Mendeskripsikan Teologi Perjanjian Baru dalam Pendidikan Agama Kristen atau sharing seputar Teologi
Jumat, 13 Juni 2014
Menanti integritas Anggota dewan
Peran politik model Daniel terjun dalam politik praktis karena pembuangan bangsa Israel ke negeri Babel. Ada yang memang bekerja dalam dunia politik dengan integritas, visi dan komitmen.[1] Seorang anggota dewan memiliki visi, integritas dan komitmen. Salah satu Kisah Alkitab yang terkenal tentang peran politik anggota dewan dalam pemerintahan raja adalah Daniel, Misael, Hananya, dan Azarya. Mereka adalah orang muda yang berperawakan baik. Fisik bagus dan cerdas. Mereka dapat pendidikan dalam kalangan istana selama tiga tahun. Dalam pemerintahan Daniel ditemani tiga rekannya, jadi tidak sendirian. Mereka tidak kehilangan identitas diantara para penguasa yang haus kekuasaan yang memeras rakyatnya. Kritik yang diajukan Daniel dan kawan-kawan adalah tidak mau makan, makanan raja dan minumannya. Kritik terhadap pemerintah ini dilakukan dengan percobaan mana yang berkualitas dan dan tetap sehat. Makanan Daniel dan kawan-kawan sayur dan minum air. Kritik juga disampaikan soal spiritualitas yakni penyembahan kepada dewa- dewa. Kesempatan menyembah Allah israel tidak diberikan kepada daniel dan kawan-kawan. Namun daniel tidak gentar menghadapi peraturan. Adakah anggota dewan yang mau mengkritik demikian soal kebebasan beragama. Dimana tidak ada orang yang dihalangi dalam mengekspresikan imannya kepada Tuhan? Daniel konsisten dengan iman dan integritas diri. Dia menolak peraturan yang dapat melukai hubungannya dengan Tuhan. Dilatih khusus untuk melayani raja (Dan 1:1-6). Menurut kebiasaan pada zaman itu ia diberikan (Dan 1:7) nama Beltsazar, suatu nama Babel. Ia menjadi ternama, pertama-tama sebagai penafsir dari penglihatan-penglihatan orang lain (ps 2-5), kemudian penafsir dari penglihatannya sendiri, yg menubuatkan kemenangan mendatang dari kerajaan Mesias (ps 7-12).
Kamis, 12 Juni 2014
IDENTITAS
Erikson memberi memberi pengertian
terhadap apa itu identitas. Identitas merupakan suatu kata keterangan. Siapa
aku? Dimana tempat saya?
Identitas dapat
diartikan sebagai suatu inti pribadi yang tetap ada walaupun mengalami
perubahan bertahap dengan bertambahnya umur dan perubahan lingkungan. Identitas
juga merupakan cara hidup yang sudah dibentuk pada masa sebelumnya dan
menentukan peran sosial yang dijalankan. Hasil yang diperoleh pada masa remaja
akan tetapi masih akan mengalami perubahan dan pembaruan. Suatu kelangsungan dalam
diri dan hubungan keluar dirinya. Identitas suatu penyesuaian peran sosial yang
ada asasnya yang mengalami perubahan. Apa tugas seorang remaja dalam membentuk
identitas. Dapat melepaskan diri dari kata orang tua dan membentuk cara hidup
pribadi yang dirasakan dan adanya keselarasan antara kebutuhan diri sendiri dan
orang lain. Menentukan suatu tempat yang dapat menerimanya dan memilih serta
menyatakan peran sosial dengan tempat tersebut. Berhubungan erat dengan peranan
sosial sehari-hari dan peranan sosial yang dipengaruhi oleh cara hidup sendiri.
Faktor penting dalam pembentukan identitas. Identifikasi remaja dipilih melalui
siapa yang akan dijadikan teladan. Diberi kesempatan bergaul dengan tokoh
identifikasi. Eksperimentasi, mencoba peranan sosial, kegiatan ekstrakurikuler
melalui berolahraga, seni drama, seni suara, seni musik. Tugas perkembangan
masa remaja, kepercayaan diri dibentuk tahun pertama melalui perhatian,
pengasuhan, dan pemenuhan kebutuhan. Bila ada larangaan itu harus dipertahankan
supaya ada rasa kepastian. Keadaan ortu dimana mendapatkan tokoh identifikasi
bagi anak yang sejenis. Kemampuan intelek mementukan upaya memperoleh
penafsiran akan sifat yang dihasilkan.
(Y Singgih D
Gunarsa dan Singgih D Gunarsa, Psikologi Remaja, Jakarta:BPK Gunung Mulia,
2009, 82).
Selasa, 03 Juni 2014
Kepenuhan hidup di dalam Kristus
Nats : Ef 1: 11
1:11
Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat
bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima
bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja
menurut keputusan kehendak-Nya --
Ef 1:
3-14 merupakan satu kalimat utuh dengan koma, koma yang berbentuk participle-participle
yang tersusun begitu banyak dan rumit. Dalam bahasa Indonesia satu alinea tidak mungkin
terus disambung menjadi satu kalimat. Dalam situasi ini LAI juga memotong
kalimat dengan memberi subyeknya. Ini tidak menyalahi struktur kalimat hanya
tekanannya pada "karena di dalam Dia."
Mengapa
harus di dalam Kristus? Karena di dalam Kristus kita mendapat bagian yang dijanjikan.
Inilah yang membentuk kepenuhan hidup kita. Hidup manusia baru kembali kepada
aslinya jika manusia kembali menjalankan fungsi sebagaimana ditetapkan oleh
Tuhan di dalam Kristus sehingga manusia mendapatkan apa yang dijanjikan Allah
menjadi bagiannya. Inilah misi dari hidup manusia.
Setiap
ciptaan dicipta oleh pencipta menurut rancangan pencipta dan hasil akhirnya
untuk pencipta. Hukum ini adalah hukum yang sah berlaku di mana saja dan kapan
saja. Demikian pula, manusia dicipta oleh Allah menurut rancangan Allah hasil
akhirnya untuk Allah. Hukum ini tidak bisa dilanggar. Mengerti hukum ini akan
mengerti semua aspek.
Namun
kepenuhan hidup manusia bisa menyeleweng. Sama seperti mike dicipta
untuk menjadi pengeras suara. Namun mike juga bisa disalahgunakan,
misalnya untuk memukul kepala. Pada waktu itu mike tersebut sudah gagal
mencapai kepenuhan keberadaannya. Demikian pula dengan manusia bisa
menyalahgunakan fungsinya. Tidak heran, di dalam hidup manusia setelah kita
berjuang pada satu titik kita merasa kosong. Kita mulai bertanya, "Apa
yang sedang saya lakukan? Sepertinya tidak ada artinya? Hidupku kosong."
Namun
pertanyaannya, "Apakah realitanya harus seperti ini? Kita harus membedakan
realita dengan yang seharusnya. Tidak cukup kita membangun
teori di atas realita. Kita harus membangun teori di atas ide - seharusnya
seperti apa. Dari sini baru kita melihat realitanya seperti apa.
Paulus
mengatakan, "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat
bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian
itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut
keputusan kehendakNya."
Siapakah
Paulus? Jika kita membaca Filipi 3, kita menemukan banyak hal yang Paulus bisa
banggakan. Berdasarkan keturunan Paulus orang Yahudi asli dari suku Benyamin di
sunat hari ke 8. Secara intelektual, Paulus orang yang brilliant. Umur
30 tahun sudah menjadi orang Farisi. Paulus mewarisi seluruh kebudayaan Ibrani
mengerti Talmud, Midrash, dan hafal Taurat. Bahkan menjadi murid kesayangan
Gamaliel. Seorang profesor yang paling terkenal pada waktu itu. Paulus juga
menguasai filsafat Graeco-Romans yang pada waktu itu dianggap
paling top pada zamannya dan dianggap sebagai ‘mbahnya’ filsafat dunia saat
itu. Di Athena Paulus berdialog dengan tokoh-tokoh filsafat disana. Dari segi
kerja, Paulus seorang yang berani berjuang. Dia adalah seorang penganiaya
Kristen. Paulus bukan hanya pandai bicara tapi dia juga seorang yang memiliki
semangat bekerja. Singkatnya, Paulus memiliki kehebatan baik dari segi
eksistensi, intelektual, maupun dari segi kerja. Kurang apa lagi?!
Paulus
pikir melalui semua itu dia sudah mencapai kepenuhan hidupnya. Namun setelah
menemukan Kristus semua yang tadinya dia anggap itulah yang dia kejar, ternyata
sekarang hanya sampah yang perlu dibuang." Inilah perbandingan hidup
Paulus.
Dalam
kitab Filipi Paulus sedang men-sharing-kan pengalamannya dari situasi
yang lama kepada situasi yang baru. Namun dalam surat Efesus Paulus sedang memberitakan
prinsip dasar bagaimana sebetulnya kita harus menggarap hidup kita berdasarkan
teologi yang ketat.
Di
dalam Ef 1:11 ini, Paulus mengatakan inilah bagian yang ditentukan untuk kita.
‘Kita’ di sini bukan ‘semua.’ Saya hanya mendapat bagian yang ditetapkan bagi
kita sesuai dengan maksud Allah. Dalam ayat ini digunakan kata ‘maksud Allah’
di bawah menurut keputusan kehendaknya (perhatikan Ef 1:11). Menerima bagian
ini sesuai dengan maksud Allah yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut
keputusan kehendaknya. Kalimat ini dalam bahasa Indonesia menggunakan sedikit
permainan kata supaya ini tidak terlalu mirip.
Dalam
bahasa Indonesia
kata maksud dan tujuan seringkali memiliki arti yang dekat. Namun dalam bagian
ini dipisah secara drastis. Ketika Paulus mengatakan kita mendapatkan bagian
yang sesuai dengan maksud Allah. Di sini Paulus menggunakan kata pronesis
yang menggambarkan satu maksud yang bersifat spesifik. Dalam kedokteran gigi
ada satu istilah yang disebut protese. Protese ini adalah contoh
gigi yang dibuat seperti aslinya. Jadi kata ini bersifat spesifik sekali
seperti aslinya. Jadi gigi graham harus dibuat seperti gigi graham yang
dicabut.
Jadi
‘kita’ di sini bukan semua hanya satu bagian yang harus kembali pada bagian
itu. Nah pada waktu kita kembali kepada bagian itu kita harus kembali ke maksud
asli pencipta modelnya seperti apa dan di mana tempatnya. Posisinya harus
tepat. Di sini pentingnya kita mengembalikan diri kita keposisi yang
seharusnya.
Tuhan
menuntut kita kembali menurut maksud Allah. Ini baru bisa terjadi jika kita
kembali kepada Kristus. Disinilah rencana dan maksud itu bisa mencapai
kepenuhannya. Jadi dengan kembali pronesis berarti kita kembali
menjalankan fungsi yang Tuhan tetapkan di dalam Kristus. Disitulah kita
mendapatkan kepenuhan maksud kita. Seperti Paulus mengejar pronesis.
Dengan mengejar dan menjalankan maksud Allah ini dia tidak pernah gagal karena
itu akan dicatat dalam kekekalan. Karena untuk itulah kita dicipta untuk
menjalankan maksud yang dia mau yaitu kita boleh menjadi puji-pujian untuk
kemuliaan Tuhan (ay. 12).
Sebelum
kita sampai ke tujuan kita harus mengerti maksud Allah Pencipta kita. Setiap
orang harus tahu di mana bagiannya. Jika saudara ditetapkan jadi petani.
Jadilah petani Kristen, pengusaha Kristen, dokter Kristen, intelektual Kristen.
Kita harus tahu di mana posisi kita masing-masing. Itu bukan kita yang mau tapi
Tuhan yang tuntut bukan demi kita melainkan demi rencana Allah bagi hidup kita
agar kerajaan Allah digenapi. Sebaliknya jika kita tidak kembali kepada maksud
Allah maka semua yang kita kerjakan akan sia-sia. Mengapa? Karena kita sedang
menimbun kehancuran yang kita kejar
Langganan:
Komentar (Atom)