankan dan mengembangkan
hak, cita-cita sreta nilai-nilai yang
paling luhur. Jika Alkitab dikalangan Kristen dan AlQuaran dikalangan
Islam direnungkan seturut pola penyadaran timbale-balik ( pergumulan kitab suci
yang sesungguhnya), niscaya metalisasi rakyat membawah dunia NTT mengacu pada
masyarakat baru.
Dalam usaha mengembalikan Alkitab
sebagai titik pusat refleksi gereja (
sola scriptura ) yang mengimani Yesus Kristus sebagai juruselamat ( sola pide)
.Pertemuan antara agama tidak hanya terjadi pada level wahyu –cow
kontenplasi atau pada level sehari-hari
dalam umat masyarakat beriman. Ada level lain yang dijuluki Panikhar sebagai
tingkat tafsiran filosofi, teologi dan teoritis. Setiap tafsiran kepad kepercayaan yang
dihayati dalam tradisi iman berifat filosopi, biologis, dan cultural.
Ketika struktur-struktur sosial dari
kebudayaan lokal terpecah, maka gereja di Indonesia Timur menjadi perwujudan
masyarakat. Gereja memberkan kesadaran
akan martabat jati diri kepada mereka. Agar tidak menjadi gereja etnis yang
tertutup, gereja harus menjadi oikumenis, baik antara gereja-gereja reformasi
khatolik dan pentakosta maupun yang mayoritas islam. Tanpa memiliki suatu
dimensi dimensi oikumenis yang jelas kita akan menjadi satu GHETTHU tampa
member pengaruh lebih lanjut dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan sosio-ekonomi dan
sosio-politik membawah stratifikasi sosial dala masyarakat. Adanya agama
masyarakat tersisi memberi kesan adanya
pemisahan sosio-keagamaan dalam masyarakat, sekurang-kurangnya ada agama
formal dan ada agama popular, yakni 2 sisi yang amat berbeda pada satu lembaga
agama tertentu. Dalam hubungannya dengan uraian diatas masa keberagamaan dapat
berfungsi sebagai sumber jati diri harga diri dan integrasi bagi orang
pinggiran dalam menghadapi situasi yang menekan.
1. Kesimpulan:
Dalam buku ini
isinya hendak meneliti kepercayaan dan prakti keagamaan orang-orang pinggiran
sebagai faktor yang berperan dalam seluruh realitas inter-kontekstual dan tran
–kontekstual ( melampaui budaya
tertentu). Dalam buku ini John mencoba merefleksikan gerakan keagamaan manusia
pinggiran dalam konteks suatu masyarakat
yang mencari nilai-nilai hidup
baru serta dalam realasi antara agama dengan perubahan sosial yang
melanda masyarakat pingiran secara
pesat.
Manusia pinggiran pada saat itu
telah mengalami kehilangan daya ekonomi
setiap kali membandingkan nasibnya dan situasinya sekarang dengannasib
dan situasi sebelumnya. Mereka kehilang daya cultural dan kehilangan daya
batiniah, mereka kehilangan daya keagamaan , akhirnya mereka mencari makana
hidup , siapa saja yang mencintai orang yang menjadi korban arus modernisasi
dan globalisasi yang relah menoleh pada
budaya dan agama manusia –manusia seperti itu. Bersama masyarakat tersisih kita
hendak mengembangkan satu kultur yang dapat menentang budaya alternative yang dijiwai oleh agama
yang terkenal.
Daya
Hening Upaya Juang John
Mansford Prior, Ph. D, PT BPK
gunung mulia: Jakarta 1999