Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Jumat, 16 Januari 2015

Martin Heidegger dalam pemikiran Postmodernitas




            Pemikiran eksistensialisme dipengaruhi oleh White mengatakan bahwa sangat perlu untuk mengerti tinggi untuk memahami nazisme. Heidegger meletakkan dasar dekontruksi di mana penjelasan tentang sejarah ontologi dan dekontruksi konsep metafisika tradisional dan epistemologi. Heidegger menempatkan konsep dunia dalam suatu kerangka acuan kontekstual dan rasional. Ciri khas temporal verbal dari bahasa variabel dalam memahami dunia. Bahasa berhubungan dengan horizon. Horizon bukanlah objek yang diamati melainkan secara estetis merupakan proses horizontal kehidupan yang menekankan temporalitas dari apa yang dilihat. Onto teologi menjelaskan dialog tentang realitas hakikat yang benar yang diperhadapkan kepada akta dialog teks. Akta dialog dengan teks menghasilkan bukan yang dipersembahkan oleh teks kepada penafsir melainkan penafsir yang sejati. Objektivitas penafsiran dikedepankan melainkan subjektifitas penafsir. Ada beberapa pra kondisi yang ada dalam penafsiran teks. Pertama, apa yang dipersembahkan oleh teks pada kita dan mesti ditafsirkan. Kedua, apa yang diamati, ketiga apa yang dimengerti. Heidegger mengatakan bahwa bukanlah suatu tindakan identifikasi objektif melainkan suatu proses suatu peristiwa yang berkesinambungan. Ciri khas eksistensialisme yaitu proses untuk penilaian moral yang jatuh kepada relativisme.[1]


[1] H.W.B. Sumakul, Postmodernitas, Memaknai Masyarakat Plural Abad ke 21 (Jakarta BPK Gunung Mulia, 2012), 23

Minggu, 11 Januari 2015

Pemikiran postmoderisme menurut Friedrich Nietzche




Nietzche melihat dialektika dan nihilisme sebagai penyebab kehancuran modernisme. Dialektika merupakan suatu dilema karena modernisme menciptakan pengharapan tetapi ia tidak dapat memenuhi harapan. Nietzche menentang pengetahuan yang diungkapkan oleh modernisme. Pengetahuan rasionalistik adalah murni ciptaan manusia suatu struk manusia secara individual dan acak dimana kategori pemikiran merupakan penggantian dari dunia. Pengetahuan manusia secara rasionalistik berisi serangkaian ilusi. Prinsip the will to power adalah keinginan untuki menyempurnakan dan mentransendensi diri melalui latihan kekuatan kreatif pribadi bukan melalui ketergantungan pada kekuatan dari luar dirinya. Dalam alam ini ada kekuatan atau keinginan yang tersimpan. Keinginan harus diungkapkan supaya menghasilkan sesuatu yang sempurna. Manusia menjadi subjek keinginan dan bukan semata-mata sebagai manusia ciptaan alami. Tidak ada kebenaran mutlak, yang ada hanya interpretasi. Kebenaran berhubungan dengan etika atau moralitas. Interpretasi bersifat plural, kebenaran bersifat plural. Bahasa semata-mata interpretasi, tidak dapat mengganti kenyataan sesungguhnya. Kebenaran universal terkandung dalam ajaran agama-agama.[1]


[1] H.W.B. Sumakul, Postmodernitas, Memaknai Masyarakat Plural Abad ke 21 (Jakarta BPK Gunung Mulia, 2012), 21

Kamis, 08 Januari 2015

Misi kepada kaum muda



Ada tiga unsur yang paling penting yakni kaum muda, Keluarga, gereja.
a.       Kaum muda.
-          Hedonis dan konsumerisme adalah budaya masa kini. Contohnya, model Hpo selalu berganti dengan asesoris dan fungsi yang bertambah. Fungsi utama HP hanya dua yakni menerima dan mengirim pesan, baik telpon maupun SMS.
Nilai kesederhanaan yang perlu dibangun yakni pengorbanan, kesetiaan dan keadilan.
b.      Keluarga
-          Konteks budaya global bukan satu-satunya panutan bagi kaum muda tetapi peran keluarga.
Pemberian dasar yang kuat buat anak. Penanaman nilai yang kuat.
Sejak kecil ia mengalami pendidikan yang baik dari orang tuanya.
c.       Lingkungan berperan dalam pengambilan sikap.
Gereja memberi nilai tentang apa yang dihidupi.
Kesaksian kaum muda dalam tiga kelompok yakni 1. Sesama rekan, komunitas kaum muda itu sendiri. 2. Kelompok lain diluar mereka, 3.

Selasa, 06 Januari 2015

Aksi dan reaksi



Ikut menyangkut sesuatu yang disebut kontingen. Ikut pada kata-kata, ide-ide, atau peristiwa. Setiap aksi baik verbal atau fisik diwujudkan dalam sebuah aksi yang mendahuluinya. Kalimatku selalu mengikuti kalimatmu. Ideku selalu mengikuti idemu dan lain sebagainya. Aksi saya adalah reaksi saya atas aksi lain yang telah ada. Menurut Lyotard, kita selalu mengikut yang telah mendahului kita, dengan terpaksa memberi reaksi kesunyian adalah sebuah reaksi atau jawaban. Ikut adalah keperluan. Bagaimana seharusnya mengikut? Itulah kontingen dan ketidakstabilan. Ini berarti bahwa diantara dua frassa ada momen ketidakpastian. Tidak pernah frasa dapat menguasai frasa yang mengikut. Walaupun frasa pertama akan mencoba, sebuah frasa menunggu reaksi tetapi tidak pernah dipastikan tentang reaksi itu. Antara dua frasa ada ketidakpastian. Jika aku ikut, aku terpaksa untuk ikut, tetapi frasa yang akan aku gunakan masih terbuka. Saat aku mengeluarkan frasa, akan diikuti oleh momen ketidakpastian baru. Aku akan menggunakan frasa yang terbuka. Namun Lyotard menulis bahwa antara dua frasa ada pilihan. Pengikut selalu mengutip yang mendahului dengan objek lain. Pembalasan merusak kontingensi antara dua frasa. Totalitarianisme menurut Arendt mematikan, membunuh dan ingin melupakan. Pemikiran Lyotard tentang tatalitarianisme menghilangkan instabilitas atau heterogenitas antara dua frasa.[1]


[1] Lucien Van Liere, Memutus Rantai Kekerasan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010, 194.