Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Senin, 16 Juli 2012

BAPTISAN


PENGERTIAN

Baptisan berasal dari kata kerja yunani  ”Baptizo” yang berarti membasahi, mencelupkan, (selam) kedalam air. Penggunaan kata baptisan dalam upacara keagamaan yahudi selalu mempunyai kaitan yang menunjuk kepada makna melindungi, menyelamatkan, mencurahkan, mencuci dan membersihkan. Menurut Abineno baptisan Kristen berdasarkan atas baptisan Kristus dengan tujuan untuk melindungi dan menyelamatkan. Dalam rangka memahami hakekat baptisan itu dengan baik, hendaknya kita tidak hanya meninjau dari sudut “titah baptisan” itu sendiri tetapi harus juga memperhatikan bahwa baptisan yang dilakukan yohanes yang didasarkan pada baptisan Kristus itu bukan hanya permandian, penyucian saja tetapi yang lebih mendalam daripada baptisan itu adalah suatu penghukuman yaitu “dibaptis artinya mati”. Menunjuk kepada baptisan Yesus disungai yordan itu sesungguhnya adalah kesiapan menjalani penghukuman mati disalibkan bagi dosa manusia Mat  3:15, bnd Kol 2:11, sehingga pada akhirnya baptisan Kristus bertujuan untuk mendatangkan anugerah pengampunan dari Allah (Mat 12:18).
Menurut kamus bahasa Indonesia dikatakan bahwa baptisan adalah tanda untuk melakukan persekutuan.
  • Pandangan Alkitab
Menurut Roma 6:3-8, baptisan berarti kita menerima janji yang menjadi tanda bahwa kita telah dipersatukan dengan Kristus didalam kehidupan, kematian dan kebangkitanNya. Tanda atau cap perjanjian yang kita terima  dalam baptisan itu bukan berarti berawal dari baptisan disungai yordan tetapi itu merupakan rangkaian sejarah penyelamatan Allah terhadap umatNya yang pertama-tama ditetapkan dalam PL melalui sunat secara khusus kepada Abraham dan keturunanNya, Kej 17:19, Kej 7:8. dalam PL dan baptisan dalam PB merupakan suatu rangkaian yang sangat erat dan tak terpisahkan dimana mempunyai tujuan yang sama yaitu janji tentang keselamatan didalam Kristus.
Baptisan kudus sendiri merupakan perintah Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga (Mat 28:19). Selain itu juga dapat dilihat dari Markus 16:16, “siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi yang tidak percaya akan dihukum.
Baptisan adalah tanda bahwa kita telah diterima masuk kedalam persekutuan gereja, supaya setelah kita ditanam didalam Kristus, kita terhisap dalam anak-anak Allah. Yesus sendiri mengapa mau dibaptis? Itu mau mengatakan bahwa Yesus solider dengan manusia berdosa dan bersedia menanggung hukuman manusia, supaya ada pengampunan dosa  bagi mereka semuanya.
  • Pandangan Teolog
§ Martin Luther
Pengertian Luther berangkat dari kitab Roma 1:7 “Orang benar hidup oleh iman”. Bagi Luther Firman dan sakramen tidak dapat dipisahkan dengan kata lain tidaklah mulia daripada Firman itu sendiri.
Luther mengatakan “Tidak usah meragukan apakah baptisan itu berasal dari perintah Allah, Matius 28:19 “Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka kedalam nama Bapa, nama Anak, dan Roh Kudus”. Perintah itu mengatakan bahwa baptisan bukan hasil rekayasa manusia melainkan diwahyukan Allah sendiri yang sama nilainya dengan sepuluh Firman, pengakuan iman rasuli dan doa Bapa kami.
Luther mengatakan “walaupun baptisan itu hal lahiriah yang pasti firman Allah dan perintah mungkin sia-sia tetapi justru mulia dan berharga.
§ Yohanes Calvin
Yohanes Calvin berpemahaman bahwa iman punya peranan untuk mengerti daripada janji Tuhan. Menurutnya baptisan adalah tanda dari janji Tuhan dan oleh tanda itu bahwa kita telah diterima dalam persekutuan gereja, supaya setelah kita ditanamkan didalam Kristus, kita terhisap dalam anak-anak Allah.
Dengan demikian tujuan pokok dari baptisan ialah : menerima janji Allah bahwa barangsiapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan (Mrk 16:16). Maka berarti hanya melalui baptisan orang percaya dipersatukan dengan tubuh Kristus (Gal 3:27), jadi melalui baptisan itu kita telah disatukan dengan Kristus dengan demikian kita telah mengalami segala sesuatu yang telah dialami Kristus.
  • Pandangan Pendeta Kharismatik tentang Baptisan
Metode yang digunakan dalam baptisan adalah selam, mengapa harus demikian?
-          Alasan pertama Pendeta dengan segera membuka kamus bahasa Indonesia dan mencabut arti kata “selam” yang artinya “celup” atau dicelupkan. Dari pengertian tersebut mereka menarik kesimpulan bahwa ketika orang dibaptis sesuai dengan akar katanya “selam” maka orang harus dimasukkan kedalam air dan tak sedikitpun bagian tubuhnya yang kelihatan dipermukaan air.
-          Alasan kedua, mereka melihat arti langsung dari bahasa Yunani yakni “bapto” atau “baptiso” yang artinya : menyelamkan, mencelupkan.
-          Alasan ketiga “Tuhan Yesus sendiri dibaptis dengan cara ini”
Kemudian untuk lebih meyakinkan ada ayat Alkitab yang pendeta cabut misalnya :  Mrk 1:10, Kis 8:38 dan lain-lain.
-          Membaptis harus dengan air karena menurut mereka air bukan symbol tetapi disitulah letak arti baptisan itu sendiri (Yoh 3:5).
Usia penerima baptisan
Dalam prakteknya anak-anak tidak boleh atau belum diperkenankan untuk menerima baptisan, mengapa?
-          Menurut mereka baptisan tidak boleh diwakili atau dengan kata lain seseorang harus memberi diri masing-masing untuk dibaptis (Kis 2:38).
-          Sida-sida Etiopia sendiri mendapat baptisan ketika sudah dewasa (Kis 8:38).
-          Rasul Paulus sendiri dibaptis pada waktu ia dewasa (Kis 9:18-19).
-          Anak-anak hanya diserahkan bukan sakramen (I Sam 1:28).
Fungsi baptisan
-          Menurut mereka fungsi baptisan adalah untuk pengampunan dosa (Kis 2:38).
-          Siapa yang dibaptis akan diselamatkan (Mrk 16:16).
ANALISIS PRIBADI
Ada banyak pandangan ataupun tanggapan dari berbagai pihak disekitar baptisan. Ada yang menerapkan metode baptisan dengan menafsir ayat-ayat alkitab secara harafiah atau memraktekkan sesuai dengan arti katanya.
Dilain pihak ada gereja-gereja yang berpemahaman bahwa air yang digunakan untuk membaptis bukan symbol melainkan itulah baptisan itu sendiri. Bahkan juga ada pemahaman bahwa orang tidak dapat selamat tanpa dibaptis, anak-anak belum bisa menerima baptisan karena mereka belum dapat mengetahui dosa-dosa dan lain-lain.
Saya sendiri berpemahaman bahwa metode atau secara khusus air yang digunakan hanyalah symbol bukan berarti itu bisa disepelekan. Namun  hal yang perlu diperhatikan adalah mengharamkan metode-metode yang digunakan gereja lain merupakan hal yang keliru.
Hal yang menarik disekitar wawancara dengan pendeta gereja kharismatik, mengapa mereka memberlakukan baptisan ulang. Ternyata mereka cenderung menjunjung tinggi metode yang digunakan untuk membaptis. Mereka sedikit kaku memberlakukan tata cara baptisan, maklum menafsir secara harafiah. Tetapi ya begitulah mereka.
Dengan memperhatikan pendapat para ahli, pengertian kamus, pemahaman pendeta kharismatik bahkan apa kata alkitab. Saya secara pribadi hanya ingin mengatakan bahwa :
  1. Hakekat baptisan tidak terletak pada metode (air), selam yang digunakan.
  2. Air hanyalah symbol jadi bukan itu yang utama.
  3. Yang ditandakan yang lebih utama yakni Kristus Yesus.
  4. Iman adalah alat untuk mengukur makna dari baptisan.
  5. Tidak perlu memperlakukan baptisan ulang bagi orang yang telah dibaptis dalam nama Allah bapa, Putera, dan Roh Kudus.
  6. Baptisan bukan alat penyelamatan.
  7. Biarlah masing-masing orang memraktekkan dan memaknai baptisan sesuai dengan pemahaman iman.

Kamis, 12 Juli 2012

AJARAN YESUS MENGENAI KASIH


MATIUS 22:37-40 DAN 27:32-61 MERUPAKAN APLIKASI

Kasih merupakan inti dari ajaran Yesus karena jika kita menelusuri kisah pelayananNya dapat dikatakan bahwa seluruh hidup dan karyaNya menampakkan kasih kepada Allah dan terhadap sesama. Hal inilah yang diuraikan oleh penulis Injil Matius dalam pasal 22:37-40. Perikop ini didahului oleh pertanyaan orang saduki menganai kebangkitan. Ajaran ini disampaikan oleh Yesus ketika Ia menjawab pertanyaan seorang Ahli Taurat tentang hukum yang terutama dalam hukum taurat, dan Yesus menjawabnya bahwa kasih kepada Allah adalah hukum yang terutama dan hukum yang sama dengan itu ialah kasih kepada sesama.
Kasih kepada Allah berarti mengasihi Dia dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Apa yang disampaikan oleh Yesus ini mencakup seluruh hukum taurat, kelihatanya sangat singkat tapi sarat dengan makna..
Yesus bukan hanya mengajarkan tentang kasih tetapi Ia mengaplikasikan atau mewujudnyatakan kasih itu dalam kehidupanNya, hal ini selalu mewarnai kisah pelayananNya yang berpuncak ketika Ia harus menyerahkan nyawaNya demi kasihNya kepada Manusia. Hal ini diuraikan dalam Matius pasal 27:32-61 yakni Yesus disalibkan sampai mati. Perikop sebelumnya menceriterakan mengenai kisah sengsara Yesus, mulai dari penangkapanNya di taman Getsemani, diadili di depan mahkama agama dan di hadapan Pontius Pilatus dan berujung pada hukuman mati. Ini merupakan serangkaian bukti bahwa Ia sungguh mengasihi manusia. Dari  kematianNya maka manusia memperoleh kasih karunia dari Allah.
Memperhatikan kedua perikop di atas maka kita dapat berkesimpulan bahwa keduanya saling berkaitan dan saling melengkapi. Karena pasal 22:37-40 merupakan uraian tentang ajaran Yesus mengenai kasih yang sejati yakni kasih itu haruslah utuh artinya bahwa ketika kita menyatakan mengasihi Allah maka hal itu harus diwujudnyatakan melaui kasih terhadap sesama dan pasal 27:32-61 merupakan aplikasi atau praksisnya mengenai ajaran tentang kasih itu dimana hal itu diwujudnyatakan sendiri oleh Yesus melalui pengorbananNya di kayu salib sebagai bukti kasihnya kepada Bapa yang mengutusNya dan demi kasihNya bagi manusia. Ia mampu memberi teladan bukan hanya lewat perkataan saja tetapi Ia mampu melakukan apa yang diajarkanNya.
Perikop dari Matius 27:32-61 tidak menjelaskan secara tertulis mengenai kasih itu, tetapi perikop ini menggambarkan mengenai praktek tentang kasih itu seperti yang di uraikan dalam pasal 22:37-40 di atas. Tindakan Yesus merupakan penampakkan bahwa ia memiliki integritas yakni menyatunya perkataan dengan perbuatan. Hal ini  membuktikan bahwa Dia tidak hanya pintar teori seperti yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa makna ajaran Yesus tentang kasih yang diuraikan oleh penulis injil Matius tersebut, dapat dikuatkan oleh perikop yang menceritakan pengorbanan Yesus bagi manusia sehingga pembaca mudah mengerti apa yang disebut sebagai kasih yang sejati yakni rela berkorban tanpa menginginkan imbalan.



Rabu, 11 Juli 2012

Kendala Pekabaran Injil di Indonesia


1.      Kendala-kendala yang dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia dalam melaksanakan tugas Pekabaran Injil.
a.       Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan juga kebudayaan yang berbeda-beda. Hal-hal tersebut perlu menjadi fokus perhatian secara khusus oleh gereja dalam rangka melaksanakan tugas kesaksian, melakukan pekabaran injil. Akan tetapi realitas yang terjadi dilapangan sangat memprihatinkan. Bahkan antara orang Kristen sendiritidak lagi saling memperhatikan. Malah saling menjatuhkan atas dasar kepentingan organisasi masing-masing sehingga Kristus yang seharusnya diperkenalkan kepada orang-orang yang belum mengenalNya, digeser oleh kepentingan organisasi gereja. Yang ada gereja melihat gereja yang lain sebagai saingan yang mesti disingkirkan bukan menganggapnya sebagai rekan-rekan sekerja Allah. Itu kendala yang ada didalam gereja.
Kendala yang berikut adalah : gereja belum sepenuhnya dapat menerima keberadaan agama-agama lain. Hal ini banyak disebabkan oleh dogma-dogma tentang keselamatan yang eksklusif. Sehingga melihat agama lain tidak lagi sebagai bagian karya penyelamatan Allah. Kadang gereja belum mengerti apa arti hakikat penginjilan. Pemahamana bahwa tujuan pekabaran injil adalah untuk mengkristenkan orang masih ada saja dikepala orang-orang Kristen. Yang sebenarnya pekabaran injil itu sendiri adalah merupakan suatu upaya untuk memperkenalkan Kristus bahkan untuk menyatakan damai sejahtera Allah bagi semua. Hal-hal ini jugalah yang sebenarnya membuat gereja sangat kaku dalam melangkah, yang sekaligus menjadi kendala dalam pekabaran injil.
Kebudayaan yang merupakan kekayaan yang terdapat didalam tiap suku, terkadang dilihat gereja sebagai ancaman didalam menanamkan nilai-nilai injil. Terkadang ada usaha untuk membersihkan nilai-nilai budaya yang dianut oleh suku-suku tertentu, akibatnya malah fatal, gerakan pekabaran injil dianggap sebagai ancaman oleh mereka. Itu adalah merupakan kendala juga.
b.       Bagaimana mengatasi kendala-kendala yang ada
Sebenarnya kekayaan yang dimiliki Indonesia sangat potensial dalam melakukan gerakan pekabaran injil, bila dipahami dan digunakan dengan baik dan benar. Misalnya agama-agama yang sudah ada dimengerti bahwa tidak satupun agama yang mengajarkan kejahatan dengan demikian agama lain dapat dijadikan partner dalam mewujudnyatakan damai sejahtera Allah.
Didalam gereja juga perlu dibangun paradigma baru bahwa Yesus Kristus tidak focus hanya kepada organisasi gereja tertentu. Kenyataannya berdiri di Indonesia. Ketika pemahaman itu sudah ada maka niscaya Kristuslah yang didahulukan dalam pekabaran injil bukan lagi organisasi, serta tidak ada lagi yang harus dianggap sebagai saingan, karena gereja ada bukan manusia yang membuatnya ada tetapi semata-mata merupakan karya Yesus Kristus Tuhan kita.
Kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia, biasanya sesuatu yang dijunjung tinggi ditempatkan pada tempat yang istimewa. Oleh karena itu sangat tidak mungkin untuk menghapuskan budaya yang sudah ada. Yang perlu dilakukan adalah banyak mempelajari.
2.      Kekristenan di Toraja belum mengakar
Orang Toraja memiliki kepercayaan yang asli yakni Aluk Todolo. Kepercayaan ini benar-benar telah mendarah daging didalam diri nenek moyang orang Toraja. Bahkan dapat dikatakan masih menjiwai kehidupan orang-orang Toraja dizaman moderen saat ini, termasuk orang-orang toraja yang sudah Kristen. Antara aluk todolo dengan budaya Toraja sangat sulit untuk dibedakan. Kedua hal tersebut dalam praktek boleh dikatakan sejalan. Sebenarnya hal tersebut yang membuat kekristenan di Toraja kurang mengakar.
Oleh karena itu hal yang perlu ditempuh adalah harus menetapkan yang mana masuk kategori Aluk Todolo dan yang mana termasuk budaya Toraja. Sehingga dalam rangka pelaksanaan kegiatan pekabaran injil kita tidak bisa berkompromi dengan hal-hal yang berbau Aluk Todolo, sebaliknya budaya-budaya Toraja yang ada juga perlu dinilai dari sudut pandang injil. Menerima yang sesuai dengan nilai-nilai injili dan sebaliknya menolak yang bertolak belakang dengan injil. Dengan kesimpulan bahwa injil dapat berakar di Toraja dengan menggunakan budaya yang ada. Secara khusus budayayang sesuai dengan injil. Dan injil juga dapat berakar tanpa gangguan nilai-nilai Aluk Todolo.
3.      Catatan kritis
-          Materi yang dibahas diruang kuliah sistematis dan juga berkenaan langsung dengan pergumulan pekabaran injil yang ada Indonesia secara khsusus di Toraja, mudah-mudahan kedepannya bisa dipertahankan.
-          Penjelasan bapak mengenai kebudayaan sangat menarik, mudah-mudahan kedepannya Bapak yang mengampuh matakuliah Adat dan Kebudayaan Toraja.

Sabtu, 07 Juli 2012

eskatologi


Pengertian eskatologi
Eskatologi berasal dari bahasa yunani “eskhatos” yang  berarti ajaran tentang akhir zaman. Tidak hanya mempedulikan nasib orang  secara perseorangan tetapi juga sejarah manusia. Menurut Alkitab, Allah tidak hanya menyatakan dirinya melalui orang-orang yang mendapat ilham tetapi juga melalui peristiwa yang membebaskan umat-Nya melalui kedatangan Anak-Nya Yesus Kristus.
Ajaran tentang akhir zaman dalam PL disebut sebagi “hari Tuhan” atau “pada hari itu” mengartikan sifat kepedulian Allah yang telah terjadi dalam sejarah (Am 5:18) maupun kepedulian Allah yang terjadi pada akhir zaman (Zef 3:11). Pada hari-hari yang terakhir Allah akan datang untuk mendirikan kerajaan-Nya (Yes 2:2-4: Hos 3:5).
Dalam inkarnasi Yesus Kristus PB melihat sebagian pengharapan PL telah digenapi. Hidup, kematian dan kebangkitan-Nya memulai penggenapan zaman Mesias. Menurut Ibrani 1:2, zaman akhir sudah disini sekarang yaitu hari-hari yang akan melihat berdirinya kerajaan Allah (Yes 2:2-4) sudah disini sekarang (Ibr 1:2)janji tentang pencurahan Roh Kudus yang akan terjadi pada akhir zaman (Yeh 36:27) sekarang sudah terjadi (Kis 2:16-17). Tapi zaman yang akan datang masih tetap dianggap sebagai saat menerima hidup yang kekal (Mrk 10:30). Apa yang dikerjakan Yesus pada saat kematian dan kebangkitan-Nya akan digenapi tuntas seutuhnya pabila ia datang kelak dalam kemuliaan.
         
Pandangan Paulus mengenai eskatologi
          Pada waktu Yesus datang kepada umat-Nya, dan oleh orang Kristen diakui sebagai Mesias, mereka segera menanyakan apakah zaman baru itu telah datang. Timbul ketegangan bahwa zaman yang baru telah dimulai dan harapan yang teguh akan kedatanga Yesus yang kedua kali. Ketegangan ini mulai menjadi nyata pada waktu Yesus mengajarkan mengenai kerajaan Allah, didalam pengajaran tersebut aspek masa sekarang dan masa yang akan datang hadir secara berdampingan. Bagi Yesus kedatangan yang kedua kali bukan merupakan suatu kemungkinan tetapi suatu hal yang pasti. Di salah satu perkataan-Nya, kedatangan yang kedua kali dihubungkan secara khusus dengan Kerajaan Allah (Mat 16:28; Mrk 9:1). Pernyataan yang paling jelas bahwa kedatangan itu tidak diketahui terdapat dalam Markus 13:32. Jelas disini bahwa kedatangan itu tidak mungkin diramalkan secara tepat. Waktu itu ada di tangan Bapa.
          Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali menurut pandangan Paulus sebelumnya kita akan melihat istilah yang digunakannya.
Pertama: istilah parousia berarti kedatangan Tuhan kembali. Paulus menggunakan istilah itu beberapa kali kepada jemaat di Tesalonika (1 Tes 2:19; 3:13; 4:15; 5:23; 2 Tes 2:1,8). Tetapi dalam teks Indonesia hanya Filipi 2:12 menterjemahkan dengan “hadir”. Dalam dunia Yunani “parousia” dipakai untuk kunjungan seorang pejabat tinggi.
Kedua: istilah apokalupsis berarti penyataan, yang terdapat dalam 1 Korintus 1:7; 3:13. Dalam  Istilah itu terkandung pengertian tersingkapnya beberapa kebenaran surgawi yang sampai pada saat itu masi tersembunyi. Penyataan itu akan membuka selubung kemuliaan bagi orang-orang percaya dan membuka penghukuman bagi orang yag tidak percaya.
Ke tiga: “hari itu yang sudah dikenal dari PL dalam ungkapan “hari itu” tetapi Paulus menerapkannya dengan hari Kristus.
Teologi Paulus secara hakiki bersifat eskatologis. Di mana teologinya berpangkal pada kebangkitan Kristus. Hubungan antara kebangkitan Kristus dan dan keselamatan manusia diuraikan dalam 1 Korintus 15:12-18. “kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan, dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka… sia-sialah kepercayaan kamu”. Gagasan ini berarti bahwa kebangkitan Kristus merupakan isi pokok iman. Sifat eskatologis kebangkitan Kristus berhubungan dengan iman orang kristiani,  di tegaskan Paulus dalam Roma 3:21,26.
         
          Peristiwa penggenapan eskatologis bukan secara peristiwa masa depan melainkan peristiwa penebusan yang telah terungkap dalam sejarah. Kematian Kristus adalah peristiwa eskatologis. Orang yang telah mengalami pembenaran telah berdiri menghadap pengadilan eskatologis pada masa yang akan datang dan dinyatakan bebas dari kesalahan karena kematian Kristus. Orang percaya dilepaskan dari yang jahat (Gal 1:4). Melalui salib, Kristus telah mengalahkan kuasa-kuasa jahat yang telah membawa kekacauan dalam dunia (Kol 2:14 dst). Dengan demikian terang dan kemuliaan pada masa yang akan datang telah bercahaya kedalam dunia melalui pribadi Yesus.
          Melalui peristiwa eskatologis ini, orang percaya pada hakikatnya telah menjalani kehidupan zaman baru. Berada di dalam Kristus berarti berada di dalam zaman baru dan mengalami kehidupan dan kuasanya. Jadi, siapa yang ada dalam Kristus berarti ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor 5:17). Orang percaya telah menjalani kematian dan kebangkitan (Rom 6:3-4). Bahkan ia telah dibangkitkan oleh Kristus dan ditinggikan ke surga (Ef 2:6), serta turut ambil bagian dalam hidup dan kebangkitan Tuhan.
          Orang percaya telah ada di dalam Kerajaan Kristus (Kol 1:13), dan ia telah mengalami kehidupan baru (2 Kor 2:16), namun ia masi menantikan warisan kehidupan yang kekal (Gal 6:8) dan menantikan keselamatan (Rm 13:11). Kehidupan yang baru dalam Kristus menuntut kembalinya Kristus untuk menyempurnakan karya penebusan yang telah dimuliakan. Dengan demikian, tema pokok dari eskatologi Paulus adalah penggenapan tujuan penyelamatan Allah.
Dalam 1 Tesalonika 4:13 dst, disebutkan tanda-tanda menyertai kedatangan Kristus yang kedua kali. Tanda-tanda yang menyertai ini mempunyai bentuk apokaliptis yang jelas: suara yang keras, seruan penghulu malaikat, bunyi sangkakala dan awan-awan. Pandangan Paulus ini yang melihat tanda-tanda apokaliptik adalah kesamaan perikop ini dengan pengajaran Yesus tentang masa yang akan datang. Yesus dan Paulus mengatakan hal yang sama dalam Daniel 7:13 dst, 9:27.


Implikasi
          Bagi Paulus, “parousia” bukan sesuatu yang semata-mata akan datang pada akhir zaman, melainkan sekarang sudah mulai sebab “parousia” sangat erat berhubungan dengan kebangkitan Kristus. Itulah sebabnya Paulus menekankan sifat pengharapan dalam menantikan parousia. Melalui kebangkitan Kristus, kepercayaan kita tidak lagi sia-sia dan telah membebaskan kita dari dosa. Karena itu, sebagai orang Kristen hendaknya memegang teguh kepercayaan yang telah kita miliki sampai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

Referensi :
Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, 2008.
Ensiklopedi, jilid A-L, 2008
Jacobs, Tom, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Ladd, George Eldon, Teologi Perjanjian Baru jilid 2, Yayasan Kalam Hidup.
Gutrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
         
         

Minggu, 01 Juli 2012

Pengakuan Iman.


Jika melihat asal kata kerja dari mengaku, berarti menunjuk kepada diri sendiri atau telah menjadi bagian pribadi manusia secara utuh yang telah mengungkapkan identitas dirinya. Di mana ada sebuah fakta yang benar-benar nyata dalam pribadi seseorang yang dalam setiap realitas kehidupan, pasti manusia membutuhkan sebuah pengakuan baik buat dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga dalam setiap lingkup kehidupan manusia selalu terikat dengan Iman dan Percaya kepada Tuhan, baik dalam komunitas dan institusi secara langsung dan tidak langsung. Karena tidak akan pernah ada atau muncul sebuah Pengakuan secara kasat mata, tanpa manusia percaya kepada Sang Penciptanya.
Sebagai seorang manusia kita selalu dituntut untuk selalu Mengimani dan Percaya kepada Tuhan pemberi hidup ini dengan sebuah Pengakuan Iman. Di mana Pengakuan Iman yang telah kita ikrarkan itu harus memberikan warna dalam kehidupan manusia.  Untuk menghadapi segala tantangan, pergumulan dan persoalan hidup yang akan mengancam Pengakuan Iman manusia yang datang silih berganti baik secara internal dan eksternal. Sehingga manusia perlu membentengi dirinya dengan  hidup bersama Allah dengan menyelami segala karya-Nya. Ketika kita telah menyadari bahwa setiap hal yang terjadi dalam diri dan hidup kita itu tidak terlepas dari Iman kepada Tuhan. Karena kehidupan manusia dalam keberadaanya sangat berpengaruh dalam menentukan arah hidup, maksudnya bahwa kita harus selalu mewaspadai setiap perkembangan zaman ini, dengan menyikapi segala hal dan menyadari di mana arti kehadiran Tuhan yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia.
Menurut saya sangat setuju dengan hal diatas, karena kehidupan percaya manusia tidak akan pernah lepas dari sebuah Pengakuan Iman kepada Tuhan, di mana manusia melihat bahwa otoritas Allah berada diatas segala-galanya. Dari hal ini arti Pengakuan Iman yang telah saya ikrarkan kepada Tuhan adalah sebuah bentuk pengungkapan identitas diri. Di mana saya merasakan bahwa kehadiran Tuhan itu nyata dengan cara bertindak secara aktif di dalam karya-Nya. Sehingga makna Pengakuan Iman adalah sebuah pondasi manusia untuk dapat mengenal, bergaul karib dan merasakan hidup bersama Tuhan dengan memaknai setiap hal dalam kehidupan dan telah memberikan makna buat sesama. Dari hal ini perlunya pendekatan secara internal kepada Tuhan dengan mengandalkan dan berserah diri sepenuhnya. Manusia perlu membangun relasi yang baik dengan Tuhan untuk memotivasi diri supaya memilikihati seorang hamba, dengan memaknai pengorbanan Kristus diatas kayu salib untuk penebusan manusia.
Pada dasarnya manusia pasti membutuhkan Pengakuan Iman dalam kehidupannya, dengan mengakui dan mengimani bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap karya-Nya buat manusia, sehingga kita harus melihat dengan jeli setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita itu pasti baik adanya. Dengan adanya Alkitab sebagai landasan pedoman hidup kita oran percaya, di mana kita telah menerima Anugerah Tuhan yang merupakan wujud cinta kasih-Nya kepada manusia. Perlunya kita berdiam diri dengan menyadari arti kehadiran Tuhan itu dengan Iman Percaya yang telah kita miliki, supaya hidup kita dapat menjadi berkat buat sesama yang membutuhkan dalam mewujudkan Kerajaan Allah ditengah-tengah dunia ini.