Laman

Pelayanan Holistik

Selamat Datang.
Semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Minggu, 19 Januari 2014

teologi PB



1.      Pola Berpikir Paulus
Paulus dibesarkan dan dididik dibawah pimpinan Gamaliel nenek moyang kita (Kis 22:3). Ia mengenyam pendidikan di sekolah Gamaliel di Yerusalem. Kultur Yunani dengan filsafatnya sangat dikenal oleh Paulus. Gayanya mirip dengan kata-kata kaum Stoa yang menggunakan kata, hati (Rm 2:15), alam (Rm 2:14), apa yang tak pantas (Rm 1:28), mencukupkan diri (Flp 4:11). Tentu saja ketika Paulus bertobat pemikirannya yang lama tidak mungkin digantikan dengan ajaran teologi yang lengkap dan siap pakai. W.D Davies mengungkapkan bahwa Paulus memiliki pola berpikir yang sama dengan rabi. Pakar lain menolak sebab pandangannya tentang hukum taurat dengan pesimistis.
Pakar lain memandang bahwa Paulus bukan orang Farisi melainkan tokoh apokaliptis yang teliti. Para pakar belakangan ini mengakui kelompok apokaliptis dan eskatologi dan Yudaisme Palestina yang terpengaruh budaya helenistik. Kelompok perbandingan agama menafsirkan Paulus berdasarkan latar belakang agama-agama misteri Yunani dan mengemukakan bahwa Paulus mengubah kekristenan Yahudi kuno menjadi sekte misteri yang gigih dengan dewanya yang mati dan bangkit. Deismann mengakui adanya warisan Yahudi Paulus, ia menafsirkan inti iman Kristen menurut mistisisme Helenistis. Paulus sendiri mengakui bahwa ia telah mendapat pendidikan teologi kerabian sebelum ia menjadi Kristen. Paulus juga berlatar belakang Yahudi namun tidak dapat dipungkiri ia dipengaruhi oleh pemikiran helenistik atau gnostik.
Pemikiran Yahudi mempengaruhi Paulus dalam teologinya, hal itu nyata dalam sikapnya. Ia penganut kepercayaan yang memakai hukum Taurat sebagai pusatnya. Ia menegaskan bahwa hukum Taurat itu rohani, suci, benar dan baik. Dalam tulisan-tulisan Paulus, sebagai seorang Yahudi pembicaraan tulisannya ada diseputar kedatangan Mesias menghancurkan musuhnya, menebus Israel, dan mendirikan kerajaan Allah. Surat Paulus merefleksikan tulisan dalam apokaliptik yakni olam hazzeh dan oram habbah. Paulus menekankan zaman ini dan akan berakhir dengan Hari Tuhan (1 Tes 5:2; 2 Tes 2:2).
Paulus menyetujui perspektif perjanjian lama tentang apokaliptik yang ditemukan dalam injil. Sebagai seorang Yahudin Paulus sebelum bertobat sangat gigih mempertahankan hukum Taurat. Bagi kaum Farisi hukum Taurat adalah segala-galanya. Tiga fakta tentang kerasulannya yakni memberitakan Kristus yang dahulunya dianiaya, membawa injil kepada bangsa bukan Yahudi, dan pembenaran oleh iman yang terpisah dan hukum Taurat. Berdasarkan pengalaman ke Damsyik, Paulus melihat bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah. Ia hidup baru di dalam Kristus. Paulus memiliki sikap baru dalam memandang semua manusia. Ia memberitakan kabar baik kepada semua manusia.
Inti teologi Paulus menurut para pakar bahwa pokok utama pemikiran Paulus adalah pembenaran oleh iman. Wrede menegaskan bahwa keagamaan Paulus dapat dijelaskan tanpa harus menyebut tentang pembenaran, kecuali yang menjadi pembahasan itu hukum Taurat. Schweitzer berpendapat bahwa pembenaran oleh iman adalah titik awal yang menuntun kita pada salah pengertian tentang Paulus. Andrews mengikuti Sabatier menjelaskan bahwa pembenaran sebagai pikiran pembenaran yang rendah. Stewart memahami pemikiran dan pengalaman Paulus dalam persatuannya dengan Kristus daripada pembenaran.
Davis mengikuti Wrede dan Schweitzer memandang pembenaran sebagai polemik yang lembut terhadap kaum Yahudi. Bahaya pembenaran iman menurut seorang pakar reformasi adalah adanya unsur dinamika penebusan historis dari pemberitaan Paulus. Teologi Paulus merupakan penguraian fakta penebusan. Dengan pertobatan baulus makna sejarah penebusan ditemukan kembali dalam Yudaisme. Paulus sebagai seorang yang menulis fakta sejarah melihat bahwa apa yang dikerjakan Allah tidak dapat dipisahkan dengan penggenapan eskatologis. Paulus didalam tulisannya menjunjung tinggi perjanjian lama sebagai firman Allah. Konsep teologi Paulus berakar dalam perjanjian Lama yang menjelaskan Allah, manusia, penebusan, perjanjian dan Taurat serta eskatologi.
2.      Pandangan Paulus tentang Manusia
Pandangan Paulus tentang manusia ada dua yaitu tubuh dan jiwa. Tubuh ada pada tingkatan duniawi dan jiwa ada pada tingkatan sorgawi atau rohani. Paulus tidak memandang ciptaan sebagai sesuatu yang jahat karena menyangkut materi dan bertentang dengan roh. Ajaran Paulus tidak sama dengan dualisme Yahudi yang menganggap ciptaan dan manusia sebagai yang jahat. Ia tidak mendukung ajaran penyiksaan diri yang berupaya mencapai kehidupan yang baik dengan cara penyangkalan diri terhadap alam, berdagang dan bergaul dengan masyarakat.
Keduniawian adalah penyembahan kepada mahluk ciptaan dan bukannya kepada pencipta. Pada waktu manusia ditebus mereka tidak lagi terhisap menjadi bagian dari dunia. Manusia bukan orang berdosa karena melakukan perbuatan dosa melainkan berdosa di dalam Adam. Manusia yang tidak mengenal wahyu hukum Taurat bertanggungjawab kepada Allah sebab manusia pada umumnya memiliki pengetahuan tentang Allah. Manusia bukan hanya menyembah Allah tetapi melakukan yang benar berdasar hati nurani.
Manusia dibebaskan dari penghambaan hukum Taurat. Pandangan gawat tentang keadaan gawat manusia di luar Kristus tidak berdaya berdasarkan pada konsep dualisme Yunani. Pandangannya didasarkan pada dualisme eskatologis yang memandang zaman sebagai keadaan yang telah jatuh. Paulus menggambarkan manusia di zaman lama adalah murka Allah.
3.      Menanggapi Teologi Paulus
a.       Penebusan
Istilah penebusan ditemukan dalam Roma 5:11; RSV menerjemahkan sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu. Kata ini dinyatakan dalam dua kelompok kata yakni lutron, apolutrosis dan agorazo, exagorazo, yang berarti membeli. Kelompok kata ini dalam bahasa Yunani klasik digunakan terhadap harga yang dibayarkan untuk menebus sesuatu yang tergadai, sejumlah uang yang dibayarkan untuk menembus tawanan perang, dan membayar seorang budak atau hamba. Kata yang sering dipakai Paulus adalah apolutrosis yang ditemukan diluar Perjanjian Baru. Morris menyimpulkan doktrin penebusan dengan kelompok kata yakni keadaan dosa yang dari padanya manusia harus ditebus. Harga yang harus dibayarkan. Akibat bagi orang percaya. Kita ditebus menjadi orang merdeka.
Tanggapan saya tentang penebusan, pemahaman kita bahwa membayar harga, kepada siapa harga itu dibayar?. Apakah pembayaran Tuhan kepada setan sebagai penghulu dunia jahat?. Harga yang dimaksudkan adalah kematian Kristus. Manusia ditebus dari dosa dan maut. Orang percaya telah menjadi milik Allah.
b.      Pembenaran
Kata pembenaran berasal dari kata dikaiosune yang menunjuk pada kualitas etis dari kebenaran. Doktrin Paulus ini berasal dari perjanjian lama yang menggunakan kata tsaddiq yang menunjuk pada mematuhi aturan. Tsadaq berarti mematuhi aturan yang ada. Pembenaran itu merupakan doktrin eskatologis yang memikirkan pembebasan dari kesalahan pada penghakiman terakhir. Pengharapan yang kita nantikan adalah pernyataan hukum tentang pembenaran. Pembenaran oleh iman berarti berdasarkan iman iman orang percaya dari aspek forensik. Forensik artinya Allah dipahami sebagai penguasa, pemberi hukum dan hakim. Pembenaran adalah menyangkut hubungan dengan Allah bukan etis. Dasar pembenaran adalah kematian Kristus dan sarananya adalah iman. Pembenaran itu merupakan bagian dari pembenaran zaman akhir.
Tanggapan saya pembenaran adalah iman adalah sebagai pencapaian yang paling luhur dan dianggap sebagai yang utama dalam pembenaran. Pembenaran setelah kematian Kristus adalah atas dasar iman bukan perilaku yang banar. Kita diperhitungkan benar oleh Kristu karena penyerahan diri kita kepadaNya.
c.       Pendamaian
Pendamaian (katallasso, katalage) adalah doktrin yang terkait dengan pembenaran. Pendamaian adalah pemulihan orang yang telah dibenarkan ke dalam persekutuan dengan Allah. Pendamaian adalah karya Allah dan manusia merupakan objeknya. Manusia tidak dapat mendamaikan dirinya dengan Allah. Ia harus diperdamaikan kepada Allah melalui tindakan ilahi. James Denney berpendapat bahwa karya pendamaian dalam pengertian perjanjian baruadalah karya yang telah selesai. Pendamaian bukan hanya permusuhan subjektif orang berdosa terhadap Allah.
Pendamaian itu pada dasarnya menyangkut sikap manusia terhadap Allah. Denney menunjukkan kesiapan bapa utuk mengampuni kesalahan tidak sama pengampunan yang sebenarnya. Isi perdamaian itu adalah karya Allah yang objektif.