Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 25 April 2012

SUDAH KETEMU?



Menelusuri jejak Yesus dalam penelitian ‘Yesus Sejarah’ yang paling mutakhir
E.G. Singgih.

Pengantar yang berbau Derrida
Dalam karangan pertama saya mengemukakan kritik yang berbau anti Derrida. Tetapi dalam mempelajari ‘Yesus Sejarah’ saya teringat pada istilah terkenal yang dipakai Derrida, yaitu “trace” (jejak). Mana yang penting, kaki atau jejak kaki? Menurut banyak orang, yang penting adalah kaki. Kalau tidak ada kaki, pasti tidak ada jejak! Kalau ada jejak kaki di pasir, yang penting adalah mengikuti jejak itu sampai ketemu orangnya. Kalau orangnya sudah mati atau tidak ada lagi? Tidak masalah, direkonstruksi saja! Tetapi bagi Derrida, yang penting adalah jejaknya itu. Biar bagaimanapun bagusnya pekerjaan rekonstruksi kita, pekerjaan itu tetap berangkat dari jejak. Kalau tidak ada jejak, pasti tidak ada kaki! Jadi si rekonstruktor bisa apa? Bisa saja terjadi bahwa rekonstruksi itu begitu bagus, namun ternyata agak dipaksakan terhadap jejak. Maka Derrida menganjurkan dekonstruksi, sehingga jejaknya bisa bebas dari rekonstruksi yang tidak pas tadi, dan bisa saja terjadi bahwa dekonstruksi itu sekaligus mengandung rekonstruksi dari sesuatu yang baru (tentu sebaliknya juga betul, bahwa rekonstruksi bisa berjalan bersama dengan sebuah dekonstruksi dari yang lama). Kalau dalam karangan pertama di atas saya anti Derrida, dalam karangan kedua ini saya pro Derrida.
Saya akan melaporkan dua hal yang berkaitan dengan ‘Yesus Sejarah’, yakni “The Jesus Seminar” (selanjutnya JS) dan dua orang penulis ‘Yesus Sejarah’, yaitu John Dominic Crossan dan Marcus J. Borg. Meskipun kedua orang ini adalah anggota JS, harus dikatakan bahwa peminat ‘Yesus Sejarah’ lebih luas daripada JS, sebab ada penulis ‘Yesus Sejarah’ yang bukan anggota JS misalnya J.P. Meier yang menulis trilogi dan sudah diseminarkan beberapa tahun yl di STT Jakarta.

Apa yang dilakukan oleh JS?
Di halaman akhir dari buku The Five Gospels yang oleh editornya Robert Funk dan teman-temannya disebut “The Scholars’ Version” (fn 1), tertulis definisi dari JS : JS adalah sebuah proyek dari Westar Institute yang merupakan lembaga penelitian pribadi dan nir laba, yang bertekad untuk meningkatkan melek huruf alkitabiah dan religius (biblical and religious literacy) dengan jalan menyediakan hasil-hasil penemuan akademik di bidang agama sehingga dapat dibaca oleh masyarakat umum. Sebagai bagian dari program melek huruf ini, lembaga tsb mensponsori seminar, lokakarya dan publikasi dalam bidang keagamaan. Jadi hasil-hasil penelitian tafsir kritis-historis dalam bidang PB khususnya berkaitan dengan studi Injil-injil (yang sedikit banyak telah saya ketahui juga dari kuliah-kuliah PB ketika saya masih mahasiswa, namun sekarang ditambah dengan andalan pada data histories-sosiologis yang bertambah mengenai dunia Yudaisme pada zaman Yesus, dan dunia Yunani-Romawi di sekitar laut Tengah pada waktu itu) diterapkan langsung ke interpretasi teks-teks dan hasilnya adalah “The Scholar’s Version” di atas. Di bagian belakang buku ini juga ada daftar anggota JS dengan nama-nama terkenal sebanyak 76 orang yang kebanyakan mengajar di USA, tetapi ada juga yang tinggal di Afsel dan Jerman. (fn 2, op.cit., p.34. Mula-mula pada tahun 1985 ada 30 pakar yang ikut namun di tahun 1993 ketika buku ini diterbitkan, jumlahnya sudah sekitar 200).
JS menekankan bahwa kata-kata yang penting, bukan narasi (kecuali narasi dalam perumpamaan). Memang logis, bahwa narasi mengenai Yesus tidak mungkin berasal dari Yesus sendiri. Apa prinsip-prinsip yang membimbing mereka untuk menelusuri Yesus? Beberapa dari antaranya dapat dikemukakan ( fn 3, tidak semua):
1. Hanya kata-kata dan perumpamaan yang dapat diusut ke zaman tradisi lisan (30-50 M) yang mungkin dapat berasal dari Yesus.

2. Kata-kata atau perumpamaan yang terdapat dalam dua atau lebih sumber-sumber yang independen, lebih tua usianya daripada sumber-sumber di mana mereka tertulis.

3. Kata-kata atau perumpamaan yang terdapat dalam dua konteks yang berbeda, mungkin beredar secara terpisah pada masa yang lebih awal.

4. Isi yang sama atau serupa yang terdapat dalam dua atau lebih bentuk-bentuk kalimat yang berbeda, mempunyai asal usul tersendiri, dan karena itu bisa berasal dari tradisi yang lebih tua.

5. Tradisi tidak tertulis yang dimasukkan ke dalam injil-injil yang tertulis dalam masa yang relatif muda, bisa menyimpan ingatan-ingatan yang lebih tua.
Tradisi lisan diperhatikan dan menjadi pertimbangan yang menentukan. Mengapa? Oleh karena Yesus tidak menulis apa-apa (sejauh yang dapat diketahui sampai saat ini). Tidak tentu juga bahwa Yesus bisa menulis atau membaca, meskipun dalam injil-injil ada dikatakan bahwa dia bisa (fn 4, p.27). Saya ingat kisah Yesus yang membaca gulungan Yesaya di sinagoge di Nazaret. Murid-muridnya juga buta huruf, jadi budaya tulis tidak menjadi bagian dari gerakan Kekristenan sampai pada zaman Paulus. Alasan yang kuat mengapa ucapan-ucapan Yesus yang autentik adalah kata-kata, pepatah/peribahasa dan perumpamaan, didasarkan atas tradisi lisan dengan argumentasi sbb :
1. Ingatan lisanlah yang paling mampu menyimpan kata-kata dan anekdot-anekdot yang pendek, provokatip, gampang diingat – dan karena itu sering diulangi.

2. Kata-kata Yesus yang paling sering dicatat di dalam injil-injil, adalah yang berbentuk peribahasa dan perumpamaan.


3. Lapis yang paling tua dari tradisi injil terdiri dari peribahasa-peribahasa dan perumpamaan yang tadinya beredar dari mulut ke mulut, sebelum injil-injil ditulis.


4. Murid-murid Yesus mengingat intisari dari perkataan-perkataan dan perumpamaan-perumpamaan, bukan kata-katanya secara persis, kecuali pada beberapa teks langka tertentu.

Faktor lain yang menentukan adalah kekhasan kata-kata Yesus sbb:
1. Percakapan Yesus mempunyai ciri tersendiri, yang bisa dibedakan dari percakapan umum. Kalau tidak demikian, maka percuma mencari kata-kata autentik dari Yesus (tulisan miring dari saya).

2. Kata-kata dan perumpamaan-perumpamaan Yesus mempersoalkan paham-paham sosial dan religius pada waktu itu.


3. Kata-kata dan perumpamaan-perumpamaan Yesus mengejutkan dan menggoncangkan pendengarnya : ucapan-ucapannya secara khas menuntut pembalikan dari peranan-peranan atau memfrustrasikan harapan-harapan yang biasa dan bersifat sehari-hari (lih. Perumpamaan orang Samaria di Luk 10:30-35; pekerja kebun anggur di Mat 20:1-5; anak yang hilang di Luk 15:11-32; ucapan bahagia di Luk 6:20-23; pinjamkan tanpa mengharapkan imbalan di Thomas 95:1-2).


4. Kata-kata dan perumpamaan-perumpamaan Yesus sering dicirikan oleh pelebih-lebihan, humor dan paradoks.


5. Gambaran-gambaran yang diberikan Yesus bersifat konkret dan hidup; kata-kata dan perumpamaannya bersifat metaforik tanpa penjelasan secara eksplisit.

Dan ada kekhasan dalam keberadaannya sebagai seorang bijak yang “laconic” (fn 4, Funk mengilutrasikannya secara kontekstual : “like the cowboy hero of the American West exemplified by Gary Cooper”, p.32).
1. Yesus tidak membuat aturan bahwa ia harus memulai sebuah dialog atau perdebatan, dan dia tidak juga menawarkan untuk menyembuhkan orang-orang di sekitarnya.

2. Yesus jarang membuat pernyataan-pernyataan atau berbicara mengenai dirinya dalam bentuk orang pertama tunggal.


3. Yesus tidak mengklaim bahwa dirinya adalah Sang Mesias, Yang Diurapi.

Dengan memperhatikan/mengikuti prinsip-prinsip di atas para pakar JS berdebat dan pada akhir acara dilakukan pemungutan suara (voting) dengan menggunakan biji (beads) berwarna ke dalam kotak untuk memperlihatkan derajat keautentikan kata-kata Yesus. Voting ini menunjukkan bahwa kanon bukan kriteria penentu, melainkan penilaian ‘peer’ seperti dalam penilaian tesis di perguruan tinggi. Yang menentukan adalah “scholarly consensus”. Para anggota JS maklum bahwa banyak orang di USA (yang adalah negara dengan budaya voting!) yang tidak senang dengan cara ini. Tetapi mereka mengingatkan bahwa United Bible Society (UBS) juga menggunakan cara voting dalam menentukan mana kalimat yang dijadikan teks (masuk dalam batang tubuh) dan mana yang dijadikan catatan kaki (fn 5, Crossan dalam The Historical Jesus, p.425 juga melaporkan proses voting pada JS dan membandingkannya dengan UBS yang melakukan voting dengan cara memilih di antara A, B, C, dan D. A itu dijamin asli, sedangkan D itu dari zaman kemudian).

Minggu, 15 April 2012

teknik Bercerita

Bercerita
      Cerita adalah tuturan yg membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dsb, 2 karangan yg menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dsb (baik yg sungguh-sungguh terjadi maupun yg hanya rekaan belaka); 3 lakon yg diwujudkan atau dipertunjukkan dl gambar hidup (sandiwara, wayang, dsb):
      Bercerita adalah memperlihatkan sesuatu yang sudah dilihat kepada orang lain.
Patokan bercerita
  1. Segala cerita dalam alkitab merupakan sejarah perbuatan Allah terhadap manusia manusia yang lengkap. Riwayat-riwayat ini haruslah kita ceritakan kepada anak-anak.
  2. Didalam alkitab ada cerita yang tidaklayak untuk anak. Hanya cerita yang sesuai dengan daya pikiran tingkat imajinasi dan emosi anak yang akan diceritakan.
  3. Cerita-cerita alkitab adalah sejarah bangsa Yahudi dari zaman kuno. Jadi sulit dipahami anak-anak. Kita harus mengambil cerita yang betul-betul penting dan bernilai supaya anak-anak mengenal Allah.
Model persiapan cerita, hal ini dilakukan sebelum persiapan bersama
Senin/selasa
Rabu/kamis
Jumat / sabtu
Minggu
Apa?
Bagaimana?
Menoleh dalam diri
Bercerita
Alkitab(bahan)
Pedoman
KBC
Catatan: tokoh, karakter, jenis kelamin, kapan dan dimana peristiwa tersebut, latar belakang peristiwa, sarana pendukung
Kata-kata dan gerakan
Suara/intonasi
Berlakon
Rasa hormat
Komposisi
Pengamatan
Tenang dna teratur
Umur anak-anak
Memikat perhatian
Lepas dari catatan membayangkan supaya pendengar dapat melihat dan merasa
Anak-anak turut dalam cerita.

Bagaimana membawakan cerita
1.     Rasa Hormat
2.    Pengamatan (mengamati suasana hati anak; malas, loyo, bosan
3.    Tenang dan teratur (penguasaan materi, pemakaian intonasi, gerak-gerik, anggota tubuh yang teratur dan memikat)
4.    Ingat umur anak-anak (menyampaikan cerita (bahasa, berlakon) sesuai dengan kondisi umur anak-anak
5.    Cerita merupakan satu kebulatan (komposisi: pendahuluan, jalannya cerita, penurut)
6.    Berlakon (memperlihatkan dengan imajinasi)
7.    Pengendalian diri (tidak mondar mandir didepan, tidak berakrobat, berimajinasi tidak berlebihan).
8.    Memikat perhatian (pendahuluan yang menarik, cerita disajikan dengan menarik)
9.    Cerita bukan penambah pengetahuan (kalau hanya menghafal maka hati tidak akan tersentuh).
10.  Sederhana bentuknya, kaya isinya.
Model mempersiapkan bahan pengajaran
Analisis Cerita
Matius 25:1-13
Gadis bijaksana
Nas
+/-
Gadis bodoh
Nas
+/-
















































Yohanes 20:24-29
Analisis Perbuatan/
Semua menggunakan kata kerja
Perbuatan Allah
Nas
Perbuatan manusia
Nas
+/-
Cttn
Yesus datang disitu
1
Murid lain berkata kepada mereka: kami telah melihat Tuhan
Tomas berkata: sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya, ….sekali-kali aku tidak percaya
25


Ia berkata damai sejahtera bagi kamu
26
Murid-murid Yesus berada di rumah itu lagi
26


Ia berkata kepada Tomas: Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah
27






Tomas menjawab Dia: Ya Yuhanku dan Allahku
28


Kata Yesus kepadanya: karena engkau melihat Aku, maka engkau percaya berbahagialah yang melihat namun percaya






Analisis adegan
Adegan 1   ; murid berkumpul tanpa Tomas dan tomas ragu kebangkitan Yesus
Adegan 2; Yesus hadir diantara murid dan meyakinkan Tomas
Bandingkan dengan tujuan cerita dalam pedoman
1.     Menjelaskan ketidakpercayaan Tomas terhadap berita kebangkitan Kristus
2.    Meyakini bahwa Yesus menghapus keragu-raguan dalam hati kita
3.    Tetap percaya Yesus walaupun tidak melihat langsung

Analisis Grafik

Penekanan cerita, head, heart, hand
Penerapan ada di adegan 2, penekanan pada kata-kata Yesus kepada Tomas

Mendekati anak-anak
Kognitif
Anak berjiwa kognitif : hal mengetahui, suka menganalisis, bernalar, berpikir adalah pintu masuk yang utama dalam memecahkan masalah-masalah atau keputusan.
Afektif, pengalaman dan penghayatan, perasaan.




Penyebab Masalah Pada Anak
Masalah pada anak secara sederhana disebabkan oleh enam hal:
1.  spiritual abuse (Mazmur 78:1-8)
2. Situasi keluarga yang tidak harmonis, dengan segala variasinya.
3. Psychological abuse
4. Kondisi fisik, banyak ragamnya. Misalnya peran otak, sulit belajar, gangguan psikotik. Cacat mental karena otaknya tidak berkembang, pernah cedera otak, dan sebagainya.
5. Kebutuhan anak yang tidak terpenuhi. Anak butuh rasa aman tidak terpenuhi, anak butuh mandiri tidak terpenuhi.
6. Lain-lain, termasuk misalnya situasi yang terjadi secara mendadak, yang tidak terduga. Situasi bencana, termasuk trauma, dan sebagainya.
Akibat Masalah Pada Anak
1. Efek bagi orangtua,. Emosinya banyak terganggu. Ini bisa berkembang menjadi depresi, bukan hanya frustasi. Orangtua yang selalu mencemaskan anaknya, atau orangtua yang terus-menerus menyimpan kepahitan tentang anaknya.
2. Efek bagi anak, yaitu timbul kondisi-kondisi yang tidak mampu membuat anak itu beradaptasi dengan baik. Bisa berpengaruh kepada perkembangan normal.
3. Efek patologis umumnya menetap. Artinya tidak mudah kita selesaikan. Kalaupun mampu diselesaikan, perlu waktu lama. Ini efek patologis.
4. Gangguan psikofisiologis: sudah melibatkan fungsi otak atau perubahan fungsi otak. Anak selalu mengeluh sakit perut. Dibawa ke dokter dan di USG hasilnya normal. Usus dan lambungnya baik saja, tapi tiap kali berangkat sekolah dia sakit perut, diare, mau muntah. Nah, ini gangguan psikofisiologis. Kalau gangguan ini ditelantarkan, tidak ditangani dengan efektif, lambungnya bisa betul-betul luka.
5. Gangguan perkembangan, meliputi aspek motorik dan sensorik. Juga motorik integrasinya, yang meliputi aspek verbal dan sebagainya. Jadi macam-macam gangguannya.
6. Gangguan depresi dan cemas. Kita harus pahami, anak bisa menjadi depresi atau anak bisa mengalami kecemasan.
7. Gangguan kepribadian yang tidak normal. Biasanya berupa psikopatik.
8. Gangguan psikotik. Contohnya di atas. Anak yang mengalami gangguan belajar, tapi dipaksa sekolah oleh orangtuanya.
9. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD). Ini adalah gangguan pada otak sehingga mengakibatkan anaknya tidak dapat berkonsentrasi. Atau kalaupun bisa berkonsentrasi, hanya bisa sejenak, tidak lama. Anaknya distraktif, tidak bisa lama menunggu. Kalau belajar cepat lupa, di kelas selalu mengganggu anak lain, pekerjaan yang diselesaikan selalu terlambat karena anaknya sibuk mengurusi anak lain, atau dia tidak bisa diam.
10. Retardasi Mental, ini anak yang mengalami keterbelakangan mental karena perkembangan otak yang terhambat. IQ-nya sangat rendah, di bawah 70. 11. Kesulitan Belajar
Kecemasan pada Anak
Ini adalah hal yang paling banyak dihadapi dalam kehidupan anak, khususnya di kota besar. Macamnya banyak. Di antaranya adalah:
1. Simple fear atau simple fobia: rasa takut yang sederhana. Lihat sesuatu takut, dengar sesuatu takut, lampu mati takut, lihat bajaj takut, lihat kereta api takut, dsb.
2. Cemas karena perpisahan (separation anxiety). Anak ini akan cemas pada waktu ia jauh dari orangtua. Misalnya pada waktu dia ke sekolah. Dia takut berpisah dengan orangtua sepanjang hari. Sebenarnya hal ini terjadi karena orangtua yang cemas duluan, takut sesuatu terjadi pada anaknya. Jadi orangtua jangan terlalu cemas ketika anak pergi ke sekolah.
3. Menolak sekolah (school refusal). Kalau ditanya mengapa, , jawabnya pokoknya tidak mau aja. Kalau dipaksa dia marah: pokoknya tidak mau sekolah!
4. Gangguan menghindar (avoidant disorder). Anak ini selalu menghindar ketika bertemu dengan orang lain. Dia juga tidak mau bermain dengan teman. Dia selalu mengalami kecemasan sehingga dia menggunakan kesempatan untuk bisa mengatasi kecemasan-nya.
5. Gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder) Anak ini bisa bilang, "Mama aku cemas. Dadaku rasa tidak enak. Nggak tahu mengapa."
6. Obsessive compulsive disorder. Anak yang melakukan sesuatu dengan berulang-ulang. Kalau dilarang dia akan merasa tegang. Misalnya: cuci tangan berulang-ulang, mandi lama sekali, buka tutup pintu berulang-ulang,
7. Post Traumatic Stress Disorder. Ini banyak terjadi di Aceh, Bantul, Klaten. Terjadi karena trauma yang sangat besar.
Beberapa prinsip untuk menangani anak cemas
Yang harus dipahami:
Prilaku anak dengan kecemasannya adalah ekspresi dari kebutuhan emosionalnya. Pada waktu anak cemas, jangan bilang, "Kamu jangan begitu. Tenang, ada Tuhan Yesus. Yesus ada di dalam dadamu."
Dalam kondisi ini, kecemasan justru dia perlukan. Dengan prasaan cemas secara internal dia lebih tenang walaupun secara sadar dia mengeluh/terganggu. Kalau orang dewasa, istri, suami cemas dengarkan saja. Sama dengan anak, ketika dia cemas, dia juga butuh didengar dan dimengerti saja. Sebenarnya cemas itu adalah hasil dari kebutuhan emosionalnya.
Rasa takut itu bukan hasil dari pemikiran logika. Sebab itu, anak yang sedang takut, tidak dapat merespon dengan logika. Ketika orang dewasa takut, dia tidak dapat memakai kognitifnya. Jangan mengatakan, "Gitu aja takut. Beriman, dong. Kan iman sebesar biji sesawi bisa memindahkan gunung!" Nasehat demikian adalah hasil dari logika. Dia tidak bisa mengendalikan perasaan-perasaan takutnya.
Anak yang sedang ketakutan menunjukkan dia tak dapat menguasai diri. Kita bisa memenuhi kebutuhan emosional anak dapat membantu anak merasa lebih aman dan tidak cemas. Ajak dia main, menggambar, main musik. Jangan ingatkan dia pada kecemasannya.
Ini adalah rumus "mendengarkan" untuk menolong anak mengatasi ketakutannya:
"EARS for fear"
E : Earnestly listen. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
A : Accept the child's story, even if the story doesn't make any sense. Terima anak, apa pun yang dia ceritakan/ngomong apa, dengarkan saja. Meskipun yang diceritakan itu tidak masuk akal.
R : Reassure bacause children need to know that you take them seriously and that you will "be there". Memberikan tanggapan yang menjamin anak bahwa dirinya dimengerti dan dipahami dan orang yang dekat dengan dia. Mengerti dia, ini sangat penting.
S : Suggest so that children may consider various solution options and have support and encouragement in the attempt to resolve the issue. Kita bisa memberikan pendapat saja bukan nasehat, yang membukakan kemungkinan-kemungkinan dia bisa mengambil pilihan/ keputusan.

Menerima adanya perbedaan
1.     Setiap anak adalah unik
2.    Setiap anak berhak untuk hidup sebagaimana adanya
3.    Setiap anak bereaksi secara berbeda
4.    Bermacam-macam anak

Delapan Kebutuhan Anak
Ada delapan kebutuhan mendasar anak dari setiap orangtua.
1. Aspek Jasmaniah.
Anak perlu menjaga kesehatan dan kebersihan tubuhnya. Apa yang kita lakukan ketika anak berumur 10 tahun tidak mau gosok gigi? Sederhana sekali: jangan lakukan apa-apa. Biarkan sampai teman-temannya tidak mau ngomong dengannya karena bau, dan pada akhirnya dia akan belajar menggosok gigi. Hal lain adalah mandi. Ada anak yang malas mandi. Di sini orangtua harus tegas: pagi harus mandi sekalipun libur; begitu juga sore, jam berapa dia mandi, harus mandi. Anak-anak juga harus dapat menjaga penampilan jasmaniahnya.Sampai umur berapa harus memberitahu anak?
Batas usia fleksibel. Ada anak yang lebih keras kepala, berkemauan keras atau hiperaktiv, namun sebisanya kita memanfaatkan hukuman dari lingkungan sehingga kita nggak usah ngomongpun anak akan melakukan. Bagaimana dengan mode, sopan yang seperti apa? Karena ada pergeseran dan itu membingungkan anak serta buat kami juga kesulitan. Pada prinsipnya memang harus ditegaskan bahwa ada bagian yang tidak boleh terlihat dan boleh dilihat. Kita gunakan cara yang halus dan enak untuk memberikan pesan kepada mereka bahwa tidak seharusnya mereka berpakaian seenaknya. Tapi bila menyangkut bagian yang memang tidak boleh, kita harus tegas melarangnya.
2. Kebutuhan emosional
Ada beberapa hal yang anak-anak perlu melakukannya dengan baik, yaitu:
o Mengenali dan mengungkapkan perasaannya. Ada sebagian anak yang mudah mengenali dan mengungkapkan perasaannya dan ada sebagian yang sulit. Misalnya anak nangis tidak tahu apa yang dia inginkan, orang tua harus melatih deng bertanya, `kamu mau apa, bilang'. Atau mungkin anak marah dengan orang lain namun marah-marah dirumah, disini orang tua harus memberitahukan bahwa dia salah sasaran dan mencoba memunculkan masalah dengan beberapa pertanyaan yang berempati dalam sebuah komunikasi yang manis.
o Menguasai perasaan. Ini sering terjadi pada anak yang hiperaktiv dan kurang bisa berkonsentrasi. Anak-anak yang energinya tinggi, cenderung tidak bisa menguasai perasaan. Bila anak-anak energinya rendah dan susah mengungkapkan perasaannya, kita harus mendorongnya untuk lebih cepat dan bisa mengutarakan perasaannya. Bagi anak-anak yang terlalu kuat tenaganya, kita berusaha mengajar untuk menunda mengatakan atau berbuat apa-apa. Untuk mengasainya langkah pertamanya adalah tidak berbuat apa-apa. Menguasai perasaan juga berarti tahu kapan dan dimana mengungkapkan dan mengeluarkan perasaannya. Dalam arti lain mampu menahan diri
3. Kebutuhan Sosial
Anak butuh waktu untuk bermain dan berkawan dengan teman sebaya. Kira-kira seperti ini urutannya: pada masa anak-anak kecil, bermain dan unsur berteman tidak terlalu kuat. Unsur berteman akan kuat ketika mereka remaja. Pada masa remaja anak bergaul, semakin banyak akan semakin baik. Memasuki usia pemuda atau remaja akhir barulah anak-anak bersahabat secara eksklusif. Di sinilah anak mulai masuk ke arah berpacaran dan akhirnya menikah.
Apa yang terjadi bila anak tidak mengalami masa bermain? Bisa nggak dia masuk ke masa berteman atau bergaul? Nggak bisa. Kalau tidak ada masa bermain tidak mungkin bisa berteman dan bersahabat, pacaran atau bahkan menikah. Tahapan ini harus ada dan dilewati oleh anak. Biarkan anak menikmati masanya, jangan terlalu dilindungi. Jangan sampai anak menjadi ibarat seekor burung yang bulu sayapnya telah dicabuti sehingga tidak bisa terbang, hanya bisa berdiam diri saja.
Kapan anak mulai bisa bermain? Sejak bayi pun anak sudah bisa bermain dan teman bermainnya adalah orangtuanya. Dengan permainan ciluk ba anak akan merasa sangat bahagia. Nikmatilah itu, karena hal itu tidak akan bisa dilakukan ketika ia sudah berumur 17 tahun. Begitu juga dengan bercerita. Mumpung masih kecil gunakan kesempatan itu; ketika anak mulai dewasa mereka sudah tidak membutuhkan itu. Juga bermain kejar-kejaran, bergulat, itu tidak mungkin kita lakukan lagi ketika mereka sudah besar. Jadi biarkan anak menikmati masanya karena kita tidak mungkin menciptakannya sesudah dia dewasa.
Setelah anak bermain dengan orangtua, mereka akan belajar bermain dengan temannya di luar rumah. Anak yang pada usia 0-5 tahun tidak pernah diajak bermain di rumah, akan kesulitan bergaul di sekolahnya. Seharusnya ukuran bermain bagi anak adalah dua kali dari waktu belajar. Hal yang dibutuhkan bagi perkembangan jiwa anak adalah bermain. Karena bermain benar-benar mengasah koordinasi tubuh anak, mengajar anak untuk bersikap adil, bersosialisasi dan tenggang rasa, belajar mendukung dan membela, belajar setia kawan, belajar untukgentle men dan gentle women, belajar sportif. Masa remaja dan dewasa adalah merupakan perpanjangan dari masa bermain dan anak mulai mengembangkan pola persahabatan yang lebih khusus yang pada akhirnya menikah.
Usahakan anak bermain dengan teman sebaya, jangan terlalu sering membiarkan anak bergaul dengan teman yang jauh lebih tua atau lebih muda darinya. Mengapa? Kalau dia bergaul dengan yang lebih muda, dia bisa jadi anak yang hanya mau menang sendiri, mau jadi bos dan hanya suka memberi intruksi dan ini tidak sehat. Atau anak lebih suka bergaul dengan yang lebih tua. Ada sebagian anak yang jiwanya lebih dewasa dari usianya. Mengapa ini kurang baik? Pertama, jangan sampai anak kita dikacungin atau dimanfaatkan. Kedua, dia melompati masa yang harus dilalui sehingga akan membuat dia merasa nggak cocok dengan lingkungannya. Dia akan merasa lain dari orang lain. Makin disuburkan pertemanan ini makin dirinya merasa terlepas dari lingkupnya.
Kebutuhan sosial ini juga berarti anak dapat menjadi diri sendiri di tengah lingkungannya. Adalah ada anak yang tidak nyaman dengan dirinya; begitu diterjunkan ke lingkungannya dia hilang, tenggelam. Tidak berani ngomong, hanya ikut-ikut teman, dia benar-benar kehilangan dirinya. Ini berbahaya, orangtua harus mengajar anak untuk menjadi dirinya sendiri.
4. Kebutuhan Interpersonal
Yaitu kebutuhan untuk dapat menjalin persahabatan untuk waktu yang panjang. Berhati-hatilah kalau anak kita hanya bisa berteman selama dua bulan, setelah itu putus. Bila hal ini sering terjadi, biasanya anak kita yang bermasalah. Berarti ada hal tentang dia yang tidak menyenangkan orang, harusnya hal ini kita ketahui sejak anak masih kecil. Kebutuhan interpersonal juga adalah dapat menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.
5. Kebutuhan Intelektual
Apakah anak dapat mengikuti tuntutan akademik sesuai dengan kemampuannya. Hampir semua orang tua beranggapan anaknya pandai dan sebetulnya rata-rata 70% anak-anak kita masuk dalam kategori rata-rata. Ada sebagian sekolah yang di desain untuk anak-anak yang IQ-nya rata-rata (90-120), sebagaian untuk 90-100, atau 100-120. Ini tidak secara langsung, namun dilihat dari tuntutan akademiknya dapat dilihat warna dan garis dari sekolah itu. Untuk itulah orangtua harus menyadari kemampuan anak, jangan sampai salah sekolah dan akhirnya anak menderita. Pada umumnya sekolah didesain untuk anak-anak yang cara belajarnya mengulang, yaitu mendengarkan, mengingat kemudian bisa mengulangnya kembali. Jadi yang diperlukan adalah memori yang kuat dan tajam.
Masalahnya adalah sebagian anak-anak kita tidak memiliki cara berpikir yang seperti itu dan otak mereka tidak didesain seperti itu. Ditambah dengan masuknya teknologi komputer dalam permainan game, lebih menggiring anak-anak kita mempunyai cara belajar yang tidak sama dengan metode mengajar yang digunakan sekarang ini. Sebab kebanyakan game menggunakan satu metode belajar menemukan sendiri ataudiscovery. Itu sebabnya banyak orangtua yang mengeluhkan bahwa anaknya susah belajar dibanding zaman dulu. Mengapa? Karena zaman dulu budaya dan lingkungan mendukung metode belajar mengingat dan mengulang. Iklimnya sudah berubah, sehingga anak-anak kita belajarnya cenderung dengan cara menemukan. Di sini anak diajak untuk kreatif dan pikiran mereka dihargai.
Jika orangtua tidak bisa menyekolahkan anak di sekolah yang demikian, pilihlah sekolah yang lebih rendah sehingga anak tidak merasa dibebani dan anak bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sehingga dia tidak trauma dengan hal-hal yang berbau ilmiah, akademik dll. Biarkan dia masuk pada jalur yang dia senangi dan bisa melakukan tugasnya dengan baik. Jangan paksa anak masuk ke sekolah yang terlalu susah akhirnya sengsara dan tidak naik kelas.
Hal lainnya adalah anak dapat mengembangkan minat pada bidang tertentu. Mulai umur berapa anak mulai mengembangkan minat? Sedini mungkin. Minat di sini bukan bidang yang nantinya dia pilih pada masa kuliah, belum tentu. Intinya adalah sejak anak kecil, seharusnya anak sudah mempunyai minat, apapun itu. Bahkan termasuk bermain game. Artinya, ada yang dia sukai. Yang paling menakutkan adalah kalau anak yang tidak tahu apa yang dia sukai.
Mengapa harus ada yang anak sukai? Karena hidup itu sebenarnya penuh dengan keputusan yang kita buat. Keputusan bisa kita buat dengan lebih baik kalau kita sudah tahu lebih jelas apa yang kita suka dan apa yang tidak kita suka, apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Ada pengenalan diri. Dari mana anak-anak tahu semua itu? Dari kita. Misalkan anak kita sedang menggambar macan, kita puji dia. Belum tentu dia akan jadi pelatih sirkus atau memelihara macan. Belum tentu juga jadi pelukis. Tapi dia bisa mengaitkan penggunaan pena dengan sesuatu yang menyenangkan. Nantinya dia berani menulis.
Kalau anak sedang melakukan sesuatu, menggambar misalnya, dimarahi, ditegur, dikatakan jelek dan sebagainya; akan punya asosiasi bahwa pena bukan sesuatu yang menyenangkan. Dia akan menghindari memakai pena. Itu sebabnya hal-hal kecil apa pun yang dilakukan anak hendaknya kita beri apresiasi. Dalam teori karir dikatakan, "Hal-hal yang dipujikan pada anak masa kecil itu berpotensi besar menjadi hal-hal yang nanti anak-anak akan kejar atau geluti." Harusnya ketika anak SMP-SMU sudah mulai bisa mengembangkan beberapa pilihan `nanti saya mau jadi apa'. Kita harus kreatif.
6. Rekreasional
Anak-anak perlu menjaga keseimbangan hidup. Mereka tahu kapan harus menyegarkan jiwanya dengan melakukan aktivitas yang disukai. Kalau tidak bisa, tugas orangtua untuk memberikan masukan, ajak anak untuk rileks sehingga mereka belajar bagaimana menyegarkan jiwa dengan cara yang benar.
Anak-anak juga harus dapat mengembangkan kreativitas. Kreativitas berasal dari kata menciptakan (creatio), membuat sesuatu. Itu berarti melakukan sesuatu yang dari tidak ada menjadi ada, itu kalau bisa. Anak-anak dasarnya kreatif. Sistem pendidikan yang menekankan mengingat dan mengulang itu biasanya memangkas kreativitas. Itu sebabnya penemuan baru keluar dari Barat. Orang yang kreatif, hidupnya jauh lebih sehat.
7. Kebutuhan Finansial
Anak-anak harus bisa dua hal, yaitu: menabung dan memakai uang. Ada anak-anak yang tidak bisa menabung tapi banyak uangnya. Kenapa? Terlalu sayang sama uang. Kita bedakan antara menabung dan sayang sama uang. Ada anak yang bisa memakai uang, tapi sebenarnya menghabiskan uang, jadi ada anak-anak yang nggak bisa pegang uang, dia mesti habiskan dulu, baru lega rasanya.
Anak-anak harus mengerti tujuan, sasaran dan mengerti bahwa uang itu hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu. Yang ditekankan bukan uangnya tapi `untuk apa'-nya, tujuannya apa. Kita juga harus tahu untuk apa anak menabung, kalu dia nabung hanya untuk ngumpulinuang saja, itu tanda dia kikir.
Sebuah catatan:
Satu kali anak saya pernah minta dibelikan mainan yang harganya lumayan mahal dan saya bilang tidak. Ketika kami bersama sedang naik becak, anak saya berkata dan saya tahu itu menyinggung saya, "Pa, jadi orang dewasa enak yah. Kalau mau beli barang nggak usah minta izin siapa-siapa, langsung aja beli."
Jujur saya agak defensif waktu itu, tapi saya tangkap isi hati saya, "Paul, benar, kan apa yang dia omongin itu?" Dalam hati, saya ingin membela diri dengan mengatakan bahwa orangtua kalau beli barang hanya yang perlu, kalau nggak perlu nggak beli. Tapi itu tidak bisa terucap. Mengapa? Karena saya itu itu juga nggak benar. Saya ingat pernah beli sepeda yang cukup mahal, tapi tidak pernah saya pakai, jadi besi tua di gudang. Kita juga sering kan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak penting dan anak tahu itu.
8. Kebutuhan Rohani
Anak dapat berelasi dengan Tuhan secara bebas dan apa adanya. Tuhan seperti apakah yang kita sajikan dan sampaikan kepada anak-anak kita? Ini pertanyaan yang baik untuk selalu kita renungi. Tuhan yang pemarah atau Tuhan yang selalu mengampuni, harus seimbang sehingga anak memiliki nilai standar moral yang baik. Yang penting adalah anak bisa berelasi dengan Tuhan secara bebas, dalam arti dia bisa datang kepada Tuhan dalam kondisi apa pun, termasuk saat dia bersalah. Lantas melibatkan Tuhan dalam setiap jengkal kehidupannya. Contoh: ketika anak sakit kita ajak dia berdoa, disitu anak akan belajar. Anak mau ulangan kita hampiri dia dan ajak berdoa.