Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Kamis, 16 Februari 2012

SEMUA AGAMA MEMILIKI ASAL-USUL PSIKIS YANG SAMA

Karl Gustav Jung (1875-1961) dipengaruhi oleh pandangan Freud bahwa agama adalah proyeksi keinginan-keinginan serta ketakutan-ketakutan dimasa kanak-kanak.
Karl Gustav Jung berpendapat bahwa cerita atau gambar Allah merupakan unsur mutlak apabila manusia ingin memiliki kesehatan psikologis. Simbol dan mitos menuntun manusia mencapai kontak dengan ketidaksadaran dan yang suprarasional yang berdiam disitu dapat menjadi suatu terang yang pada gilirannya akan menuntun manusia.
Agama-agama menurut Jung Sangat memainkan peranan yang perlu sebagai perantara diantara isi ilahi ketidaksadaran dan kesadaran tanpa agama-agama proses pembentukan kepribadian akan terhalang.
Dalam pembentukan kepribadian Jung berpendapat bahwa lambang Kristus merupakan lambang atau symbol yang paling berkembang sebagai symbol untuk diri. Yesus yang disebut Kristus mewakili selesainya proses pembentukan kepribadian, perwujudan diri, integrasi diantara diri pribadi dan Allah universal. Yesus adalah symbol utama untuk Kristus tetapi ia bukanlah satu-satunya. Semua agama memiliki esensi dan sifat yang sama yakni menyentuh pribadi hanya saja dalam bentuk dan konteks dimana agama itu tumbuh dan berkembang.
Knitter sulit menolak bahwa pengalaman religious berkaitan dengan psikis seseorang maka tidak akan menjadi miliknya. Martin Buber mencela Jung dengan mengatakan bahwa Jika agama sama dengan psikologi maka Allah menjadi tidak lebih dari perasaan dan kesadaran akan keilahian hanya semacam kesadaran diri.
Penyataan ilahi tidak bergantung pada peristiwa-peristiwa luar biasa melainkan yang ilahi senantiasa menyatakan diri dalam batin manusia.
Agama harus mendukung dan meningkatkan tidak hanya keutuhan individual melainkan keutuhan sosial. Kritik Knitter terhadap pendapat Jung adalah Individualistis artinya bersifat pribadi dalam diri setiap orang, ahistori artinya tidak berdasarkan sejarah padahal agama identik dengan sejarah. dan Subjektif artinya memadang segala sesuatu berasal dari yang paling utama terhadap yang lain. Jadi Agama berusaha menghubungkan antara ketidaksadaran atau alam bawah sadar dengan yang suprarasional.
Analisa Kritis :
-          Allah yang disembah melalui symbol yang berbeda namun hanya satu tujuan
-          Setiap orang memiliki keterikatan spiritual dengan Allah secara psikis.
-          Manusia mengenali yang ilahi melalui symbol atau mitos.
-          Sebab semua cerita dalam setiap agama memiliki mitos yang berbeda teetapi memiliki tujuan yang sama yakni Kristus misalnya didunia timur ada purusha, Atman Budha.
-          Bahwa orang dapat menemukan yang ilahi itu dalam ketidaksadarannya.
Setiap orang terikat dengan sistem sosial dalam masyarakat maka jika ia bersifat individu berarti tidak berada dalam sisitem sejarah manusia yang akan secara subjektif menunjuk kepada pribadi setiap manusia. Kesamaan yang dimaksud Jung adalah kesamaan ketidaksadaran manusia dimana Allah menyatakan diri dalam diri manusia dalam alam bawah sadarnya. Hanya saja penentuan symbol-simbol untuk mengenal Allah tidak dapat ditentukan dengan sungguh dalam mempertemukan antara diri kita dengan Allah. Semua ini demi perbaikan sosial dan histori manusia dalam menjalani keagamaannya sehingga saling menghargai satu sama lain. Pada dasarnya semua agama memiliki keunikan tersendiri dalam menerjemahkan Kristus sebagai Juruselamat dalam mengungkapkan symbol yang ada sesuai dengan konteks dan mitos yang ada ditempat agama itu lahir.

Yesus dan Wong Cilik


Penerbit: BPK Gunung Mulia, 2010,
Oleh : Pdt. Josef P Widyatmaja

Melakukan diakonia secara baik dapat diumpamakan sebagai membangun sebuah rumah di atas batu karang yang teguh. Yesus memberikan perumpamaan itu kepada pendengarNya untuk mereka yang mendengar Firman tetapi tidak melaksanakan dalam hidupnya. Gereja perlu mewujudkan diakonia di tengah masyarakat. Ini merupakan tugas semua orang beriman, baik yang memiliki jabatan maupun tidak, serta seharusnya menjadi sikap dan praktik hidup gereja.
Fokus diakonia transformatif adalah: rakyat sebagai subjek sejarah, bukan objek. Tidak karitatif tetapi preventif. Tidak didorong oleh belas kasihan tetapi keadilan. Mendorong partisipasi rakyat. Memakai alat analisis sosial dalam memahami sebab-sebab kemiskinan. Melakukan penyadaran pada rakyat. Mengorganisasi rakyat. Hanya ketika rakyat mampu mengorganisasi diri mereka untuk keadilan sosial maka orang tertindas dapat kembali memperoleh kembali martabat mereka dan menolong menegakkan keadilan dan martabat bagi semua.

Jumat, 10 Februari 2012

suku mandar


A.    Tempat Suku
Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Wilayah Mandar terbagi dalam tiga daerah Tingkat II (Kabupaten) yaitu Kabupaten: Majene, Mamuju dan Polewali-Mamasa. Kota Mandar secara geografis tidak sebatas dengan wilayah keresidenan (Kabupaten) Polewali atau Majene, Luas wilayah yang diperjuangkan menjadi Provinsi Sulawesi Barat (Provinsi Sulbar). Dengan kata lain, dalam konteks geografis dan bukan konteks kultural, istilah Mandar mencakup seluruh wilayah sulbar. Mandar mencakup masyarakat Polewali, Majene, dan Mamuju. Wilayah Mandar terletak di ujung utara Sulawesi Selatan.
B.     Agama Suku
Agama suku Mandar adalah agama Islam. Tak seorang pun boleh mengajak orang lain berpindah agama.
C.    Kebudayaan Suku
Kebudayaan Suku Mandar adalah Mandar dan Bugis. Bahasa Mandar dengan 4 dialek, yaitu : Balanipa, Majene, Pamboang dan Awok Sumakengu. Daerah Polewali menggunakan bahasa Bugis. Daerah mamasa menggunakan bahasa Mamasa. Selain daerah Mandar atau kini wilayah Provinsi Sulawesi Barat, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring
 Rumah adat suku Mandar di sebut boyang. Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten baru yaitu "mappando'esasi" (bermandikan air laut). Kebudayaan mandar banyak dipengaruhi oleh tradisi islam. Saeyang Patuqduq yang dirangkaikan dengan adat lain. Lagu-lagu Mandar sering dan selincah lagu-lagu Maluku, namun sekaligus selembut irama agraris lagu-lagu Bugis meski tidak sedinamis lagu-lagu Makassar yang terkesan agak cepat dan kekurangan kelembutan. Tari Patadu menampakkan suasana langit-bumi yang menyatu dalam gerak kaki para penari yang tak terlepas dari bumi, dan pada saat yang sama pasangan tangan mereka menari-nari bukan tanpa kebebasan, namun kebebasan dengan kendali nilai budaya oleh gerakan yang menandakan adanya aturan yang harus ditaati.
Salah satu warisan kebudayaan bahari Mandar adalah lopi sandeq. Bentuknya yang mungil menjadikan perahu ini lincah di samudera. Lopi sandeq terdiri dari anasir perahu, antara lain tambera, sobal, guling, pallayarang, palatto, tadiq, petaq dan sebagainya. Oleh nelayan, perahu ini kerap digunakan sebagai alat transportasi antar pulau, mencari ikan atau motangnga (berburu telur ikan terbang). Bahkan untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI, setiap tahun diadakan Sandeq Race yang diikuti berbagai kalangan di Sulawesi hingga mancanegara. Tak terhitung jumlah peneliti yang tertarik dan telah melakukan riset tentang sandeq dan tradisi bahari Mandar.
D.    Jumlah Orang di dalam Suku
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Sulawesi Barat 565.225. sulawesi selatan: 489.986.Kalimantan Selatan: 49.322. Kalimantan Timur: 33.000.dan Indonesia. Kurang lebih 1 juta di Indonesia (2010). Menurut situs Joshua Project suku Mandar berjumlah 253.000 jiwa.
E.     Hal Yang menarik
Orang Mandar  terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka telah mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan Filipina untuk berdagang.Bakat berlayar yang rupa-rupanya telah ada pada orang Mandar,  akibat kebudayaan maritim dari abad-abad yang telah lampau itu.
Warga suku Mandar Polewali Mandar, Sulawesi Barat, masih memegang teguh tradisi gotong royong dan saling tolong menolong. Melalui tradisi Kalulu atau Sikalulu, warga Kampung Pajjala, Kelurahan Takatidung, Polewali Mandar, memperlihatkan rona kebersamaannya. semangat sikalulu, rumah berbobot puluhan ton akan dipindahkan. Lagi-lagi, tanpa perlu peralatan modern. Tradisi Kalulu atau Sikalulu tak hanya meringankan pekerjaan yang mustahil dilakukan sendiri.
Sistem kekerabatan orang Mandar ditandai oleh beberapa periode, antara lain : periode Tomakala, ketika pemerintahan belum teratur dan hukum belum ada; periode transisi (Pappuangang), ketika hubungan sosial dalam masyrakat mulai menampakkan polanya: periode penuh tata cara, aturan, nilai yaitu periode Arajang.
Untuk meramaikan upacara adat ini, biasanya disuguhkan hiburan berupa kesenian hadrah, musik tradisional, dan atraksi pencak silat. Usai pelepasan bagang, ditampilkan atraksi meniti di atas tali yang biasa dilakukan oleh lelaki Suku Bajau. Atraksi ini pun selalu dipertunjukkan bahkan dipertandingkan pada saat Upacara Adat Salamatan Leut (Pesta Laut) sebagai pelengkap hiburan masyarakat.
Selain Upacara Adat Macceratasi, Kabupaten Kota Baru juga mempunyai upacara adat lainnya, seperti Upacara Adat Babalian Tandik, yakni kegiatan ritual yang dilakukan oleh Suku Dayak selama seminggu. Puncak acara dilakukan di depan mulut Goa dengan sesembahan pemotongan hewan qurban. Upacara ini diakhiri dengan Upacara Badudus atau penyiraman Air Dudus. Biasanya yang didudus (disiram) seluruh pengunjung yang hadir sehingga mereka basah semua.
Ada pula Upacara Adat Mallasuang Manu, yakni upacara melepas sepasang ayam untuk diperebutkan kepada masyarakat sebagai rasa syukur atas melimpahnya hasil laut di Kecamatan Pulau Laut Selatan. Upacara ini dilakukan Suku Mandar yang mendominasi kecamatan tersebut, setahun sekali tepatnya pada bulan Maret. Upacara ini berlangsung hampir seminggu dengan beberapa kegiatan hiburan rakyat sehingga berlangsung meriah.
F.     Kesimpulan
Suku Mandar merupakan suku di Sulawesi selatan yang belum terjangkau. Suku yang paling besar dan berpengaruh di wilayah Sulawesi barat. Daerah ini sudah dikuasai oleh islam, sehingga kerja keras menginjili diperlukan.
Suku Mandar membutuhkan peningkatan pengelolaan perkebunan agar lebih memberikan hasil yang maksimal. Disamping itu perlu dilakukan budi daya ikan cakalang dan penyu yang mempunyai nilai jual tinggi untuk meningkatkan pendapatan daerah. Suku mandar sangat tertutup terhadap penginjilan maka kerja keras dalam penginjilan dibututhkan dan berdoa supaya terbuka pada injil.
Salah satu cara penginjilan dalam penginjilan adalah menerjemahkan injil kedalam bahasa mandar baik cetak maupun elektronik. Budaya Kalulu atau Sikalulu digunakan dalam membangun dan bekerjasama untuk membangun masyarakat. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan menangkap ikan. Jika jumlah suku mandar sekitar 250.000 jiwa dan beragama islam maka tugas sekarang adalah menginjili dan membawa mereka mengenal Kristus. Pendekatan terhadap suku ini harus lebih inovatif sebab dalam suku mandar ada juga suku bugis yang memiliki kesamaan karakter yakni tidak mau menerima perubahan apalagi mengenai keagamaan. Hal yang mungkin bisa dilakukan adalah mendekati dari segi ekonomi. Bukan hanya ekonomi tetapi pendidikan, yakni dengan membangun sekolah atau rumah sakit. Penginjilan itu bersifat sosial sehingga tidak curiga akan isu kristenisasi.

Senin, 06 Februari 2012


1.      Pola Berpikir Paulus
Paulus dibesarkan dan dididik dibawah pimpinan Gamaliel nenek moyang kita (Kis 22:3). Ia mengenyam pendidikan di sekolah Gamaliel di Yerusalem. Kultur Yunani dengan filsafatnya sangat dikenal oleh Paulus. Gayanya mirip dengan kata-kata kaum Stoa yang menggunakan kata, hati (Rm 2:15), alam (Rm 2:14), apa yang tak pantas (Rm 1:28), mencukupkan diri (Flp 4:11). Tentu saja ketika Paulus bertobat pemikirannya yang lama tidak mungkin digantikan dengan ajaran teologi yang lengkap dan siap pakai. W.D Davies mengungkapkan bahwa Paulus memiliki pola berpikir yang sama dengan rabi. Pakar lain menolak sebab pandangannya tentang hukum taurat dengan pesimistis.
Pakar lain memandang bahwa Paulus bukan orang Farisi melainkan tokoh apokaliptis yang teliti. Para pakar belakangan ini mengakui kelompok apokaliptis dan eskatologi dan Yudaisme Palestina yang terpengaruh budaya helenistik. Kelompok perbandingan agama menafsirkan Paulus berdasarkan latar belakang agama-agama misteri Yunani dan mengemukakan bahwa Paulus mengubah kekristenan Yahudi kuno menjadi sekte misteri yang gigih dengan dewanya yang mati dan bangkit. Deismann mengakui adanya warisan Yahudi Paulus, ia menafsirkan inti iman Kristen menurut mistisisme Helenistis. Paulus sendiri mengakui bahwa ia telah mendapat pendidikan teologi kerabian sebelum ia menjadi Kristen. Paulus juga berlatar belakang Yahudi namun tidak dapat dipungkiri ia dipengaruhi oleh pemikiran helenistik atau gnostik.
Pemikiran Yahudi mempengaruhi Paulus dalam teologinya, hal itu nyata dalam sikapnya. Ia penganut kepercayaan yang memakai hukum Taurat sebagai pusatnya. Ia menegaskan bahwa hukum Taurat itu rohani, suci, benar dan baik. Dalam tulisan-tulisan Paulus, sebagai seorang Yahudi pembicaraan tulisannya ada diseputar kedatangan Mesias menghancurkan musuhnya, menebus Israel, dan mendirikan kerajaan Allah. Surat Paulus merefleksikan tulisan dalam apokaliptik yakni olam hazzeh dan oram habbah. Paulus menekankan zaman ini dan akan berakhir dengan Hari Tuhan (1 Tes 5:2; 2 Tes 2:2).
Paulus menyetujui perspektif perjanjian lama tentang apokaliptik yang ditemukan dalam injil. Sebagai seorang Yahudin Paulus sebelum bertobat sangat gigih mempertahankan hukum Taurat. Bagi kaum Farisi hukum Taurat adalah segala-galanya. Tiga fakta tentang kerasulannya yakni memberitakan Kristus yang dahulunya dianiaya, membawa injil kepada bangsa bukan Yahudi, dan pembenaran oleh iman yang terpisah dan hukum Taurat. Berdasarkan pengalaman ke Damsyik, Paulus melihat bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah. Ia hidup baru di dalam Kristus. Paulus memiliki sikap baru dalam memandang semua manusia. Ia memberitakan kabar baik kepada semua manusia.
Inti teologi Paulus menurut para pakar bahwa pokok utama pemikiran Paulus adalah pembenaran oleh iman. Wrede menegaskan bahwa keagamaan Paulus dapat dijelaskan tanpa harus menyebut tentang pembenaran, kecuali yang menjadi pembahasan itu hukum Taurat. Schweitzer berpendapat bahwa pembenaran oleh iman adalah titik awal yang menuntun kita pada salah pengertian tentang Paulus. Andrews mengikuti Sabatier menjelaskan bahwa pembenaran sebagai pikiran pembenaran yang rendah. Stewart memahami pemikiran dan pengalaman Paulus dalam persatuannya dengan Kristus daripada pembenaran.
Davis mengikuti Wrede dan Schweitzer memandang pembenaran sebagai polemik yang lembut terhadap kaum Yahudi. Bahaya pembenaran iman menurut seorang pakar reformasi adalah adanya unsur dinamika penebusan historis dari pemberitaan Paulus. Teologi Paulus merupakan penguraian fakta penebusan. Dengan pertobatan baulus makna sejarah penebusan ditemukan kembali dalam Yudaisme. Paulus sebagai seorang yang menulis fakta sejarah melihat bahwa apa yang dikerjakan Allah tidak dapat dipisahkan dengan penggenapan eskatologis. Paulus didalam tulisannya menjunjung tinggi perjanjian lama sebagai firman Allah. Konsep teologi Paulus berakar dalam perjanjian Lama yang menjelaskan Allah, manusia, penebusan, perjanjian dan Taurat serta eskatologi.