Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 29 Agustus 2012

LINGKARAN PASTORAL



Lingkaran pastoral mengikuti metode etnografi artinya mengikuti kegiatan secara kronologis dan statis. Kegiatan yang dilakukan terjadi terus-menerus antara praksis dan aksi yang tanpa berhenti. Observasi terhadap warga jemaat terkait dengan apa yang dirasakan dan cita-cita apa yang belum tercapai. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam mengenal masalah sosial gereja yakni: pertanyaan deskriptif sebagai cara untuk mengumpulkan data. Pertanyaan terstruktur sebagai cara untuk memfokuskan pengamatan. Pertanyaan kontras diajukan untuk memperjelas hal yang positif. Langkah observasi budaya dilakukan dengan analisis domain yang dipakai untuk melihat budaya sebagai kesatuan yang utuh. Analisis domain digunakan untuk mengakaji istilah yang digunakan dalam sebuah kelompok. Refleksi teologis merupakan sebuah observasi pada situasi aktual dengan beberapa metode yakni: perspektif empiris, teoritis, interelasi kritis, gagasan ideal, perencanaan pastoral, menetapkan kebijakan umum, perencanaan strategi, rencana kegiatan, dan pelaksanaan kegiatan.

            Metodologi penelitian yang dikemukakan dalam bacaan, memaparkan metode yang digunakan pelayan untuk mengembangkan pelayanan. Sebuah studi terhadap tema-tema budaya dalam sebuah gereja. Dari semua kegiatan pencarian informasi tentang keadaan budaya dan sosial yang terpenting adalah implementasi terhadap apa yang digumuli tentang rencana kegiatan. Penelitian terhadap pergeseran budaya serta warisan budaya yang masih ada dalam gereja. Dengan mengadakan analisis dengan metode yang ada, maka pemahaman terhadap siatuasi yang dialami warga jemaat dapat ditindaklanjuti melalui rencana atau strategi untuk menjadikan kegiatan yang dilakukan itu sebagai bahan refleksi. Dengan mengadakan observasi terhadap ketegangan antara norma gereja dan praktek kehidupan berjemaat maka kita dapat menemukan kesenjangan yang ada. Pertanyaan yang diajukan kepada anggota jemaat dapat menolong kita untuk menemukan makna pada tingkah laku budaya misalnya budaya Toraja. Observasi dengan analisis sosial dapat menolong kita untuk menemukan pola tingkah laku budaya dan perspektif anggota jemaat. Metode dalam lingkaran pastoral bukanlah satu-satunya pendekatan terhadap situasi yang terjadi. Namun dapat menolong pendeta untuk memahami masalah yang dihadapi jemaat dan dihadapinya. Dengan mendialogkan situasi kekianian gereja dan tradisi gereja dapat membangun pemahaman yang relevan bagi masyarakat saat ini. Lingkaran pastoral adalah lingkaran yang tidak pernah berhenti dalam menemukan, merefleksikan dan melaksanakan.

Kamis, 23 Agustus 2012

Kehidupan Paulus



Tiga pembelaan Stefanus:1) Kebenaran Allah untuk semua orang dan bukan hanya untuk orang Yahudi saja; 2) Pusat penyembahan tidak hanya di Bait Allah.  Allah bisa disembah di mana saja; 3) Orang Yahudi terus menrus menganiaya utusan Allah (Barclay, Duta Bagi Kristus, 48)

Pertumbuhan Gereja Mula-Mula:
1.      Usaha-usaha misi
2.      Kepemimpinan Gereja
3.      Pola-pola ibadah: tata ibadah, perjamuan Tuhan, baptisan, Hari Minggu

Pendahuluan:
            Siapakah Paulus?  Ada gambaran tentang dia: “Ia berperawakan kecil, separo botak, dengan kaki bengkok, tubuh yang kuat, kedua matanya hampir bertemu dan hidungnya agak mirip kakaktua” (Packer, Dunia PB, 193).  Baca juga II Korintus 10:10: “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.”

Paulus adalah seorang Farisi.  Banyak orang Farisi yang menjadi Kristen, namun dia satu-satunya yang terkenal. Tentang latarbelakangnya, banyak orang meragukan bahwa ia pernah belajar pada rabbi Gamaliel (Kis 2:3; 26:4).  Alasannya dengan melihat tulisannya maka lebih  bercermin kepada pendidikan Yahudi Helenis daripada Yahudi Palestina.  Ia orang Yahudi namun besar di kota Tarsus di prov. Sisilia serta memiliki kewarganegaraan Romawi (Kis. 22:3, 27).  Dia dibesarkan di Tarsus dan kemudian pada masa mudanya dia ke Yerusalem.  Kedatangannya ke Yerusalem menunjukkan betapa dia taat kepada agama Yahudi.  Latar belakang ganda ini sangat menolong dia dalam menjabarkan Injilnya.  Ia menguasai bahasa Yunani, Aram, dan Ibrani.  Secara sosial dia dihormati karena status yang dimilikinya.  Namun kita harus ingat bahwa dia bukanlah seorang filsuf, karenanya dalm penafsiran jangan melebihkan latar belakang hellenisnya (Suharyo, Dunia PB, 115).  Ada yang beranggapan bahwa Paulus lebih kepada seorang pewarta atau penyebar ajaran filsafat dan moral dari pemimpin religius.  Alasannya suratnya banyak berisi pengetahuan dan keyakinan daripada upacara atau ibadat Kristen (ibid.).

            Ia diharapkan oleh orang tuanya untuk menjadi rabbi (guru Hukum Taurat).  Itu sebabnya sejak kecil dia sudah belajar  Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) di sinagoge setempat.  Ia juga belajar membuat tenda sebagai bagian dari kurikulum mereka.  Ini sangat menolong Paulus nantinya dalam pelayanannya, di mana dia sambil melayani juga bekerja sebagai tukang tenda. 

            Pada mulanya Paulus dikenal sebagai penganiaya Kristen.  Ia hadir ketika Stefanus dibunuh (Ada argumen bahwa dia hanya melihat karena sudah mulai ada simpati terhadap kekristenan).  Namun dia merada bahwa kekristenan sudah harus dibasmi.  Maka dia pergi ke Damsyik.  Damsyik adalah kota merdeka di dalam kerajaan Nabatea.  Dulu Damsyik menjadi kota pelarian bagi orang Yahudi karena penganiayaan di Yerusalem (berdasarkan Fragmen Zadok, naskah yang berhubungan dengan naskah Laut Mati).  Banyak imigran Yahudi tinggal di sana.  Karena ini daerah pelarian, maka orang Kristen pun memakainya sebagai tempat pelarian.  Paulus mengejarnya ke sana.  Di sana Paulus bertemu dengan Kristus.  Ada tiga laporan tentang pertobatan Paulus: Kis 9:3-19; Kis 22:6-16; Kis 26:9-23.  (Lihat 9:7;22:9; 26; juga 9:4;22:10;26:14; Juga 9:6; 22:10;26:16).  Mengapa berbeda? Karena maksud yang berbeda pada masing-masing laporan.  Pertobatan Paulus bukanlah dari sestau yang kosong.  Para ahli sepakat bahwa Ia pasti tahu banyak tentang kehidupan dan pengajaran Yesus dari Nazaret.  Mungkin dia mengenal Yesus secara pribadi (2Kor 5:16).  Soal PL: Paulus sebagai orang Farisi lebih menekankan kepada hukum moralitas dan bukan kepada hukum-hukum kurban.

ditulis Oleh Pdt. DR. Daniel Ronda.

Senin, 13 Agustus 2012

ELIADE


Menurut Eliade ada 3 hal yang terkesan dalam hidupnya selama ia di India yaitu jalan hidup bisa berubah disebabkan apa yang dinamakan pengalaman sacramental, symbol adalah kunci utama memasuki kehidupan spiritual dan semua itu hanya bisa dipelajari di anak benua India. Karena disana terdapat tulisan agama rakyat yang sangat kaya dan teramat kuat.
            Dan Eliade membagi atas dua ide dalam bentuk aksioma yang menjadi pondasi seluruh banguna teorinya yaitu :
1.      Posisinya sangat berseberangan dengan kau reduksionis. Eliade menegaskan bahwa fenomena agama harus dipahami sebagaimana dia tumbuh dalam tahapan-tahapan dirinya sendiri. Dan hal ini akan dilaksanakan kalau agama dipelajari sebagai sesuatu yang religius. Mencoba memahami esensi agama hanya melalui beberapa fenomena seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, bahasa, seni, atau bidang-bidang lain.
2.      Lebih menunjuk pada metode yang dipakai, dimana agama adalah sebatas psikologi atau social belaka.
Eliade sangat berempati mengatakan seseorang yang hanya tahu satu hal, berarti dia tidak tahu apa-apa, jadi tidak ada pembandingnya tidak ada ilmu yang benar-benar ilmu.
            Eliade mengatakan bahwa para sejarahwan harus “keluar” dari peradaban moderen, karena hanya dapat menjelaskan sebagian kecil dan bersifat kekeliruan. Dari perjalanan sejarah dimuka bumi ini sebagian bekal untuk masuk “kedunia arkhais” masyarakat arkhais adalah masyarakat yang hidup dizaman pra-sejarah ataupun masyarakat tampil dengan kebudayaan terbelakang yang hidup saat ini.

AGAMA DAN KEPRIBADIAN


SIGMUND FREUD

         Freud adalah seorang dokter, khususnya dalam bidang riset tentang otak manusia. Penelitiannya tentang neurology segera berkembang keberbagai bidang kajian, penyakit mental, dan teka-teki pikiran lainnya. Kemudian dia melunculkan teorinya tentang yang propokatif tentang kepribadian manusia.
         Freud dan para pengikutnya merasa telah menemukan kunci emas dari penjelasan segala hal. Analisa-analisa kejiwaan telah membuka tabir yang menutupi motif-motif pikiran dan tingkah laku manusia. Mulai kepribadian individu sampai pada kekuatan yang menciptakan dan mengendalikan peradaban manusia.
v  Teori Freudian
     Freud bertitik tolak dari tempat memulai penyelidikanny, yaitu penemuan-penemuannya yang termuat dalam buku the interpretation of dreams, dalam buku ini dia mengamati bahwa mimpi manusia selalu mengundang keingintahuan dan selalu digambarkan dalam mitos. Dia menegaskan bahwa mimpi lebih penting dari sekedar keingintahuan atau bahkan teori-teori tentang roh yang membuat kita bertanya-tanya. Dari segala sekian anggapan tentang mimpi memperlihatkan betapa banyaknya aktivis pikiran manusia dibanding yang muncul kepermukaan kehidupan sehari-hari.
            Freud menjelaskan pengalaman dialam mimpi sebagai suatu yang berbeda dari aktivitas dialam sadar maupun pra sadar, inti yang mendasar yaitu pertama : karena dia adalah sumber jasmaniah yang paling dasar, kedua : bergabungnya alam bawah sadar dengan keinginan-keinginan ini akan menciptakan ikatan luar biasa dari ide. Kesan dan emosi-emosi yang dapat dihubungkan dengan segala hal yang pernah dialami.
            Angan-angan dan emosi-emosi turun dari permukaan pikiran sadar dan kemudian masuk kealam bawah sadar maksudnya bahwa mereka secara diam-diam dalam bentuk transkrip, penglaman masa lalu itu dipaksakan masuk karena sikap dan alasan-alasan tertentu.
            Freud memilih istilah “Pelampiasan yang bijaksana” untuk menyebut mimpi-mimpi ini. Mimpi-mimpi adalah tingkatan kesadaran yang dihasilkan oleh kenyataan bahwa kita kadangkala merasakan sebuah dorongan yang sangat kuat dan berakar pada keinginan jasmani. Dan akhirnya Freud mengatakan bahwa bukanlah suatu kebetulan tentang cerita-cerita yang sering kita dengardalam mitlogi dan dongeng-dongengrakyat serta tema-tema yang muncul dalam seni, sastra, dan agama memiliki kemiripan dengan subjek dan image yang selalu dikaitkan dengan mimpi manusia. Semuanya menjadi saksi akar adanya rahasia kekuatan bawah tanah yang dimiliki alam bawah sadar.
v  Perkembangan tulisan-tulisan Freud
            Freud terus mengembangkan dan mendefenisikan teori-teorinya, ia selalu mencari dimensi-dimensi baru dan aplikasinya yang lebih luas dari ide-ide pokoknya yaitu alam bawah sadar, Oedipus kompleks, gangguan mental dan tiga kerangka dasar kepribadian manusia.
            Dalam buku Beyond the pleasure principle (1980)mendefenisi pengertian-pengertian lamanya tentang dorongan-dorongan dasar yang berpusat pada seks dan pertahanan diri. Dua hasrat yang menciptakan dan menunjang kehidupan dengan menambahkan dorongan dasar yang berbeda. Tetapi sama-sama penting yaitu dorongandengan cara terbalik dari dorongan-dorongan yang telah dikemukakan sebelumnya. Insting kematian (Thanatas) adalah dorongan yag bergerak kebelakang yang ingin mengembalikan dunia kepada keadaan semuala, kemana yang tanpa kehidupan sama sekali, inilah satu-satunya konsep yang bisa menerangkan kejadian-kejadian seperti perilaku masoetisme (masokisme) adalah paham yang menganggap kesenangan terdapat dalam penderitaan sadisme (mendapatkan kepuasan dengan menempuh penderitaan).
v  Freud dan agama
            Freud merupakan penolak yang begitu kompleks terhadap agama. Freud mengatakan dengan terus terang bahwa dia menjalani hidup semenja awal sampai akhir hayatnya sebagai seorang yang benar-benar ateis. Freud tidak menemkan satupun alas an untuk percaya kepada Tuhan sehingga ia mengnganggap ritual keagamaan tidak punya arti dan manfaat apapun dalam kehidupan ini. Karena Freud sangat yakin bahwa ide-ide agam tidak datang  dari Tuhan yang Maha Esa atau Tuhan-Tuhan yang lain. Sebab Tuhan itu memang tidak ada dan juga berasal dari suara hati dalam perenungan tentang dunia yang biasanya membawa kepada kebenaran.
            Freud menganggap kepercayaan agama sebagai kekeliruan, akama adalah takhyul. Freud dengan tegas mengatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan bapa bukanlah delusi, walaupun dia memandang pembicaraan tentang benar tidaknya doktrin keagamaan. Oleh karena itu ajaran agama merupakan pikira-pikiran dengan cirri utama yang khas dalam ajaran ajaran agama adalah pemenuhan bagi keinginan manusia yang paling tua, paling kuat dan paling penting.
            Agama yang terdapat dalam awal  sejarah manusia adalah pertanda dari sebuah penyakit dan keinginan untuk meningkatkan agama menjadi satu-satunya indikasi yang menunjukkan “kesehatan” peradaban manusia sehingga Freud mengatakan bahwa agama adalah gangguan absesi manusia secara universal, sama seperti gangguan mental yang terjadi pada diri anak-anak. Agama muncul karena Qedipas kompleks karena masalah yang terjadi dengan ayah mereka. Jika anggapan ini benar, maka bisa diperkirakan bahwa meninggalkan agama niscaya akan membawa akibat total bagi proses pertumbuhan dan kita mendapati diri kita dengan keadaan yang sangat kritis ditengah-tengah fase pertumbuhan.

Minggu, 12 Agustus 2012

Agama menurut Friederich Max Muller


PENDAHULUAN

            Friederich Max Muller adalah orang yang pertama kali datang di Inggris, waktu masih muda untuk belajar tulisan-tulisan keagamaan dan kebudayaan India kuno. Max Muller ini dikagumi Karena pengetahuannya, mengenai Hinduisme kuno dan karena tulisannya tentang bahasa dan mitologi, dalam kuliah umum mereka mengusulkan disiplin ilmu baru tentang Science of Religion. Para pemikir victorian  memang telah benyak mendengar tentang sains yang bersaing dengan agama, namun ungkapan Science of Religion yang sampai ke telinga mereka tetap mengelitik rasa ingin tahu. Tentang ungkapan ini walaupun ada pertanyaan mana mngkin kepastian-kepastian iman yang telah dianut bisa dicampurkan dengan perubahan-perubahan, tetapi Max Muller mengatakan kedua-duanya bisa disatukan karena study ilmiah bisa memberikan sumbangsih kepada agama dan dia ingin membuktikan tentang “ Dia yang hanya tahu satu hal, sebenarnya tidak tahu apa-apa, sudah tiba saatnya untuk menerapkan pendekatan yang berbeda-beda, meneliti elemen-elemen bentuk prinsip-prinsip yang ditemukan dalam setiap agama.
v  Teori-teori klasik
    Teori-teori klasik ini muncul ketika para penjajah dari satu suku atau dari satu tempat melakukan penjajahan kesuku lain, memilih Tuhan yang berbeda denga apa yang dimiliki, ditempat asalnya. Herodotus (484-425) menjelaskan bahwa dewa Amon dan Horus yang dianut oleh masyarakat Yunani begitu juga dengan Euhermasus (330-260) yang mengatakan dewa-dewa yang ada dalam “sejarah” pada awalnya adalah orang-orang terpenting kemudian disembah oleh pengikut-pengikutnya.
v  Yahudi dan Kristen
       Menurut keyakinan rohaniawan Kristen ( Apostel ) dan para ahli teologi diawal pertumbuhan gereja, Tuhan mengejewantahkan diriNya dalam pribadi manusia Yesus kristus. Dengan berkembangnya agama Kristen dizaman kuno yang dipeluk oleh masyarakat Eropa, keyakinan Kristen mendominasi peradaban barat. Selama abad pertengahan ada pegecualian yang nampak saat perjuangan Kristen melawan islam selama perang salib, umat Kristen sebagai putra-putra cahaya yang menerangi putra-putra kegelapan, keindahan dan kebenaran Firman Tuhan diwakili oleh agama Kristen.
 v  Teori-teori modern.
       Berdasarkan sudut pandang kaum Deis, Max Muller dan para pengikutnya mengemukakan ide-ide mereka kepada para audiens vietanian. Mereka sepenuhya percaya bahwa sangat mungkin menjelaskan seluruh agama dan mereka yakin bahwa hal itu akan terwujud melalui penelitian yang sebagian besar bermuatan historis. Mereka menelusuri kembali jejak masa lalu untuk menemukan ide-ide dan praktek-praktek keagamaan yang pernah dilakukan manusia.
       Muller bertekad melakukan yang lebih baik dari itu karena Muller dan kawan-kawannya mempunyai nilai lebih yang diberikan oleh studi-studi arkeologi, sejarah, bahasa, mitologi, dan yang baru saja dihasilkan oleh studi etnologi dan antropologi.
v  Tujuh teori
      Dalam bab-bab ini akan diketengahkan tujuh teori paling penting tentang agama. Teori-teori ini lahir semenjak pendekatan saintifik terhadap agama mulai menggugah perhatian para ilmuwan di abad ke-19. setiap teori yang pertama-tama akan dijelaskan riwayat hidup pencetusnya kemudian dilanjutkan ide-ide kunci yang terdapat dalam karangan mereka, lalu gambaran perbedaan-perbedaan yang ditemukan sewaktu satu teori dikonfrontasikan dengan teori lain.
      Kita mulai membicarakan teori-teori para cendekiawan klasik, Tylor dan Frazer kemudian membicarakan pendekatan yang bersifat eksplanasi leawat jalur psikologi, social dan ekonomi dengan tokoh-tokoh Emile Durkheim, Sigmund Freud dan Karl Marx. Kemudian beralih kepada Eliade yang memberanikan protes keras terhadap pendekatan eksplanasi.











BAB I
ANIMISME DAN MAGIS
E.B. TYLOR DAN J.G. FRAZER

            Teoritikis pertama adalah Edward Bamett Tylor (1832-1917), seorang pria otodidak inggris yang tidak pernah mendapatkan pendidikan universitas namu dengan petualangan dan studi independennya, sampai pada teori animisme. Sebuah teori yang menurutnya adalah kunci untuk memahami asal-usul agama, dan yang kedua adalah James George Frazer (1854-1941), seorang sarjana yang pemalu, mereka sangat berbeda dengan Tylor. Frazer lebih sering dihubungkan dengan apa yang disebut teori “magis” tentang agama daripada animisme Tylor.
1.         E.B. Tylor
            Bagi Tylor, hubungan antar basis-rasional pemikiran dan evolusi social dapat dilihat dalam setiap aspek  kebudayaan manusia, menurut Tylor adalah penggunaan magis yang bisa ditemulan hampir dalam setiap masyarakat primitif, magis didasarkan pada gabungan ide-ide, satu kecnderungan yang terletak didasar rasio manusia. Tylor menemukan rasionalitas yang sama dalam dua kemampuan yang sangat mendasar dan signifikaan yaitu pengembangan bahasa dan matematika : dan proses–proses ini mengalami berbagai kejadian trial dan eror tetapi justru dengan proses inilah garis perkembangan itu semakin terlihat.
            Mitos-mitos lahir dari kecenderungan alamiah untuk menyelubungi setiap ide dengan pakaian konkrit. Mitos lahir dari penggabungan ide-ide yang logis. Oleh sebab itu Tylor memasukkan ide-ide Muller bahhwa mitos lahir dibawah penggaruh bahasa yang memiliki kelamin dan keluar dari kecenderungan alamiahnya, untukmemberikan analogi antara perilaku manusia dengan peristiwa alam.
            Tylor mengatakan bahwa mitos itu sangat penting karena mitos-mitos tersebut telah membentangkan jalan yang harus ditempuh dalam menyelediki asal-usul agama. Lebih jauh lagi  dia mengatakan kita tidak bisa begitu saja mengikuti keyakinan pribadi yang alami untuk mendefenisikan agam hanya sebatas percaya kepada Tuhan.
            Kemudian Tylor mengusulkan defenisinya untuk memulai tugas ini bahwa agama sebaga keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual. Karena esensi setiap agama, seperti mitologi adalah anmisme (dari bahasa latin anima yang berarti Roh ) yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada dibalik segala sesuatu. Animisme adalah bentuk pemikiran paling tua, yang dapat ditemukan dalam setiap sejarah umat manusia. Namun setiap pertanyaan bagaimana dan kenapa awal mulanya manusia mulai mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh ?
            Namun orang-orang saleh akan megatakan bahwwa mereka percaya kepada kekuatan spriritual yaitu Tuhan, karena kepercayaan itu diwahyukan kepada mereka secara supranatural, lewat Injil, Quran, atau kitab suci yang lain.
            Dan akhirnya yang paling penting, apakah tidak mungkin disana ada satu kekuatan yang paling tinggi, yang kita sebut Tuhan ? dan akhirnya Tylor mengatakan bahwa semuanya sudah jelas sebagaimana roh menggerakkan seorang manusia, maka spiritpun telah menggerakkan alam semesta. Dan Tylor berargumen bahwa arti penting teori animistik ini ketika masyarakat primitif terlihat dari varian –varian kepercayaan dan adat istiadat purba.
            Animisme juga dapat menjelaskan kenapa benda-benda dan pernik-pernik yang disakralkan, benda-benda yang dinamakan fetisbes (jimat) begitu penting bagi masyarakt primitif. Masyarakat bukanlah “penyembah berhala” mereka tidak menyembah tongkat atau bebatuan tetapi meyembah “anima” yang ada didalamnya, roh yang memberikan kekuatan dan kehidupan kaya tongkat atau substansi bebatuan.
            Dan akhirnya teori Tylor memberikan gambaran beragama tentang agama dan perkembangannya. Dia berargumen bahwa agama animisme sebagai suatu usaha masyarakat kuno untuk memahami dan merasakan misteri dari peristiwa yang luar biasa memiliki kesamaan dengan sains pada zaman sekarang, kedua-duanya timbul dari usaha manusia untuk mencari tentang pemahaman dunia, berupa keinginan untuk mengetahui bagaimana sesuatu dapat berfungsi. Dia menambahkan bahwa walaupun agama sama kunonya dengan sains namun agama lebih primitif dan kemampuannya memberikan penjelasan kalah jauh dibanding sains.

2.         J.G. Frazer
            J.G Frazer adalah penganut ide dan metode –metode yang diterapkan Tylor. Dia memberika perhatian pada bidang penelitian dan antropologi, pada akhirnya dia mampu mengemukakan satu teori animistik dalan versinya sendiri. Karena yang paling terkenal adalah The Golden Bough (1890-1915) yang memuat sebuah studi tentang adapt dan kepercayaan primitive. Buku ini bisa mempengaruhi seluruh bidang pemikiran modern mulai antropologi dan sejarah hingga sastra, filsafat, sosiologi bahkan ilmu-ilmu alam.
           Frazer dididik dan dibesarkan dalam keluarga presbyteria skortlandia yang taat dan keras dan pada saat mereka mulai menerjemahkan karyanya ia mengalami dua peristiwa yang kemudian mengubah cara pikir dan karirnya, tetapi sementara dalam perjalanan, seorang temannya memberikan buku yang judulnya “primitive culture” saat membaca mereka sangat tertarik dengan pemaparan. Sehingga Frazer semakin menyadari apa yang mampu dihasilkan oleh penelitian antropologi  dan metode komperasi.
           Frazer sangat terpengaruh oleh teori Tylor tentang kemampuan bertahan hidup. Ia berpendapat bahwa peradaban klasik bisa terlihat jelas dan perspektif yang baru, seperti ketika seorang menelan ide-ide dan kebiasaan primitive. Prespektif inilah yang mendorong mereka mengadakan penelitian. Kemudian menerbitkan buku The Golden Bough. Buku ini memulai dengan teka-teki yang sangat rumit dan serangkaian gambaran nyata tentang tampat dan peristiwa-peristiwa yang telah lama dilupakan. Frazer menjelaskan Apia Way sebuah jalan tempat orang-orang romawi melarikan diri kepedalaman Italia. Disana terdapat hutan kayu dan sebuah danau yang bernama newi dihutan itu terdapat kuil kuno yang dipersembahkan oleh orang-orang romawi kuno.
            Pada saat kondisi alam tidak berjalan sesuai dengan harapan mereka maka jalan yang ditempuh adalah magis, karena masyarakat primitf  beranggapan bahwa alam bekerja dengan rasa simpati atau pengaruh-pengaruh dari luar. Jadi magis itu dibangun berdasarkan asumsi bahwa ketika satu ritual dilakukan secara tepat maka akibat yang dimunculkan juga pasti terwujud. Magis dikatakan Ilmu pengetahuan tetapi sebatas ilmu pengetahuan saja, magis hanyalah kebohongan belaka sehingga pada saat magis mengalami kemunduran maka agama datang menggantikan posisinya.
            Agama memilih jalan yang agak berbeda dengan apa yang ditempuh magis, agama didefenisikan sebagai kepercayaan terhadap kekuatan spiritual sehingga disimpulkan bahwa agama mirip dengan magis karena sama-sama didirikan atas gabungan ide-ide yang tidak kritis dan rasional. Frazer sangat puas dengan defenisi agama yang diberikan Tylor tetapi dia lebih tertarik pada masalah perbedaan antara agama dan magis bukan dari segi persamaan yang dimiliki tetapi Frazer sangat menyukai penolakan terhadap agama terhadap prinsip magis meskipun perpindahan magis kepada agama tidak mulai sejak awal namun agama telah memperbaiki magis yang mencirikan kamajuan intelektual manusia.





KESIMPULAN
            Frazer menggambarkan buku ini sebagai petualangan untuk sebuah penemuan, sebuah petualangan kemasa lalu untuk menyusuri pemikiran manusia pra sejarah. Sebuah pengembaraan yang sangat  panjang. Penyembahan terhadap dewa-dewa muncul pertama kali dalam kehidupan manusia dengan tujuan untuk menjelaskan dunia yang didorong oleh keinginan untuk mengontrol kekuatan alam untuk memanfaatkan alam dan menghindari keganasannya ketika magis mengalami kemunduran muncullah keyakinan terhadap Tuhan yang dikombinasikan dengan magis, kemudian keyakinan terus-menerus berkembang sepanjang abad menuju ke taraf yag lebih baik. Agama menggantungkan harapannya pada doa dan permohonannya.