BAB I
Pastoral terhadap orang yang berduka yang mengalami situasi yang sangat tidak diterima. Sehingga para pendeta melakukan pendampingan pastoral yang berfungsi membimbing, mendamaikan/memperbaiki hubungan, menopang/menyokong, mengasuh, dan mengutuhkan. Pendampingan pastoral terhadap orang yang berduka menyangkut seluruh hidup dan setiap aspek kehidupan manusia.
Konseling pastoral yang dilakukan merupakan pendampingan pastoral untuk mendampingi orang yang berduka bukan hanya lewat pertemuan biasa atau khotbah tetapi seluruh aspek kehidupan orang yang mengalami kedukaan. Orang berduka ini diarahkan kepada penyembuhan dan merasakan kembali kehidupan yang biasa. Pendampingan pastoral ini membuat orang berduka bisa keluar dari kedukaannya. Dalam buku ini penulis menginginkan pendeta memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam menghadapi situasi orang-orang yang berduka. Tugas pendeta dalam mendampingi orang berduka adalah pelayanan yang sangat sulit karena kedukaan dapat ditimbulkan oleh beberapa hal. Misalnya orang yang kita cintai, oleh kehilangan sesuatu yang berharga dan sebagainya. Setiap orang yang mengalami situasi kedukaan sangat beragam ada yang agresif, ada yang pasif dan depresif.
ISI
A. Maksud Penulisan
Penulis buku tentang pendampingan pastoral bagi orang berduka bermaksud bahwa para pendeta sebagai pendamping bagi orang berduka. Dalam menghadapi setiap situasi yang berbeda dari setiap orang yang mengalami kedukaan karena beberapa hal. Sebagai orang yang pertama dari setiap orang yang dipercayai anggota Jemaat, pendeta mendapat tempat yang penting bagi setiap orang yang mengalami kedukaan untuk menceritakan masalahnya. Para pendeta dipersiapkan untuk bagaimana cara menghadapi setiap masalah kedukaan yang dialami oleh setiap orang yang kehilangan sesuatu yang berharga. Sebab setiap orang yang mengalami kedukaan tidaklah semua dapat melupakannya dalam waktu yang singkat bahkan ada yang memendamnya sampai bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan peran pendeta untuk mengunjungi setiap orang yang mengalami kedukaan, sebab orang berduka tersebut merasa kehilangan orang yang mereka cintai atau yang berharga dalam hidup ini.
Para pendeta tahu sampai dimana peran yang dilakukan untuk pelayanan pastoral terutama orang yang berduka sebab ada juga orang yang dapat menyelesaikannya dengan berusaha sendiri tanpa orang lain melupakan kejadian yang memilukan ini.
B. Keefektifan Penulisan
Penulisan buku pendampingan pastoral bagi orang berduka ini sangat mudah dipahami bahkan dilengkapi dengan latihan. Selain itu disertai contoh praktis dalam kehidupan ini yang dialami oleh setiap orang yang mengalami kedukaan. Setiap bagian ditandai dengan penekanan yang memberikan penjelasan bagi pembaca untuk bisa dimengerti dengan jelas. Dalam beberapa hal dalam setiap bagain diberikan penjelasan mengenai cara menghadapi setiap orang yang mengalami kedukaan.
C. Kelemahan dan Kelebihan
Buku ini memberikan sejumlah informasi yang cukup luas menganai cara dan keadaan orang berduka serta persiapan pendeta menghadapi setiap orang dan situasinya dengan jelas.
Dalam bagian lain tidaklah jelas bagaimana masalah kedukaan itu berakhir dengan baik atau sebaliknya sebab pendeta hanya bersifat pendamping. Dilain pihak orang yang mengalami kedukaan ini tidak serta merta segera melupakan kejadian yang sangat memilukan hati. Hal ini menimbulkan beberapa masalah yang sangat rumit. Bantuan yang dibutuhkan oleh penderita orang yang berduka tidaklah selamanya terletak pada pastor atau pendeta. Ada beberapa hal yang tidak dikerjakan oleh pendeta.
Beberapa hal yang menjadi penekanan adalah persiapan pendeta sebagai penggembala harus setia mendengarkan. Serta mengartikan apa yang dikatakan orang kepadanya.
D. Argumentasi terhadap buku
Penulis benar-benar diberikan sumbangsih yang sangat baik bagaimana menghadapi setiap orang yang beragam dalam mengalami kedukaan. Sebab kedukaan sendiri bisa dialami setiap orang termasuk pendeta juga. Memang dalam setiap tugas pendampingan pastoral ini merupan tugas utama setiap pelayan Tuhan termasuk pendeta tetapi orang disekitar yang mengalami kedukaan tersebut bisa membantu orang yang mengalami kedukaan keluar dari kedukaannya. Namun dalam beberapa hal orang berduka merasa lebih baik jika menceritakan segala persoalannya kepada pendeta sebagai orang yang satu-satunnya tempat curahan hatinya sebab semua keluarga sibuk.
Pendeta merupakan orang yang paling pertama mendengarkan keluhan dari orang yang mengalami kedukaan dalam berbagai macam atau bentuk rasa kedukaan. Dari segala masalah orang yang mengalami kedukaan harus diselesaikan dengan secepatnya dalam waktu yang begitu cepat dengan membantu orang yang mengalami kedukaan.
E. Tanggapan
Beberapa hal yang menarik dari buku ini adalah pengulasan contoh pendampingan pastoral yang efektif dan tidak menyinggung serta memojokkan orang yang mengalami kedukaan. Perhatian dan cara pandang para pastor atau pendeta sangat dibahas dengan begitu tegas dan gamblang serta mendetail. Pendampingan yang dilaksanakan itu dalam rangka membantu orang yang mengalami kedukaan tersebut keluar dari situasi yang sangat sulit tersebut.
Persiapan dalam menghadapi situasi yang sangat sulit. Pendeta dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Pengalaman-pengalaman dalam mendampingi setiap orang yang merasa terisolir dari persekutuan Jemaat.
F. Aplikasi
Penerapan dalam setiap kehidupan pendeta dalam mendampingi orang berduka sangat dibahas dengan begitu baik. Tinggal pendeta sebagai pelaku pendampingan dalam mempraktekkan tindakan pastoral itu dalam pelayanan yang ia lakukan.
Bantuan secara professional dalam menangani problema-problema yang terjadi dalam kehidupan orang yang mengalami kedukaan. Pendeta harus mendekati orang yang berduka dengan mengetahui situasi mereka. Pendeta harus mengetahui bagaimana orang berduka mengetahui situasinya. Orang berduka harus diajak beradaptasi dengan orang yang baru dan menjadi situasi baru dalam hidupnya. Orang berduka diperkenalkan dengan keadaan yang sulit dengan situasi baru yang penuh makna walaupun dalam perjalanan harus menempuh waktu untuk mengalami penyembuhan dari situasi kedukaan.
PENUTUP
Dalam membaca buku ini, penulis sangat tertolong dalam memahami dan mendalami serta mempraktekkan pendampingan tersebut bagi para pendeta. Para pendeta sebagai pelayan yang berperan penting dalam pelayanan orang berduka ini sangat tertolong dengan membaca dan memahami buku ini dengan serius.
Kedukaan yang dialami setiap orang berbeda ada yang merasa kehilangan keluarganya atau anggota tubuhnya yang lain. Reaksi terhadap kedukaan masing-masing suku berlainan. Percakapan dan perkunjungan perlu dilakukan para pendeta kepada orang yang mengalami kedukaan.
Pelayanan kepada orang yang berduka tersebut sebagai pendeta harus diketahui keadaannya dibutuhkan atau tidak dan bagaimana bentuknya. Setiap pelayan harus memperlengkapi diri dengan pengetahuan yang banyak tentang orang yang mengalami kedukaan. Setiap orang yang mengalami kedukaan menghayati kedukaannya dalam situasi dan keadaan yang mereka anggap bisa diselesaikan dengan baik. Setiap pendeta mendekati orang yang berduka dengan mengetahui situasi orang tersebut dalam hal apa yang pelu pendeta bisa dekati dan teliti apa penyebabnya. Setap orang yang mengalami kedukaan mempunyai tingkah yang berbeda dalam mengelak dari situasi yang menyakitkan tersebut.
Setiap pendeta mengalami kesulitan dalam mengakhiri setiap percakapan serta kesulitan dalam memulihkan orang yang mengalami kedukaan. Peristiwa kedukaan memakan waktu yang lama dalam proses melupakan masa yang paling indah bersama orang yang dicintai. Pendeta belajar dari setiap perilaku orang yang mengalami kedukaan dalam rangka penyembuhan diri orang yang berduka ini. Hanya kekuatan dari Allah saja pendeta dapat melakukannya.