Abad ke 20 diawali dengan suasana optimis. Negara barat menantikan kestabilan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kekayaan; gereja dan pengkhotbah di hormati. Optimisme itu hancur oleh perang dunia I dan resesi ekonomi. Keyakinan pada keistimewaan dan kuasa pelayanan mimbar tetap bertahan. Karl Barth mengolah realisme baru tentang kemanusiaan dan iman baru kepada Allah yakin bahwa khotbah lebih penting daripada sebelumnya. Sebelum Perang dunia II, Hitler berkuasa namun pengkhotbah seperti Dietrich Bonhoeffer dan Martin Niemoller berani dalam berkhotbah dan melengkapi khotbahnya. Dalam penganiayaan Boenheffer menekankan pentingnya berkhotbah, demikian juga dengan Walter Luthi dari Swiss dalam pengakuan Helvetic bahwa pemberitaan firman Allah adalah firman Allah dan menetapkan dirinya untuk bekerja dari satu kitab ke kitab dari Alkitab dan mencari apa arti sabda suci untuk zaman Luthi berada. Luthi menuliskan bahwa khotbah merupakan suatu dari beberapa kemampuan di mana tidak ada seorang pun yang benar-benar menguasainya.
Pada saat seorang berpikir bahwa ia
memiliki kemampuan ini, khotbahnya menjadi seni dan kasih karunia mundur dengan
sedih. Perang dunia II mempercepat sekularisasi namun tidak demikian dnegan
khotbah. James S. Steward dari Skotlandia, menulis “saya memilih judul buku ini
untuk menekankan satu fakta penting yaitu khotbah ada bukan untuk menyebarkan
pandangan, pendapat atau prinsip tetapi untuk memproklamirkan
perbuatan-perbuatan besar Allah. Konsep perjanjian baru tentang tugas
pengkhotbah, akan selalu membuat khotbah mendapat posisi utama dan penting
dalam inti ibadah Kristen. Di kemudian hari muridnya menulis Ia adalah seorang
pekhotbah yang sangat alkitabiah. Stewart memiliki cara menjelaskan yang
membuat sebuah perikop dalam Alkitab terdengar sangat sederhana. Saya tidak
merasa bahwa ia adalah seorang penafsir Alkitab yang pintar atau memiliki
keamampuan yang luar biasa. Begitu ia menyelesaikan sebuah teks maka selalu
begitu jelas.. ia adalah orang yang baik dan apa yang dikatakannya harus saya
terima sebagai firman Allah.
Pada pertengahan abar ke -20
gelombang khotbah menyurut namun tetap terdengar seruan pembaruan. Ketetapan
tentang pelayanan dan kehidupan pendeta” oleh second vatican council meminta : Tugas utama pendeta adalah
memproklamirkan injil Allah kepada semua orang (mereka harus) berseru supaya
semua orang menjadi percaya dan kudus.. khotbah hendaknya tidak menyampaikan
firman Allah secara umum dan abstrak saja tetapi menerapkan kebenaran injil
sesuai kehidupan nyata. Welsh mengatakan dalam preacing an preachers (khotbah dan pengkhotbah), menyatakan bahwa bagi
saya pekerjaan berkhotbah adalah panggilan yang tertinggi, terbesar dan
termulia yang dapat diterima semua orang... kebutuhan yang paling genting dalam
gereja Kristen masa kini adalah khotbah yang benar ... tidak ada yang dapat
menyamainya. Ini adalah pekerjaan terbesar di dunia paling menggetarkan, paling
menggairahkan, memberi kepuasan paling besar dan paling indah. Khotbah memegang
peranan yang sangat penting dalam tradisi Kristen.[1]