1.
Pola Berpikir Paulus
Paulus
dibesarkan dan dididik dibawah pimpinan Gamaliel nenek moyang kita (Kis 22:3).
Ia mengenyam pendidikan di sekolah Gamaliel di Yerusalem. Kultur Yunani dengan
filsafatnya sangat dikenal oleh Paulus. Gayanya mirip dengan kata-kata kaum
Stoa yang menggunakan kata, hati (Rm 2:15), alam (Rm 2:14), apa yang tak pantas
(Rm 1:28), mencukupkan diri (Flp 4:11). Tentu saja ketika Paulus bertobat pemikirannya
yang lama tidak mungkin digantikan dengan ajaran teologi yang lengkap dan siap
pakai. W.D Davies mengungkapkan bahwa Paulus memiliki pola berpikir yang sama
dengan rabi. Pakar lain menolak sebab pandangannya tentang hukum taurat dengan
pesimistis.
Pakar lain
memandang bahwa Paulus bukan orang Farisi melainkan tokoh apokaliptis yang
teliti. Para pakar belakangan ini mengakui kelompok apokaliptis dan eskatologi
dan Yudaisme Palestina yang terpengaruh budaya helenistik. Kelompok
perbandingan agama menafsirkan Paulus berdasarkan latar belakang agama-agama
misteri Yunani dan mengemukakan bahwa Paulus mengubah kekristenan Yahudi kuno
menjadi sekte misteri yang gigih dengan dewanya yang mati dan bangkit. Deismann
mengakui adanya warisan Yahudi Paulus, ia menafsirkan inti iman Kristen menurut
mistisisme Helenistis. Paulus sendiri mengakui bahwa ia telah mendapat
pendidikan teologi kerabian sebelum ia menjadi Kristen. Paulus juga berlatar
belakang Yahudi namun tidak dapat dipungkiri ia dipengaruhi oleh pemikiran
helenistik atau gnostik.
Pemikiran Yahudi
mempengaruhi Paulus dalam teologinya, hal itu nyata dalam sikapnya. Ia penganut
kepercayaan yang memakai hukum Taurat sebagai pusatnya. Ia menegaskan bahwa
hukum Taurat itu rohani, suci, benar dan baik. Dalam tulisan-tulisan Paulus,
sebagai seorang Yahudi pembicaraan tulisannya ada diseputar kedatangan Mesias
menghancurkan musuhnya, menebus Israel, dan mendirikan kerajaan Allah. Surat
Paulus merefleksikan tulisan dalam apokaliptik yakni olam hazzeh dan oram habbah. Paulus
menekankan zaman ini dan akan berakhir dengan Hari Tuhan (1 Tes 5:2; 2 Tes
2:2).
Paulus
menyetujui perspektif perjanjian lama tentang apokaliptik yang ditemukan dalam
injil. Sebagai seorang Yahudin Paulus sebelum bertobat sangat gigih
mempertahankan hukum Taurat. Bagi kaum Farisi hukum Taurat adalah
segala-galanya. Tiga fakta tentang kerasulannya yakni memberitakan Kristus yang
dahulunya dianiaya, membawa injil kepada bangsa bukan Yahudi, dan pembenaran
oleh iman yang terpisah dan hukum Taurat. Berdasarkan
pengalaman ke Damsyik, Paulus melihat bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah. Ia
hidup baru di dalam Kristus. Paulus memiliki sikap baru dalam memandang semua
manusia. Ia memberitakan kabar baik kepada semua manusia.
Inti teologi
Paulus menurut para pakar bahwa pokok utama pemikiran Paulus adalah pembenaran
oleh iman. Wrede menegaskan bahwa keagamaan Paulus dapat dijelaskan tanpa harus
menyebut tentang pembenaran, kecuali yang menjadi pembahasan itu hukum Taurat. Schweitzer
berpendapat bahwa pembenaran oleh iman adalah titik awal yang menuntun kita
pada salah pengertian tentang Paulus. Andrews mengikuti Sabatier menjelaskan
bahwa pembenaran sebagai pikiran pembenaran yang rendah. Stewart memahami
pemikiran dan pengalaman Paulus dalam persatuannya dengan Kristus daripada
pembenaran.
Davis mengikuti
Wrede dan Schweitzer memandang pembenaran sebagai polemik yang lembut terhadap
kaum Yahudi. Bahaya pembenaran iman menurut seorang pakar reformasi adalah
adanya unsur dinamika penebusan historis dari pemberitaan Paulus. Teologi
Paulus merupakan penguraian fakta penebusan. Dengan pertobatan baulus makna
sejarah penebusan ditemukan kembali dalam Yudaisme. Paulus sebagai seorang yang
menulis fakta sejarah melihat bahwa apa yang dikerjakan Allah tidak dapat
dipisahkan dengan penggenapan eskatologis. Paulus didalam tulisannya menjunjung
tinggi perjanjian lama sebagai firman Allah. Konsep teologi Paulus berakar
dalam perjanjian Lama yang menjelaskan Allah, manusia, penebusan, perjanjian
dan Taurat serta eskatologi.
2. Pandangan
Paulus tentang Manusia
Pandangan Paulus
tentang manusia ada dua yaitu tubuh dan jiwa. Tubuh ada pada tingkatan duniawi
dan jiwa ada pada tingkatan sorgawi atau rohani. Paulus tidak memandang ciptaan
sebagai sesuatu yang jahat karena menyangkut materi dan bertentang dengan roh. Ajaran
Paulus tidak sama dengan dualisme Yahudi yang menganggap ciptaan dan manusia
sebagai yang jahat. Ia tidak mendukung ajaran penyiksaan diri yang berupaya
mencapai kehidupan yang baik dengan cara penyangkalan diri terhadap alam,
berdagang dan bergaul dengan masyarakat.
Keduniawian
adalah penyembahan kepada mahluk ciptaan dan bukannya kepada pencipta. Pada
waktu manusia ditebus mereka tidak lagi terhisap menjadi bagian dari dunia. Manusia
bukan orang berdosa karena melakukan perbuatan dosa melainkan berdosa di dalam
Adam. Manusia yang tidak mengenal wahyu hukum Taurat bertanggungjawab kepada
Allah sebab manusia pada umumnya memiliki pengetahuan tentang Allah. Manusia
bukan hanya menyembah Allah tetapi melakukan yang benar berdasar hati nurani.
Manusia
dibebaskan dari penghambaan hukum Taurat. Pandangan gawat tentang keadaan gawat
manusia di luar Kristus tidak berdaya berdasarkan pada konsep dualisme Yunani. Pandangannya
didasarkan pada dualisme eskatologis yang memandang zaman sebagai keadaan yang
telah jatuh. Paulus menggambarkan manusia di zaman lama adalah murka Allah.
3. Menanggapi
Teologi Paulus
a.
Penebusan
Istilah
penebusan ditemukan dalam Roma 5:11; RSV menerjemahkan sebab oleh Dia kita
telah menerima pendamaian itu. Kata ini dinyatakan dalam dua kelompok kata
yakni lutron, apolutrosis dan agorazo, exagorazo, yang berarti
membeli. Kelompok kata ini dalam bahasa Yunani klasik digunakan terhadap harga
yang dibayarkan untuk menebus sesuatu yang tergadai, sejumlah uang yang
dibayarkan untuk menembus tawanan perang, dan membayar seorang budak atau
hamba. Kata yang sering dipakai Paulus adalah apolutrosis yang ditemukan diluar Perjanjian Baru. Morris
menyimpulkan doktrin penebusan dengan kelompok kata yakni keadaan dosa yang
dari padanya manusia harus ditebus. Harga yang harus dibayarkan. Akibat bagi
orang percaya. Kita ditebus menjadi orang merdeka.
Tanggapan saya
tentang penebusan, pemahaman kita bahwa membayar harga, kepada siapa harga itu
dibayar?. Apakah pembayaran Tuhan kepada setan sebagai penghulu dunia jahat?. Harga
yang dimaksudkan adalah kematian Kristus. Manusia ditebus dari dosa dan maut. Orang
percaya telah menjadi milik Allah.
b. Pembenaran
Kata pembenaran
berasal dari kata dikaiosune yang
menunjuk pada kualitas etis dari kebenaran. Doktrin Paulus ini berasal dari
perjanjian lama yang menggunakan kata tsaddiq
yang menunjuk pada mematuhi aturan. Tsadaq
berarti mematuhi aturan yang ada. Pembenaran itu merupakan doktrin
eskatologis yang memikirkan pembebasan dari kesalahan pada penghakiman
terakhir. Pengharapan yang kita nantikan adalah pernyataan hukum tentang
pembenaran. Pembenaran oleh iman berarti berdasarkan iman iman orang percaya
dari aspek forensik. Forensik artinya Allah dipahami sebagai penguasa, pemberi
hukum dan hakim. Pembenaran adalah menyangkut hubungan dengan Allah bukan etis.
Dasar pembenaran adalah kematian Kristus dan sarananya adalah iman. Pembenaran
itu merupakan bagian dari pembenaran zaman akhir.
Tanggapan saya
pembenaran adalah iman adalah sebagai pencapaian yang paling luhur dan dianggap
sebagai yang utama dalam pembenaran. Pembenaran setelah kematian Kristus adalah
atas dasar iman bukan perilaku yang banar. Kita diperhitungkan benar oleh
Kristu karena penyerahan diri kita kepadaNya.
c. Pendamaian
Pendamaian (katallasso, katalage) adalah doktrin
yang terkait dengan pembenaran. Pendamaian adalah pemulihan orang yang telah
dibenarkan ke dalam persekutuan dengan Allah. Pendamaian adalah karya Allah dan
manusia merupakan objeknya. Manusia tidak dapat mendamaikan dirinya dengan
Allah. Ia harus diperdamaikan kepada Allah melalui tindakan ilahi. James Denney
berpendapat bahwa karya pendamaian dalam pengertian perjanjian baruadalah karya
yang telah selesai. Pendamaian bukan hanya permusuhan subjektif orang berdosa
terhadap Allah.
Pendamaian itu
pada dasarnya menyangkut sikap manusia terhadap Allah. Denney menunjukkan
kesiapan bapa utuk mengampuni kesalahan tidak sama pengampunan yang sebenarnya.
Isi perdamaian itu adalah karya Allah yang objektif.