PENDAHULUAN
Friederich Max
Muller adalah orang yang pertama kali datang di Inggris, waktu masih muda untuk
belajar tulisan-tulisan keagamaan dan kebudayaan India kuno. Max Muller ini dikagumi
Karena pengetahuannya, mengenai Hinduisme kuno dan karena tulisannya tentang
bahasa dan mitologi, dalam kuliah umum mereka mengusulkan disiplin ilmu baru
tentang Science of Religion. Para pemikir
victorian memang telah benyak mendengar
tentang sains yang bersaing dengan agama, namun ungkapan Science of Religion yang
sampai ke telinga mereka tetap mengelitik rasa ingin tahu. Tentang ungkapan ini
walaupun ada pertanyaan mana mngkin kepastian-kepastian iman yang telah dianut
bisa dicampurkan dengan perubahan-perubahan, tetapi Max Muller mengatakan kedua-duanya
bisa disatukan karena study ilmiah bisa memberikan sumbangsih kepada agama dan
dia ingin membuktikan tentang “ Dia yang hanya tahu satu hal, sebenarnya tidak
tahu apa-apa, sudah tiba saatnya untuk menerapkan pendekatan yang berbeda-beda,
meneliti elemen-elemen bentuk prinsip-prinsip yang ditemukan dalam setiap
agama.
v Teori-teori klasik
Teori-teori klasik ini muncul ketika para penjajah dari satu suku atau
dari satu tempat melakukan penjajahan kesuku lain, memilih Tuhan yang berbeda
denga apa yang dimiliki, ditempat asalnya. Herodotus (484-425) menjelaskan
bahwa dewa Amon dan Horus yang dianut oleh masyarakat Yunani begitu juga dengan
Euhermasus (330-260) yang mengatakan dewa-dewa yang ada dalam “sejarah” pada
awalnya adalah orang-orang terpenting kemudian disembah oleh
pengikut-pengikutnya.
v Yahudi dan Kristen
Menurut keyakinan rohaniawan Kristen ( Apostel ) dan para ahli teologi diawal
pertumbuhan gereja, Tuhan mengejewantahkan diriNya dalam pribadi manusia Yesus
kristus. Dengan berkembangnya agama Kristen dizaman kuno yang dipeluk oleh
masyarakat Eropa, keyakinan Kristen mendominasi peradaban barat. Selama abad
pertengahan ada pegecualian yang nampak saat perjuangan Kristen melawan islam
selama perang salib, umat Kristen sebagai putra-putra cahaya yang menerangi
putra-putra kegelapan, keindahan dan kebenaran Firman Tuhan diwakili oleh agama
Kristen.
v Teori-teori modern.
Berdasarkan sudut pandang kaum Deis, Max Muller dan para pengikutnya
mengemukakan ide-ide mereka kepada para audiens vietanian. Mereka sepenuhya
percaya bahwa sangat mungkin menjelaskan seluruh agama dan mereka yakin bahwa hal
itu akan terwujud melalui penelitian yang sebagian besar bermuatan historis.
Mereka menelusuri kembali jejak masa lalu untuk menemukan ide-ide dan
praktek-praktek keagamaan yang pernah dilakukan manusia.
Muller bertekad melakukan yang lebih baik dari itu karena Muller dan
kawan-kawannya mempunyai nilai lebih yang diberikan oleh studi-studi arkeologi,
sejarah, bahasa, mitologi, dan yang baru saja dihasilkan oleh studi etnologi
dan antropologi.
v Tujuh teori
Dalam bab-bab ini akan diketengahkan tujuh teori paling penting tentang
agama. Teori-teori ini lahir semenjak pendekatan saintifik terhadap agama mulai
menggugah perhatian para ilmuwan di abad ke-19. setiap teori yang pertama-tama
akan dijelaskan riwayat hidup pencetusnya kemudian dilanjutkan ide-ide kunci
yang terdapat dalam karangan mereka, lalu gambaran perbedaan-perbedaan yang
ditemukan sewaktu satu teori dikonfrontasikan dengan teori lain.
Kita mulai membicarakan
teori-teori para cendekiawan klasik, Tylor dan Frazer kemudian membicarakan
pendekatan yang bersifat eksplanasi leawat jalur psikologi, social dan ekonomi
dengan tokoh-tokoh Emile Durkheim, Sigmund Freud dan Karl Marx. Kemudian beralih
kepada Eliade yang memberanikan protes keras terhadap pendekatan eksplanasi.
BAB I
ANIMISME DAN MAGIS
E.B. TYLOR DAN J.G. FRAZER
Teoritikis pertama
adalah Edward Bamett Tylor (1832-1917), seorang pria otodidak inggris yang
tidak pernah mendapatkan pendidikan universitas namu dengan petualangan dan
studi independennya, sampai pada teori animisme. Sebuah teori yang menurutnya
adalah kunci untuk memahami asal-usul agama, dan yang kedua adalah James George
Frazer (1854-1941), seorang sarjana yang pemalu, mereka sangat berbeda dengan
Tylor. Frazer lebih sering dihubungkan dengan apa yang disebut teori “magis”
tentang agama daripada animisme Tylor.
1.
E.B. Tylor
Bagi Tylor, hubungan antar basis-rasional
pemikiran dan evolusi social dapat dilihat dalam setiap aspek kebudayaan manusia, menurut Tylor adalah
penggunaan magis yang bisa ditemulan hampir dalam setiap masyarakat primitif,
magis didasarkan pada gabungan ide-ide, satu kecnderungan yang terletak didasar
rasio manusia. Tylor menemukan rasionalitas yang sama dalam dua kemampuan yang
sangat mendasar dan signifikaan yaitu pengembangan bahasa dan matematika : dan
proses–proses ini mengalami berbagai kejadian trial dan eror tetapi justru
dengan proses inilah garis perkembangan itu semakin terlihat.
Mitos-mitos lahir dari kecenderungan alamiah
untuk menyelubungi setiap ide dengan pakaian konkrit. Mitos lahir dari
penggabungan ide-ide yang logis. Oleh sebab itu Tylor memasukkan ide-ide Muller
bahhwa mitos lahir dibawah penggaruh bahasa yang memiliki kelamin dan keluar
dari kecenderungan alamiahnya, untukmemberikan analogi antara perilaku manusia
dengan peristiwa alam.
Tylor mengatakan bahwa mitos itu sangat
penting karena mitos-mitos tersebut telah membentangkan jalan yang harus
ditempuh dalam menyelediki asal-usul agama. Lebih jauh lagi dia mengatakan kita tidak bisa begitu saja
mengikuti keyakinan pribadi yang alami untuk mendefenisikan agam hanya sebatas percaya
kepada Tuhan.
Kemudian Tylor mengusulkan defenisinya untuk
memulai tugas ini bahwa agama sebaga keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual.
Karena esensi setiap agama, seperti mitologi adalah anmisme (dari bahasa latin
anima yang berarti Roh ) yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan
punya kekuatan yang ada dibalik segala sesuatu. Animisme adalah bentuk
pemikiran paling tua, yang dapat ditemukan dalam setiap sejarah umat manusia.
Namun setiap pertanyaan bagaimana dan kenapa awal mulanya manusia mulai
mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh ?
Namun orang-orang saleh akan megatakan bahwwa
mereka percaya kepada kekuatan spriritual yaitu Tuhan, karena kepercayaan itu
diwahyukan kepada mereka secara supranatural, lewat Injil, Quran, atau kitab
suci yang lain.
Dan akhirnya yang paling penting, apakah
tidak mungkin disana ada satu kekuatan yang paling tinggi, yang kita sebut
Tuhan ? dan akhirnya Tylor mengatakan bahwa semuanya sudah jelas sebagaimana
roh menggerakkan seorang manusia, maka spiritpun telah menggerakkan alam
semesta. Dan Tylor berargumen bahwa arti penting teori animistik ini ketika
masyarakat primitif terlihat dari varian –varian kepercayaan dan adat istiadat
purba.
Animisme juga dapat menjelaskan kenapa
benda-benda dan pernik-pernik yang disakralkan, benda-benda yang dinamakan
fetisbes (jimat) begitu penting bagi masyarakt primitif. Masyarakat bukanlah
“penyembah berhala” mereka tidak menyembah tongkat atau bebatuan tetapi
meyembah “anima” yang ada didalamnya, roh yang memberikan kekuatan dan
kehidupan kaya tongkat atau substansi bebatuan.
Dan akhirnya teori Tylor memberikan gambaran
beragama tentang agama dan perkembangannya. Dia berargumen bahwa agama animisme
sebagai suatu usaha masyarakat kuno untuk memahami dan merasakan misteri dari
peristiwa yang luar biasa memiliki kesamaan dengan sains pada zaman sekarang,
kedua-duanya timbul dari usaha manusia untuk mencari tentang pemahaman dunia,
berupa keinginan untuk mengetahui bagaimana sesuatu dapat berfungsi. Dia
menambahkan bahwa walaupun agama sama kunonya dengan sains namun agama lebih
primitif dan kemampuannya memberikan penjelasan kalah jauh dibanding sains.
2.
J.G. Frazer
J.G Frazer adalah penganut ide dan metode
–metode yang diterapkan Tylor. Dia memberika perhatian pada bidang penelitian
dan antropologi, pada akhirnya dia mampu mengemukakan satu teori animistik
dalan versinya sendiri. Karena yang paling terkenal adalah The Golden Bough
(1890-1915) yang memuat sebuah studi tentang adapt dan kepercayaan primitive.
Buku ini bisa mempengaruhi seluruh bidang pemikiran modern mulai antropologi dan
sejarah hingga sastra, filsafat, sosiologi bahkan ilmu-ilmu alam.
Frazer dididik dan dibesarkan dalam keluarga
presbyteria skortlandia yang taat dan keras dan pada saat mereka mulai
menerjemahkan karyanya ia mengalami dua peristiwa yang kemudian mengubah cara
pikir dan karirnya, tetapi sementara dalam perjalanan, seorang temannya memberikan
buku yang judulnya “primitive culture” saat membaca mereka sangat tertarik
dengan pemaparan. Sehingga Frazer semakin menyadari apa yang mampu dihasilkan
oleh penelitian antropologi dan metode
komperasi.
Frazer sangat terpengaruh oleh teori Tylor
tentang kemampuan bertahan hidup. Ia berpendapat bahwa peradaban klasik bisa
terlihat jelas dan perspektif yang baru, seperti ketika seorang menelan ide-ide
dan kebiasaan primitive. Prespektif inilah yang mendorong mereka mengadakan
penelitian. Kemudian menerbitkan buku The Golden Bough. Buku ini memulai dengan
teka-teki yang sangat rumit dan serangkaian gambaran nyata tentang tampat dan
peristiwa-peristiwa yang telah lama dilupakan. Frazer menjelaskan Apia Way sebuah
jalan tempat orang-orang romawi melarikan diri kepedalaman Italia. Disana
terdapat hutan kayu dan sebuah danau yang bernama newi dihutan itu terdapat kuil
kuno yang dipersembahkan oleh orang-orang romawi kuno.
Pada saat kondisi alam tidak berjalan sesuai dengan
harapan mereka maka jalan yang ditempuh adalah magis, karena masyarakat
primitf beranggapan bahwa alam bekerja
dengan rasa simpati atau pengaruh-pengaruh dari luar. Jadi magis itu dibangun
berdasarkan asumsi bahwa ketika satu ritual dilakukan secara tepat maka akibat yang
dimunculkan juga pasti terwujud. Magis dikatakan Ilmu pengetahuan tetapi
sebatas ilmu pengetahuan saja, magis hanyalah kebohongan belaka sehingga pada
saat magis mengalami kemunduran maka agama datang menggantikan posisinya.
Agama memilih jalan yang agak berbeda dengan
apa yang ditempuh magis, agama didefenisikan sebagai kepercayaan terhadap
kekuatan spiritual sehingga disimpulkan bahwa agama mirip dengan magis karena
sama-sama didirikan atas gabungan ide-ide yang tidak kritis dan rasional. Frazer
sangat puas dengan defenisi agama yang diberikan Tylor tetapi dia lebih
tertarik pada masalah perbedaan antara agama dan magis bukan dari segi
persamaan yang dimiliki tetapi Frazer sangat menyukai penolakan terhadap agama
terhadap prinsip magis meskipun perpindahan magis kepada agama tidak mulai
sejak awal namun agama telah memperbaiki magis yang mencirikan kamajuan
intelektual manusia.
KESIMPULAN
Frazer menggambarkan buku ini sebagai
petualangan untuk sebuah penemuan, sebuah petualangan kemasa lalu untuk
menyusuri pemikiran manusia pra sejarah. Sebuah pengembaraan yang sangat panjang. Penyembahan terhadap dewa-dewa muncul
pertama kali dalam kehidupan manusia dengan tujuan untuk menjelaskan dunia yang
didorong oleh keinginan untuk mengontrol kekuatan alam untuk memanfaatkan alam
dan menghindari keganasannya ketika magis mengalami kemunduran muncullah
keyakinan terhadap Tuhan yang dikombinasikan dengan magis, kemudian keyakinan
terus-menerus berkembang sepanjang abad menuju ke taraf yag lebih baik. Agama
menggantungkan harapannya pada doa dan permohonannya.