Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 30 Mei 2012

Nyanyian Taize


Penyesuaian liturgi lahir di prancis di desa Taize. Nyanyian Taize merupakan nyanyian dinamis namun bernuansa kontemplatif. Nyanyian Taize berbagai alat musik harmonis, khidmad, teromptet, flute, organ dan gitar. Nyanyian Taize dinyanyikan dalam rangka ibadah harian, namun ada pula ibadah pribadi, kelompok memanfaatkan sebagai musik ibadah. Pola nyanyian pendek secara kanon adalah pola pertama musik Taize gaya Berthier. Cantata Domino, Christus vincit Magnificant (NKB 54), adalah nyanyian yang diciptakan untuk pemuda mengerti dan mengurangi kebosanan. Musik Taize khas sederhana, meditatif, dan bermutu. Lagu Taize sangat cocok digunakan untuk meditasi. Rasid Rachman, Pembimbing Ke dalam Sejarah Liturgi, jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010, 201.
Tata Liturgi hari minggu, liturgical movement adalah pembaruan liturgi. Ada tiga jenis yang digunakan dalam gerakan liturgis:
1.     Publikasi dan penerbitan buku, jurnal, dan majalah tentanhg penelitian historis dan teoloigis historis.
2.    Seminar-seminar untuk ekperiman kehidupan dan perayaan liturgi.
3.    Konferensi liturgi untuk menetapkan pola, ritus, dan pegangan liturgi agar lebih menjemaat dan ekumenis
Ada tiga cara pnelitian tiga aras dalam gereja yakni:
1.     Para ilmuwan dengan mengadakan penelitian dan publikasi ilmiah
2.    Para seniman dan umat dengan eksperiman dan pelatihan di seminar
3.    Pengambil keputusan yakni presbiter melalui sidang gerejawi untuk menetapkan hasil penelitian dan direkomendasikan untuk hal-hal liturgis yang diterima di gereja. 

Jumat, 25 Mei 2012

konsep hamba menurut Markus 10:43-44


PENDAHULUAN
Hamba dalam stratifikasi sosial masyarakat adalah golongan paling rendah. Pekerjaan hamba adalah pekerjaan yang paling hina pada masa dahulu. Zaman sekarang, kata hamba sudah tidak dikenal lagi, kata yang sepadan dengan itu adalah budak, pembantu, dan buruh. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan kasar dengan gaji yang kecil serta penghargaan masyarakat yang kurang. Pekerjaan seperti buruh pabrik, pembantu rumah tangga menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi. Hamba sering mengalami penindasan dari tuannya.
Seorang hamba atau pembantu adalah pekerja kasar artinya mengerjakan semua pekerjaan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang atau penghidupan. Kata hamba tidak dijumpai dalam teks namun kata itu menunjuk pada istilah Anak Manusia. Gambaran hamba hanya ditemukan dalam nyanyian hamba Tuhan dari kitab Yesaya. Seorang hamba, Yesus menderita dan mati untuk banyak orang (Yes 53:12).[1] Pokoknya adalah penderitaan yang tidak semestinya ditanggung oleh hamba Tuhan bahkan kematiannya untuk menyingkirkan dosa bangsanya. Hamba itu membuat diri-Nya sebagai persembahan untuk dosa (Yes 53:1).[2]
Menurut W.R.F Browning, orang Kristen memahami nyanyian itu sebagai nubuat tentang Mesias yang akan datang. Penderitaan dan kematianNya adalah seperti yang dinyatakan oleh kitab suci dan sama sekali tidak kebetulan.[3] Hamba memiliki tugas melayani bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi kesejahteraan orang disekitarnya. Menjadi yang terbesar dan pertama adalah melayani kebutuhan semua orang seperti yang dilakukan Yesus. Seorang hamba yang melakukan tugasnya dengan baik maka akan diberi kepercayaan penuh oleh majikannya. Siapa yang ingin mengikut Yesus berarti bersedia melayani, seperti yang Yesus lakukan.
ISI
Pengantar ke dalam Kitab
Penulis
Donald Guthrie berpendapat bahwa penulis injil Markus adalah Markus. Dibuktikan dengan pandangan Papias, Kanon Muratorian, Ireneus, Clement, Origen dan Jerome. Selain itu penulis injil ini selalu dikaitkan dengan Petrus sedangkan kritik lain mengatakan bahwa Markus ditulis oleh Yohanes Markus.[4] Kebanyakan para pakar masa kini berpendapat bahwa tradisi dari pengaruh Petrus atas injil Markus adalah lebih praktis daripada historis yaitu tradisi demikian menjamin injil ini dengan kewibawaan rasuli.[5] Menurut Walter M Post bahwa injil Markus ditulis oleh Markus seorang pengikut Tuhan, anak Maria yang rumahnya pernah dikunjungi Petrus (Kis 12:12). Markus ikut dalam perjalanan Barnabas dan Paulus yang pertama (Kis 12:15).[6]
Wismoady Wahono mengakui bahwa injil Markus ditulis oleh orang yang bernama Markus yang dibuat dalam Kisah para rasul 12:12,25. Namun cerita itu tidak menunjukkan tentang injil Markus kecuali dikaitkan dengan penderitaan orang Kristen di Roma. Penulis injil Markus adalah seorang yang hidup bersama Yesus.[7] Pada dasarnya penulis Markus adalah seorang yang dekat dengan Tuhan dan diberi hikmat untuk menulis tentang Yesus kepada semua orang. Pendapat ini benar jika kita mengacu kapada bagian pertama injil Markus yakni permulaan injil Yesus Kristus Anak Allah (Mrk 1:1). Markus mengakui bahwa injil yang diberitakannya adalah injil mengenai Yesus Kristus. Pewartaan keselamatan yang terjadi secara historis yang terjadi dalam dunia ini.
Penerima
Menurut Walter M Post Injil Markus di tulis untuk orang Kristen bangsa Romawi. Hal itu ditandai dengan kutipan perjanjian lama, kata-kata dari bahasa ibrani, adat istiadat Yahudi dan menggunakan kata-kata Romawi yang tidak dipakai dalam injil lain. Guthrie berpendapat hampir sama Walter bahwa penerima injil Markus adalah non Yahudi yang tinggal di Roma. Pembuktian Guthtrie agak sedikit berbeda dari Walter dengan mengatakan bahwa injil Markus memberi gambaran tentang budaya Palestina. Pembuktian tersebut dengan penggunaan istilah Aram yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Dari injil sendiri dapat diidentifikasi pada generasi kedua gereja mula-mula. Tulisan ini mungkin sekitar tahun 70 M ketika Roma menghancurkan Yerusalem. Namun teolog berkesimpulan bahwa Roma adalah tujuan penulisan injil Markus.
Alasan Penulisan
Pada tahun 60-an M, orang percaya pada saat itu diperlakukan secara kejam oleh penduduk kota tempat tinggal mereka. Banyak orang percaya disiksa bahkan dibunuh di bawah pemerintahan kaisar Nero. Menurut tradisi, orang Kristen di Roma terdapat juga rasul Petrus dan rasul Paulus mengalami penindasan. Selaku salah seorang pimpinan gereja di Roma, Yohanes Markus digerakkan oleh Roh Kudus menulis Injil sebagai suatu yang bersifat nubuat dan tanggapan penggembalaan terhadap masa penganiayaan yang terjadi pada masa itu.
Tujuan penulisan ialah memperkuat dasar iman orang percaya di Roma. Mereka didorong untuk dengan setia menderita demi Injil Yesus Kristus. Mereka diperhadapkan dengan kehidupan, penderitaan, dan kematian. Sehingga mereka bisa menghayati dan meyakini kebangkitan Yesus.[8] Alasan penulisan Markus adalah sebagai bahan katekisasi, kepentingan liturgis, tujuan apologetika, Markus ditulis dalam rangka menjangkau semua umat dengan hanya mencatat peristiwa penting dalam sejarah penebusan. Markus tidak tertarik pada kristologi sebagai doktrin pribadi Kristus. Penekanan Markus pada baptisan sebagai klaim pemuridan.[9]
Pengantar ke dalam Nas
Persoalan yang ingin diuraikan dalam pembahasan setiap nas dalam injil Markus adalah kata hamba. Dalam Markus 10:43-44, dua kata yang digunakan untuk menjelaskan siapa yang terbesar di kerajaan Allah. Kata tersebut adalah pelayan dan hamba. Kemuliaan seorang murid menurut Markus adalah menjadi hamba seperti Yesus. Menurut Samuel Benyamin Hakh istilah pais atau hamba tidak digunakan oleh Markus. Namun dalam bahasa Yunani kata yang menunjuk hamba adalah doulos.[10] Hamba memiliki tugas menjaga rumah dengan tugas yang berbeda untuk menjaga kemungkinan pencuri datang untuk mencuri harta yang dimiliki oleh tuannya. Penekanan Yesus pada hamba dalam nas ini berkaitan dengan permintaan Yakobus dan Yohanes. Pesan Markus sangat relevan bagi pemimpin gereja. Menjadi pemimpin gereja berarti melayani kebutuhan saudara-saudaranya.
Konsep hamba sama dengan Anak manusia dan setara dengan nyanyian hamba yang menderitadalam Yesaya 53.Yesus memanggil murid-muridnya ketika permintaan Yakobus dan Yohanes diajukan. Yesus menjelaskan bahwa sikap ingin menjadi penguasa dan menindas adalah bukan sikap yang injili. Melayani dengan hati hamba adalah sesuatu yang hampir mustahil dilakukan pada saat ini. Pengikut Yesus cenderung melupakan pengajaran Yesus tentang pengorbanan Yesus, di mana Ia melayani banyak orang bahkan mati di kayu salib. Penderitaan merupakan bagian dari orang yang mau dipakai oleh Tuhan. Hamba tidak dikaitkan dengan harapan orang Yahudi tidak dikaitkan dengan Kristus.

Terjemahan
Markus 10: 44; dan akan kamu akan menjadi pertama jadilah seorang budak atau hamba untuk semuanya. Dalam bahasa toraja, sia minda-mindammi tu la morai pangulu, sipatu la mendadi kaunanmi sola nasang. Today English version menjelaskan and if one of you wants to be first, he must be the slave of all. Baik dalam terjemahan harafiah, bahasa toraja dan bahasa inggris sehari hari memiliki kesamaan dengan bahasa aslinya.
Istilah yang digunakan yakni Doulos bentuk nominatif, maskulin.[11] Pada dasarnya hamba dalam teks Markus 10:44, menjelaskan posisi hamba kaitannya dengan Anak manusia yang menderita. Seperti yang dijelaskan dalam ayat 45: karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Terjemahan bahasa inggris menggunakan kata Slave yang berarti budak atau pembantu.
Dalam terjemahan Contemporary English Version ayat 45: the Son of Man did not come to be a slave master, but a slave who will give his life to rescue many people. Kata yang digunakan melayani adalah slave. Sedangkan dalam terjemahan KJV menggunakan kata Minister. Sedangkan dalam bahasa Toraja menggunakan kata ma’kamaya yang artinya melayani.[12] Terjemahan dari ayat 43 yakni: tidak seperti yang terjadi diantara kamu, tetapi yang ingin besar menjadi hendaklah menjadi pelayan bagi semua orang. Ayat 44: dan yang ingin menjadi pertama hendaklah ia menjadi hamba. Ayat 45: juga Anak manusia tidak datang untuk dilayani tetapi melayani dan memberikan nyawanya bagi banyak orang. Gagasan hamba dapat dipahami kaitannya dalam Yesaya 42:1-4. Hamba Tuhan sering dikaitkan dengan yang diurapi. Hal yang penting dari hamba adalah kesatuan dengan Allah.
Bentuk,Struktur, dan Penyampaian
Kata hamba yang dalam Markus 10:44 adalah kata benda maskulin tunggal. Kalimat menggunakan kata penghubung dan, artinya lanjutan dari ayat sebelumnya. Dalam ayat 43 kata penghubung yang digunakan adalah tidak yang memberi pengertian in questions when an affirmative answer is expected. Ayat 45 dalam bahasa Indonesia menggunakan kata karena, dalam bahasa asli menggunakan kata kai. Kata yang sama digunakan dalam ayat 44, namun dalam hal ini ingin menjelaskan pengertian hamba dalam ayat 44.
Penjelasan teks ayat 43-45, ingin menjelaskan bahwa kemarahan kesepuluh murid dijawab Yesus dalam ayat 42. Di mana para pemerintah dan pembesar memerintah rakyatnya dengan tangan besi. Yesus memberi pemahaman bahwa penguasa dan pembesar yang diberi kepercayaan melayani namun tidak melakukannya bahkan menindas. Ia menginginkan para murid tidak seperti penguasa yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Tetapi melayani seperti hamba. Hamba dalam artian membuat semua orang merasa nyaman dan sejahtera.
Tafsiran
Kata yang penting dalam penjelasan nas adalah doulos.[13] Hamba dalam injil Markus dijelaskan sebagai objek atau milik. Tetapi dalam Markus 10:44, hamba sebagai pelaku atau subjek. Jelas bahwa pernyataan Yesus tentang menjadi terbesar hendaknya menjadi hamba, bukanlah sebagai objek penderita seperti nas lain dalam Injil Markus tetapi sebagai pelaku. Seperti hamba taat pada majikannya dalam melakukan tugasnya seperti itu jugalah kita dalam menjalankan seluruh tugas yang diberikan Tuhan kepada kita. Hamba yang diutus Tuhan selalu mendapat tantangan. Tantangan itu bisa saja dicela, dicaci bahkan mati karena memberitakan kebenaran. Pekerjaan hamba bukanlah pekerjaan yang mudah.
Nyanyian tentang hamba yang menderita dalam Yesaya 49:3, Engkau adalah hamba-Ku, Israel, timbul pertanyaan apakah hamba itu dimaksudkan dengan seluruh bangsa atau seorang individu yang melambangkan Almasih?.[14] Hamba yang dimaksud menurut gereja mula-mula adalah Yesus. Penderitaan tersebut yang dimaksud adalah penderitaan seseorang untuk orang lain. Hal yang paling nyata dalam Matius 8:17; Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Konsep hamba merupakan salah satu dari kristologi yang kaya.
Setiap orang dituntut untuk sabar menangung penderitaan. Jalan penghambaan atau membuat diri menderita bukanlah jalan yang harus dilalui tetapi sebuah sikap setiap pribadi dalam menjalankan tugas yang dilakukan. Sikap seorang hamba adalah sikap tidak menyombongkan diri dan rendah hati walaupun secara struktural ia adalah kepala perusahaan. Dalam gereja, majelis bukanlah kepala pemerintahan, di mana berlaku seperti pejabat Negara melainkan memiliki sikap yang rendah hati dan mau melayani.
Kesimpulan
Posisi hamba dari seluruh penelitian menunjukkan bahwa hamba adalah milik seseorang dan memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas sesuai keinginan majikannya. Namun Yesus mengangkat derajat hamba yang semula hanya objek penderita, milik majikan dan selalu mendapat perlakuan yang tidak baik dari majikannya telah diangkat menjadi pelaku. Yesus menghargai pekerjaan hamba yang tidak kenal lelah mengerjakan pekerjaan sesuai tugas yang diberikan kepadanya. Yesus hanya membiarkan diri-Nya untuk dikenal sebagai hamba Allah.
Kata hamba dalam bahasa Yunani adalah doulos, menggunakan kata benda tunggal dan sebagai pelaku. Setiap orang yang ingin menjadi besar dan terkenal hendaklah menjadi seperti hamba. Yesus memberi contoh kepada murid-muridNya bahwa seorang itu harus melayani bukan dilayani. Hamba kadang mendapat penyiksaan dan penderitaan. Tetapi hamba yang setia akan dipercayakan kepadanya semua harta yang dimiliki tuannya. Seperti Yesus yang setia melakukan tugas bapa-Nya yang disurga maka Allah menganugrahkan tahta di sorga. Jika kita juga setia melakuan tugas yang diberikan Kristus kepada kita maka kita akan bersama Dia di dalam rumah-Nya.
PENERAPAN
Yesus menggambarkan diriNya sebagai hamba yang menderita. Hamba yang menderita seperti nyanyian dalam Yesaya 53:6 menyebutNya ebed Yahwe. Ia mengajarkan kepada murid-muridNya bahwa jika ingin terbesar hendaklah menjadi hamba dan pelayan yang bekerja demi kemaslahatan bersama. Walter M Post menggambarkan hamba dan pelayan adalah pembesar dalam kerajaan Allah.[15] Hamba dan pelayan tugasnya adalah melayani dan rendah hati sebagai pekerja dalam kerajaan Allah. Namun kenyataannya situasi saat ini ada diantara pejabat gerejawi yang menganggap diri dalam gereja sebagai orang yang berpangkat dan berkedudukan tinggi. Sehingga memandang orang biasa dengan rendah dan menganggap derajantnya lebih tinggi.
Pelayan dan hamba adalah kedua kata yang sejajar meskipun hamba bukan merupakan profesi yang tidak baik. Budak atau hamba dalam tingkat sosial lebih rendah daripada pelayan. Ketaatan hamba kepada majikannya adalah mutlak. Yesus memberikan contoh kapada murid-Nya bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. Bukan hanya melayani tetapi memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang.[16] Yesus menggambarkan diriNya sebagai hamba yang menderita. Para pakar tidak menemukan kombinasi antara Mesias dan Hamba yang menderita dalam pra-kekristenan Yudaisme. Gagasan hamba yang menderita dituangkan dalam istilah perjanjian lama yakni ebed Yahwe. Gagasan hamba dalam perjanjian baru menggunakan istilah doulos. Ladd mengungkapkan bahwa Yesus tampak dalam kelemahan dan kerendahan hati sebagai seorang manusia diantara banyak orang untuk menggenapi takdir penderitaan dan kematian.[17] Yesus memberikan instruksi kepada murid-murid-Nya jika ingin menjadi besar hendaknya menjadi seorang hamba. Hamba taat pada perintah dan tugas yang diberikan kepadanya tanpa ada protes.
Hamba menggambarkan kerendahan hati dan mau menjalankan perintah Tuhan tanpa ada bantahan terhadap tugas yang diberikan. Jika seorang ingin menjadi budak atau pembantu ingin memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa peduli pada dirinya. Budak atau pembantu mau mengerjakan apa saja demi menyelamatkan keluarganya dari kesengsaraan. Hamba adalah terang bagi bangsa-bangsa. Hamba adalah panggilan bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Kita diajarkan untuk menerima dengan sabar penderitaan penderitaan dengan demikian menjadi contoh bagi orang lain.
Model hamba telah ditunjukkan Yesus yang mati bagi banyak orang di mana penderitaan merupakan semangat bagi manusia untuk berjuang hidup. Ini juga mengisyaratkan gaya evangelisasi, tidak dengan memengangkannya melainkan menanggung beban derita yang dialami di dalam dunia. Seorang hamba selalu berkata jujur dalam membongkar kejahatan atau persembunyian seseorang dari identitasnya. Dalam Islam hamba berasal dari kata abd, yang berarti merendahkan diri atau alat mengerjakan pekerjaan yang berat. Hamba adalah pekerjaan yang hina namun jika dikerjakan dengan bijaksana maka akan ada upah yang diberikan oleh majikan. Upah itu berdasarkan pekerjaan yang telah dikerjakan dengan susah payah.
Yesus menyebut diri sebagai Putra Allah dan Mesias, hamba yang menderita. Titik yang menentukan dalam kitab ini adalah episode di Kaisarea Filipi, yang disusul oleh peristiwa pemuliaan Yesus (Mrk 8:27-9:10), ketika identitas dan misi penderitaan Yesus dinyatakan dengan jelas kepada kedua belas murid-Nya. Bagian pertama kitab Injil ini memusatkan perhatian terutama kepada mukjizat luar biasa yang dilakukan Yesus dan pada kuasa-Nya atas penyakit dan setan-setan sebagai tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Akan tetapi, di Kaisarea Filipi itu Yesus memberitahukan dengan terus terang kepada para murid bahwa Dia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31).
Menusut Stefan Leks kata hamba, dalam Injil Markus, mengacu kepada fungsi seorang bawahan (Mrk 12:2,4; 13:34;14:7). Seorang hamba tergantung secara hampir menyeluruh dari majikan yang dilayaninya. Namun, dalam teks ini, majikan itu bukan seorang individu melainkan seluruh komunitas Kristen.[18] Komunitas Kristen justru dikenal bukan pada syarat untuk melayani melainkan memberi diri seperti seorang hamba. Pemahaman banyak orang tentang melayani Tuhan adalah aktif dalam kegiatan rohani di lingkungan gereja, yaitu dengan mengambil bagian dalam tugas tertentu. Sesungguhnya anggapan seperti ini justru membuat mereka tidak pernah melayani Tuhan dengan benar, sebab yang terbangun adalah anggapan bahwa segala kegiatan di luar lingkungan gereja bukanlah pelayanan bagi Tuhan. Sebenarnya yang dimaksud dengan melayani Tuhan adalah melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Tentu ini bukan hanya dalam melakukan kegiatan gereja, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan sampai di gereja kita menjadi pelayan Tuhan, di luar gereja menjadi pelayan setan. Menghambakan diri berarti memberi diri untuk melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Sikap seorang hamba digambarkan sebagai sikap yang ditunjukkan dalam pelayanan.
Di Indonesia seorang buruh, budak, hamba, atau pembantu kadang tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Pekerjaan yang berat kadang tidak sebanding dengan pembayaran pada kerja keras. Tuntutan yang diajukan oleh para buruh adalah mendapat penghasilan yang sebanding dengan kerja keras mereka. Tuhan memberikan janji bahwa jika hendak menjadi terbesar hendaklah menjadi hamba dan pelayan. Janji Kristus akan upah yang diterima oleh hamba yang setia adalah menjadi milik kepunyan Tuhan. Kristus memberikan bukti seorang hamba yang setia, yakni pada diri-Nya sendiri. Di mana Dia bersama Allah Bapa berada dalam sorga yang penuh damai dan sejahtera. Bolkestein mengatakan bahwa Yesus tidak memerintahkan untuk mengikuti jalan perhambaan melainkan menyangkut sikap (Mrk 8:35; 10:15).[19] Perintah yang diajukan Yesus pada injil Markus menunjuk pada keadaan yang nyata. Di mana seorang hamba betul-betul taat dalam menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.
Dalam pelayanan bukan hati boss yang dicari melainkan hati hamba. Menurut Andrew Buchanan bahwa kita melaksanakan pekerjaan Tuhan berdasarkan kesanggupan kita dalam mengerjakannya (2 Kor 3:5) Yesus mengecam ahli taurat bukan karena ketaatan mereka melainkan karena kesombongan diri.[20] Kerendahan hati dalam pelayanan dituntut Tuhan supaya tidak ada kesombongan diri. Yesus menghambarkan pengabdian seorang hamba, merupakan keadaan seorang manusia di hadapan Tuhan. Mengapa Yesus memberikan nasihat kepada para murid tentang konsep seorang hamba? Yesus mengajarkan bersikap seperti hamba supaya manusia saling menghargai.
Seorang hamba tidak bisa menuntut apa-apa dari tuannya melainkan mendapatkan hak atas pekerjaannya. Yesus mengkritik kehidupan orang Yahudi yang menganggap diri lebih tinggi dan lebih suci dari seluruh umat. Gambaran tentang kesalehan Ahli Taurat disamakan dengan kuburan. Di mana kuburan terlihat indah dari luar namun di dalam penuh dengan kebusukan dan kekerasan hati. Hamba tidak memiliki kekuatan dalam stratrifikasi sosial bahkan nyawa tidak berharga sekalipun. Sebagai hamba Tuhan kita tidak dapat menuntut kepada Tuhan atas kesetiaan terhadap hukum-hukum-Nya. Seorang hamba dengan rela hati mengambil tempat yang terendah, dan bertahan dalam berbagai kesulitan dan penderitaan karena pelayanannya terhadap orang lain. Kesetiaan yang demikianlah yang Yesus ingin ajarkan kepada murid-muridNya. Sebab hamba yang setia akan diberikan kepercayaan oleh tuannya jika ia setia.
Seorang doulos adalah seorang hamba yang terikat melayani tuannya seumur hidup. Kata doulos dalam bahasa Yunani modern berarti bekerja, atau bekerja keras. Yesus memberikan gambaran hamba yang menderita demi kepentingan orang lain. Seorang pelayan bukan seorang budak tetapi melakukan pekerjaan budak. Budak atau hamba melakukan pekerjaan dengan giat demi kesejahteraan orang lain. Menurut Darmawijaya hamba menampilkan kemuliaan, kesetiaan, ketaatan dan kasih yang tak ternilai. Hamba itu secara fisik tidak punya kelebihan dan hanya memberikan yang bisa ia berikan. Hamba itu sendirian, sepi, dihina dan ditolak banyak orang. Yesus memberikan gambaran hamba sebab memberikan yang terbaik.[21] Yesus menyampaikan kepada murid-murid pentingnya memiliki hati hamba. Kita harus melayani sesama karena Tuhan Yesus sendiri katakan bahwa Ia datang ke dunia ini bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Banyak orang yang melayani sesama supaya dipuji, dihormati dan tidak dengan motivasi yang benar. Mereka rajin dalam pelayanan-pelayanan sosial tetapi sesungguhnya mereka mengindahkan hukum yang pertama yaitu mengasihi Tuhan. Barangsiapa mengasihi Tuhan, ia pasti melayani Tuhan. Sebelum kita melayani sesama, kita harus melayani Tuhan dulu. Hal itu adalah keharusan bagi barangsiapa yang telah ditebus-Nya.
Hamba memulai pelayanan atau tugas dengan berdoa. Doa sebagai ketergantungan manusia kepada Tuhan. Yesus mengajarkan agar setiap orang percaya selalu memulai tugas dan pekerjaannya dengan memohon pimpinan Tuhan atau berdoa. Hamba itu datang bukanlah untuk dilayani, tetapi untuk melayani dengan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan dosa manusia. Hal ini mengajarkan kepada setiap orang Kristen untuk memberikan pelayanan kepada Allah, yaitu dengan memberitakan Injil dan melayani di dalam gereja. Hamba yang setia memperoleh kemuliaan yang asalnya dari Tuhan. Gaya hidup seperti hamba menjadi ciri khas orang yang percaya kepada Kristus sebab Ia telah memberikan contohnya.
Kehambaan menekankan presensia (kehadiran dan hidup) yang dinamis di tengah-tengah mereka yang lain. Dengan demikian tidak bisa dikatakan pasif sama sekali karena si hamba harus hidup berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Prinsip hidup seorang hamba yakni membuat dirinya bermanfaat bagi banyak orang. Hamba tidak menuntut banyak hal, ia hidup sederhana tetapi tidak membuat diri menderita. Hamba siap mengabdikan diri dengan tekun sampai akhir hidupnya. Yesus memberi gambaran hamba yang menderita sengsara karena memberi diri sepenuhnya untuk mengerjakan tugas kasar. Suatu sikap penyerahan segala hak pribadi secara utuh untuk diatur oleh majikannya. Berarti ia sedang menyangkal dirinya atau tidak berhak lagi atas hak pribadinya. Hak itu sudah melebur atau menyatu dengan hak tuannya. Dan Yesus sendiri telah menerapkan kepemimpinan demikian dalam hidupnya (Mrk. 10:45).
Para murid diajar oleh Yesus untuk mengambil resiko harus berani menjadi kecil dan rendah diantara masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman perubahan sosial sangat cepat dari lapisan sosial satu ke lapisan sosial lain. Manusia bukan hidup untuk dirinya sendiri melainkan terpanggil untuk menyadari jati dirinya sebagai manusia. Benar yang dikatakan Th Sumartana bahwa manusia bukan hanya mencari makan tetapi mencari makna. Yesus ditampilkan sebagai seorang yang banyak bertindak dan yang berwibawa. Kewibawaan-Nya nyata dalam cara Ia mengajar, dalam kuasa-Nya terhadap roh-roh jahat, mengampuni dosa.
Yesus menampilkan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang memberikan nyawa-Nya supaya manusia dibebaskan dari dosa. Perbuatan-perbuatan-Nya lebih banyak ditekankan daripada perkataan dan ajaran-Nya. Seperti hamba lebih banyak bekerja daripada berbicara, demikianlah orang percaya yang mengerjakan pekerjaan Tuhan. Hamba melakukan tugasnya berdasarkan perintah tuannya, seperti itu juga orang percaya setia dalam segala perkara. Bagi Markus gereja adalah persekutuan murid-murid Yesus. Ditekankan dengan sangat hendaknya orang-orang ini sungguh menjadi pelayan seluruh Gereja seutuhnya memberikan diri demi kesejahteraan bersama, seperti halnya Yesus sendiri (10:35-45).
Pelayanan gereja dapat mengacu pada pelayanan Yesus dengan bersekutu dalam sebuah kelompok. Satu-satunya yang dituntut Yesus dalam kehidupan manusia adalah menerima pemberian hidup yang kekal ialah iman dan keyakinan. Iman dinyatakan sebagai kepercayaan kepada Allah dengan kerendahan hati. Kita sulit mengerti ajaran Yesus mengenai sikap orang percaya terhadap perceraian, kekayaan dan ambisi untuk menjadi penguasa. Yesus yang member kuasa Roh Kudus untuk memimpin pada sifat-sifat yang mulia. Orang percaya dituntut untuk mengeluarkan buah yang banyak bagi kemuliaan nama-Nya. Umat percaya tidak boleh terpisah dari Tuhan Yesus yang memiliki persekutuan yang erat dalam kasih-Nya. Pelayan hamba merupakan landasan etika moral bagi kepemimpinan serta pola dasar manajemen kepemimpinan. Pelayanan hamba memberi tekanan yang berorientasi pada keberhasilan. Fokus melayani dari kepemimpinan Tuhan Yesus dibangun atas tujuan dan sasaran yang jelas dan pasti yang membawa kebaikan bagi banyak orang. Pelayan yang bersikap hamba akan menghasilkan kinerja tertinggi dalam kepemimpinan. Pelayanan hamba terfokus pada kinerja yang tinggi dalam memberi penyembuhan bagi kemanusiaan. Pelyanan hamba menjadi ciri khas bagi orang percaya yang dituntut untuk melayani dengan rendah hati.
KESIMPULAN

Yesus memberikan gambaran tentang hamba sebab hamba tidak memberi tempat pada perkara yang menjurus kepada kepentingan diri sendiri. Mengikuti Yesus tidak berarti dihormati oleh manusia lain. Yesus mengecam keras orang-orang yang menetingka kesan berikan kepada orang lain. Kehidupan hamba tertuju pada Allah yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Mengikuti Yesus memungkinkan sebuah makna baru kehidupan. Yesus tidak pernah menggantikan tugas dan panggilan yang diemban-Nya dengan kedudukan sosial.
Hamba yang menderita sering dikaitkan dengan Anak Manusia. Di mana Anak manusia mengandung kemanusiaan. Sifat manusia ada didalam diri-Nya, Ia dapat menangis serta merasakan penderitaan seorang hamba. Yesus berbicara penuh dengan kuasa dalam bidang apapun dimanapun pendengar berada. Yesus menganggap diri sebagai hamba sebab Ia menyerahkan hidup untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Keagungan-Nya sebagai hamba Tuhan Nampak dalam kematian untuk menyelamatkan banyak orang.
Menurut Tom Jacobs hamba dilihat sebagai orang yang selalu menyerahkan dirinya kepada Tuhan.[22] Persoalan hamba bukan pada keadaanya yang menderita tetapi kesetiaannya. Hamba tidaklah sama dengan Kristus sebab figur tersebut adalah gambaran atau keadaan yang satu dengan Allah. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai hamba yang melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang dilihat sebagai pewartaan kematian-Nya. Pengaruh nyanyian Yesaya 53 dalam kehidupan sekarang tidak terasa. Di mana seorang hamba harus melayani dan memberi seluruh hidupnya bagi kesejahteraan seluruh orang. Ada beberapa pelayan yang hanya mengejar kedudukan dan tidak mau melayani.


DAFTAR PUSTAKA


Alkitab, Kamus, Tafsiran
Alkitab. 2010. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Browning, W.R.F. 2010. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Lembaga Biblika Indonesia. 1982. Tafsiran Markus. Yogyakarta: Kanisius
Linden, Philip Van. 2002.Tafsiran Injil Markus, dalam Deanne Bergant dan Robert J Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Kanisius: Yogyakarta,
Buku

Bolkestein, M.H. 1991. Kerajaan Yang Terselubung: Ulasan Atas InjilMarkus. Jakarta: BPK Gunung Mulia,

Darmawijaya. 1987. Gelar-Gelar Yesus. Yogyakarta: Kanisius,
Guthrie, Donald. 2010. Pengantar Perjanjian Baru 1. Surabaya: Momentum
Hakh, Samuel Benyamin. 2007. Pemberitaan Tentang Yesus Menurut Injil-Injil Sinoptik. Bandung: Jurnal Info Media
Jacobs, Tom. 1981. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius
Ladd, George Eldon. 2010. Teologi Perjanjian Baru 1. Bandung: Kalam Hidup
Leks, Stefan. 2007. Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius,
Post, Walter M. 1998. Tafsiran Injil Markus. Bandung: Kalam Hidup
Wahono, Wismoady. 1998. Disini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Internet
Buchanan, Andrew Tafsiran Injil Markus, askses dari,: http: www.tomentiruran.wordpress.com, download tanggal 7 februari 2012.



[1] Samuel Benyamin Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus Menurut Injil-Injil Sinoptik (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 108
[2] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1992), 297
[3] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 131
[4] Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru 1 (Surabaya: Momentum, 2010), 61
[5] Philip Van Linden, Tafsiran Injil Markus dalam Deanne Bergant dan Robert J Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru (Kanisius: Yogyakarta, 2002), 80
[6] Walter M Post, Tafsiran Injil Markus (Bandung: Kalam Hidup, 1998), 7
[7] Wismoady Wahono, Disini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 371
[8] Sabda, Latar Belakang Kitab Markus, akses tanggal 10 Februari 2012, tersedia di http: www.sttintimnetintexs.htm NetInText/SABDA-Web/P_index.htm.
[9] Donald Guthrie, Op. Cit, 48
[10] Samuel Benyamin Hakh, Op. Cit, 108
[11] Kata benda nominatif maskulin singular berkenaan dengan subjek, atau pelaku, atau sebagai. Secara literal berarti seorang relawan.
[12] Bahasa asli menggunakan kata diakonesai, tens yang digunakan adalah aorist actif inferatif.
[13] Dalam terjemahan setiap nas yang diambil berdasarkan kata hamba yang terdapat dalam Markus 10:44; 12:2-5, 13:34; 14:47 menunjuk pada hamba laki-laki. Sedangkan hamba dalam Markus 14:66, 69 menunjuk pada hamba yang berjenis kelamin perempuan baik jamak maupun tunggal.
[14] Tom Jacobs, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru ( Yogyakarta: Kanisisus, 1981), 188
[15] Walter M Post, Op.Cit, 113
[16] Lembaga Biblika Indonesia, Tafsiran Markus (Yogyakarta: Kanisius, 1982), 99
[17] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru 1 (Bandung: Kalam Hidup, 2010), 206
[18] Stefan Leks, Tafsir injil Markus (Yogyakarta: Kanisisus, 2007 ), 362

[19] M.H Bolkestein, Kerajaan Yang Terselubung: Ulasan Atas InjilMarkus. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 214

[20] Andrew Buchanan, Tafsiran Injil Markus, askses dari,: http: www.tomentiruran.wordpress.com, download tanggal 7 februari 2012.
[21] Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 108
[22] Tom Jacobs, Op.Cit, 190

Menggeluti Misi Lintas Budaya




 “Alkitab menyatakan kepada semua orang dan semua budaya bahwa Yesus Kristus satu-satunya teladan sempurna kasih Allah dalam hubungan dan komunikasi antar pribadi. Pemahaman akan hal ini akan sangat menentukan berhasil tidaknya pelayanan kita kepada orang-orang yang berbeda budaya dengan kita. Pertama-tama mengindahkan pentingnya meneladani Yesus Kristus yang walaupun dalam rupa Allah menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6-7). Ilmu antropologi diimbangi dengan langkah praktis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kita. Semuanya dinilai dari sudut pandang Firman Tuhan dan dihidupkan dengan kisah nyata. Yesus tidak hanya mengerti isi kehidupan dan kebudayaan orang Yahudi namun memahami cara piker mereka. Charles Kraft secara ringkas merangkumpendekatan Yesus sebagai orientasi pada penerima pesan dan pribadi, sebuah model yang seharusnya menjadi tujuan kita dalam berkomunikasi dalam pelayanan Kristen.
Penting diketahui oleh para utusan Injil, pendeta, pekerja gereja, dan siapa saja yang rindu melayani sesama yang berbeda budaya. Kebudayaan adalah rancangan konseptual, pengertian yang dipakai manusia untuk mengatur kehidupan, mengartikan pengalaman mereka dan mengevaluasi perilaku orang lain. “Saya segera pergi ke tetangga dan menanyakan apakah ia sudah mendengar berita tentang topan yang akan datang. ‘Ah’, katanya, ‘tidak ada topan yang akan datang. Jangan percaya apa yang kamu dengar dari radio. Edward mengatakan bahasa adalah salah satu dari sepuluh system komunikasi primer yang terdapat dalam setiap budaya. “Percaya kepada Allah harus taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik”. Inti dari inkarnasi adalah memasuki penjara budaya orang lain dan takluk pada budaya demi kepentingan injil itu.
Budaya yang dimiliki bersama dengan mendengarkan mereka dapat dikembangkan teologi oleh rakyat. Enrique Dussel mendefinisikannya sebagai suatu teologi yang dilakukan oleh rakyat yang tertindas, oleh orang miskin, oleh yang menderita. Implikasi bagi pelayanan lintas budaya merupakan praksi dalam cara yang populer, mencerminkan pengalaman rakyat. Menjadi subyek dari produksi teologis dan bukan menjadi obyek dari perluasan (ekstensi) teologi. Pola berpikir dalam kebudayaan tertentu yang bukan milik mereka (sekalipun teologi-teologi asing ini datang kepada mereka dengan cara kerakyatan). Berorientasi pada krisis dan tidak berorientasi pada krisis. Orientasi pada tugas dalam pelayanan, yang berorientasi pada tugas administratif. Menyimbunyikan kerapuhan hati sebagai kelemahan. Nilai-nilai pribadi dan sistim kebudayaan terutama bahasa. Inkarnasi dan nilai-nilai budaya dalam kelompok.
Tantangan umat kristiani dalam setiap suku adalah adat dan kebudayaan. Tiap suku memiliki upacara adatnya sendiri. Selain melihat dan mensyukuri adanya estetika budaya dalam tiap adat, maka penting sekali bagi Gereja juga bersikap kritis dan peka terhadap semua praktek yang dilakukan. Adakah “kuasa-kuasa” roh yang diundang dan bekerja di dalamnya? Adakah orang yang mengaku “Kristen” sungguh-sungguh telah dilepaskan dari kuasa-kuasa itu? Mereka dapat menemukan Kristus bukan sebagai suatu sosok yang asing, tetapi merupakan sosok yang mereka temukan dalam budaya mereka dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan budaya mereka dan dapat memenuhi dan memperkaya budaya mereka. Di tengah situasi bangsa dimana banyak suku yang merasa tidak puas dengan proses pembangunan sekarang ini, penting sekali bagi Gereja untuk memiliki sikap yang jelas yaitu mau mendengar dan mendampingi mereka untuk mendapatkan kembali hak-hak.

Selasa, 22 Mei 2012

Perang: Problem Teologis Dan Reinterpretasi


           
Spinoza mengkritik perang dalam PL sebagai bentuk negatif agama dan pemahaman kitab suci sebagai wahyu Tuhan. Perang banyak diungkapkan dalam kitab Yosua, hakim-hakim, dan 1 Samuel. Ungkapan perang lebih dari 300 kali, PL merestui perang dengan dua cara yakni Allah terlibat langsung dalam perang. Keterlibatan Alla dalam perang menimbulkan banyak pertanyaan, citra Allah sebagai penyayang dan cinta damai. Tuhan digambarkan sebagai pahlawan perang (Kel. 15:3). Problem perang terdapat dalam sebuah kata tseva’ot untuk mengungkapkan keikutsertaan Tuhan dalam perang. Tuhan yang Mahakuasa digambarkan surat yakobus seperti jemaat yang kaya tidak menahan upah buruh.
Problem perang dalam PL dilihat bukan sebagai harafiah, kejadian historitas ditolak, perang bukan realitas sejarah. Persoalan tafsir pada cerita-cerita perang memberi kesan bahwa Allah berkenan pada tindak kekerasan. Kemenangan perang diartikan sebagai kemeangan iman dalam peperangan rohani. Konsep Tuhan sebagai pahlawan perang merupakan cara Israel kuno memahami Allah seperti agama suku disekitarnya. Wahyu progresif adalah cara Tuhan secara bertahap sehingga makin jelas. Menerima historitas perang dalam PL sebagai bingkai pewartaan seluruh Alkitab.
Perang murni berasal dari hawa nafsu manusia. Orang Israel melakukan kekejaman sebagai solusi atas problem yang mereka buat sendiri (Hak 21). Keterlibatan Tuhan dalam perang dikarenakan merupakan proses sejarah umatNya dan bukan membenarkan perang terjadi. Tuhan tidak membenarkan adanya perbudakan. Ketelibatan Tuhan dalam perang dikenal dengan istilah perang suci. Perang bagi umat Israel adalah kegagalan dalam memelihara perjanjian yang mereka pegang. Perang dalam PL secara prima facie mendapat pembenaran teologis. Kejahatan yang dilakukan oleh manusia, problem perang dalam PL sebagai pergumulan teologis. Perang yang terjadi pada umat Israel hanya berlaku pada saat itu dan merupakan kejadian yang konstitutif. Perang dalam PL tidak menjadi model dan solusi dalam konflik yang terjadi melainkan mengembangkan visi damai.
 Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Yongki Karman, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011 



Jumat, 11 Mei 2012

perkembangan remaja



Remaja sebagai masa peralihan dapat diamati melalui ciri-ciri sebagai berikut :
1.     Timbul perubahan jasmani, perubahan fisik berbeda dengan keadaan sebelumnya.[1]
2.    Pemikiran inteleknya lebih kepada diriny sendiri, refleksi diri.
3.    Perubahan hubungan antara anak dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya.
4.    Timbul perubahan dalam perilaku, pengamalan dan kebutuhan seksual.
5.    Perubahan harapan dan tuntutan orang terhadap remaja.
6.    Perubahan dalam waktu yang singkat menimbulkan masalah dan penyesuaian dan usaha melakukannya.
Remaja mudah diombang-ambingkan oleh lingkungan yang disebabkan oleh beberapa hal :
1.     Kekecewaan dan penderitaan
2.    Meningkatnya konflik, pertentangan-pertentangan dan krisis
3.    Impian dan khayalan
4.    Pacaran dan percintaan
5.    Keterasingan dari kehidupan orang dewasa dan norma budaya.
Beberapa tugas perkembangan bagi remaja :
1.     Menerima keadaan fisiknya
2.    Menerima kebebasan emosional
3.    Mampu bergaul
4.    Menemukan model untuk identifikasi
5.    Menerima dan mengetahui kemampuan diri sendiri
6.    Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
7.    Meninggalkan rekasi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan
Beberapa ciri khas remaja disekitar perkembangannya yakni :
1.     Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan akibat perkembangan fisik.
2.    Ketidakseimbangan secara keseluruhan terutama keadaan emosi yang labil.
3.    Perombakan pandangan dan petunjuk hidup yang telah diperoleh pada masa sebelumnya, meninggalkan perasaan kosong di dalam diri seorang remaja.
4.    Sikap menantang dan menentang orang tua maupun orang dewasa lain merupakan ciri yang mewujudnyatakan keinginan remaja untuk merenggangkan ikatannya dengan orang tua dan menunjukkan ketidaktergantungan kepada orang tua atau orang dewasa lain.
5.    Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal sebab pertentangan-pertentangan dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya.
6.    Kegelisahan keadaan tidak tenang menguasa diri remaja.
7.    Eksperimentasi atau keinginan besar yang mendorong remaja mencoba dan melakukan segala kegiatan dan perbuatan orang dewasa bisa ditampung melalui ilmun pengetahuan.
8.    eksplorasi, keinginan untuk menjelajahi lingkungan alam sekitar disalurkan melalui penjelajahan alam, pendakian gunung dna terwujud melalui petualangan lain.
9.    Banyaknya fantasi, khayalan, bualan merupakan ciri khas remaja.
10.  Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Beberapa hal penting dari remaja yang perlu diperhatikan yakni :
1.     Kelenjar keringat
2.    Perubahan pada buah dada (wanita)
3.    Pertumbuhan penis dan buah zakar (pada pria)
4.    Perkembangan terlalu cepat
5.    Perkembangan terlalu lambat
Beberapa hal yang penting dilakukan oleh orang tua pada anak yakni:
a.    Orang tua harus bersifat terbuka dalam membicarakan masalah seksual pada anaknya tentu dengan mengingat taraf perkembangan anak yang sesuai dengan pengertian yang mungkin diberikan.
b.    Usaha mengalihkan kegiatan anak dari non produktif ke hal-hal yang produktif.
c.    Pengawasan yang sewajarnya perlu dilakukan oleh pendidik.
d.    Konsultasi dengan para aahli secara berkala mungkin bisa lebih membantu menghadapi masalah yang timbul.
e.    Membina hubungan baik antara anak dan orang tua sehingga menghilangkan kecagungan untuk membicarakan berbagai masalah yang timbul.
Untuk mengatasi konflik dalam diri remaja yang harus dilakukan adalah :
1.     Mengubah tingkah lakunya
2.    Mengubah sikap
3.    Penolakan
4.    Distorsi informasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah
a.    Jenis kelamin
b.    Harapan-harapan
c.    Suku bangsa
d.    Nama dan pakaian
Batasan aspirasi mereka dan berusaha mengarahkan sesuai dengan batas-batas potensi yang dimiliki masyarakat yakni:
1.     Perkembangan aspirasi
a.    Tingkat aspirasi berkembang dari latihan di rumah.
b.    Aspirasi dipengaruhi apa yang bernilai bagi luar atau apa yang diharapkan orang luar.
c.    Aspirasi berkembang dari rasa persaingan. Banyak aspirasi pada keinginan untuk melebihi orang lain.
d.    Aspirasi berkembang dari tradisi kebudayaan.
e.    Perkembangan aspirasi melalui pengaruh media massa.
f.     Aspirasi berkembang dari pengalaman masa lalu
g.    Aspirasi berkembang melalui minat dan nilai-nilai. Minat remaja mempengaruhi dalam dua cara yakni bidang apa aspirasi dikembangkan dan tingkat aspirasi.
Syndrome achievement adalah proses yang rumit untuk mencapai hasil. Hal itu dibagi dalam tiga hal. Aspirasi, motivasi, nilai keberhasilan.
Keberhasilan mempengaruhi beberapa hal yakni:
1.     Tingkat aspirasi, remaja dapat mengulangi keberhasilan yang telah melampaui dan sebaliknya akan tetap
2.    Menjadi gemar akan kegiatan.
3.    Keberhasilan memperkuat motivasinya untuk meningkatkan kepandaian
4.    Keinginan untuk memperlihatkan keberhasilan yang diperoleh.
5.    Menimbulkan kepuasan yang didukung empat faktor yakni: nilai bagi dirinya terhadap kegiatan itu, reputasi yang berhubungan dengan itu, bagaimana sikap orang-orang yang berarti baginya terhadap keberhasilan itu.
6.    Gambaran diri.
7.    Mempengaruhi perkembangan keberhasilan yang lebih kompleks.


Sebab sebab kegagalan:
1.     Terbatasnya kemampuan mental atau fisik
2.    Kekurangan pengenalan terhadap potensi sendiri
3.    Kekurangan kesempatan untuk berlatih
4.    Rendahnya motivasi
5.    Tingkat aspirasi yang tinggi tetapi tidak realistis


[1] Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 204