Pemikiran eksistensialisme
dipengaruhi oleh White mengatakan bahwa sangat perlu untuk mengerti tinggi
untuk memahami nazisme. Heidegger meletakkan dasar dekontruksi di mana
penjelasan tentang sejarah ontologi dan dekontruksi konsep metafisika
tradisional dan epistemologi. Heidegger menempatkan konsep dunia dalam suatu
kerangka acuan kontekstual dan rasional. Ciri khas temporal verbal dari bahasa
variabel dalam memahami dunia. Bahasa berhubungan dengan horizon. Horizon
bukanlah objek yang diamati melainkan secara estetis merupakan proses
horizontal kehidupan yang menekankan temporalitas dari apa yang dilihat. Onto
teologi menjelaskan dialog tentang realitas hakikat yang benar yang
diperhadapkan kepada akta dialog teks. Akta dialog dengan teks menghasilkan bukan
yang dipersembahkan oleh teks kepada penafsir melainkan penafsir yang sejati.
Objektivitas penafsiran dikedepankan melainkan subjektifitas penafsir. Ada
beberapa pra kondisi yang ada dalam penafsiran teks. Pertama, apa yang
dipersembahkan oleh teks pada kita dan mesti ditafsirkan. Kedua, apa yang
diamati, ketiga apa yang dimengerti. Heidegger mengatakan bahwa bukanlah suatu
tindakan identifikasi objektif melainkan suatu proses suatu peristiwa yang
berkesinambungan. Ciri khas eksistensialisme yaitu proses untuk penilaian moral
yang jatuh kepada relativisme.[1]
[1] H.W.B.
Sumakul, Postmodernitas, Memaknai Masyarakat Plural Abad ke 21 (Jakarta BPK
Gunung Mulia, 2012), 23