Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Selasa, 27 September 2011

dialog sebagai fungsi kritis

Dalam semangat mencari kebenaran terus-menerus, dialog antaragama mempunyai fungsi kritis ad intra (ke dalam) dan ad extra (keluar). Agama dipahami secara kongkrit, dan bukan metafisis. Dialog antar orang-orang yang beragama. Dialog menantang setiap orang yang terlibat untuk mengembangkan kejujuran dan otentisitas imannya. Dengan kesadaran bahwa agama seseorang tidak habis diungkapkan lewat doktrin atau tradisi, setiap orang ditantang untuk melihat segi kongkrit atau praksis dari iman. Dialog mempunyai fungsi untuk melihat bagaimana relasi antara saya dengan “agama” saya: relasi “hidup” atau relasi “memiliki”. Kebenaran bukan barang jadi. Kebenaran menampakkan diri dalam hidup, sejarah, relasi dengan orang lain. Kebenaran tidak identik dengan doktrin atau tradisi agama. Dalam kehidupan beragama doktrin dan tradisi agama mendapatkan maknanya paling dalam justru dalam kaitannya dengan kehendak kita untuk mencari kebenaran terus menerus. Kebenaran meliputi dimensi praktis dan refleksif. Tanpa refleksi religius, pengalaman keagamaan menjadi buta; pengalaman membutuhkan iluminasi kritis dan keberanian untuk merefleksikannya. Sebaliknya, refleksi tanpa pengalaman religius akan menjadi refleksi yang kosong. Dialog: wahana refleksi bersama memiliki daya kritis baik bagi dimensi praktis maupun refleksif, pribadi maupun kelompok. Substansi dialog: bukan lagi membanding-bandingkan agama melainkan kesaksian terus menerus atas realitas ilahi yang bersifat komprehensif dan menopang hidup orang yang percaya. (Gereja Lutheran: Kisah Emaus) Pedang kritis bermata dua: auto kritik seorang Kristen dalam cahaya agama-agama lain dan kritik seorang Kristen terhadap agama-agama lain dalam terang Injil. 
disarikan dari mata kuliah studi antar agama oleh Pdt. DR. Sulaiman Manguling.

Jumat, 16 September 2011

Pendidikan Kristen Abad ke -21




Pendidikan agama Kristen sebagai disiplin ilmiah, bahwa PAK tidak dikembangkan sebagai disiplin yang berintegirtas kalau belum ada pengetahuan dan pengertian tentang pemikiran dan praktek PAK. Dengan demikian bidang kita bukan hanya terdiri atas orang yang mampu berpikir mendalam tentang keseluruhan pelayanan pendidikan agama Kristen di jemaat. Membaca keempat injil dari segi pendidikan gerejawi khususnya PAK maka kesempatan mahasiswa untuk berefleksi. Moralitas dan pendidikan agama Kristen dipengaruhi oleh didaktik pendidikan agama Kristen, termasuk mengajar anak kecil memerlukan kecakapan tersendiri.
Jika pengajar akrab dengan sebuah misteri tentang symbol atau konsep maka akan akrab membuka konsep tersebut. Namun dalam pembelajaran faktor pelajar lebih menentukan belajar dan mengajar. Kegiatan mengajar seorang guru bermanfaat jika diikuti dengan kegiatan belajar para murid. Sebab pengajar mengetahui apakah muridnya belajar. Pelbagai metode digunakan dalam pendidikan agama Kristen. Termasuk didalamnya pendidikan ekologi yang diajarkan dalam PAK. Pendidikan hak asasi manusia dalam pendidikan agama Kristen, di mana peristiwa akhir-akhir ini banyak melanggarhak asasi manusia dalam kebebasan beragama. Gereja tidak boleh diam dan bertopang dagu kalau ada pelanggaran hak asasi manusia yang tidak menjadi warga gereja. Titik tolak gereja dalam hal ini adalah mempertahankan martabat manusia sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Allah pencipta semesta alam.
 Pendidikan anak penting tetapi disepelekan namun yang diperhatikan lebih adalah pendidikan kaum dewasa, sehingga hal paling penting diperhatikan dalam pendidikan anak adalah agar diperlengkapi mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah. Dalam pendidikan remaja, mereka diajar untuk mengasihi. Pendidikan agama Kristen di sekolah harus menjadi perhatian gereja pada masa kini yang kurang diperhatikan. Kesempatan yang pemerintah berikan kepada gereja untuk mengambil bagian dalam pendidikan nasional melalui pendidikan agama, haruslah gereja terima sebagai berkat Tuhan. Sebab dalam pendidikan anak harus ada cinta kasih dan kepedulian. Dalam hal ini manajemen PAK harus dikaji ulang terutama bagi  mahasiswa menyongsong dan memasuki abad ke-21. Dewasa ini perhatian pendidikan kepada pemuda baik melalui pendidikan agama Kristen, katekisasi dan pembinaan warga gereja masih kurang. Hal ini terjadikarena dalam jemaat belum merata tenaga PAK secara full time. Tenaga pendidik terutama orang tua dalam keluarga tidak dipersiapkan dengan baik sehingga orang tua tidak dapat membendung perilaku anak dalam arus modernisme. Para guru, katekis dan dosen PAK kurang menguasai metode PAK yang kretaif sehingga para peserta didik menjadi bosan dan kurang tertarik. Orang Kristen dewasa kurang melaksanakan fungsi mereka sebagai tenaga Pembina dan pendidik bagi pemuda. Para pemimpin jemaat dan orang tua diharapkan memberi perhatian konkret kepada pemuda oleh orang kristen dewasa. Gereja hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi pelaksanaan pelayanan dan pendidikan bagi pemuda dan warga gereja pada umumnya. Hal itu menyangkut program dalam pembiayaan pelayanan yang konkret dalam jemaat.
Pendidikan agama Kristen untuk usia lanjut harus mendapat perhatian lebih dari gereja. Mungkin bisa diadakan kebaktian usia lanjut. Katergori lansia itu diatas 60 tahun, dalam hal ini gereja dipanggil untuk merealisasikan tanggungjawabnya kepada usia lanut. Sebab masa tua adalah berkat. Tuhan sendiri berfirman: sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu, Aku telah melakukannya dan sampai putih rambutmu kamu terus, Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu (Yes. 46:4). Dalam membuat kurikulum lansia sebagiknya gereja menjadi pendamping. Gereja peduli terhadap lansia dan membuka diri untuk memperhitungkan potensi mereka. Gereja akan menjadi mampu mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Tantangan besar pada abad  21 ini mengisyarakatkan gereja untuk mengembangkan pembinaan warga gereja yang terintergrasi. Perhatian terintegrasi ini harus mendapat perhatian dari seluruh instansi yang perhatian terhadap pembinaan warga gereja ini. Pengembangan jaringan kerjasama diantara semua kelompok dan lembaga Kristen dalam masyarakat yang mempunyai keprihatian yang sama. Dengan kata lain berjalan dan berupaya bersama menjawab tantangan meruapakan hal yang tidak dapat dielakkan. Tujuan PAK adalah mewujudkan gereja Yesus Kristus di dunia dan untuk dunia. Agar warga gereja dari segala lapisan usia diajar untuk mendengar Firman Tuahn dan dikuatkan imannya. Dalam masa yang akan datang orang akan lebih tertarik pada persekutuan yang jumlahnya sedikit di mana kita bisa mendiskusikan apa masalah yang kita hadapi. Akhirnya PAK itu penting bagi gereja.
   Alajarlah Mereka Melakukan
Andar Ismail (Peny.)
PENERBIT   : Jakarta: BPK Gunung Mulia

Kamis, 15 September 2011

Etika


Etika berasal dari kata Yunani ethos  dalam bentuk tunggal memiliki arti banyak yakni adat, akhlak, watak, perasaan, sikap dan cara berpikir. Hubungan baik: landasan: landasan emosional semua disiplin. Menetapkan hadiah yang positif. belajar, berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu: adik - membaca; 2 berlatih: 3 berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman; cara belajar-mengajar yang menggunakan media televisi, radio, kaset, modul, dsb, pengajar dan pelajar tidak bertatap muka langsung;  pendidikan (pengajaran) yg dilakukan secara menyeluruh hingga siswa berhasil; masyarakat modern menganal nilai dan norma untuk mengajarkan perilaku kepada anak. Dalam masyarakat tradisional nilai-nilai dan pengajaran itu tidak pernah dipersoalkan. Dalam dunia modern ada beberapa hal yang menonjol adanya pluralism moral. Sekarang munculmasalah etis baru yang dahulu tidak terduga. Dalam pendidikan etika, kita mengenal moralitas: ciri khas manusia. Pertimbangan baik buruk dalam suatu bangsa tidak sama. Istilah etika menyangkut tentang ilmu yang mempelajari yang baik dan apa yang buruk dan tentang kewajiban moral (akhlak). Kumpulan asa atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Hal-hal dahulu yang dipraktekkan dan dianggap biasa saja sekarang dianggap tidak etis.
 Dalam mengontrol perilaku kita mengadakan perjanjian. Menangani perilaku yang tak diinginkan. Menegaskan kewibawaan orang tua. Mengajarkan etika moral kepada anak.Tanggung jawab untuk mengajarkan. Pengajaran etika moral kepada anak. Percakapan pada waktu makan. Bagaimanakah bentuk kasih sayang Anda kepada anak? Menyayangi anak tentunya bukan berarti memanjakan anak, melainkan ada sisi mendidik dengan disiplin. Mengarahkan anak menjadi sosok mandiri untuk kebaikan masa depan anak. Simak beberapa saran berikut tentang menyayangi anak dengan benar. Ada beberapa hal yang mempengaruhi etik seseorang yakni adat dan kebiasaan masyarakat.
Tidak dapat disangkal bahwa agama ada hubungannya dengan moral yang mendukung perilaku manusia. Ajaran moral yang terkandung dalam sebuah agama. Agama mempengaruhi pandangan-pandangan kita. Pendidikan etis keutamaan dalam profesi pendidikan. Etika kewajiban membutuhkan etika keutamaan seorang guru menjalankan tugasnya harus melihat dari prinsip-prinsip moral. Keutamaan berkaitan dengan disposisi suatu kecenderungan tetap. Keutamaan adalah sifat utama yang mendarah daging tetapi bukan sifat sembarang yang berifat baik.
Keutamaan dibedakan juga dengan keterampilan, di mana harus diingat bahwa dalam pendidikan kita harus berhati-hati dalam menilai murid-murid, mengadili dan menghukum mereka. Keterampilan hanya memungkinkan untuk melakukan jenis kegiatan tertentu. Dengan pendalaman etik yang mulitikultural saat ini gereja diingatkan supaya berhati-hati dalam pendidikannya. Kohlberg mengatakan bahwa baik buruknya sebuah perbuatan jika kita memahami keadaan dan perkara murid. Adat atau kebiasaan falsafah hidup orang tersebut. Guru harus mengusahakan supaya kelasnya menyenangkan dan berbagi rasa dengan murid.
Penting artinya merangsang murid-murid supaya mengerti tahap pembelajaran dalam diri mereka. Tujuan pendidikan moral adalah perkembangan moral secara optimal dengan demikian setiap pendidikan etik yang diajarkan tepogram dengan baik melalui kurikulum. Di mana moralitas adalah merupakan ciri kas manusia yang tidak dapat ditemukan dalma mahluk hidup lain. Mempelajari mutu moral perbuatan manusia, teori-teori etik dapat membedakan perbuatan yang merupakan kewajiban begitu saja dan harus dilakukan. Ada perbuatan yang dilarang secara moral dan tidak boleh dilakukan.
Dalam dunia modern sekarang ini hedonisme atau kesenangan menjadi tren anak sekarang ini. Dalam pemikiran hedonisme menjiwai pemikiran yang mengakui dimensi sosial sebagai faktor yang tidak bisa disingkirkan. Pandangan tentang perilaku itu muncul dalam informasi yang kita terima. Hal utama yang mendesak bagi masalah etis adalah perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi. Melalui informasi kita dapat mengetahui keadaan obyektif sesuatu yang ada disekitar kita. Data-data ilmiah dalam pemberian informasi harus dikuasai lebih dahulu. Penyampaian itu sampai kepada naradidik dan mengubah pola pikir dan situasi masyarakat.

kiat-kiat mengajar




Pengajaran dan pendidikan tidak hadir dalam ruang hampa, melainkan hadir dalam konteks di mana pembelajaran itu berlangsung. Dalam konteks yang plural, di mana guru dan siswa berada maka pengajar dianjurkan meramu pendidikan yang menjawab tantangan di masyarakat. Pengalaman dalam setiap masyarakat berganti secara dinamis dan dikaji relevansinya bagi masyarakat sekitar. Di mana peran orang tua dalam menghadapi dunia pengajaran saat ini dituntut untuk punya gambaran pendidikan kristiani ditempat dimana kita berkembang. Persoalan diseputar kemajemukan dipertimbangkan dalam pengembangan pendidikan dalam masyarakat kita. Jika kita melihat asal-usul pendidikan itu berasal dari kebudayaan manusia. Di mana pendidikan dipelihara oleh generasi muda yang mencakup tentang kemampuan untuk bertahan hidup. Pendidikan sebelum masa pembuangan dijelaskan dalam ulangan 6. Pendidikan dilakukan melalui ritual keagamaan. Dalam teori pendidikan apapun yang dimiliki oleh seseorang biarlah itu dipahami dan dikaji pada waktu tertentu. Masa depan bergerak begitu cepat sehingga, kita memerlukan cara pandang baru dalam merumuskan paradigm baru. Suatu cara berpikir yang jauh berbeda dengan masa lalu. Teori-teori muncul berdasarkan pandangan yang muncul.
Pendidikan adalah mengenai kearifan untuk hidup, di mana masyarakat adalah subjek atas pengalaman. Melakukan pendidikan kristiani adalah bersifat kritis secara radikal menentang pendekatan modern yang mengatur tidak hanya masyarakat tetapi juga ruang dan waktu. Nilai-nilai pendidikan menyuarakan praksis. Pembangunan spiritualitas yang utuh serta membangun masyarakat. Dalam zaman sesudah pembuangan, pendidikan berupasat di sinagoge. Di mana pendidikan dan agama membentuk kurikulum yang mendasar di rumah sama dengan di sekolah. Pada saat Yesus masih di dunia, penekanan pengajarannya yaitu kedatangan kerajaan Allah sudah dekat. Murid-murid-Nya mengembangkan dalam tiga hal yakni: perhatian kepada kebutuhan manusia, merayakan hubungan yang baru dengan Allah, dan pekabaran injil. Pada periode patristik pertumbuhan dilakukan dengan mengajarkan orang-orang yang baru bertobat pendidikan iman selama tiga tahun. Persiapan yang matang ini dipakai untuk melawan penganiayaan dan pengajaran kebudaayaan yakni filsafat dan kebudayaan. Pada abad pertengahan, keristenan mengalami pelembagaan sehingga kerajaan mengalami masalah yang baru bagi pendidikan. Pada zaman reformasi gereja ditandai dengan skisma gereja.
Abad 17 dan 18 kekuatan perubahan besar pada dunia pendidikan yang mempengaruhi pendidikan secara signifikan. Dibanyak tempat gereja masih memegang peranan dalam pendidikan dan pengajaran. Tetapi di tempat-tempat lain muncul bentuk-bentuk sekolah yang tidak berhubungan dengan gereja sehingga mengubah hubungan gereja dan institusi pendidikan. Pendidikan agama menekankan pengalaman manusia bukan penyatan ilahi. Pendidikan pada saat ini ditekankan yaitu belajar sambil melakukan, dari model yang disampaikan oleh orang lain. Kepedulian utama dalam pendidikan adalah kesetiaan dalam pengajaran agama dalam komunitas tetapi mengabaikan kondisi sosial masyarakat disekitarnya. Pendidik agam ditantang untuk mengklarifikasi dan mengartikulasikan tujuan pendidikan agama sesuai dengan realitas atau konteks murid-murid. Visi kepenuhan hidup dan kerajaan Allah yang adil. Pendidikan merupakan kearifan hidup dalam masyarakat. Dengan maksud lain bahwa memahami visi dan tujuan pendidikan bagi umat lain.
Visi mengenai dunia ada dalam roma 12: 21, Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!, bekerja secara kolektif bersama dengan orang lain. Terutama dengan disiplin ilmu yang berbeda. Tujuan dari pengajaran gereja agar orang diajarkan jalan Tuhan. Jalan yang dimaksud adalah menuju kehidupan yang menyangkut mendengar dan melakukan yang benar. Gereja perlu mengajar, melatih, memperkenalkan warga gereja dengan alkitab. Percakapan dengan alkitab itu menunjuk kepada Allah. Dialog dirancang menyangkut sejarah keselamatan yang dirancang Allah untuk dunia yang dikasihinya. Warga gereja merasakan kebutuhan untuk memahami alkitab dan pokok-pokok pikiran Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Pada zaman dahulu sinagoge didirikan untuk tempat belajar umat percaya. Belajar memiliki pengertian pengalaman yang bermakna, merasa dikuatkan, dihibur, menjadi bijaksana atau diperkaya secara spiritual. Tujuan pendidikan agama adalah mewujudkan gereja Yesus Kristus di dunia dan di dalam dunia. Pembelajaran masa akan datang lebih menekankan kelompok yang lebih kecil untuk mendiskusikan hal-hal yang kecil dan mendesak.

 Pendidikan Kristiani Kontekstual, PENGARANG Hope S. Antonee
PENERBIT   : Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Rabu, 07 September 2011

Pelayanan Pastoral Kepada Orang Berduka


BAB I
Pastoral terhadap orang yang berduka yang mengalami situasi yang sangat tidak diterima. Sehingga para pendeta melakukan pendampingan pastoral yang berfungsi membimbing, mendamaikan/memperbaiki hubungan, menopang/menyokong, mengasuh, dan mengutuhkan. Pendampingan pastoral terhadap orang yang berduka menyangkut seluruh hidup dan setiap aspek kehidupan manusia.
Konseling pastoral yang dilakukan merupakan pendampingan pastoral untuk mendampingi orang yang berduka bukan hanya lewat pertemuan biasa atau khotbah tetapi seluruh aspek kehidupan orang yang mengalami kedukaan. Orang berduka ini diarahkan kepada penyembuhan dan merasakan kembali kehidupan yang biasa. Pendampingan pastoral ini membuat orang berduka bisa keluar dari kedukaannya. Dalam buku ini penulis menginginkan pendeta memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam menghadapi situasi orang-orang yang berduka. Tugas pendeta dalam mendampingi orang berduka adalah pelayanan yang sangat sulit karena kedukaan dapat ditimbulkan oleh beberapa hal. Misalnya orang yang kita cintai, oleh kehilangan sesuatu yang berharga dan sebagainya. Setiap orang yang mengalami situasi kedukaan sangat beragam ada yang agresif, ada yang pasif dan depresif.
ISI
A.       Maksud Penulisan
Penulis buku tentang pendampingan pastoral bagi orang berduka bermaksud bahwa para pendeta sebagai pendamping bagi orang berduka. Dalam menghadapi setiap situasi yang berbeda dari setiap orang yang mengalami kedukaan karena beberapa hal. Sebagai orang yang pertama dari setiap orang yang dipercayai anggota Jemaat, pendeta mendapat tempat yang penting bagi setiap orang yang mengalami kedukaan untuk menceritakan masalahnya. Para pendeta dipersiapkan untuk bagaimana cara menghadapi setiap masalah kedukaan yang dialami oleh setiap orang yang kehilangan sesuatu yang berharga. Sebab setiap orang yang mengalami kedukaan tidaklah semua dapat melupakannya dalam waktu yang singkat bahkan ada yang memendamnya sampai bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan peran pendeta untuk mengunjungi setiap orang yang mengalami kedukaan, sebab orang berduka tersebut merasa kehilangan orang yang mereka cintai atau yang berharga dalam hidup ini.
Para pendeta tahu sampai dimana peran yang dilakukan untuk pelayanan pastoral terutama orang yang berduka sebab ada juga orang yang dapat menyelesaikannya dengan berusaha sendiri tanpa orang lain melupakan kejadian yang memilukan ini.
B.        Keefektifan Penulisan
Penulisan buku pendampingan pastoral bagi orang berduka ini sangat mudah dipahami bahkan dilengkapi dengan latihan. Selain itu disertai contoh praktis dalam kehidupan ini yang dialami oleh setiap orang yang mengalami kedukaan. Setiap bagian ditandai dengan penekanan yang memberikan penjelasan bagi pembaca untuk bisa dimengerti dengan jelas. Dalam beberapa hal dalam setiap bagain diberikan penjelasan mengenai cara menghadapi setiap orang yang mengalami kedukaan.
C.        Kelemahan dan Kelebihan
Buku ini memberikan sejumlah informasi yang cukup luas menganai cara dan keadaan orang berduka serta persiapan pendeta menghadapi setiap orang dan situasinya dengan jelas.
Dalam bagian lain tidaklah jelas bagaimana masalah kedukaan itu berakhir dengan baik atau sebaliknya sebab pendeta hanya bersifat pendamping. Dilain pihak orang yang mengalami kedukaan ini tidak serta merta segera melupakan kejadian yang sangat memilukan hati. Hal ini menimbulkan beberapa masalah yang sangat rumit. Bantuan yang dibutuhkan oleh penderita orang yang berduka tidaklah selamanya terletak pada pastor atau pendeta. Ada beberapa hal yang tidak dikerjakan oleh pendeta.
Beberapa hal yang menjadi penekanan adalah persiapan pendeta sebagai penggembala harus setia mendengarkan. Serta mengartikan apa yang dikatakan orang kepadanya.
D.       Argumentasi terhadap buku
Penulis benar-benar diberikan sumbangsih yang sangat baik bagaimana menghadapi setiap orang yang beragam dalam mengalami kedukaan. Sebab kedukaan sendiri bisa dialami setiap orang termasuk pendeta juga. Memang dalam setiap tugas pendampingan pastoral ini merupan tugas utama setiap pelayan Tuhan termasuk pendeta tetapi orang disekitar yang mengalami kedukaan tersebut bisa membantu orang yang mengalami kedukaan keluar dari kedukaannya. Namun dalam beberapa hal orang berduka merasa lebih baik jika menceritakan segala persoalannya kepada pendeta sebagai orang yang satu-satunnya tempat curahan hatinya sebab semua keluarga sibuk.
Pendeta merupakan orang yang paling pertama mendengarkan keluhan dari orang yang mengalami kedukaan dalam berbagai macam atau bentuk rasa kedukaan. Dari segala masalah orang yang mengalami kedukaan harus diselesaikan dengan secepatnya dalam waktu yang begitu cepat dengan membantu orang yang mengalami kedukaan.
E.        Tanggapan
Beberapa hal yang menarik dari buku ini adalah pengulasan contoh pendampingan pastoral yang efektif dan tidak menyinggung serta memojokkan orang yang mengalami kedukaan. Perhatian dan cara pandang para pastor atau pendeta sangat dibahas dengan begitu tegas dan gamblang serta mendetail. Pendampingan yang dilaksanakan itu dalam rangka membantu orang yang mengalami kedukaan tersebut keluar dari situasi yang sangat sulit tersebut.
Persiapan dalam menghadapi situasi yang sangat sulit. Pendeta dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Pengalaman-pengalaman dalam mendampingi setiap orang yang merasa terisolir dari persekutuan Jemaat.  
F.         Aplikasi
Penerapan dalam setiap kehidupan pendeta dalam mendampingi orang berduka sangat dibahas dengan begitu baik. Tinggal pendeta sebagai pelaku pendampingan dalam mempraktekkan tindakan pastoral itu dalam pelayanan yang ia lakukan.
Bantuan secara professional dalam menangani problema-problema yang terjadi dalam kehidupan orang yang mengalami kedukaan. Pendeta harus mendekati orang yang berduka dengan mengetahui situasi mereka. Pendeta harus mengetahui bagaimana orang berduka mengetahui situasinya. Orang berduka harus diajak beradaptasi dengan orang yang baru dan menjadi situasi baru dalam hidupnya. Orang berduka diperkenalkan dengan keadaan yang sulit dengan situasi baru yang penuh makna walaupun dalam perjalanan harus menempuh waktu untuk mengalami penyembuhan dari situasi kedukaan.
PENUTUP
Dalam membaca buku ini, penulis sangat tertolong dalam memahami dan mendalami serta mempraktekkan pendampingan tersebut bagi para pendeta. Para pendeta sebagai pelayan yang berperan penting dalam pelayanan orang berduka ini sangat tertolong dengan membaca dan memahami buku ini dengan serius. 
Kedukaan yang dialami setiap orang berbeda ada yang merasa kehilangan keluarganya atau anggota tubuhnya yang lain. Reaksi terhadap kedukaan masing-masing suku berlainan. Percakapan dan perkunjungan perlu dilakukan para pendeta kepada orang yang mengalami kedukaan.
Pelayanan kepada orang yang berduka tersebut sebagai pendeta harus diketahui keadaannya dibutuhkan atau tidak dan bagaimana bentuknya. Setiap pelayan harus memperlengkapi diri dengan pengetahuan yang banyak tentang orang yang mengalami kedukaan. Setiap orang yang mengalami kedukaan menghayati kedukaannya dalam situasi dan keadaan yang mereka anggap bisa diselesaikan dengan baik. Setiap pendeta mendekati orang yang berduka dengan mengetahui situasi orang tersebut dalam hal apa yang pelu pendeta bisa dekati dan teliti apa penyebabnya. Setap orang yang mengalami kedukaan mempunyai tingkah yang berbeda dalam mengelak dari situasi yang menyakitkan tersebut.
Setiap pendeta mengalami kesulitan dalam mengakhiri setiap percakapan serta kesulitan dalam memulihkan orang yang mengalami kedukaan. Peristiwa kedukaan memakan waktu yang lama dalam proses melupakan masa yang paling indah bersama orang yang dicintai. Pendeta belajar dari setiap perilaku orang yang mengalami kedukaan dalam rangka penyembuhan diri orang yang berduka ini. Hanya kekuatan dari Allah saja pendeta dapat melakukannya.