Judul Buku : Brothers, We Are Not Professionals, Suatu Permohonan Bagi Para Gembala Untuk Kembali Melayani Dengan Radikal.
Pengarang : John Piper
Penerbit : Pionir Jaya, Bandung, 2011
Interaksi Bacaan
Pokok-pokok penting dalam buku ini adalah seorang pelayan yang bukan profesional. Pada saat ini tampak penuh tantangan di mana banyak kesesatan, hal yang kita cermati adalah kita yang cenderung profesional. Tantangan pada abad ke-21 penuh ketidakpastian, sehingga pelayanan dituntut untuk hidup dalam Yesus yang tersalib. Kekristenan sejati yang memberitakan kasih agape Allah, di mana seorang pelayan dalam buku ini dijelaskan bahwa berita kasih adalah dasar mulia dari injil. Allah adalah kasih secara signifikan dan kekal kebenaranNya, Allah menyatakan tindakan Allah yang absolut. Tantangan dari islam, penyaliban Yesus ditolak karena menghormati Yesus, yang disalib adalah orang yang serupa dengan Dia. John Piper menjelaskan bahwa tidak ada sengsara salib, tidak ada kasih karunia artinya kita memberitakan yang sejalan dengan profesionalisme saat ini.
Kebenaran sebagai tolok ukur bersama adalah sengsara salib yang membawa manusia kepada karunia Allah. Penekanan John Piper didasarkan pada kebenaran sejati yang harus dimiliki para gembala. Toleransi profesional saat ini menyangkali adanya keyakinan di mana setiap keyakinan dianggap pelengkap bagi keyakinan yang lain. Tidak ada keyakinan yang layak menyatakan diri lebih benar dibandingkan dengan yang lain. Kesetaraan damai diantara para profesional dapat dipertahankan dan tidak seorangpun perlu menderita aniaya menjadi batu sandungan demi salib (Gal 5:11).
Penekanan Piper selanjutnya dalam buku ini adalah hasrat pastoral yang radikal bagi supremasi dari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. John Piper juga menekanan ekspektasi kultural dari profesionalisme. Hal yang harus penting bagi pendeta adalah kesetaraan paradigma dunia professional berdasarkan kebenaran alkitab. Kritikus menasihati kita bahwa kurangnya kompetensi bukanlah sebuah kebajikan. Visi pelayan sekarang adalah pastoral dengan penuh sukacita. Faktanya adalah air mata memperdalam dan memperkuat sukacita pengharapan kami (Yak 1:2-4).
Jadi sukacita adalah sukacita senantiasa yang penuh air mata yang berorientasi pada Allah. Kedamaian dan kepuasan bagi penantian kehebatan oleh kaum profesional. Persekutuan spiritual dengan Kristus yang telah disalibkan. Allah adalah kasih karena signifikan secara absolut untuk menyatakan sukacita kekal. Maksud kedatangan Kristus adalah untuk menggenapi kebenaran dan menjalani kematian. Rahasia ucapan syukur dapat memotivasi timbulnya ketaatan adalah natur dari perasaan sukacita. Etika dasar perjanjian baru didasarkan pada kasih dan bukan ucapan syukur yang didasarkan pada pekerjaan. Seorang pelayan dituntut tersadar dari etika yang memimpin umat pada kuasa sukacita.
Pelayan diingatkan untuk melayani dengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan. Kita harus mengerjakan apa yang baik dengan pimpinan kasih karunia Allah. Pemikiran Kant tentang moralitas diperoleh dari tindakan yang diperoleh dari perilaku kita. Motivasi pelayan bukan hanya dari tokoh-tokoh yang berpengaruh tetapi kesukaan dari Allah dalam melakukan tugas itu sendiri. Kita harus mengingat bahwa pernahkah pelayan berkorban bagi umat. Bagi Piper, doa merupakan sebuah fusi antara primer dengan sekunder. Kita perlu mengambil berdoa dan saat teduh. Seorang pelayan harus meluangkan waktu untuk berdoa yang merupakan aktivitas pada pagi dan malam.
Tanpa doa yang kudus dan terfokus maka pelayanan firman akan menjadi layu. Pelayanan bukanlah rekreasi belanja atau pekerjaan kebun dan lain-lain sehingga waktu doa menjadi tidak ada. Kita tidak hanya membicarakan tentang doa tetapi hendaknya berdoa dengan penuh kesungguhan. Perhatian penting bagi seorang pelayan bagi Piper adalah pada doa dan pelayanan firman. Salah satu hal yang diperhatikan oleh pelayan ialah membaca buku spiritual dalam akumulasi 20 menit per hari. Satu hari membaca 20 menit per hari, 6 hari per minggu. Perhitungan waktu membaca yang digunakan pelayan adalah 20 menit pagi hari, 20 menit setelah santap siang, dan 20 menit menjelang tidur malam.
Tujuan dari membaca ini adalah bukan dalam rangka membaca banyak buku tetapi bagaimana menggali sari kehidupan dari buku yang kita baca. Pada saat membaca alkitab Allah berjanji memberikan pengertian kepada pelayan yang setia memahami alkitab. Janji terang ilahi tidak diberikan kepada semua orang melainkan kepada mereka yang berpikir. Seorang pelayan yang menafsirkan alkitab sesuai dengan bahasa aslinya harus berpandangan bahwa arti teks yang ditafsirkan tidak berkurang. Analisis yang dikembangkan kadang terhambat dalam penafsiran beragam terjemahan.
Manfaat Bagi Pelayan Masa Kini.
Seorang pendeta harus membaca biografi Kristen yang dibutuhkan dalam rangka menginspirasi pelayan dalam melihat dirinya dan pelayanannya. Karena biografi merupakan saksi terbaik bagi dirinya sendiri dan merupakan dorongan terkuat dalam melawan apatisme inferioritas. Biografi adalah teologi hidup orang-orang yang tidak sempurna dan inspiratif. Seorang pelayan dalam buku ini dijelaskan bahwa harus mengambil sisi lain dari kekristenan. Kita boleh bersukacita karena penginjilan dan misi telah berkembang dengan perbedaan yang membuat kita merubah cara baru bermisi.
Pelayan harus menyadari bahwa kaum pilihan mengasihi firman Allah, kaum pilihan akan bertumbuh dalam bimbingan yang tepat. Kita harus menyadari bahwa keselamatan harus diberitakan kepada mereka yang terkungkung dalam dilema. Anugerah keselamatan yang diterima oleh orang percaya yang ditarik keluar dari neraka. Bila kita tidak mampu lagi menangkap realitas neraka maka berita injil akan bergeser menjadi berita biasa. Intensitas sukacita menjadi tumpul dan pancaran kasih dari hati menjadi kering. Kita dituntut untuk mengajar dengan rendah hati (Flp 2:3).
Pertobatan rohani dibangun atas dasar visi yang menarik dari kekudusan Tuhan. Penekanan berikut yang pendeta ajarkan menurut Piper bahwa mengajarkan baptisan serta membuat orang bertobat dan dibaptis (Mat 28:19). Kita harus meletakkan doktrin baptisan dengan proporsional sehingga tidak merusak pelayanan dan ibadah kita. Dalam pelayanan, persekutuan dengan sesama dalam penderitaan membuat yang berada didalamnya bersukacita.
Analisis
John Piper meminta kepada para pendeta untuk meninggalkan sekularisasi pastoral dan kembali kepada panggilan profetik alkitabiah. Kita bukanlah kaum profesional yang tidak bermental para nabi. Semakin profesional kinerja seorang pendeta maka ia akan semakin mati secara rohani. Kita adalah perantau di dunia ini, sehingga segala karya kita dikerjakan dalam terang Kristus. Sebagai seorang pendeta, panggilan untuk melayani yang miskin dan terpinggirkan ditengah hiruk-pikuknya dunia ini, kita semakin tertantang untuk bekerja menurut kehendak Tuhan. Seorang pendeta diingatkan untuk bekerja mengabdi pada Tuhan dalam pelayanan bukan bekerja secara profesional. Hal terpenting yang dipunyai oleh pendeta yakni kerendahan hati dan mau berbagi pada orang dalam kesukaran.