Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 17 Oktober 2012

Umat Israel dan Gereja


Pemahaman Israel baru merupakan pemahaman gereja sebagai penerus sejarah penyelamatan Allah kepada Israel. Dalam PB, kita mendapat kesan bahwa orang Yahudi kehilangan status sebagai umat Allah. Menolak Anak Allah dan gagal menghasilkan buah kerajaan Allah. Gereja sebagai Israel baru dengan pemahaman sebagai: dalam PB gereja digambarkan dengan istilah Ekklesia. PB mengutip teks PL yang  digenapi dalam Kristus sebagai realitas bangsa Israel. Galatia 6:16; semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. Ayat tersebut merujuk kepada Israel baru (gereja). ungkapan ini menunjukkan Yahudi yang diperbarui. Hal ini menyangkut tentang masa depan serta Israel sebagai milik Allah. Roma 9:6-8; tidak semua orang Israel adalah umat Allah dan hal itu diambil alih oleh gereja. Israel tetap umat Allah walaupun umat tidka setia.
Dalam konteks PL Allah mengeraskan hati umat Israel sebagai hukuman atas ketidak taatan mereka. Paulus menggunakan ilustrasi roti persembahan dan pohon serta cabang-cabangnya. Orang Kristen mendapat bagian dalam anugerah yang ditolak oleh orang Israel. Gereja adalah kelanjutan dari umat Allah dalam PB. Karena Israel menolak Tuhan sehingga Paulus tidak segan melayani bangsa lain. Keselamatan sebagai bangsa Israel nyata walaupun terpisah dengan orang Kristen. Pembantaian misalnya orang Yahudi terjadi pada abad ke-20 sebagai sentiment terhadap orang Yahudi. Pembantaian yang terjadi pada abad modern menjadi tanda Tanya, mengapa terjadi pembunuhan ditengah kemajuan teknologi. Allah hadir tersembunyi dalam penderitaan manusia. Kemesiasan Yesus dipertahankan lewat kebangkitanNya dari antara orang mati (Rm. 1:4). Umat Israel masih mengambil bagian dalam sejarah keselamatan. Umat Allah mengoreksi posisi hermeneutis dalam pembacaan kitab PL. PL adalah kitab suci orang Yahudi, jauh sebelum PB. Orang Yahudi memiliki firman Tuhan yang berbicara kepada mereka dalam kenyataan dan sejarah perjanjian lama. PL harus dipahami dalam orientasi kerjasama yang baik antara Kristen dan Yahudi. Talmud dan Midras adalah penghubung dengan penggenapannya dalam perjanjian baru. 
Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama,  Yongki Karman, 105-, Jakarta: BPK Gunung Mulia

Rabu, 10 Oktober 2012

Perjalanan Seorang Pewarta Injil Lintas Budaya


Manusia Tenggara adalah manusia modern, dunia mereka tidak terlepas dari kawasan Indonesia timur, Asia tenggara dan segala arus zaman yang ada. Disini John mencoba meafsirkan dunia Nusa tenggara dalam bahasa simbolis setempat. Manusia nusa tenggara , seperti umat manusia pada umumnya mengutamakan realitas sehari-hari yang disebut peter Berger sebagai dunia harian. Dunia harian itulah yang menjadi pusatr perhatian dia yang pertam karena justru perjuangan sehari-hari menimbulkan keprihatinan utama masyarakat setempat. Dalam upaya menyerap situasi harian tersebut, pintu masuk bagi dia adalah keprihatinan-keprihatinan utama masyarakat – kebutuhan-kebutuhan mereka, dan tantangan yang berat yang mereka hadapi, karena keprihatinan yang timbul dalam memperjuangkan hidupnya, maka manusia Nusa Tenggara tidak membatasi dunia kini dan disini. Jadi simbol-simbol budaya , upacara-upacara serta mitos-mitos masyarakat member makna, arah dan integritas pada dunia progmatis sehari-hari, dalam realitas nusa tenggara symbol, upacara dan mitos  itu berasala dari dunia budaya asli dan dunia social modern. Dalam mengambil perspektif orang tersisih, dia juda mencoba mendekatkan dunia harian progmatis dengan dunia simbolik keagamaan. Selam berada di Indonesia Timur (1973) sampai sekarang dia sudah berhadapan dengan kenyataan sederhana: Perlu diketahui secara lebih jelas, bahwa terdapat banyak perbedaan yang mendalam dan pundamental antara kepercayaan dalam masyarakat Ata Lio dengan yang dimuat dalam Alkitab Ibrani ( PL) dan karya Apostolik ( PB).Dalam tradisi yahudi Kristen, Allah mewujudkan diri-Nya sebagai penyelamat, sedangkan Ata Lio menghadapi yang ilahi sebagai kehadiran yang kreatif.
Pokok penelitian teologis Yewangoe ialah tipe-tipe interaksi antara situasi sosio- politik ekonomi yang memprihatinkan dengan rasa keberagamaan yang khas, Asia Yewangoe merumuskan pokok perhatiannya sebagai berikut, bagaimana gereja-gereja di Asia sekarang ini menghadapi realitas-realitas. Tujuan karya Theologia cruscis in Asia  adalah bagaimana orang-orang Kristen Asia memahami penderitaan dalam suatu stuasi yang dicirikan oleh kemiskinan yang mencolok dalam keberagamaan yang multi –wajah. Tiada yang patut kita lakukan tercapai tuntas dalam masa hidup kita, maka kita harus ditebut oleh harapan tiada yang benar, indah ataupun baik  menjadi punah maknanya dalam konteks sejarah yang langsung;  maka kita harus diluputkan oleh iman. Tiada sesuatu yang kita perbuat, betapapun luhurnya dapat ditunaikan sendiri maka kita mesti diselamatkan oleh kasih.
World –View ini dapat memberikan satu wawasan, satu proses, satu falsapah dasar yang dapat dijadikan akar serta kerangka dasar dari semua ilmu serta usaha manusia yang lain. Rapuh seperti Embun – kesejukan serta kesegarannya dapat member rasa nikmat kepada siapa yang yang dengan tenang memandang, merenungkan atau bahkan larut kedalamnya pada fajar menyingsing. Embun, juga dapat diinjak dengan kaki kasar yang sedang sibuk mencari makanan babi. Masyarakat Nusa Tenggara mencipakan falsafah hidup dan memandang dunia dalam spektrumnya. Falsafa ini telah teruji dan mampu bertahan selama 20.000 tahun.
Salah satu cara untuk menyerap kedalam dunia masyarakat kecil dan menghayati symbol-simbol budayanya ialah bersemedi dan membiarkan tata symbol budaya menjadi ungkapan hidup batinia. Dalam hidup yang singkat ini kita hanya sempat mengembangkan sedikit potensi diri. Hanya tinggal kemungkinan untuk terus mengembangkan kekuatan batin supaya dapat membawa  daya potensi itu kedalam realitas sehari-hari maka kita perlu:
-          Keyakinan bahwa dalam batin ada sumber Air hidup yang siap timba
-          Kerelaan ntuk bersiara dalam lubuk hati
-          Jiwa petualang yang berani meluangkan waktu  dan tenaga untuk menemukan sumber  Air Hidup dalam batin. Batin tidak terpisah dari badan; batin memberi  arah dan makna pada badan, serta badan member pengalaman dan bentuk pada hidupnya. Dalam meditasi simbolik dia berkomunikasi dengan bati melalui meditasi simbolik segala kesadaran berpokus pada hati dalam hati, yang member arti dan makna pada seluruh dirinya.
Selama bertugas dipedalaman, sekitar tiga minggu, setiap bulan dia mengikuti irama desa , pada awalnya ia tergoda dengan kebosanan kemudian dia mengarahkan diri pada irama dusun. Selama beberapa tahun irama petani lahan kering berulang-ulang muncul dalam dirinya, bagaikan mantra terciptalah suatu liturgia horarum yang bernafaskan kepercayaan religious- cultural masyarakat setempat. Warisan masmur Ibrani serta asan kaum muslimin ikut mengiringi nafas doa hari ini. Orang –orang Lio telah menciptalkan kebudayaan religiusm yang rapuh, tetapi mereka memiliki Iman yang kokoh, Iman kaum pejuang  dan tertindas, dimana kemanusiaan yang terluka dan dibawah pada harapan baru. Dia datang untuk sebuah penginjilan danmenemukan diriku yang telah terinjili melalui kemurnian pandangan religious- cultural dan kerapuhan masa kini yang tak pasti. Orang Lio membuka batinnya musim berganti musim hambatan demi hambatan untuk menemukan kembali roh yang setia  menanti dalam batin dan menatap kemahabesaran Kristus yang mendesak kita untuk terus melangka maju.
Di Indonesia Timur perjumpaan antara agama dan keberagamaan asli dengan gereja Kristen yang terjadi sejak kedatangan misionaris : Demikian pada  abad pertengahan ke- 16 dan para pendeta Injili pada awal abad berikutnya. Upaya membangun gereja dimulai kembali sejak pertengahan abad  ke-19 ( sejak tahun 1859), dan baru menjadi lebih intensif lagi sejak perang dunia pertama ( sejak 1950). Perjumpaan itu lebih banyak merusak struktur dan institusi kebudayaan agama asli lokal. Didalam proses penggrusakan itu, kehadiran gereja juga hidupnya menjadi bagian dari suatu proses sosial, ekonomi, politik yang lebih besar , perjumpaan itu terjadi sebagai suatu bentrokan kebudayaan politik ekonomi dan sistim agama serta pandangan dunia.
Disini dia mengawali uraian dengan isu tahunan  pemenggalan kepalah anak kecil dan akan mengakhirinya dengan harapan semoga isu tahunan itu nantinya diganti dengan cerita lain, yaitu kembalinya si anak hilang . Anak kecil sebagai tumpuan dunia desa yang masih rapuh, harus keluar kedunia kota. Ketika perjumpaan pada kelompok masyarakat kelompok basis berlangsung kreatif, lama-kelamaan ia menjadi cukup kuat untuk mengantar masuk  cerita tentang si anak yang telah kembali kerumah. Ia sudah cukup berubah, terdidik, mengecap kemajuan , namun sekali lagi dia harus kembali kekampung. Maka misi yang sebenarnya adalah mentranspormasikan legenda pemenggalan kepala kedalam nyanyian yang mengungkapkan kerinduan si anak kembali kerumahnya. Dalam transpormasi penghancuran pada pembaharuan Iman Biblis dan saripati paradigm asli  dipertautkan dan pada titik inilah misi akan ditemukan dan Kristus yang dpat lahir.
pengungkapan jati diri suatu kelompok muncul takkala masyarakat tersebut berinteraksi dengan kelompok manusia lain. Masing-masing pihak menetapkan identitas sosialnya  dengan menentukan batas antara orang dalam dengan orang luar. Lingkup-lingup budaya Indonesia sudah sekian lama saling mempengaruhi dan dengan demikian saling memberi makna dan membentuk jati dirinya. Ciri-ciri pengaruh timbale-balik antara kelompokmenentukan cirri masing-masing ( identitas seperti yang diungkapkan orang luar), serta ciri-ciri  penentuan dirinya ( identitas seperti yang diungkapkan anggota sendiri). Jati diri lembaga jemaat tersingkap dalam upacara-upacara kebaktiannya. Dikalangan Kristen khatolik tes dan symbol liturgis ditentukan dari pusat dan dipaparkan dalam rumusan para pakar dari komisi khusus yang membaharui rumusannya secara berkala. Tugas kita atas pengembangan ekonomi  ( golongan menengah dan mempunyai suara dalam struktur jemaat), ialah memilih untuk mengutamakan pihak yang mengalami kekalahan dibidang ekonomi dan tak berdaya terhadap struktur tugas kita adalah mendampingi  yaitu menjadi kawan seperjalanan mereka yang tenga mempertahankan  jati dirinya dengan sarana sosial budaya yang seba rapuh.
Dalam refleksi tentang sumbangan agama terhadap pengembangan sosio-ekonomi Nusa Tenggara diawali dengan mengutif bagian pertama dari pernyataan akhir pertemuan para teolog yang diselenggarakan oleh Biro Epanggelisasi, F ABC pada tahun 1991. Paham-paham mengilhami uraian selanjutnya yaitu situasi sosio-politik dan sosio-budaya religious, menarik bahwa agama Kristen entah dari reformasi  ataupun kahtolik, dianggap sebagai dunia yang merombak masyarakat NTT. Dala soal ini lembaga agama berada dipihak pemerintah. Sebenarnya tugas dan sumbangan yang mulia yang dapat disumbangkan agama kepada masyarakat NTT yang telah membangun untuk memobilisasi rakyat dan mempertahankan dan mengembangkan hak, cita-cita sreta nilai-nilai yang  paling luhur. Jika Alkitab dikalangan Kristen dan AlQuaran dikalangan Islam direnungkan seturut pola penyadaran timbale-balik ( pergumulan kitab suci yang sesungguhnya), niscaya metalisasi rakyat membawah dunia NTT mengacu pada masyarakat baru.
Dalam usaha mengembalikan Alkitab sebagai titik pusat refleksi  gereja ( sola scriptura ) yang mengimani Yesus Kristus sebagai juruselamat ( sola pide) .Pertemuan antara agama tidak hanya terjadi pada level wahyu –cow kontenplasi  atau pada level sehari-hari dalam umat masyarakat beriman. Ada level lain yang dijuluki Panikhar sebagai tingkat tafsiran filosofi, teologi dan teoritis.  Setiap tafsiran kepad kepercayaan yang dihayati dalam tradisi iman berifat filosopi, biologis, dan cultural.
Ketika struktur-struktur sosial dari kebudayaan lokal terpecah, maka gereja di Indonesia Timur menjadi perwujudan masyarakat.  Gereja memberkan kesadaran akan martabat jati diri kepada mereka. Agar tidak menjadi gereja etnis yang tertutup, gereja harus menjadi oikumenis, baik antara gereja-gereja reformasi khatolik dan pentakosta maupun yang mayoritas islam. Tanpa memiliki suatu dimensi dimensi oikumenis yang jelas kita akan menjadi satu GHETTHU tampa member pengaruh lebih lanjut dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan sosio-ekonomi dan sosio-politik membawah stratifikasi sosial dala masyarakat. Adanya agama masyarakat tersisi memberi kesan adanya  pemisahan sosio-keagamaan dalam masyarakat, sekurang-kurangnya ada agama formal dan ada agama popular, yakni 2 sisi yang amat berbeda pada satu lembaga agama tertentu. Dalam hubungannya dengan uraian diatas masa keberagamaan dapat berfungsi sebagai sumber jati diri harga diri dan integrasi bagi orang pinggiran dalam menghadapi situasi yang menekan.
1.      Kesimpulan:
Dalam buku ini isinya hendak meneliti kepercayaan dan prakti keagamaan orang-orang pinggiran sebagai faktor yang berperan dalam seluruh realitas inter-kontekstual dan tran –kontekstual  ( melampaui budaya tertentu). Dalam buku ini John mencoba merefleksikan gerakan keagamaan manusia pinggiran dalam konteks suatu masyarakat  yang mencari nilai-nilai hidup  baru serta dalam realasi antara agama dengan perubahan sosial yang melanda masyarakat  pingiran secara pesat.
            Manusia pinggiran pada saat itu telah mengalami kehilangan daya ekonomi  setiap kali membandingkan nasibnya dan situasinya sekarang dengannasib dan situasi sebelumnya. Mereka kehilang daya cultural dan kehilangan daya batiniah, mereka kehilangan daya keagamaan , akhirnya mereka mencari makana hidup , siapa saja yang mencintai orang yang menjadi korban arus modernisasi dan globalisasi  yang relah menoleh pada budaya dan agama manusia –manusia seperti itu. Bersama masyarakat tersisih kita hendak mengembangkan satu kultur yang dapat menentang  budaya alternative yang dijiwai oleh agama yang terkenal.

 Daya Hening Upaya Juang John Mansford  Prior, Ph. D, PT BPK gunung mulia: Jakarta 1999

Jumat, 05 Oktober 2012

Gagasan tentang perang suci


Perang suci istilah ini membakar darah, menggelorakan antusiasme, menghidupkan faktor potensial. Istilah “perang suci” merupakan terjemahan dari kata Arab jihad,yang berarti sebentuk kekerasan diluar pengetahuan tentag ketatanegaraan dan bahkan perang sebagaimana lazimnya:terorisme, polarisasi politik, kudeta agamawan, mujahidun, tentara jihad.[1] Wright berkesimpulan bahwa perang suci islam adalah ancaman terbesar bagi status quo di timur tengah.[2]
Tujuan perang suci adalah harus suci(dan tidak ada tujuan yang lebh suci slain agama), bahwa perang ini dilakukan atas perintah Tuhan dan pertolongan Tuhan, bahwa peserta perang harus beriman dan musuh tentulah kafir, bahwa perang itu dilakukan tanpa ampun. (Bainton 1960, 148). Dalam islam, Robin Wright menggambarkan jihad itu sebagai perang salib versi islam. Makna jihad secara fundamental bukanlah perang melainkan upaya eras ruhani “dijalan Allah”(mis QS 22:78). Kaum isslam ketika diperintahkan untuk berperang dalam Alquran ditulis qital (perang) bukan jihad dari kata yang sama QS2:190: perangilah {qatilu}dijala Allah orang yang memerangin kamu (bnd QS 4:91-93).[3]
Sepuluh makna perang suci :
*      Perang suci adalah peang yang dilakukan atas perintah Tuhan. Konsepsi islam tentang jihad adalah sebagai sebagai awaban atas perintah Tuhan kepada umat manusia untuk tundu kepadaNya tanggapan ini tidak melibatkan perintah mengangkat senjata.
*      Perang suci adalah perang yang dilakuan atas nama Tuhan oleh wakilNya yang mendapat otoritas.
*      Perang suci adalah perang yang dilakukan oleh Tuhan sendiri.
*      Perang suci adalah perang yang dilakukan untuk membela agama dari gangguan musuh agama dari luar maupun dari dalam.
*      Perang suci adalah perang yang dilakukan untuk mendakwakan agama yang benar atau menegakkan tatanan social yang segaris dengan otoritas Tuhan.
*      Perang suci adalah perang yang dilakuakan agar agama diaati atau menghukum penyimpangan.
*      Perang suci adalah perang dimana partisipannya  itu sendiri memiliki “kesucian” ritual dan moral.
*      Perang suci sebagai perjuanga militant membela agama dengan megangkat senjata dan dengan cara non kekerasan.
*      Perang suci adalah perang dibawah kepemimpinan religius.
*      Perang suci sebagai fenomena yang diakui selama atau setelah sebagai “mukjizat mutlak”.[4]
Musuh-mush yang harus diperangi dengan melancarkan serangan adalah
Ø  Musuh, orang yang harus diperangi adalah orang kafir yaitu merea yang tidak percaya kepada Allah.
Ø  Diantara musuh, hanya kaum pria dewasa yaitu mereka yang telah melewati masa remaja.
Ø  Sarana untuk melukai musuh dibatasi dengan dua cara : dengan larangan berbuat curang dan berkhianat.



[1] Perang suci atas nama Tuhan, James Turner Johnson, 1997, Pustaka Hidaya, Bandung, hal 55
[2] Ibid hal 57
[3] Ibid hal 63-65
[4] Ibid hal 67-73

Dimensi Hidup Manusia


Dimensi praktis kehidupan manusia ada lima yang berlatar belakang budaya.
Ø  Sikap terhadap hidup
Ada tiga pemahaman hakekat hidup manusia adalah jahat. Karena itu hidup duniawi dihindari yang kedua memandang hidup manusia adalah baik karena itu dinikmati sekarang. Yang ketiga mamahami hidup hidup anusia potensialjahat dan baik. Karena it hidup bukan peseta tetapi perjalanan berbahaya. Weber menyebutkan sikap terhadap hidup ada dua yang pertama terarah kepada hidup ini dan terarah keluar hidup ini.
Ø  Sikap terhadap kerja
Kerja menurut istilah weber suatu panggilan atau suatu kewaajiban yang bersifat religius. Kerja adalah sarana untuk tujuan yang lain, koentjaraningrat menunjukkan bahwa bagi para petani kerja adalah pemenuhan kebutuhan hidupsehari-hari.
Ø  Sikap terhadap waktu
Sekarang, dulu dan masa akan datang kebenaran adalah untuk dipertahankan  dan dipelihara dan tidak dicari. Identitas itu untuk ditemukan kembali tidak dilahirkan. Tradisi adalah untuk dipertahankan bukan dinilai dan kalau perlu diubah. Keselarasan adalah untuk dipulihkan bukan untuk dibentuk kembali secara baru setiap kali.
Ø  Sikap terhadap alam sekitar
Ada tiga sikap tehadap alam sekitar
           Pertama : memandang alam begitu berkuasa dan luar biasa
Kedua : Memandang alam tidak sebagai subyek melainkan obyek yang harus ditundukkan.
Ketiga : manusia dan alam setara yang saling bergantung dan terhubung bukan disembah dan dieksploitasi.
Ø  Sikap terhadap sesama
Ada dua pengaturan hubungan individu dalam masyarakat yaitu kolektivias dan individual.[1]
Kemajuan tentang teoritis yang penting.
Melukiskan konsep yang dipergunakannya. Sebuah tradisi intelektual yang sangat terbatas.
Studi antropologis tentang agama mengalami stagnasi umum dengan demikian akan menghasilkan banyak teori tema klasik. Kebudayaan yaitu atau kepribadian. Konsep tentang pola dalm bentuk symbol. Paradigma itu adalah symbol sacral yang berfungsi menyintesiskan suatu etos bangsa yaitu nada, ciri dan kualitas kehidupan mereka, moralnya dan gayanya estetis dan pandangan dunia.
Mereka yaitu gambaran bertindak gagasan komprehensif mengenai tatanan.
Suatu agama yaitu….
v  Sebuah system symbol-simbol yang berlaku.
v  Menetapka suasana hati dan motifasi kuat yang meresapi yang lama dalam diri manusia.
v  Merumuskan konsep mengenai suatu tatananumum mengenai eksistensi.
v  Membungkus konsep ini dengan pancaran faktualitas.
v  Suasana hati dan motivasi itu tampak khas realistis.
Sebuah system symbol yang berlaku untuk awan gelap adalah tanda-tanda simbolis hujan akan datang.[2]
Pola kebudayaan yaitu system kompleks symbol, dipelajari. Cirri generic yaitu sumber yang ekstinsik. Dalam bentuk model untuk yang terdiri dari entitas-entitas proses merangsang meniru dan menyejajarkan.
Tujuan analisis pertama yaitu manipulasi struktur symbol sehingga struktur secara lebih dekat sejajar dengan sistim non simbolis yang disebut model dari kenyataan.
Kedua manipulasi sistim nonsimbolis yang berhubungan dengan sistim simbolis yang membangun spesifikasi dan teori hidraulis.
Symbol sacral membentuk iklim dunia dengan menarik si penyembah dengan disposisi tertentu yaitu kecenderungan kemampuan dan lain-lain.
Dua jenis disposisi yang berbeda yaitu kegiatan religius berkaitan gerak hati dan motivasi.
Merupakan kualitas vektorial yang hanyalah sacral motif yang terarah secara keseluruhan kepelaksanaan yang bersifat sementara.
Makna segi kenyataan yang tersusun bertaraf dalam kasus jenis timbal balik dalam pengetian sombolisme religius eksistensi manusia baik peneguhan maupun pengingkaran yang dilakukan.
Dari semua masalah diseputar usaha menjalankan analisis antropologis atas agama sangat sulit untuk dihindari.
Symbol religius sepanjang masa tertinggi yaitu aktualitas inheren tentang tekanan melepaskan diri.[3]



[1] Eka Darmaputra, Pancasila dan modernitas suatu tinjauan etis budaya,hal 93, 99
[2] Clifort Geertz dan  Budi Santoso, kebudayaan dan agama, hal 1
[3] Ibid hal 10