Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Senin, 10 Desember 2012

Pertunangan


            Pertunangan dimaksudkan supaya orang muda saling mengenal dan mempersiapkan diri untuk menikah. Pertunangan itu suatu masa ujian dengan dasar kesetiaan. Pertunangan masa persediaan sebelum menikah. Jika kehidupan dalam pernikahan tidak dapat diwujudkan maka pertunangan boleh dibatalkan. Dalam pertunangan kita diajar untuk saling mengasihi dan mengajarkan kebaikan. Dalam pertunangan perlu penyangkalan diri, dan didalamnya nyata kasih. Cinta itu kasih yang saling mengasihi, dan wajib mengikuti sekolah latihan Kristus. Orang bertunangan meninggalkan sikap rahasia-merahasiakan. Masa pertunangan berbalik lebih mendalam. Dalam pertunangan muncul manusia sebagai yang berdosa dan bercela. Pada masa pertunangan tidak diperbolehkan bersetubuh. Persetubuhan sebelum menikah adalah persetubuhan tiruan. Persetubuhan adalah perbuatan yang mengenai pribadi manusia sebulatnya. Persetubuhan adalah suatu penyerahan tubuh dan jiwa seorang kepada yang lain.
            Pencerahan hanyalah mungkin dalam pernikahan. Pengalaman pahit dalam praktek pernah mengatakan menuntut belumk boleh diberikan. Masa pertunangan adalah masa persediaan kehidupan seksuil. Dalam pertunangan ada penyangkalan diri, pengendalian diri, hormat kepada yang lain dan hikmat kepada Tuhan. Pertunangan yang pendek akan kurang dasar yang kokoh. Orang yang bertunagan harus saling mengenal satu sama lain. Masa pertunangan janganlah terlalu pendek dan jangan terlalu panjang. Yesus Kristus adalah sumber kekuatan supaya bertekun dalam perjuangan demi kemurnian. Yesus Kristus harus berwujud dalam diri orang yang bertunangan. Memasuki pernikahan dengan memanfaatkan nafsu kelamin dibawah pengawasan Firman Tuhan dan bersedia menerima anugerah duniawi yang besar. Dalam pertunangan saling mengenal merupakan sebuah kewajiban dan saling keterbukaan. Jika masa itu perbedaan terlampau besar maka sudah seharusnya pertunangan itu dibatalkan. Pertunangan bukan suatu eksperimen di mana kita mengasihi atau tidak. Orang banyak mengatakan bahwa pertunangan itu sama dengan pernikahan, kerduanya tidak bisa diputuskan. Pertanyaan mendasar dalam pertunagan adalah betulkah ia mengasihiku? 
Judul Buku                              : Etika Kristen Seksuil
Pengarang                               : J. Verkuyl
Penerbit                                   : BPK Gunung Mulia

Lingkungan Sosial


Setiap masyarakat memiliki adat dan norma atau sistim hukum yang berlaku. Metode penertiban yang dilakukan adalah dengan melakukan kekerasan. Sedangkan metode lain menggunakan tekanan ekonomi, ancaman terhadap pendapatan, dan keuntungan seseorang. Metode penertiban yang halus namun kuat adalah menasihati, menganjurkan, dan mengeluarkan dari kelompok. Keinginan untuk diterima oleh orang lain dan kelompok yang merupakan kebutuhan fundamental kelompok persahabatan. Peka terhadap pendapat orang lain karena tidak menyakiti orang lain. Penyesuaian dengan pendapat orang lain untuk memajukan kepentingan sendiri. Orang lain juga menghormati kebijaksanaan dan pengetahuan mayoritas  besar. Masyarakat dipandang sebagai kenyataan yang lahir dari diri manusia. Lingkungan sosial ikut membentuk tabiat kita. Tekanan  dari sosial sering menghasilkan moralitas berdasarkan padanngan mayoritas. Jika terlepas dari hasrat untuk dikasihi dan mengasihi maka keinginan bebas dan kekuatan menghasilkan keakuan dan ketamakan.
            Dalam masyarakat modern lingkungan sosial ntelah kehilangan patokan etis meskipun masih dipegang dengan baik. Gereja harus mengenal tabiat-tabiat anggota-anggotanya serta menjadi persekutuan yang mendukung moralitas mereka. Keputusan etis tergantung pada setiap orang sebab semua orang beriman adalah sebagai imam. Kita adalah harta rohani dalam bejana tanah. Tujuan gereja bukan mengasingkan orang dari dunia melainkan melayani dunia. Tujuh fungsi gereja yaitu sebagai jemaat yang pertanggung jawab etis, pengampunan, pendidikan moral, pembentuk tabiat moral, dukungan moral, diskusi moral dan perbuatan moral. Keanggotaan gereja berdasarkan pengampunan Tuhan bukan berdasarkan kebaikan orang. Kita menjadi orang yang memihak kepada yang miskin dan tertindas. Persekutuan dalam perjanjian baru berarti setiap masalah seorang anggota gereja ditanggung oleh semua anggota gereja dan setiap karunia seseorang anggota dipakai untuk kebutuhan setiap anggota. Masalah etis yang dibicarakan dalam dua fokus yakni bahan Alkitab dan pandangan etis gereja. Membicarakan masalah moral yang dihadapi. Gereja bertindak sebagai badan dari orang yang terpisah.
Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-faktor di dalamnya, Malcom Brownlee,

Jumat, 07 Desember 2012

Makna Adven dalam Liturgi


            Adven adalah masa menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali dan mempersiapkan natal. Gereja mengungkapkan kerinduannya akan kedatangan Tuhan pada masa adven dan kesiapan menyambut Natal. Kenyatan yang terjadi banyak gereja dan persekutuan tidak tahan dengan saat penantian dan merayakan natal pada masa Adven. Kalau demikian apa makna Adven? Banyak gereja yang kurang menghargai Adven. Banyak gereja yang ingin merayakan natal tanpa berlama-lama di adven. Adven sekedar ornamen pada kebaktian hari minggu. Natal dirayakan di luar masa Adven. Sejak tanggal 3, 4, 5 Desember telah dirayakan natal baik kelompok Kristen maupun gereja itu sendiri. Adven baru dimulai awal desember, aksesoris natal telaah dipasang, gereja tidak ada bedanya dengan toko kaset dan penjual aksesoris natal yang bernatalan secepat mungkin.
            Dalam rangka meningkatkan spritualitas gereja dan disiplin adalah lebih baik merayakan natal setelah tanggal 25 desember. Sebaiknya masa Adven dirayakan sebagai adven yakni masa pengenangan, dan penggenapan. Sebaiknya tidak menyanyikan malam kudus, hai mari berhimpun pada masa Adven agar natal tidak kekurangan bobotnya telah jenuh pada masa Adven. Adven adalah masa penggenapan dan pengharapan. Perlu kesabaran dan ketabahan gereja dalam masa penantian yang disebut Adven.
            Adven adalah perayaaan memperingati inkarnasi dan titik tolak dari inkarnasi itu dibangunlah kesungguhan dan kesukacitaan menantikan Parousia (kedatangan Yesus kedua kali). Tema yang dijalin dalam adven memperkaya penghayatan gereja terhadap kedatang Tuhan Yesus. Tema pada Adven pertama adalah sikap gereja dalam menantikan kedatangan-Nya untuk membebaskan umat manusia. Adven kedua, pertobatan menuju langit baru dan bumi baru bagi seluruh bangsa. Adven ketiga, ajakan mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Adven keempat, mengarah kepada kelahiran Tuhan di Betlehem.
            Ada tiga tema Adven yakni:
1.      Mengingat Yesus dilahirkan di Betlehem oleh Maria
2.      Menyambut kedatangan Yesus Kembali dalam kemuliaan
3.      Menantikan kembali kedatangan dalam kemuliaan.
Sebuah risalah dari buku Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja oleh Rasid Rachman, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, 115-119.

Rabu, 05 Desember 2012

Masa Adven


Masa Adven Natal

Masa Adven diduga mulai dirayakan sejak abad keempat sebagai periode persiapan menyambut Epifani (Yunani: Manifestasi/Kemunculan/Penampilan) Yesus, yang artinya manifestasi Yesus kepada dunia melalui kelahiran-Nya. Adven sebenarnya bukan tradisi Katolik Roma, tapi tradisi Gereja Timur yang puncak perayaan Epifaninya jatuh pada tanggal 6 Januari (kelahiran Yesus diperingati 25 Desember sampai 5 Januari). Adven dari bahasa Latin “adventus” yang artinya “kedatangan” (dalam bahasa Yunani, “Parousia”), kemudian berkembang menjadi masa persiapan menyambut kelahiran Yesus (pesta Natal) dan kegembiraan menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Sejak reformasi (abad ke-16) perayaan Adven tetap dirayakan oleh gereja-gereja protestan dengan anggapan bahwa Adven adalah perayaan awal Natal, sedangkan Katolik pada paham bahwa Adven adalah masa persiapan menuju Natal. Karena itu bagi Katolik (yang lebih “teguh” dalam simbolisasi urutan tahun gerejawi), belum boleh ada lagu Natal kedengaran dan belum membaca bacaan Natal selama masa Adven sebelum malam Natal 24 Desember. Tentu karena paham perayaan awal Natal untuk Masa Adven itulah, maka di gereja Protestan banyak yang sudah Natalan sebelum Malam Natal 24 Desember. Tidak usah dianggap latah, tapi kalau ingin menghayati makna simbolis Masa Adven maka memang ada baiknya pada masa itu belum merayakan Natal.

Lingkaran Adven

Simbol masa Adven adalah Lingkaran Adven (Jerman: Adventskranz), yaitu lingkaran karangan daun cemara yang hijau, dengan taburan warna merah buah berry dan empat lilin (tiga ungu dan satu merah muda) dengan makna:

-          Lingkaran = Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.
-          Daun cemara hijau dan hidup (evergreen) = Yesus yang mati namun hidup kembali untuk selamanya.
-          Warna merah buah berry = butir-butir darah Yesus yang dicurahkan.
-          Lilin warna ungu = pertobatan
-          Lilin merah muda = sukacita di tengah pertobatan

Lingkaran Adven tersebut dapat dibuat di rumah maupun di gedung gereja. Lilin-lilin Adven itu dinyalakan setiap minggu Adven. Adven I satu lilin ungu, Adven II dua lilin ungu, Adven III dua ungu dan satu merah muda (sukacita di tengah pertobatan), Adven IV keempatnya dinyalakan dan pada Malam Natal keempat lilin tersebut diganti dengan lilin-lilin putih pertanda Adven telah selesai. Namun karena Lingkaran Adven ini adalah simbol (tradisi Jerman yang tetap hidup di beberapa gereja Katolik dan Protestan di Eropa), maka yang tidak biasa atau tidak bisa dengan simbol, janganlah dipaksakan. Makna penyalaan lilin dan warna lilin yang tidak dipahami, menjadi percuma. Melakukan simbolisasi tanpa makna adalah kesia-siaan. Tapi kalau mampu, bukanlah karena latah ke tradisi Jerman.

Lingkaran Adven
Pohon Natal

Pohon Natal (dari pohon Cemara - tradisi Jerman sejak abad ke-16, atau pohon mangga/pisang - tradisi India), sekarang bukan hanya sebagai dekorasi tapi juga sudah memiliki makna simbolik. Mengapa cemara? Karena cemara adalah pohon yang hijau daunnya tak pernah pudar (evergreen), lambang keabadian. Legenda pohon cemara ada beberapa versi (browsing dari Wikipedia bahasa Indonesia):
Menurut sebuah legenda, rohaniawan Inggris bernama Santo Bonifasius yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis dalam perjalanannya bertemu dengan sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon ek. Untuk menghentikan perbuatan jahat mereka, secara ajaib Santo Bonifasius merobohkan pohon ek tersebut dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang menakjubkan tersebut di tempat pohon ek yang roboh tumbuhlah sebuah pohon cemara.
Cerita lain mengisahkan kejadian saat Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam. Terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut.
Tapi apa pun legendanya, termasuk bahwa bangsa Romawi dulu menghiasi pohon cemara dalam merayakan kelahiran dewa Mitras (dewa matahari – 25 Desember - Dies Natalis Solis Invicti), namun kini pohon cemara dengan pernak-pernik hiasan dan kelap-kelip lampu/lilin telah menjadi pohon dalam rangka merayakan kelahiran Yesus Kristus, sudah menjadi simbol perayaan Natal.

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai Masa Adven dan Natal khususnya sehubungan dengan simbol-simbol, yang entah mampu dimaknai atau tidak (bukan latah), tetapi yang jauh lebih penting ialah bagaimana membuat ibadah kita menjadi ibadah yang hidup melalui liturgi khusus berikut ini. 

Tulisan ini diambil dari Komisi Liturgi dan Musik Gerejawi Gereja Toraja (Copyrigth @, Rantepao,
Pdt Tiku Rari)