Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Sabtu, 23 Juni 2012

kecemasan tentang kematiaan dalam urutan peringkat

kemungkinan menjadi penyuka sayuran untuk suatu masa tertentu 73 % tipe medis
tidak memiliki kesempatan berpamitan kepada seseorang  70 % tipe emosional
kemungkinan sakit fisik yang hebat sebelum meninggal   67 %  tipe medis
bagaimana orang yang dikasihi akan dirawat  65 %  tipe praktis
berpikir bahwa kematian akan menjadi penyebab ketidaknyamanan dan stres bagi orang dikasihi  64 % tipe emosional
tidak diampuni oleh Tuhan  56 % tipe spiritual
tidak berdamai dengan orang lain 56 % tipe spirituaal
kemungkinan tidak memiliki akses pada teknologi penyelamat nyawa secara medis  56 % tipe medis
kemungkinan tidak mendapat akses pada dokter atau rumah sakit 52 % tipe medis
hampir meninggal saat dipisahkan atau diputus hubungan dari Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi  51 % tipe spiritual
kemungkinan penderitaan emosional yang berlanjut 51 % tipe emosional
tidak dimaafkan oleh karena melakukan kesalahan 49 % tipe spiritual
membiarkan orang lain mengambil keputusan medis 48 % tipe medis
 kemungkinan sendirian saat hampir meninggal  47 %  emosional
tidak membuat atau memperbarui surat wasiat 43 % tipe praktis
tidak menyelesaikan tugas kehidupan 43 % tipe praktis
pemikiran tentang berada di rumah sakit saat hampir meninggal 41 % tipe medis
tidak mendapat berkat dari anggota keluarga atau pendeta 39 % tipe spiritual
akan seperti apa kehidupan setelah kematiaan   39 % tipe spiritual
apakah akan diingat atau dirindukan setelah beberapa waktu  35 % tipe emosional
tidak hidup lagi dan tidak menjadi bagian dari dunia ini  32 % tipe emosional
tidak membuat pengaturan penguburan   32 % tipe praktis
seseorang memeriksa harta miliknya setelah meninggal  19% tipe praktis
apa yang akan dikatakan saat penguburan 13 % tipe praktis

diadaptasi dari George H. Gallup international institute.

Jumat, 22 Juni 2012

Latihan Rohani menurut St. Ignatius Loyola


Latihan Rohani (Spiritual Exercises) dari St. Ignatius dari Loyola menandai spiritualitas Katolik dengan memberikan semacam cara praktis untuk melakukan meditasi dalam kehidupan rohani bagi mereka yang ingin bertumbuh dalam kekudusan. Dalam karyanya, Spiritual Exercises (SE), St. Ignatius menjabarkan banyak cara untuk berdoa, namun yang paling berpengaruh dan paling dikenal adalah apa yang disampaikannya dalam Latihan Pertama (First Exercise- SE 45-54) di mana imajinasi, ingatan, pemahaman dan kehendak dikerahkan dalam meditasi, dan diakhiri dengan percakapan yang akrab dengan Tuhan (yang disebut colloquy). Dengan cara ini, semua kemampuan jiwa diarahkan untuk masuk ke dalam misteri iman agar misteri tersebut dapat tergabung di dalam kehidupan kita dan hati kita, dan dapat menghasilkan buah, yaitu membuat kita menjadi semakin menyerupai Kristus.

1. Jadi langkah-langkah meditasi secara garis besar menurut St. Ignatius, adalah:

A. Langkah pendahuluan meditasi: Gunakan imajinasi

Langkah pertama dari meditasi apapun selalu adalah menyadari bahwa kita berada di dalam hadirat Allah, dan kita memohon kepada-Nya agar membantu kita melakukan meditasi dengan baik dan menghasilkan buah yang baik bagi pertumbuhan rohani kita; dan kita menyampaikan maksud hati yang murni untuk mengasihi dan melayani Dia dengan lebih baik dan mempersembahkannya untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar lagi.
Langkah berikutnya adalah mendayakan imajinasi kita -yang seringnya juga menyebabkan pelanturan (distraction) saat berdoa- untuk menghadirkan sesuatu yang berhubungan dengan misteri yang ingin kita renungkan dalam doa meditasi itu. Maka, jika kita sedang memeditasikan kisah sengsara Tuhan Yesus, kita harus menggunakan imajinasi untuk membayangkan Kristus Tuhan di Taman Getsemani, di hadapan para ahli taurat, di hadapan Pilatus, pada saat memikul salib, dan ketika akhirnya Ia menyerahkan nyawa-Nya dan wafat bagi kita.
Langkah ketiga adalah untuk memohon kepada Tuhan rahmat khusus atau buah yang kita cari di dalam meditasi itu. Ketika kita sedang merenungkan tentang dosa, maka kita memohon agar kita dapat memperoleh rasa sesal yang mendalam, dan dukacita oleh karena dosa kita karena semua itu merupakan tindakan yang berlawanan dengan kasih kepada Allah dan sesama. Jika kita merenungkan kelahiran Tuhan Yesus, maka kita mohon agar memperoleh sukacita yang mendalam dan rasa syukur sebab Ia telah berkenan menjelma menjadi manusia. Jika kita merenungkan kisah sengsara Kristus, kita mohon agar kita dapat turut merasakan dukacita Kristus, yang rela menderita demi menebus dosa-dosa kita. Jika kita merenungkan tentang kebangkitan-Nya, kita mohon agar diberi suka cita yang besar atas kemenangan Kristus atas dosa dan maut.

B. Dayakan ingatan

Berikutnya adalah dayakan ingatan akan suatu kejadian yang telah berlalu yang ingin kita pikirkan secara mendalam. Dapat saja berupa dosa Adam dan Hawa, atau bahkan dosa-dosa saya sendiri. Atau dapat pula kejadian-kejadian yang ada dalam Injil.

C. Renungkanlah

Setelah kita mendayakan ingatan kita akan suatu kejadian tertentu, lalu ingatan itu mengarahkan pikiran kita untuk menghubungkannya dengan kasih Tuhan, belas kasih-Nya yang tak terbatas, pelanggaran dosa, rasa kurang berterima kasih, dukacita dan pengorbanan Kristus, dst. Kita dapat pula merenungkan tentang pikiran Kristus yang ada di dalam Hati-Nya, hasrat-Nya agar kita mau bekerja sama dengan-Nya dan agar kita dapat hidup kudus. Di samping itu, kita dapat pula merenungkan kelemahan kita, kecenderungan kita akan dosa tertentu, apa panggilan Tuhan terhadap hidup kita, bagaimana caranya untuk melayani Tuhan dengan lebih baik, bagaimana untuk menghindari dosa dan bertumbuh dalam kebajikan.
Renungan ini dapat mendorong kita untuk mengungkapkan kasih kepada Allah, pertobatan, penyesalan, ketetapan hati ataupun resolusi untuk mengubah diri ke arah yang baik, ataupun persembahan diri kepada Tuhan. Atau dapat juga hanya merupakan kontemplasi akan apa yang direnungkan. Sikap-sikap batin ini sangat berharga dalam meditasi.

D. Colloquy

Puncak meditasi adalah percakapan yang intim dan langsung dengan Tuhan, yang disebut oleh St Ignatius sebagai ‘colloquy‘ (SE 63). Doa adalah mengangkat hati kepada Tuhan. Bagian- bagian awal dari meditasi bertujuan untuk mempersiapkan kita membuat percakapan dengan Tuhan dengan akrab, dengan perasaan, pemahaman yang mendalam. Ini adalah saatnya memberikan diri dengan murah hati kepada Tuhan.
St. Ignatius memberi contoh-contoh tentang colloquy yang mengakhiri periode meditasi (30-60 menit). Dalam Latihan Rohani tentang Dosa, colloquy dibuat di hadapan Kristus yang tersalib, yang kita bayangkan hadir di hadapan kita. St. Ignatius mengajarkan kita untuk mulai berkata-kata dengan Dia, dan bertanya kepada-Nya, bagaimana bahwa Ia yang adalah Sang Pencipta telah merendahkan diri begitu rupa sampai menjadi manusia, dan untuk menembus kekekalan menuju kematian di dalam waktu di dunia ini, agar dapat wafat demi menebus dosa-dosa kita. Kitapun harus bertanya pada diri sendiri: “Apa yang dapat kuperbuat untuk Kristus? Apakah yang sedang kuperbuat untuk Dia? Apakah yang harus kuperbuat untuk Kristus?” Ketika kupandang Kristus di dalam sengsara-Nya tergantung di salib, aku harus merenungkan apa yang hadir di pikiran saya tentang hal itu.”
Colloquy harus mendorong keakraban kita dengan Kristus, Allah Bapa, Roh Kudus dan Bunda Maria. Percakapan ini merupakan kesempatan untuk menyampaikan kasih kita kepada Tuhan, dan keinginan kita untuk melayani Dia dan berjalan bersama-Nya. Di dalam colloquy ini kita memohon rahmat untuk: 1) memperoleh pengetahuan dan kebencian akan dosa; 2) memahami ketidakteraturan dari perbuatan pelanggaran kita agar kita dapat memperbaikinya; 3) memperoleh pengetahuan tentang dunia sehingga kita dapat berjuang untuk membuang dari kita segala yang bersifat duniawi dan sia-sia.

2. Prinsip dan pondasi meditasi

Latihan rohani tersebut diawali dengan renungan akan tujuan akhir hidup kita (SE, 23):
“Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan demikian ia memperoleh keselamatan jiwanya. Dan segala sesuatu yang lain di dunia diciptakan untuk manusia dan bahwa mereka dapat membantunya untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya manusia diciptakan. Dari sini, artinya, manusia harus mempergunakan hal-hal duniawi tersebut asalkan hal-hal tersebut dapat membantunya mencapai tujuan akhir-nya, dan ia harus membuang hal-hal tersebut sejauh itu menghalanginya untuk mencapai tujuan akhir. Untuk ini, adalah penting untuk membuat diri kita tidak terikat kepada semua hal yang diciptakan, di dalam segala sesuatu yang diperbolehkan menjadi pilihan bebas kita dan yang tidak dilarang; sehingga di pihak kita, kita tidak menginginkan kesehatan daripada penyakit, kekayaan daripada kemiskinan, penghormatan daripada penghinaan, umur panjang daripada umur pendek, sehingga di dalam segala sesuatu, hanya menginginkan dan memilih apa yang paling kondusif bagi kita untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya kita diciptakan.” (SE, 23)
Di sini St. Ignatius mengajarkan: 1) keutamaan tujuan akhir di dalam setiap pengambilam keputusan; 2) kenyataan bahwa semua hal yang diciptakan adalah hanya merupakan sarana/ alat untuk mencapai tujuan akhir; 3) pentingnya melakukan discernment tentang penggunaan semua hal yang diciptakan; 4) sangat pentingnya ‘interior detachment‘ (ketidakterikatan dalam batin’ yang disebut juga ‘indifference‘) dari semua hal yang diciptakan (termasuk kesehatan, umur panjang, kekayaan, kehormatan, dst; dan 5) kita harus memilih sarana yang paling kondusif untuk mencapai tujuan akhir kita. Dengan kata lain, kita harus memilih apa yang dapat memberikan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan: ad majorem Dei gloriam.
Indifference‘ yang dimaksudkan oleh St. Ignatius adalah sikap batin untuk bertumbuh dalam kebijaksanaan adikodrati, yaitu kebajikan untuk memilih sarana/ cara yang terbaik demi mencapai tujuan akhir, dan juga karunia nasehat, yang olehnya kita membiarkan diri digerakkan oleh Allah untuk memilih sarana yang terbaik untuk mewujudkan rencana-Nya untuk menguduskan kita dan menyempurnakan kita dalam kasih.

3. Struktur Latihan Rohani yang diajarkan oleh St. Ignatius.

St. Ignatius membagi Latihan Rohani tersebut menjadi empat ‘minggu’. Ini bukan tujuh hari dalam seminggu, tetapi hanya menunjukkan tingkatan dalam perjalanan rohani dan komitmen yang sepenuh hati bagi pelayanan kepada Tuhan.

A. Minggu pertama: Meditasi tentang neraka

Untuk menggambar meditasi tentang neraka, baik jika kita membaca kutipan tulisan St Teresia dari Avila, Life (ch. 32):
“Suatu ketika di dalam doa saya menemukan diri saya, tanpa saya ketahui bagaimana, di dalam keadaan di mana kelihatannya seperti di tengah neraka. Aku mengerti bahwa Allah menghendaki aku melihat di sana sebuah tempat yang disiapkan oleh setan-setan bagi saya, … yang dapat kuterima oleh karena dosa-dosaku…..Di sisi sana ada semacam cekungan di dinding …, di mana saya dimasukkan ke sana dan ditutup dengan rapat…. Aku merasakan api di jiwaku, yang tak kumengerti bagaimana mengungkapkannya…. Kesakitan tubuh yang paling tak tertahankan…. semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jiwa yang merana….sebuah derita kesedihan yang begitu dalam dan dengan dukacita karena ditinggalkan. Sebab untuk mengatakan bahwa jiwa itu dicabut dari akarnya adalah terlalu kecil, sebab sepertinya ada sesuatu yang lain yang mengakhiri hidup kita; tapi di sini jiwa itu sendiri yang nampaknya memotong-motong dirinya sendiri, … terbakar dan hancur menjadi berkeping-keping…. Semuanya menyesakkan, dan tak ada terang, tapi semuanya hitam kelam. Aku tak mengerti bagaimana bisa terjadi, bahwa tanpa terang, semua dapat terlihat dengan pedih… Aku tak tahu bagaimana, tetapi aku mengerti bahwa itu adalah sebuah rahmat dan bahwa Tuhan menghendakiku untuk melihat dengan mata saya sendiri sebuah tempat yang darinya saya telah dibebaskan oleh karena belas kasihan-Nya.”
Maka fase ini adalah waktu untuk merenungkan di dalam hidup kita kasih Allah yang tidak terbatas bagi kita. Kita melihat bahwa tanggapan kita akan kasih Tuhan terhalang oleh dosa. Kita berjuang mengalahkan dosa, sebab kita tahu bahwa Allah ingin membebaskan kita dari segala sesuatu yang menghalangi tanggapan kasih kita kepada-Nya. Fase pertama ini berakhir dengan meditasi tentang panggilan Kristus untuk mengikuti Dia.

B. Meditasi Minggu kedua: Meditasi Kristus sebagai Raja, Dua Standar, dan Tiga Klasifikasi Orang

Meditasi dan doa-doa dari minggu kedua ini mengajarkan bagaimana kita harus mengikuti Kristus sebagai murid-Nya. Di sini kita merenungkan perikop-perikop: Kelahiran Kristus dan Pembaptisan-Nya, khotbah di bukit, mukjizat-mukjizat penyembuhan-Nya dan pengajaran-Nya, membangkitkan Lazarus dari mati. St. Ignatius juga mengajarkan meditasi tentang Kristus sebagai Raja. Prinsip dan pondasi dari meditasi ini adalah untuk mengajarkan kita membuat semua pilihan demi mencapai tujuan akhir, yaitu mengasihi, memuji dan melayani Tuhan. Di sini St. Ignatius mengajarkan kita untuk membuat semua pilihan keputusan kita untuk melayani Kristus Raja yang mengatasi dunia demi kemuliaan Tuhan (SE 91-100). Selanjutnya, St. Ignatius juga mengajarkan meditasi tentang adanya Dua Standar yang berlawanan di dunia, yaitu standar iblis dan standar Kristus (SE 136-147). Meditasi Dua Standar ini dilanjutkan dengan meditasi tentang Tiga Klasifikasi Orang (149-157).
Di meditasi Tiga Klasifikasi orang ini kita merenungkan tiga orang yang memperoleh kekayaan besar dengan cara yang halal. Maka masalahnya bukan masalah dosa. Mereka memperoleh kekayaan ini tanpa memperhitungkan kemuliaan Tuhan ataupun kehendak-Nya. Namun melalui fase minggu kedua ini, ketiga orang itu menginginkan keselamatan jiwa dan damai dari Tuhan karena melaksanakan kehendak-Nya. Mereka telah meninggalkan dosa melalui tahap minggu pertama, dan kini mereka ingin mengetahui kehendak Tuhan bagi mereka. Setelah merenung, mereka mengakui bahwa mereka mempunyai keterikatan yang berlebihan terhadap kekayaan mereka. Namun terdapat tiga kemungkinan reaksi terhadap kesadaran tentang hal itu: 1) tipe orang yang pertama: ingin melepaskan keterikatan yang berlebihan ini, tetapi tidak berhasil karena tidak memilih satu saranapun untuk memeranginya; 2) tipe orang kedua: ingin melepaskan keterikatan yang berlebihan dan melakukan kehendak Tuhan, namun keinginan ini tidak murni, sebab mereka menghendaki Tuhan menyetujui kepemilikan harta mereka; mereka ingin agar kehendak Tuhan sesuai dengan kehendak mereka, bukannya benar- benar terbuka untuk menyesuaikan diri mereka dengan kehendak Tuhan; 3) tipe orang ketiga: melepaskan keterikatannya dengan harta miliknya, “Mereka menghendaki untuk mempertahankan ataupun melepaskannya [harta milik] semata-mata tergantung dari yang Tuhan gerakkan di dalam kehendak mereka, dan juga sesuai dengan apa yang mereka pandang menjadi lebih baik bagi pelayanan dan pujian bagi kemuliaan Ilahi.” (SE 155)
Jadi tujuan meditasi di fase ini adalah: 1) agar kita tidak tuli terhadap panggilan Kristus yang menghendaki kita bekerja bersama Dia, sehingga dengan berjerih payah bersama-Nya, kita dapat masuk pula dalam kemuliaan-Nya. 2) berkarya bersama Tuhan; 3) St. Ignatius mengajarkan hal yang lebih tinggi: yaitu mencapai semangat kebesaran jiwa/magnanimity, yaitu melalui pemberian diri ataupun pengorbanan diri yang total bagi kemuliaan Allah.
Maka menurut St. Ignatius, ketiga hal ini berhubungan dengan tiga tingkat kerendahan hati (SE 165-167): 1) kerendahan hati untuk taat kepada hukum Tuhan di atas segala sesuatu; 2) disposisi ketidakterikatan dengan hal-hal duniawi, kerendahan hati menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak Tuhan, seperti Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”; membuang keterikatan terhadap dosa-dosa (bahkan dosa ringan sekalipun) yang disengaja; sehingga demi kasih kepada Tuhan, lebih baik memilih mati daripada dengan sengaja melakukan dosa, bahkan dosa yang ringan; 3) kerendahan hati untuk memilih jalan hidup yang dilalui Kristus sebagai jalan hidupnya sendiri.
Atas dasar ini, seseorang juga dapat memilih jalan hidup panggilan yang ingin ditempuhnya (135, 169-189), yang didasari oleh satu kesadaran bahwa jalan panggilan hidup ini hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan akhir. Ada dua cara yang diajarkan oleh St. Ignatius dalam memilih panggilan hidup:
1.Tiga kondisi yang dapat meyakinkan kita akan kehendak Tuhan dalam hidup kita:
1) Kondisi pertama, (ini jarang terjadi/ extraordinary) bahwa kita sudah dengan sangat yakin; inilah kehendak Tuhan bagi kita.
2) Kondisi kedua: kita sampai pada suatu kejelasan dan pengetahuan tentang apa yang harus kita pilih setelah melalui pengalaman konsolasi dan desolasi.
3) Kondisi ketiga (yang paling umum) adalah ketika kita merasakan damai sejahtera akan pilihan kita tersebut.
2. Empat pertimbangan lain untuk mengetahui kehendak Tuhan:
1) Periksalah, atas dasar kasih kepada siapa yang mendorong kita melakukan hal itu: apakah murni untuk kemuliaan Tuhan ataukah untuk kemuliaan diri kita sendiri.
2) Bayangkanlah jika ada seseorang datang kepada kita meminta saran/ bimbingan akan permasalahan yang sama ini, untuk memberikan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan. Kita membayangkan apakah jawaban kita kepadanya, dan lalu terapkanlah jawaban itu kepada diri kita sendiri.
3) Pikirkan seandainya kita sedang dalam sakrat maut, pikirkan apa yang akan kita pilih pada saat itu sebelum kita memasuki kekekalan.
4) Pikirkan kita pada saat hari penghakiman, dan bagaimana kita berharap telah memutuskan tentang hal itu, agar mencapai pada pemenuhan hasrat batin dan sukacita pada saat penghakiman itu.

C. Meditasi Minggu ketiga (tentang Kisah Sengsara Yesus- Kontemplasi pertama)

Kita merenungkan Perjamuan Terakhir, kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus. Kita melihat bahwa penderitaan-Nya dan rahmat Ekaristi sebagai pernyataan kasih Allah yang paling sempurna.
St. Ignatius menjelaskan tentang rahmat Allah yang diperoleh di minggu ketiga ini mengarahkan kita kepada kontemplasi yang pertama: “Di sini saatnya memohon agar turut merasakan dukacita yang mendalam… karena Tuhan menjalani sengsara-Nya demi dosa-dosa saya.” (SE, 193). Selanjutnya, “Ingatlah betapa Ia menderita semua ini demi dosa-dosa saya… dan juga tanyakan [pada diri sendiri], Apakah yang harus kulakukan bagi-Nya?”.
Saat merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus, adalah layak jika kita memohon, “dukacita bersama Kristus yang berduka cita, hati yang hancur bersama dengan Kristus yang hancur, karunia air mata dan penderitaan batin karena besarnya penderitaan yang telah dipikul oleh Kristus demi aku.” (SE, 203).

D. Meditasi Minggu ke-empat: Kebangkitan Kristus dan penampakan Kristus setelah kebangkitan-Nya kepada Bunda Maria dan para murid-Nya (SE, 218-225)

“Di sini kita memohon rahmat untuk bersukacita dan bergembira dengan sangat oleh karena kemuliaan dan suka cita yang besar dari Kristus Tuhan kita.”(SE, 221)
Setelah meng-kontemplasikan peristiwa-peristiwa mulia, kita merenungkan, “betapa keilahian, yang nampaknya tersembunyi sepanjang kisah sengsara Kristus, kini memperlihatkan diri dan menyatakan dirinya secara ajaib di dalam Kebangkitan-Nya yang kudus ini, melalui akibat-akibat-nya yang sejati dan terkudus.” (SE, 223). Selanjutnya, kita merenungkan, “peran Sang Penghibur yang diutus oleh Kristus dan membandingkannya dengan cara sahabat saling menghibur.”
Pada minggu ke-empat ini kita mengalami penghiburan rohani yang mendalam dan sukacita, peluasan jiwa, dan persatuan yang erat dengan Yesus Kristus, yang menghibur kita dengan akrab. Penghiburan ini memperlengkapi kita untuk meneguhkan pilihan status panggilan hidup ataupun reformasi hidup yang telah dibuat di dalam latihan rohani ini. Sebab pengalaman damai sejahtera rohani yang mendalam merupakan tanda bahwa kita telah dengan benar melihat kehendak Allah bagi kita.

4. Doa di dalam Latihan Rohani

Terdapat dua macam bentuk doa yang diajarkan di Latihan Rohani, yaitu meditas dan kontemplasi. Di dalam meditasi, kita menggunakan pikiran. Kita merenungkan prinsip-prinsip dasar yang membimbing kehidupan kita. Kita berdoa dengan kata-kata, gambar dan ide-ide. Kontemplasi adalah lebih berupa perasaan daripada pikiran. Kontemplasi sering mencampur emosi dan menyalakan keinginan-keinginan yang mendalam. Di dalam kontemplasi, kita mengandalkan imajinasi kita untuk menempatkan diri kita di dalam “setting” peristiwa dalam Injil ataupun dalam kejadian yang diusulkan oleh St. Ignatius. Kita berdoa dengan Kitab Suci, bukan mempelajarinya.
Dengan meditasi dan kontemplasi ini, kita melakukan “discerment of spirits“/ pembedaan roh. Kita melihat pergerakan batin dan melihat ke mana pergerakan itu memimpin kita. Jika kita melakukannya secara rutin, kita akan terbantu dalam membuat keputusan dengan baik. St. Ignatius menekankan pentingnya pemeriksaan batin yang dilakukan secara teratur/ rutin di dalam kehidupan rohani. Jika kita melakukannya secara rutin, jiwa kita akan menyadari akan titik kelemahan kita, dan jika kita terus merenungkannya dan berjuang mengalahkan titik kelemahan itu, maka kita akan dapat memperoleh kebajikan yang menjadi lawan dari titik kelemahan tersebut. Untuk melawan kekurangan tertentu (misalnya, kesombongan, kemalasan, dst), St. Ignatius menyarankan diadakannya pemeriksaan batin dua kali sehari, agar kita dapat menelusuri perkembangan kita mengalahkan kelemahan kita itu.
Demikianlah sekilas tentang ringkasan Latihan Rohani (Spiritual Exercises) yang diajarkan oleh St. Ignatius dari Loyola. Penekanan yang diajarkannya adalah, agar kita dapat menjalankan kehidupan kita di dunia ini dengan mata hati terarah kepada tujuan akhir kita kelak bersama Tuhan di surga. Dengan demikian, dalam segala sesuatu hati kita terdorong untuk melakukan apapun yang dapat mendatangkan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan: for the greater glory of God, ad majorem Dei gloriam!
Ditulis oleh: Ingrid Listiati
Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. 

Rabu, 06 Juni 2012

PASKAH


LATAR BELAKANG SEJARAH PASKAH
            Kata paskah berasal dari kata yunani pascha anastasimon  atau ibrani pesach, artinya melewati atau menyebrangi (transitus). Perbudakan dimesir telah dilalui oleh Israel kini mereka menuju tanah perjanjian. Paskah dilihat sebagai hari keluarnya bangsa Israel dari dari mesir melewat laut teberau – demikian dilihat sebagai pembebasan dari perbudakan kuasa dosa untuk merayakan kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah-hari kebangkitan Kristus. Paskah adalah prosesi peristiwa Kristus. Prosesi diawali dari bukit zaitun  dan gerbang Yerusalem pada minggu palem, diteruskan pada kamis putih dan jumat agung sampai minggu paskah ditempat-tempat yang ditetapkan. Hari paskah merupakan perkembangan hari raya setelah abad ke-4 sebelumnya paskah sebagai perayaan penyelamatan dunia yang Allah lakukan dalam Kristus dirayakan hanya pada satu malam yakni pada tengah malam hingga minggu fajar.
MODEL ATAU BENTUK LITURGI
            Ada empat bagian liturgi paskah yaitu: ritus cahaya, liturgi firman, liturgi firman liturgi baptisan (konfirmasi oleh uskup) dan liturgi perjamuan kudus.
Ritus cahaya
Liturgi diawali dari lur gedung gereja. Para imam dan pembantunya dengan mengenakan jubah putih membawa lilin paskah untuk kemudian meletakkannya didepan gereja dan membakar api unggun. Kayu-kayu dibakar disusun berbentuk salib: Alfa dibagian kepala dan Omega di bagian kaki. Umat berdiri ditgempat yang agak jauh dari lilin. Setelah beberapa setelah beberapa pembacaan responsori, lilin dibawa masuk kedalam gereja untuk diletakkan dialtar dan ditebari dupa. Sementara berprosesi umat semntara umat mengenang penyertaan Tuhan kepada umat Israel melalui tiang api selama perjalanan di gurun pasir. Ini menyimbolkan umat pada pemahaman akan Kristus: yoh 8:12. Kekhidmatan liturgi cahaya ini hanya mungkin dihayati ketika penyalaan lilin (Qwtismos=penerangan, wahyu ) tidak terjadi seketika sebagaimana dizaman listrik ini. Selama penyalaan lilin-lilin berita kebangkitan Kristus disiarkan dengan nyanyian exsultet.



Litugi firman
Adalah pembacaan beberapa perikop dan beberapa pengajaran beberapa homili oleh uskup. Bagi gereja yang tidak merayakan paskah pada sabtu malam dibacakan sekitar sembilan perikop atau sebanyak 14 perikop yang dibacakan mulai dari PL (setiap pembacaan diantarai dengan mazmur responsori dari 116-118) dan doa. Leksionari tersebut dicantumkan dalam bagian paskah malam. Lilin-lilin altar dinyalakan setelah pembacaan PL selesai, bersamaan dengan dibunyikannya lonceng gereja dan dinyanyikan Gloria in ekselsis Deo. Akhir pembacaan, setelah injil umat menyambut dengan berdiri dan menyanyikan haleluya. Bagi gereja yang telah merayakan paskah malam, maka hari minggu ini adalah minggu paskah pertama. Bacaan pada tahun A menyaksikan pertumbuhan jemaat mula-mula akibat kebangkitan Kristus, semua bacaan dari PB dan hingga pentakosta. Kisah para rasul adalah bacaan tahun pertama (tahun A-B-C). secara umum dari gereja awal kesaksian para rasul tentang kebangkitan Kristus kepada segala bangsa menjadi tema minggu-minggu paskah.
Baptisan dan perjamuan
Sejak abad ke-2 gereja merayakan paskah dengan baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus yang pertama. Baptisan disejajarkan dengan kisah umat Israel melewati teberau. Baptisan terutama bagi orang Kristen baru dan neofit setelah diantarai dengan doa syafaat-dilanjutkan dengan perjamuan kudus sebagai ungkapan syukur oleh karena Tuhan menebus umatNya dan tanda kemenangan atas kuasa dosa.
Ritus-ritus bagi para calon baptis yaitu didahului oleh pembacaan Alkitab yang berisi pemberitaan tentang karya penyelamatan oleh Allah kepada orang percaya yang kemudian diikuti  dengan perayaan pembaptisan.
Liturgi sebagai perayaan paskah
            Peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus ini adalah inti misteri paskah. Vatikan II menyadari betul peranan dalam karya penyelamatan Allah dan juga seluruh Liturgi Kristiani. Adapun karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah ditengah umat perjanjian lama. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan terutama dengan misteri paskah: sengsaraNya yang suci, kebangkitannya dan kenaikannya dalam kemuliaan.dengan misteri Kristus menghancurkan wafatnya dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitanNya. Sebab lambung Kristus yang beradu disalib muncullah sakramen seluruh gereja yang mengagumkan. Dengan pernyataan seperti ini konsili tidak hanya mengatakan bahwa puncak karya keselamatan Allah terjadi dalam misteri paskah melainkan misteri paskah menjadi pusat seluruh liturgi. Oleh karena itu Kristus diutus oleh bapa begitupula Ia mengutus Roh Kudus. Mereka diutus bukan hanya memberitakan bahwa putra Allah dengan wafat  dan kebangkitNya telah membebaskan kita dari kuasa setan dan maut. Problematik liturgis adalah tentang peranan misteri paskah dalam liturgi adalah bagaimana memahami liturgi tentang misteri paskah itu. Konkretnya paskah itu dirayakan dalam liturgi hanyalah buah penebusan Kristus saja yang mengalir dari peristiwa salibNya. Teolog Mysterientheologie (teologi misteri) pada abad ke-20 tokoh utama ordo Casel (1886-1848), teolog misteri berpendapat bahwa yang hadir dalam liturgi bukan hanya buah penebusan kristus saja tetapi juga peristiwa salib Kristus , seluruh misteri paskah hadir dalam liturgi kita.
Teologi sakramental berpangkal pada kenyataan simbol dimana simbol itu bukan hanya menyangkut pada relitas yang dilambangkan saja melainkan melalui dan dalam simbol itu sendiri. Kata dihadirkan disini bukan berarti pengulangan tetapi suatu pengetahuan (anamnese) dalam arti biblis. Pengenangan arti alkitabiahnya adalah bahwa apa yang dikenang itu  bukan sekedar diingat ingat tetapi sungguh sungguh nyata dalam hari ini dan disini. Disatu pihak roh kudus menghadirkan salib Kristus dalam liturgi kita dan dipihak lain Roh Kudus membawa kita masuk kedalam peristiwa penebusan. Yesus Kristus yang dilakukan sekali untuk selamanya (ibr 9:24-28;10:10). Pengenangan misteri paskah dalam liturgi  selalu berlangsung dalam bentuk atau rupa simbol. Kehadiran misteri paskah dalam kehadiran nyata yaitu sakramental dalam bentuk simbol.
Misteri paskah adalah pusat dan jantung hati tahun liturgi. Inti acara tahun liturgi adalah perayaan misteri wafat dan bangkitnya Yesus Kristus yang dirayakan pada hari trihari paskah. Misteri paskah menjadi inti acara atau pusat dan jantung hati tahun liturgi yang dirayakan sepanjang tahun selalu merupakan perayaan kenangan penuh syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus. 

Apakah setiap Muslim Itu Mu'min?


Iman (islam dan kufr, iman “percaya (islam) kufr (tidak percaya) mu’min (orang percaya) muslim dan kafir (tidak tahu bersyukur). Muslim yang menerima Muhammad dengan sungguh adalah anggota dari masyarakat muslim menurut kharijiyyah ada muslim murni dan ada yang palsu. Konsep kufr ada ditengah umat muslim. Hadist menegaskan engkau tidak mungkin membelah hatinya untuk melihat niat yang sesungguhnya ia membuat pengakuan ini. Perubahan kafir dari inkar menjadi bidah. Kafir adalah percaya yang salah (tidak percaya).[1]
            Apakah islam itu memercayai dan apakah kepercayaan itu iman. Nabi menyebutkan 5 perintah :
Ø  Percaya satu Tuhan
Ø  Salat benar
Ø  Zakat diserahkan
Ø  Ramadhan atau puasa di bulan suci
Ø  Memberikan seperlima dari barang rampasan.[2] 
Islam yaitu kamu menyembah Tuhan dan tidak menyekutukan dengan sesuatupun dengannya, melaksanakan salat, membayar zakat, dan puasa dalam bulan ramadhan. Kepercayaan  iman, malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, utusannya, dan kebangkitan. Kesempurnaan ihsan yakni menjadi muslim yang sempurna. Seakan-akan kamu melihatnya. Jibril datang mengajarkan din atau agama.
*      Ihsan (muhsin = orang yang ihsan)
*      Iman (mu’min = orang yang percaya)
*      Islam (muslim = orang yang islam)
Setiap muhsin = mu’min, setiap mu’min = muslim, tidak setiap mu’min = mu’sin, tidak setiap muslim = mu’min.
Istlah islam dalam diri sendiri (minjihah nafsi-hi), disifati oleh mereka (min jihah alshabihi).
Ihsan terdapat iman dalam iman terdapat ihsan. Kerasulan (rasullah), kenabian (nubuwwah), mutlak (mujarrad).[3]
Iman dan islam berkaitan dengan perbuatan dan kepercayaan. Ada lima tiga yang perlu ddirikan : iman, salat, sakat, puasa, hajj.[4]
 Zakat dalam pl disebut esser yaitu memberikan sepersepuluh (kej 14 :20; 28:22, kel 23:16,19; 24 :22-26). Mempersembahakan buah pertama dipersembahkan sebagai kedaulatan Allah. (ul 26:10) dan belajar takut akan Allah (ul 14:23).[5]
Zakat dalam PB disebut me’aser sebagai dekatee (persepuluhan) luk 18:12 (pemungut cukai dan orang farisi). Logeia (pengumpulan uang), diberikan dengan sukarela tanpa paksaan (rm 25 :25-28, 1 kor 9:8-18, 2 kor 9:5). Dimana zedekah itu merupakan tuntutan injil dengan menjawab segala tantangan. Sedekah merupakan tuntutan injil.[6]
v  Takwa dan kasih kepada Allah dan sesama (1 yoh 3:17, 4:20)
v  Kasih berarti penyerahan
v  Membangun paguyuban
v  Melestariakan penderitaan.[7]


[1] Tohihiko izutsu, konsep kepercayaan dalam reologi islam,hal 7-11
[2] Ibid hal 65-66
[3] Ibid hal 67-68
[4] Ibid hal69-70
[5] Press yogya, 5 titik temu agama-agama, hal 215
[6] Ibid, hal  217
[7] Ibid, hal 224